Bab 12 - Adik Kakak

1162 Kata
Nathan membawa ibunya memasuki ruang perawatan Vanesha. Gadis itu masih terlelap. Namun, raut wajah Nyonya Valencia tampak terperangah kala melihat gadis itu. Dia menghentikan langkahnya. Perasaan dalam dirinya tiba-tiba bergejolak seolah ada kesedihan di sana. "Ada apa, Bu?" tanya Nathan. "Entahlah, Nak. Ibu merasakan ada yang aneh," ucapnya. Vanesha lantas tersadar dari tidur lelapnya. Gadis itu tersenyum menatap Nathan. Namun, tatapan mata gadis itu mendadak terbelalak dan tertuju pada wanita di samping sang dokter. "Vanesha, kenalkan ini ibuku. Dia ku ajak ke sini untuk menemuimu. Aku ingin kalian berkenalan lebih jauh karena aku ingin meminta ibuku melamarmu untukku," ucap Nathan. "Ta-tapi, tapi wanita ini adalah …." Vanesha menatap Nyonya Gisel dengan saksama. "Kak Nathan apa kau membawa tas kecil yang aku bawa saat bekerja kemarin?" tanya Vanesha. "Tentu, aku membawanya untukmu. Kau pasti membutuhkan. Oh iya soal perkataan aku tadi, aku benar-benar dan sungguh-sungguh ingin menjadikanmu istriku," ucap Nathan penuh keyakinan seraya menyerahkan tas jinjing milik Vanesha. Sebenarnya, saat Nathan membawa ibunya untuk bertemu Vanesha, betapa terkejutnya gadis itu kalau wanita yang ada di foto yang selama ini jadi penyemangat hidupnya adalah wanita yang sama dengan ibunya Nathan. Gadis itu meraih sebuah foto di dalam tas miliknya. Foto seorang wanita yang menggendong bayi yang selalu Vanesha bawa ke manapun sebagai penyemangat hidupnya. Foto bayi yang bertuliskan "Vanesha malaikat kecil ku" di bagian belakang lembaran foto tersebut. Nathan membantu Vanesha untuk bangun. Pria itu juga memutar knop ranjang agar membantu posisi gadis itu menjadi duduk dengan nyaman. "Halo, Vanesha! Nama saya Gisel, saya ibunya Nathan," ucap wanita itu saat memperkenalkan diri dan mendekat. "Halo, Nyonya Gisel, salam kenal namaku Vanesha. Maaf sebelumnya, apa kau tahu tentang foto ini?" Vanesha menyerahkan lembaran foto masa lalu itu pada Nyonya Gisel. "Ya Tuhan … dari mana kau dapatkan foto ini?" pekik wanita itu. "Apa terjadi, Bu? Loh, bukannya ini foto ibu, lalu siapa gadis kecil ini?" tanya Nathan yang meraih selembar foto usang dari tangan ibunya. Nyonya Gisel hampir limbung dan mulai hilang kendali untuk berdiri tegak. Nathan langsung sigap dan memberikan kursi di samping ranjang Vanesha untuk ibunya. "Ibu duduklah di sini! Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan siapa foto gadis kecil ini?" tanya Nathan. Nyonya Gisel hanya diam. Namun, perlahan-lahan bulir bening itu tak dapat terbendung. Linangan air mata itu mulai menyeruak seiring dengan isak tangis wanita itu. "Bayi perempuan itu aku, Kak," sahut Vanesha seraya menundukkan kepalanya dan menahan tangis. Gadis itu juga sudah memilin ujung selimut yang menutupi kedua kakinya. "Apa maksudnya itu, Vanesha? Jika bayi ini adalah dirimu, lalu apa hubungannya dengan ibuku?" tanya Nathan. "Ibu panti asuhan tempat aku tinggal dan dibesarkan bilang kalau wanita di dalam foto itu adalah … ibuku." "Apa? Mana mungkin itu terjadi?" pekik Nathan mulai emosi dan suara yang meninggi. "Ibu panti bilang ibuku sudah meninggal dan menitipkan aku di sana. Aku juga tak mengerti kenapa dia masih hidup dan menjadi ibumu. Apa dia kembar?" tanya Vanesha yang menoleh tajam pada Nyonya Gisel. "Aku tak memiliki kembaran. Foto itu memang aku," ucap Nyonya Gisel yang akhirnya membuka suara. Mendengar pengakuan ibunya, Nathan langsung terperanjat dan tak percaya. "Apa maksud Ibu mengatakan wanita ini adalah Ibu? Kenapa Ibu menggendong bayi ini?" tanya Nathan. "Karena bayi itu, dia adalah putriku," sahut Nyonya Gisel. Bagai tersambar petir di siang hari dan bagaikan tersengat listrik, Nathan langsung goyang dan terjatuh duduk di atas lantai, di hadapan ibunya. "Jadi, Vanesha itu anak Ibu?" tanya Nathan. "Jika memang bayi itu adalah Vanesha yang ini, berarti dia memang putriku, Nak," ucap Nyonya Gisel sambil terisak. "Ternyata ibu kandungku membuangku," ucap Vanesha yang sudah menitikkan tetes demi tetes air mata ke atas selimutnya. Wanita yang selama ini dia doakan masuk surga dan wanita yang selama ini menemaninya hanya dari selembar foto usang ternyata masih hidup. Terlebih lagi Vanesha makin merasa kalau dia dibuang oleh ibu kandungan sendiri. "Percayalah Vanesha, Ibu tidak membuangmu. Ibu melakukan itu karena keadaan dan untuk melindungimu," ucap Nyonya Gisel mencoba membela diri di hadapan Vanesha. "Kau meninggalkan aku di panti asuhan. Betapa sedihnya aku saat kehilangan dan tak pernah merasakan kasih sayang orang tua!" teriak Vanesha. "Bukan seperti itu maksudnya, Nak," ucap Nyonya Gisel. "Lalu, maksud Ibu yaitu kalau Ibu berselingkuh dari ayah, kan? Vanesha itu anak hasil perselingkuhan Ibu, iya kan?" tuding Nathan. "Dengarkan penjelasan Ibu dulu!" Nyonya Gisel berusaha menenangkan Nathan dan juga Vanesha. Dia lantas menceritakan kisahnya sekitar dua puluh tahun yang lalu. Ayahnya Nathan lah yang sebenarnya berselingkuh. Pria itu bahkan berselingkuh dengan sahabat Gisel sendiri. Wanita itu memutuskan untuk bercerai dan pindah ke kota kecil. Sayangnya, sang suami tak mengizinkan dia membawa Nathan yang berusia lima tahun. Gisel akhirnya pindah ke kota yang sama dengan panti asuhan tempat Vanesha dibesarkan. Akan tetapi sebulan setelah perceraian, Gisel berada di acara ulang tahun teman kerjanya di sebuah club malam saat berada di luar kota. Wanita itu mabuk dan melakukan hubungan terlarang dengan seorang pelaut yang baru ria temui di klub malam tersebut. Pria itu ternyata suka berpetualang mengarungi samudra luas. Cinta satu malam itu membuat Gisel hamil. Namun, si pelaut tak pernah kembali. Bahkan kabar yang berhembus, si pelaut itu telah tewas tergulung ombak tsunami di suatu desa di dekat Pantai Yolo. Kondisi perutnya makin besar tanpa seorang suami di sampingnya. Gisel mulai memiliki hutang karena terjebak dengan investasi palsu. Dia pun sampai tak bisa membayar biaya rumah sakit. Namun, dia bertemu dengan mantan suaminya, ayahnya Nathan. Pria itu akan membayar semua hutang Gisel dan juga meminta wanita itu kembali ke pelukannya asal dia tinggalkan Vanesha. Saat itu kondisi Gisel memang labil dan merasa lemah. Dia tak ingin hidup dalam kemiskinan apalagi harus mengurus seorang bayi tanpa suami. Dengan berat hati, Gisel meninggalkan Vanesha di panti asuhan dan meminta Ibu Rose untuk menyembunyikan identitasnya. Untuk itulah pemilik panti memberitahukan pada Vanesha kalau ibunya sudah meninggal padahal belum. Gisel juga kerap mengirimkan sumbangan untuk panti asuhan dan juga biaya pendidikan dan kesehatan Vanesha tanpa siapapun tahu. Hanya Gisel dan ibu pemilik panti yang tahu. "Maafkan Ibu, Nak, Ibu memang salah kala melakukan itu. Tapi, Ibu terpaksa. Ibu tak ingin ayahnya Nathan malah membuatmu celaka," ucap Nyonya Gisel mencoba untuk menggenggam tangan Vanesha tetapi langsung ditepis oleh gadis itu. Nathan yang merasa kecewa, tak percaya, bahkan penuh emosi memilih untuk pergi ke luar ruangan. Dia juga ingin menenangkan diri setelah tahu kalau dia dan Vanesha berasal dari rahim wanita yang sama. Pria itu sampai menabrak Jane yang sedari tadi berada di luar kamar perawatan Vanesha. Gadis itu sudah mengetahui semuanya. Semua kebenaran tentang Nyonya Gisel dan juga kebenaran kalau Vanesha dan Nathan adalah kakak beradik. Ada hati senang yang langsung hinggap di hati Jane. Rasanya dia ingin melonjak-lonjak kala dewi fortuna masih berpihak ke padanya. Tak ada lagi saingan karena gadis yang dicintai Nathan ternyata adik kandung sendiri meskipun berbeda ayah. Mengetahui kalau Vanesha dan Nathan merupakan kakak beradik, Jane masuk ke dalam ruang perawatan temannya. Jane lalu meminta maaf dan sangat menyesal pada Vanesha. Dia juga dengan bijaksana membuat Vanesha pada akhirnya mau memaafkan Nyonya Gisel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN