Dirga

1737 Kata
Ruangan eskul modelling penuh riuh sore ini. Penyebabnya tidak lain adalah kedatangan ketua eskul fotografi. Meski bukan pertama kali datang ke sini, tetap saja Arga merasa risih. Dalam sekejap, cowok itu menjadi pusat perhatian para siswi yang sedang menggosip di bilik pemotretan. Mereka saling berbisik-bisik lalu melihat Arga. Mengedipkan sebelah mata atau melempar senyuman semanis mungkin. Dan yah, Arga tidak terpengaruh sama sekali. Ia tetap fokus memotret seorang siswi yang tengah berpose di depan background shoot berwarna kuning.  "Berapa lama lagi sih?" tanya Arga, mendelik pada Kevin, cowok itu duduk di depan laptop yang telah terhubung dengan kameranya. "Bentar bos, bentar lagi ini. Yaelah lo nggak ikhlas banget sih? Tinggal 2 model lagi ini. Si Aileen sama si Citra." "Awas bohong lo!" "Iya-iya. Nggak percayaan amat dah," decaknya. Arga memutar bola mata, ada setengah jam ia berdiri di sini hanya untuk memotret lima orang siswi. Jika bukan karena majalah sekolah, ia tidak akan mau berlama-lama. Ditambah lagi tangannya sudah terasa pegal memegang kamera. "Kayaknya kalo angkat kepala sedikit lebih bagus deh, coba-coba," perintah Arlan pada Jennika, siswi kelas 12 yang menjadi model majalah sekolah tahun ini. Jennika menurut, dengan bersedekap ia mengangkat kepala hingga leher jenjangnya itu terekspos sempurna. "Nah gitu baru wow! Adem banget dah liatnya." "Heh," Arga lantas menoyor kepala Arlan. "Dasar otak m***m, gue yang bakal dimarahin nanti sama kepala sekolah. Enak aja lo nyuruh pakai gaya kayak gitu." "Ya sekali sekali dong, kan lumayan cuci mata. Ye nggak? Ye nggak?" tanyanya. Merangkul bahu Arga seraya mengerling jahil. Cowok itu langsung menepisnya kasar. "Nggak! Ganti cepetan!" Kali ini perintahnya ditujukan pada Jennika. Cewek itu mendengus kesal lalu menundukkan sedikit kepalanya. "Iyah dah iya dah. Galak bener!" cibir Arlan. Dia kembali nimbrung ke komplotan anggota eskul modelling yang lain. Pastinya, menggombali mereka termasuk daftar rencana cowok itu hari ini. Dasar buaya darat! Setengah jam berkutat dengan dua model--Citra dan Jennika, sekarang waktunya Arga memotret model yang terakhir yaitu Aileen. Dengan ogah-ogahan Arga mengarahkan kameranya ke tempat shoot, sudah ada Aileen yang berpose sesuai arahan Kevin. Sebenarnya, empat model yang lain bergerak sesuai arahannya, namun saat giliran Aileen menjadi model Arga angkat tangan saja. Entahlah, tingkah kerisihan Arga pada Aileen lebih jauh tinggi dibanding anggota model yang sedang membicarakannya saat ini. Pemotretan berjalan lancar, Arga menghela napas lega, dilepasnya tali kamera yang sedari tadi melingkari lehernya itu. Berjalan menuju Kevin dan Arlan. Kedua cowok itu tengah memeriksa hasil bidikannya. "Bagus. Mantep-mantep dah fotonya, sob. Yakin gue majalah sekolah tahun ini bakalan laris," cetus Kevin. Menatap antusias hasil potret Arga. "Anglenya juga bagus-bagus. Kagak ngerti gue itu cowok pake teknik apa." "Nggak beda. Tekniknya tetap sama kayak yang diajarin Kak Wahyu tahun lalu. Lo cuma harus fokus dan banyak belajar," Arga menjawab, cowok berhoodie abu itu menyampirkan tas kecilnya ke bahu. "Mau kemana lo?" "Pulanglah. Tugas gue cuma motret kan?" "Iya sih. Tapi keliatan buru-buru banget." "Gue... ada janji sama Mery." Arga menahan sudut bibirnya agar tidak tertarik. "Gue duluan. Selamat lembur mantemann," pamitnya, mengerling jahil. Keluar dari ruangan meninggalkan Arlan yang menggerutu bersama Kevin. "Eh sialan! Mentang-mentang udah punya pacar sahabat ditelantarkan," gerutu Arlan. Kevin tertawa menambahkan. "Kasiannn. Untung gue punya pacar. Ahahaha." ☆☆☆ "TUNGGU!" Suara dari arah belakang lantas membuat langkah Arga terhenti, cowok itu menoleh dengan kening mengerut heran. Satu alisnya naik. "Lo?" Aileen menyunggingkan senyum tipis, tanpa basa-basi menghampiri Arga yang mendengus karena ulahnya. "Apalagi sih? Nggak usah ganggu gue!" kesal Arga. Dari awal ia telah menduga cewek bernama Aileen ini pasti mau cari gara-gara. "Sana!" "Nggak! Gue nggak pergi sebelum lo anterin gue pulang," jawab Aileen bersikukuh. Cewek berambut sepunggung dengan dress sebatas paha itu bersikukuh. "Gue nggak mau! Dan gue bukan ojek lo! Jangan bersikap seolah-olah kita itu akrab. Ngerti?!" Tekan Arga di setiap kalimatnya. Kerisihan cowok itu terhadap Aileen kini bertambah satu tingkat lagi. Mendengarnya Aileen tertawa renyah, hal itu dimanfaatkan Arga untuk buru-buru pergi dari sana. Sial! Arga kecongolan lagi. Seharusnya ia tadi cepat-cepat agar tidak membuang waktu seperti ini. "Heh, tungguinnn. Gue nggak akan ngelepasin lo! DIAN TUNGGUIN!" seru Aileen, bergegas mengejar Arga. Sayup-sayup Arga mendengar suara Aileen mendekat, beruntung cowok itu telah sampai di parkiran dan segera memasang helmnya. "TUNGGU! LO NGGAK AKAN BISA PERGI!" Arga tidak peduli, dia tetap mengingjak starter motornya sebelum Aileen berulah lebih parah. Dan benar saja, baru keluar dari parkiran, Aileen menghadang dengan merentangkan kedua tangan di depan motornya. "Lo? Cepet minggir! Gue banyak urusan!" "Kalau gitu, selesaikan dulu urusan lo sama gue." "Kita nggak punya urusan apa-apa!" "Ada! Lo cuma nggak menyadari, dan urusan kita berkaitan dengan paket yang lo terima malam tadi," kilahnya. Arga membulatkan mata, cowok itu memilih menstandarkan motornya. Melepas helm full facenya. Rasa penasaran yang kian meninggi mendorongnya melakukan semua itu. Sementara Aileen tertawa lagi, mendapati wajah Arga terkejut setengah mati. "Kaget kan lo? Itu cuma secuil dari urusan kita. Ke depannya lo bakal berurusan banyak sama gue. Terutama soal Mery. Dan lo pasti udah terima kan paket dari gue malam tadi?" ☆☆☆ "Rapi banget. Mau kemana?" Tanya Riko pada Mery. Pria yang sedang membaca koran di sofa tamu itu mendapati putri semata wayangnya turun menapaki tangga dengan pakaian sangat rapi. Mery mengulum bibir bawahnya, menghampiri Riko lalu memeluk papanya itu erat. "Mau ke indomaret doang beli camilan, tapi malam nanti mau jalan-jalan sama Arga. Boleh ya?" Riko menggangguk, mengusap rambut Mery. "Boleh. Asal pulangnya jangan terlalu malam." "Yeay! Makasih Papa. Sayang deh. Hehe," jawab Mery, cengengesan. Riko terkekeh pelan. Selesai berpamitan pada Riko, Mery bergegas keluar rumah, jarak antara rumahnya dan Indomaret tidaklah jauh. Karenanya, cewek itu memilih jalan kaki saja itung-itung olahraga sore katanya. Padahal tadi, Raya dan Tasya sempat mengajak pergi ke kelab. Namun setelah menimbang-nimbang Mery akhirnya memilih menolak. Dia tidak ingin melanggar janjinya pada Arga. Cowok itu pasti ngambek kalau tahu dirinya pergi ke tempat itu sekali saja. Ngomong-ngomong soal ngambek, selama pacaran hampir tiga bulan ini Mery jarang sekali mendapati Arga ngambek padanya. Justru sebaliknya. Ia yang sering ngambek pada cowok itu untuk hal-hal sepele saja. Duh, Mery jadi merasa bersalah deh. Tapi Arga capek nggak sih pacaran sama gue? Batin Mery khawatir. Saking asiknya melamun, perjalanan cewek itu ke Indomaret seolah tidak terasa. Tiba di tempat penuh makanan itu langsung saja ia menghampiri rak penuh coklat. Terlintas di pikirannya membelikan coklat untuk Arga. Itung-itung sebagai ganti permintaan maaf pada cowok itu. Yah, selama ini Arga aja yang sering kasih Mery hadiah, sedangkan dia cuma tau minta doang. Mery tertawa. Matre banget gue yak, haha. "Tapi pacar ganteng paling suka coklat yang mana yah? Yang pakai kacang? Yang mahal? Yang gede? Atau yang murah?" tebak Mery, mengusap dagu. Matanya menjelajah rak berisikan jejeran coklat itu. "Yang nggak terlalu murah dan nggak terlalu mahal. Asal lo kasihnya pakai hati," ucap seseorang tiba-tiba dari arah Kanannya. Mery refleks menoleh, menemukan seorang cowok berjaket bomber dengan sebelah telinga ditindik menyodorkan sebatang coklat padanya. Mendapatkan eskspresi heran dari Mery, cowok itu tertawa. "Ambil aja. Nggak usah kaget gitu deh," katanya. Meraih tangan Mery dan menaruh coklatnya di sana. "Gratis buat pacarnya sepupu gue. Oke?" Mery menatap coklat di tangannya dan cowok itu bergantian. "Lo...siapanya Arga?" "Arga?" Cowok itu mengernyit sesaat, sadar akan sesuatu ia kembali berkata. "Oke-oke. Gue baru inget panggilan khusus lo buat Dian itu Arga. True?" Mery mengangguk pelan. Cowok itu mengulurkan tangan. "Dirga Refan Aldresta. Sepupu terganteng yang pacar lo punya. Manusia paling jenius di alam semesta. Cowok paling pacarable di bumi. Dan satu lagi," Dirga menepuk d**a bangga. Ia membawa tangan Mery menuju dadanya. "Cowok yang suka deg-degan kalau liat bidadari, ya kayak lo ini." Mery mengulum senyum. Sejenak, memperhatikan penampilan Dirga. 180° sangat berbeda dari Arga. Tetapi iris coklat, rahang tegas, dan mancungnya hidung cowok itu tetap sama seperti pacarnya. "Hmm... oke." Hanya itu respon Mery setelah menarik tangannya dari d**a Dirga. "Btw, makasih coklatnya. Lo beli dimana? Gue mau nambahin dua lagi nih. Satunya buat gue dan satunya buat papa." "Buat gue nggak ada?" goda Dirga. Menaik-naikkan alisnya. Mery terkekeh pelan. "Kalau gue beli buat lo ya mending ambil aja coklat tadi." Dirga cengengesan. "Becanda, lo galak juga ya? Coklatnya di rak depan tuh. Masih banyak." Sama, respon Mery hanya menganggukan kepala. Ia ingat kata pacarnya, nggak boleh deket-deket sama cowok lain, kalau ada cowok yang ngajak ngomong, jawabnya biasa aja. Nggak usah pakai senyum-senyum. Iya pacar iya. Possesive banget deh. Jadi makin cayang. Umach. ☆☆☆ "Gue beneran bisa pulang jalan kaki kok, lagian rumah gue deket dari sini." "Nggak masalah. Anggap aja sebagai bayaran atas coklat yang gue kasih tadi. Lo cuma perlu duduk diam, dan kita ngobrol-ngobrol di dalam. Atau lo takut sama gue ya?" Dirga tertawa pelan. "Ah. Pasti ini kerjaan Arga. Dasar ya tuh anak posessive banget. Gue sepupunya woi! Sepupunya. Gue nggak bakal ngapa-ngapain lo kok. Suwer!!" Tidak menemukan ekspresi jenaka dari sorot mata Dirga, akhirnya Mery mengganggukan kepala. Padahal dia sudah berulang menolak cowok itu mengantarnya pulang. Tapi Dirga tetap keukeuh sampai ia tidak bisa berkutik sekarang. Dan di sinilah Mery berakhir, duduk dimobil Dirga sambil mendengar cowok itu mengoceh tentang pacarnya. "Jadi, udah berapa lama lo pacaran sama sepupu gue?" tanya Dirga, basa-basi. "Udah hampir tiga bulan." "Lumayan juga. Gimana menurut lo pacaran sama dia? Nyaman?" Pertanyaan Dirga satu ini mengerutkan kening Mery. Cowok itu lantas mengoreksi. "Ya secara gue kan Arga itu orangnya dingin, judes, cuek, terus nggak pekaan. Lo tahan gitu?" Mery menggangguk lagi. Sebisa mungkin ia pelit ekspresi. "Tahan. Banget malahan. Saat sama gue semua sifat dia yang lo sebutin tadi otomatis hilang." "Serius? Ckck, berarti dia udah jadi bucinnya lo nih. Salut deh gue," ungkapnya. Perbincangan sederhana ini, mengenyahkan sebentar kegelisahan Mery. Mereka mulai mengobrol lebih banyak. Mery rasa, Dirga tidak buruk-buruk juga. Cowok itu ternyata juga ahli membuat kata-kata receh sepertinya. Oke fix, Dirga Mery masukkan ke dalam daftar cowok yang tak perlu ia hindari. "Lo sendiri udah punya pacar belum?" tanya Mery. Sekedar basa-basi. Sebab sedari tadi Mery lebih banyak mengangguki. "Udah. Dia juga satu sekolah sama lo." "Serius? Siapa orangnya? Siapa satu kelas sama gue," tanya Mery, penasaran. Dirga meliriknya lewat ujung mata lalu tertawa. Cowok itu merogoh gawai di saku celana kemudian menunjukkan foto seorang cewek yang terpasang di lookscreennya. Mata Mery membulat seketika. "Aileen? Lo... beneran pacaran sama dia?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN