1

1006 Kata
1 Awan mendung menyelimuti langit Pekanbaru. Hujan rintik-rintik menyirami bumi disertai angin sepoi-sepoi yang membelai pepohonan. Flora Kaeli berdiri di dekat jendela kaca lebar dan tinggi kamarnya yang terdapat di lantai dasar sebuah rumah mewah. Ia memandang muram cincin emas bermata berlian yang melingkar di jari manisnya. Desah pelan lolos dari bibir kemerahannya yang tidak dipoles lipstik. Lalu pandangannya beralih ke ranjang berukuran besar yang ada di kamar tersebut. Waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari. Sesosok tampan bertubuh kekar terbaring di sana. Beberapa untai rambut tebal nan gelapnya menutupi kening. Pria itu baru pulang sekitar satu jam yang lalu. Entah dari mana. Mungkin dari bertemu kekasihnya …. Kekasihnya …. Flora menyeringai sedih. Ia berbalik memandang langit gelap yang meneteskan hujan rintik-rintik. Mata Flora panas terbakar. Perlahan-lahan, kristal bening bergulir di pipinya. Ia tidak benar-benar tahu apakah sesungguhnya Arion memiliki kekasih atau tidak. Namun aroma feminin parfum yang menguar di kamar tersebut—tepatnya dari tubuh kekar itu—membuatnya berasumsi demikian. Flora muak, tapi tidak ada apa yang bisa ia lakukan. Bukankah saat setuju membantu Sonia dengan menikah dengan Arion Mahardika, sang pengusaha perhotelan yang sukses, ia tahu pasti kehidupan apa yang mengadang di depannya? Pria bertubuh tinggi sekitar 185 senti itu menyatakan dengan jelas bagaimana status pernikahan mereka. “Kenalkan, Flo, dia Arion Mahardika,” kata Sonia pada Flora. Lalu menoleh pada Arion. “Ar, dia Flora Kaely, sepupuku.” Malam itu mereka berada di salah satu kafe yang cenderung sepi. Hanya ada satu dua pengunjung lain. Pria bernama Arion Mahardika itu memandang Flora dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan mata yang hampir tak berkedip. Flora merasa sangat tidak nyaman. Namun ia hanya diam karena sadar akan alasan mengapa pria yang lebih tinggi sekitar 25 senti darinya itu memandangnya demikian. Jika kau ingin membeli barang dengan harga tinggi, bukankah harus memperhatikannya baik-baik lebih dulu? Hati Flora mencelus. Hari ini, harga diri sebagai gadis baik-baik yang telah ia pertahankan sampai di usia 23 tahun, menguap tak berbekas. Ya. Pria mana lagi yang akan menghargai wanita yang bersedia menikah demi uang semata? Meski Flora belum sepenuhnya memutuskan akan menikah dengannya, tapi sepertinya pria itu tidak berpendapat demikian. Dengan bersedia bertemu, Arion menganggap Flora telah setuju menikah dengannya. Iris gelap Flora beradu dengan sepasang iris cokelat keemasan yang bersinar tajam. Jantung Flora seketika berdegup liar. Ia pernah beberapa kali berpacaran, tapi belum pernah jantungnya memberontak seperti ini. Tiga puluh menit kemudian, kesepakatan pun terjalin. “Kau akan menjadi istriku selama aku menginginkannya. Kau tak berhak mempertanyakan kehidupan pribadiku.” Dan pria itu pun menulis dua lembar cek, dua ratus juta untuk Sonia sebagai imbalan jasa karena membantunya mendapatkan istri secara instan, dan lima ratus juta untuk Flora yang bersedia menjadi istrinya. Dua hari setelah kesepakatan itu, Flora dan Arion pun menikah. Sesungguhnya, Flora sama sekali tidak tahu alasan pria itu harus buru-buru menikah, bahkan menikahi wanita yang tak dikenalnya. Acara pernikahan mereka dihadiri oleh kerabat dan teman-teman dekat—tepatnya dari pihak Arion. Sementara Flora tidak mengundang siapa pun. Ia sebatang kara. Tidak ada kerabat yang terlalu dekat yang ia inginkan untuk menjadi saksi pernikahan tanpa cintanya dengan Arion. Satu-satunya orang yang hadir untuk menguatkannya adalah Santika, sahabatnya sejak di bangku SMP. Sebenarnya Santika menentang keras keputusan Flora menikah dengan Arion. Akan tetapi Flora memintanya mengerti. Ia tak tega membayangkan Sonia diceraikan oleh Roby. Lebih tak tega lagi memikirkan bagaimana nasib anak yang Sonia kandung jika pasangan itu bercerai. Sonia sendiri tidak hadir karena ada urusan mendesak. Flora kecewa, tapi berusaha menerima dengan lapang d**a. Flora menghela napas panjang teringat kenangan suram itu. Ia mengusap air mata di pipi, dan berbalik. Sekali lagi memandang pria yang kini telah menjadi suaminya. Sesaat kemudian, dengan perasaan sedih, Flora melangkah menuju sofa yang ada di kamar tersebut, tempat ia tidur selama lima hari ini. *** Semburat jingga mewarnai ufuk timur. Perlahan-lahan sinar matahari menyinari bumi. Di pagi yang cerah itu, Flora sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk sang suami dan kedua mertuanya. Sang mertua laki-laki, Abhidama Mahardika, adalah pria awal enam puluh dengan rambut keperakan. Sementara sang mertua perempuan, Lily Mahardika, adalah wanita pertengahan lima puluh bertubuh sedikit gemuk. Ada pertanyaan yang diam-diam selalu mengusik Flora. Entah mengapa, ibu mertuanya sangat tidak menyukainya. Seperti yang terjadi pagi ini. Menjelang pukul delapan, semua sudah berkumpul di ruang makan dengan meja persegi panjang yang indah dan mahal. Flora menghidangkan bubur ayam untuk kedua mertua dan suaminya. Arion yang sudah mengenakan setelan jas lengkap untuk ke hotel, hanya memandangnya sekilas, lalu menyantap bubur ayam itu tanpa kata. Demikian juga dengan sang mertua laki-laki yang makan tanpa berkomentar. Namun saat Flora baru saja akan menyuap bubur ke mulut, sebaris komentar pedas menghentikan gerakannya. “Apa yang kau masak, Flora? Bubur ini sangat asin!” Flora tak jadi menyuap. Ia memandang ibu mertuanya dengan terkejut. Sekilas ia melirik Arion dan ayahnya yang tampak mengerut kening. Flora akhirnya menyuap bubur itu, mengecapnya. Rasanya pas, tidak keasinan seperti yang dikatakan sang ibu mertua. “Maafkan aku, Ma.” Hanya itu yang bisa Flora katakan. Entah mengapa, ia selalu salah di mata ibu mertuanya. Abhidama memandang istrinya. “Menurutku buburnya tidak keasinan, Sayang.” Lily mendengkus, lalu mengangkat kaki, meninggalkan ruang makan dengan wajah kesal. “Buburnya enak, Flo. Papa suka,” kata Abhidama dengan senyum tipis. Flora memandang ayah mertuanya dan mengangguk dengan senyum samar. Merasa lega sang ayah mertua bersikap baik kepadanya. Ia melirik Arion yang rupanya saat itu sedang menatapnya. Mata mereka beradu. Iris cokelat keemasan itu sama sekali tidak menunjukkan emosi apa pun. Arion mengalihkan pandangan dan melanjutkan makannya. Tidak ada sepatah kata pun terucap dari bibir merah kecokelatan itu. Beberapa saat kemudian pria itu menyudahi makannya, mengelap mulut dengan serbet, meneguk kopi, lalu beranjak pergi setelah berpamitan pada sang ayah. Sementara Flora tidak diacuhkan. Sama sekali tidak ada kata-kata berpamitan atau pun kecupan ringan di kening. Tanpa sadar Flora menyeringai sinis sekaligus sedih. Hampir sepekan pernikahan mereka, satu-satunya saat Arion menciumnya adalah ketika upacara pernikahan. Hanya sekali itu. *** Love, Evathink Follow i********:: evathink jangan lupa love/follow dan komen ya teman2. makasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN