Bab 11 - Kejahatan Jane

1221 Kata
Vanesha merasakan mual dan akhirnya dia muntah muntah. Kepalanya terasa pusing dan berat. Gadis itu tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri saat sedang berada di kamar mandi perempuan. Vanesha langsung dilarikan ke unit instalasi gawat darurat oleh Suster Gayle saat menemukannya di toilet. Dokter Nathan yang mendengar berita tentang pingsannya Vanesha langsung keluar dari ruangannya. Pria itu berlari menuju ke tempat gadis yang disukainya terbaring tak berdaya. "Apa yang terjadi, Dokter?" tanya Nathan pada Dokter Hope, dokter jaga yang bertanggung jawab di ruangan itu pada jam tersebut. Kedua tangannya langsung menggenggam tangan Vanesha dengan erat. "Apa dia gadismu, Dokter Nathan?" tanya Dokter Hope. "Belum, tapi dia akan segera menjadi gadisku." "Begini, Dokter Nathan. Aku merasa dia makan sesuatu yang salah. Aku sudah mengambil sampel darah yang sedang diamati di laboratorium." "Maksudmu, Vanesha keracunan?" Nathan sampai mengernyitkan dahi. "Aku rasa begitu. Namun, seringkali sulit memastikan jenis racun dan dosisnya. Untungnya, informasi ini umumnya tidak selalu diperlukan karena hanya sedikit racun yang memiliki antidotum yang spesifik," tutur Dokter Hope. "Apa yang dia makan sebelumnya, ya?" "Dia harus dipindahkan ke kamar perawatan untuk pasien karena gadis ini memerlukan pengeluaran racun secara aktif. Pada kebanyakan kasus, tatalaksana ditujukan pada gejala yang muncul atau simptomatik. Walaupun demikian, pengetahuan tentang jenis dan saat terjadinya keracunan akan membantu dalam mengantisipasi efek toksik yang muncul. Semua informasi yang relevan, baik dari pasien dan orang terdekatnya perlu didapatkan." "Baiklah, lakukan yang terbaik menurutmu baik. Aku akan mencari tahu apa yang terjadi dengan Vanesha sebelum dia seperti ini. Semua kupercayakan ke padamu, Hope!" Nathan menepuk bahu teman sejawatnya itu. Malam itu, Nathan menemani Vanesha sampai dipindahkan ke ruang perawatan di lantai tiga. Gadis itu belum juga tersadar. Mungkin juga dikarenakan pengaruh obat yang diberikan. Seorang suster datang menghadap Nathan. "Halo, Dokter Nathan, bisa kita bicara?" pinta Suster Kelly. "Ada apa, Suster Kelly? Katakan saja di sini!" titah pria itu dengan melukiskan wajah yang tampak serius. "Kami makan steak mewah sebelumnya," tutur Kelly. "Steak mewah? Maksudnya bagaimana, Suster Kelly?" Nathan mulai menyimak. "Ini hanya kecurigaan aku semata, Dokter Nathan, karena aku dan yang lainnya sudah memeriksa kondisi kami dan baik-baik saja. Tapi, ini hanya kecurigaan ku saja karena Jane yang membagikan makanan itu," ucap Kelly dengan raut wajah agak ketakutan. "Jane? Maksud mu dia yang memberikan makanan steak mewah itu?" Suara Nathan sudah terdengar meninggi. "Iya, Dokter. Kami sempat berpikir kalau dia sedang berulang tahun, tetapi dia bilang tidak. Dia hanya ingin merayakan sesuatu dan memberikan kami makanan. Tapi ini hanya dugaan ku semata, sebaiknya Anda menyelidiki lebih lanjut," ucap Kelly. Namun, Nathan sudah keburu naik pitam. Dia keluar dari ruang perawatan Vanesha dan menghubungi Jane. Rupanya wanita tersebut sudah berada di kamar asramanya. "Bisa kita bertemu?" tanya Nathan melalui hubungan ponsel. "Memangnya ada apa, tumben sekali rasanya mendengar mu ingin bertemu denganku?" tanya Jane dengan nada suara yang selalu saja dia buat manja dan menggoda kala berbicara dengan Nathan. "Aku akan membicarakan tentang kita, bisa aku ke kamar asrama mu?" "Tentu saja, datanglah ke sini. Aku akan bersiap diri dulu." Jane menutup sambungan ponsel itu. Wanita itu terlihat berjingkrak-jingkrak kegirangan karena merasa Nathan telah luluh. Dia sempat memberikan kue coklat yang dibubuhi ramuan cinta yang dia dapatkan dari seorang wanita gipsi yang dapat meramalkan nasib. Jane meletakkan kue tersebut di meja dalam ruangan Nathan. Padahal pria itu belum menyentuh kue tersebut sama sekali. Apalagi saat dia tahu pengirimnya bernama Jane, pasti tak akan Nathan sentuh pemberian apapun dari Jane. Sementara itu di dalam kamar asrama, Jane sudah bersiap dengan lingerie strap warna hitam miliknya. Dia memang sengaja menyiapkan itu yang digunakan untuk menggoda lawan jenis. Lingerie tak digunakan dengan alasan kenyamanan, namun dipilih yang paling menggoda dan terlihat seksi. Semakin seksi model lingerie-nya, maka pria-pria akan semakin tertarik, begitu kata penjual yang menarik minta beli Jane. Tak cuma dari busananya saja, lingerie biasanya dilengkapi dengan aksesori-aksesori lainnya. Misalnya saja lingerie strap, stocking tipis, korset dan lainnya. Semakin rumit dan menarik bentuk lingerie yang digunakan perempuan, maka pasangannya akan semakin tertarik. Tak heran kalau lingerie digunakan sebagai salah satu cara untuk merangsang para pria Nathan datang mengetuk pintu asrama tersebut. Betapa terkejutnya pria itu kala mendapati Jane dengan pakaian dalam yang dikenakan begitu sangat menggoda. Wanita itu menarik tangan sang dokter agar masuk ke dalam kamar asrama. "Apa kau tau di mana Vanesha berada?" tanya Nathan mengamati sudut kamar yang ditempati Vanesha. "Bukankah kau menghubungiku untuk mencariku? Kenapa yang kau tanyakan malah Vanesha? Lagi pula dia sedang bekerja, kan? Sepetinya dia juga pulang larut mungkin karena lembur," sahut Jane datar seraya menuangkan segelas wine untuk Nathan. Dia benar-benar sudah menyiapkan segalanya dan membuat ruangan itu tampak romantis. "Hmmm, jadi begitu ya, Vanesha sedang lembur." Jane malah melancarkan atraksi erotis di depan Nathan. Alunan lagu romantis dia alirkan dari suara ponsel miliknya. Wanita itu mulai menari dan meliuk-liukkan tubuhnya di hadapan pria yang sejak lama dia cintai itu. "A-apa yang kau lakukan, Jane?" "Berikan aku kesempatan kalau aku dapat membuatmu lebih bahagia dari Vanesha. Aku bisa memuaskanmu malam ini," lirih Jane yang dalam posisi turun berjongkok lalu merangkak menuju Nathan. Pria itu memang sudah duduk di kursi meja belajar milik Vanesha. Sebenarnya Jane terlihat sangat cantik, tubuhnya yang proporsional dengan bagian tubuh bagian atas berukuran 34B pasti akan sangat menggoda setiap kaum adam di dunia. Hanya saja, hati Nathan sudah terpatri pada Vanesha. Tubuh Jane sudah mendekat penuh tantangan. Bahkan Nathan sengaja membiarkan wanita itu menyerangnya dengan hujaman kecupan sampai posisi wanita itu sudah berada di atas pangkuan Nathan. Dia juga mulai menanggalkan semua penutup tubuhnya kala itu. Jane menarik tangan Nathan untuk meremas gundukan bukit kembar miliknya. Namun, pria itu mendadak menepis dan mencengkeram leher wanita yang sudah sangat terangsang itu. "Apa itu yang kau inginkan dariku?" serang Nathan dengan perkataan sinisnya. "Maksud Kak Nathan?" Jane mulai kikuk dan salah tingkah padahal hasrat cintanya sudah membuncah maksimal. "Kau hanya ingin tidur denganku?" "A-aku, aku tak mengerti perkataan Kak Nathan. Aku sangat menyukaimu, aku mencintaimu Nathan Smith." "Kau bilang itu cinta? Bahkan sampai kau tega memberi racun pada Vanesha masih juga akan kau bilang itu cinta ke padaku?" Nathan mengangkat lalu menghempas tubuh Jane ke atas ranjang wanita itu. "Aku tak mengerti apa yang Kak Nathan katakan," ucap Jane mencoba berdalih. "Kau meracuni Vanesha, banyak saksi mata saat kau memberikan makanan padanya dan pada suster lainnya. Jika kau tak datang ke rumah sakit untuk meminta maaf padanya maka akan aku pastikan kau masuk ke penjara. Akan aku pastikan headline surat kabar kota ini atas namamu dan mencoreng keluarga besarmu!" ancam Nathan seraya melangkah ke luar asrama. Pria itu membanting daun pintu dengan keras saat menutupnya. "Aarrgghh! Dasar sial kau Vanesh!" Gadis itu terus berteriak dan mengacak-acak semua barang yang ada di dalam kamar asrama tersebut. Dia meluapkan kekesalannya hanya untuk merutuki Vanesha malam itu. * Keesokan harinya, Nathan membawa ibunya untuk datang ke rumah sakit menjenguk Vanesha. Dia sudah mengatakan pada wanita itu kalau Vanesha adalah wanita pilihannya. Dia meminta ibunya datang ke rumah sakit untuk melamar gadis pujaannya itu. "Ibu harus melihat Vanesha, dia cantik sekali. Aku sangat mencintainya," ucap Nathan. "Iya, Ibu tau, Nak. Kau selalu saja bercerita tentang Vanesha dan Vanesha. Setiap hari nama dia yang selalu kau sebut," ucap wanita itu sampai membuat Nathan meringis malu. Pria itu lantas membawa ibunya memasuki ruang perawatan Vanesha. Gadis itu masih terlelap. Namun, raut wajah ibunya Nathan tampak terperangah kala melihat gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN