Bab 10 - LDR

1625 Kata
Satu tahun berlalu, Vanesha telah kembali ke kota asalnya. Kini dengan kesibukan masing-masing serta jarak yang terpisah, Tae Min dan Vanesha memutuskan menjalani hubungan jarak jauh dengan sukarela dan penuh suka cita. Setiap hari keduanya selalu siap berada di depan layar ponsel masing-masing sebelum tidur hanya untuk saling bercerita kegiatan keduanya hari itu. "Hai, Sayang!" seru Vanesha yang sedang dalam jam istirahat di Rumah Sakit Kota. "Hai, sayangku, cintaku, manisku, bidadari!" Tae Min lebih antusias menjawab. Pria itu kini mau menjalankan perusahaan ayahnya setelah perjodohan dengan anak kolega ayahnya dibatalkan. Perusahan Kim Grup Corporation milih ayah Tae Min merupakan salah satu perusahaan besar yang bergerak di bidang otomotif di Korea Selatan. Saat ini perusahaan tersebut juga memproduksi mobil listrik. Perusahaan tersebut memiliki pusat penelitian di berbagai negara. Selain di Korea Selatan, perusahaan KG Corporation juga ada cabang di negara Jerman, Jepang, dan juga di Amerika Serikat. "Kau tidak sedang mengadakan rapat?" tanya Vanesha. "Ada sih jadwal hari ini. Satu jam lagi tepatnya. Bagaimana harimu, Sayang?" Tae Min memajukan wajahnya dan mencium layar ponselnya. Pria itu sangat merindukan kekasihnya. "Hahaha, hariku baik. Yah, meskipun sedikit melelahkan." Tiba-tiba, seorang pria memanggil nama Vanesha dengan raut wajah panik. "Vanes, apa kau bisa membantuku dalam operasi kali ini?" tanya Nathan. "Apa tidak ada suster yang lain?" "Sayangnya aku masih butuh bantuan, kau bisa kan?" Nathan masih berusaha membujuk gadis itu. "Ummm … baiklah. Aku akan segera ke ruangan," ucap Vanesha. Gadis itu menoleh kembali pada layar ponselnya yang didirikan dengan alat penyangga ponsel. "Sayang, aku harus pergi, nanti aku hubungi kembali ya," ucap Vanesha. "Baiklah. Tapi ingat pesanku ya, kau harus jauhi Dokter Nathan itu. Aku yakin dia menyukaimu," tegas Tae Min. "Hahaha, baiklah kalau begitu. Aku hanya bertemu dengannya demi pekerjaan. Kau tenang saja ya. Aku mencintai Kim Tae Min." "Aku yang lebih sangat mencintaimu, Vanesha Carter!" seru Tae Min yang langsung menghujani layar ponselnya dengan kecupan. Vanesha memutus sambungan video call tersebut dan bergegas menyusul Dokter Nathan. Di ruangan operasi tersebut juga ada Suster Jane. Dia menatap Vanesha dengan raut wajah kesal. Tetapi, wanita itu berpura-pura tetap ramah dan hangat karena biar bagaimanapun juga dia dan Vanesha teman satu kamar asrama. Seorang pasien wanita berusia tiga puluh tahun datang menggunakan kursi roda. Dokter ahli anestesi mempersilakan pasien itu untuk berbaring di ranjang operasi. Pasien tersebut akan diberi tindakan appendektomi. Hal itu dilakukan karena usus buntu yang tersumbat dan meradang dapat menyebabkan rasa sakit di bagian kanan bawah perut, sakit perut saat batuk atau berjalan. Gejala usus buntu lain yang menyertai adalah demam, diare, mual, dan muntah. Jika tidak segera diangkat, usus buntu yang bengkak atau terinfeksi bisa pecah dan menyebabkan komplikasi yang lebih parah. Tanpa adanya intervensi bedah, radang usus buntu pecah sangat berisiko menyebabkan perforasi atau perhubungan usus. Perforasi usus adalah kondisi yang dapat mengancam nyawa. Setelah pasien tidak sadarkan diri, Dokter Nathan mulai membuat sayatan. Setelah sayatan dibuat, dokter itu akan memotong usus buntu yang menempel di usus besar dan dikeluarkan dari tubuh. Bekas potongan kemudian akan dijahit dengan staples medis khusus dan sayatan juga akan ditutup dengan jahitan. Jane dan Vanesha ikut membantu dengan cekatan menjadi asisten Dokter Nathan. Selama operasi, Dokter Nathan juga membersihkan rongga perut si pasien jika usus buntu telanjur pecah dan infeksi telah menyebar ke organ lain. Sampai pada akhirnya, operasi tersebut sukses dilakukan. * "Terima kasih atas kerja sama kalian dalam membantuku," ucap Nathan. "Sama sa–" "Sama-sama, Dokter. Oh iya bagaimana kalau kita merayakan keberhasilan kali ini dengan makan malam atau karaoke? Bukankah Anda sedang berulang tahun hari ini?" tanya Jane mengucap dengan manja. "Kebetulan kalau begitu, hari ini saya memang sedang berulang tahun. Vanesha, maukah kau ikut bersama yang lainnya untuk merayakan ulang tahunku?" " tanya Nathan. "Aku ummm–" "Sepertinya Vanesha sibuk, dia kan harus berkencan virtual dengan kekasihnya." Jane memotong pembicaraan Vanesha seketika. "Tapi ini ulang tahunku loh. Ayolah, Vanesha, jangan buat aku kecewa," pinta Nathan dengan tatapan memelas. "Baiklah kalau begitu," jawab Vanesha yang akhirnya menyetujui. "Wah, senang sekali rasanya kau bisa ikut," ucap Nathan. "Tapi maaf, aku belum menyiapkan kado untukmu. Besok ya akan kubelikan kado untukmu. Kak Nathan mau kado apa?" tanya Vanesha. "Ummm, aku hanya ingin hatimu sebagai kado untukku." "Hahaha, kau punya hati yang sehat. Lagi pula kalau aku donorkan hati untukmu nanti aku bisa mati," sahut Vanesha berkelakar dan pura-pura tak mengerti arah pembicaraan pria itu. "Vanesh! Aku hanya ingin kau jadi milikku. Kenapa sih kau tak pernah bisa menerimaku sebagai kekasihmu?" tanya Nathan. "Kak Nathan … berkali-kali sudah aku bilang, aku punya kekasih. Aku sangat mencintainya, dan satu hal yang pasti … aku mencintai kekasihku," ucap Vanesha. Jane mulai muak mendengar perbincangan dua orang di hadapannya itu. Dia bagaikan alat pewangi ruangan atau tanaman dekorasi yang hanya bisa diam menyimak. Gadis yang kesal itu akhirnya memutuskan untuk pergi. Jane sempat menabrakkan bahunya ke bahu Vanesha saat melangkah pergi. Biar bagaimanapun juga dia sangat membenci kehadiran gadis itu. Nathan dengan terang-terangan malah menyukai Vanesha, gadis yatim piatu dari panti asuhan di desa terpencil dibandingkan dengan dirinya yang terlahir sebagai putri konglomerat. Nathan selalu saja menolak Jane. Padahal wanita itu sudah mengorbankan diri menjadi seorang suster demi selalu berada dekat dengan pria yang dia cintai itu. Akan tetapi, lagi-lagi kehadiran Vanesha lebih memikat dan menarik perhatian dokter muda nan tampan itu. * Nathan membawa enam pegawai rumah sakit termasuk Vanesha dan Jane ke sebuah klub malam di Kota Flower. Klub Seduction Hill memang tidak ada duanya. Di kota tersebut memang terdapat banyak klub dansa di bawah tanah yang dijadikan tempat-tempat lantai dasar yang kreatif. Beberapa di antaranya juga merupakan bekas gudang yang tidak digunakan yang disulap menjadi superclubs. Di dalam klub malam tersebut terdapat panggung ingkat atas yang biasa mengundang DJ kelas dunia. Destinasi klub malam yang sempurna bagi pecinta musik dan pesta. DJ bawah tanah yang membawakan legenda musik elektronik dan pertunjukan langsung selalu membuat kesuksesan dan keceriaan bagi para pengunjung. Genre musik bervariasi setiap malam, tetapi para pengunjung dapat mengharapkan semua jenis musik. Mulai dari musik pop dengan beatvmusik canggih, musik tekno dan musik elektro, hingga musik disko yang klasik. Dokter Nathan selalu mendekati Vanesha dan menggoda gadis itu. Dia selalu mengajak gadis yang disukainya itu untuk berdansa. "Kenapa kau selalu menolakku, Vanes?" tanya pria itu yang mulai mabuk dan memaksa Vanesha untuk berdansa dengannya. "Maaf, Kak Nathan, aku mau ke kamar mandi sekarang," ucap Vanesha yang bergegas menuju ke toilet bagi perempuan di klub malam itu. Jane mulai memanfaatkan situasi. Dia mendekat ke arah Nathan. Gadis itu menuangkan kembali vodka martinije gelas kristal di tangan pria itu. "Sudahlah Kak Nathan, sebaiknya kau menyerah. Vanesha dan kekasihnya saling mencintai. Sulit rasanya merebut hati Vanesha," ucap Jane. "Kuingatkan padamu ya, Jane, berkali-kali juga aku tak menerima saranmu itu. Aku akan buktikan kalau aku dapat merebut Vanesha dari tangan si pria sipit itu," tegas Nathan berucap. Jane makin mendekat dan melingkarkan kedua tangannya di leher Nathan. Gadis itu dengan nekat hendak mencium pria yang sudah lama dia sukai itu. Namun, Nathan langsung mendorong gadis itu sampai jatuh. Nathan tak pernah bisa termakan rayuan Jane. "Jane, apa kau tak apa-apa?" tanya Vanesha yang baru sampai dan mencoba membantu gadis itu berdiri. "Lepaskan aku! Aku tak butuh bantuanmu!" pekik Jane menepis tangan Vanesha saat bangkit berdiri. Gadis itu langsung berlari menuju ke pintu keluar dari klub malam tersebut. "Jane, tunggu!" Vanesha hendak langsung mengejar Jane, tetapi Nathan menahan tangan gadis itu. "Hari ini ulang tahunku, Vanes, tetaplah di sini! Aku mohon …." "Maaf, Kak Nathan, aku harus mencari Jane," ucap Vanesha yang melepaskan pegangan tangan Nathan dari lengannya. Gadis itu berlari menuju ke luar klub. Akan tetapi sayangnya, dia tak menemukan keberadaan Jane. Sampai akhirnya Vanesha memutuskan untuk kembali ke asrama. Namun, keberadaan teman satu kamarnya itu tetap tak jua dia temukan. "Jane, di mana kau?" gumam Vanesha saat menghubungi nomor ponsel milik Jane tapi tak jua diangkat. Bahkan ponsel milik Jane akhirnya dimatikan. Malam semakin larut, Vanesha akhirnya lelah menunggu Jane pulang. Gadis itu merebahkan tubuhnya ke atas ranjangnya. Rasa lelah dan kantuk sudah tak bisa dia tahan. Dia bahkan mengabaikan sambungan telepon dari Tae Min di layar ponselnya. Kedua mata lentik gadis itu sudah terpejam menuju ke alam mimpinya. * Keesokan harinya, Vanesha terbangun dan sudah mendapati Jane di depan cermin dengan pakaian seragam suster yang rapi. "Jane, kau pulang jam berapa? Kenapa kau tak mengangkat telepon dariku?" tanya Vanesha. "Batere ponselku habis. Ayo, kita bekerja! Aku duluan ya ke rumah sakit ada yang harus aku lakukan," ucap Jane seraya tersenyum dengan manis. "Kenapa dia tersenyum manis begitu? Apa Jane sudah melupakan kejadian malam tadi, ya?" gumam Vanesha yang bangkit berdiri menuju ke kamar mandi. Setelah Vanesha sudah berpakaian seragam suster dengan rapi, dia bergegas menuju ke rumah sakit. Saat dia berada di ruangan para suster, Jane datang membawa lima kotak berisi steak daging sapi, kentang goreng, dan sayuran. Dia memberikannya kotak makanan itu pada para suster yang berada di sana termasuk pada Vanesha. "Setau ku, kau tidak berulang tahun hari ini. Memangnya ada acara apa, Jane?" tanya Vanesha. "Memangnya jika aku membawa makanan mahal seperti ini harus sedang berulang tahun?" Jane balik bertanya seraya tertawa. "Lalu, dalam rangka apa kau berikan kami makanan mewah ini?" tanya Suster Kelly yang sudah menyantap menu makanan itu. "Aku hanya sedang bahagia," jawab Jane. Wanita itu lantas menoleh pada Vanesha. "Ayo, lekas dimakan dan habiskan! Aku pergi dulu ya, dah semuanya!" Jane lantas melangkah pergi. Vanesha mengira kalau Jane sudah memiliki tambatan hati yang lain. Dia pun bersyukur jika memang itu benar terjadi. Itu artinya sahabatnya itu sudah melupakan Dokter Nathan. Namun, satu jam setelah dia menghabiskan makanan dari Jane, mendadak perutnya terasa melilit. Vanesha merasakan mual dan akhirnya dia muntah muntah. Kepalanya terasa pusing dan berat. Gadis itu tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri saat sedang berada di kamar mandi perempuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN