2
Ruang kerja Arion Mahardika terletak di lantai tertinggi hotel mewahnya yang berlantai dua puluh. Ruangan itu luas dengan sebuah meja kerja dan kursi empuk, serta satu set sofa dan minibar dengan gelas-gelas kristal dan minuman-minuman mahal.
Arion berdiri di dekat dinding kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Tatapannya melanglang buana pada bangunan-bangunan dan kendaraan-kendaraan yang hilir-mudik dan tampak kecil nun jauh di sana. Ia memegang gelas kristal berisi anggur.
“Aku tak habis pikir kenapa kau menikahi wanita yang tak kaucintai, bahkan tak kaukenal.”
Arion berbalik, memandang sesosok bertubuh tinggi kekar yang duduk di sofa. Sahabatnya itu tidak hadir saat pernikahannya dan Flora dilangsungkan karena sedang berada di luar negeri. Arion tidak berkecil hati mengingat betapa terburu-burunya pernikahan itu sendiri.
“Aku lelah terus-menerus disodori wanita cantik demi wanita cantik oleh ibuku. Kau pun tahu, Harv, wanita-wanita itu dangkal. Putri-putri orang kaya yang tahunya hanya berdandan dan membelanjakan uang orangtua. Aku benci wanita matrialistis seperti mereka.”
“Tapi bukan berarti kau harus menikahi sembarang wanita.”
Arion menyeringai samar. “Flora bukan wanita sembarangan, Harv.” Arion mengangkat gelasnya seakan mengajak Harvey bersulang, lalu menyesap anggurnya dengan nikmat.
Harvey menyeringai masam. “Kau bilang benci dengan wanita materialistis. Apa bedanya istrimu dengan wanita-wania itu? Dia bersedia menikah denganmu karena uang juga, bukan?”
Pernyataan Harvey telak. Sesaat Arion tak berkutik. Ia menatap gelas anggur di tangannya dengan tatapan kosong. Ia telah bercerita pada Harvey tentang uang tujuh ratus juta itu. Sekarang, alasannya menolak wanita-wanita materialistis pilihan ibunya, terdengar seperti omong kosong belaka.
Setelah beberapa saat berlalu, Arion berucap, “Setidaknya dia tidak manipulatif. Tidak berpura-pura.”
***
Menjelang pukul enam sore, seluruh tubuh Flora serasa remuk. Seharian ini ia membersihkan rumah dan memasak untuk makan siang kedua mertuanya. Lalu sore harinya ia memasak untuk makan malam. Ibu mertuanya menyatakan dengan jelas, ia hanya ingin makanan segar untuk makan malam, bukan lauk-pauk yang dimasak sedari pagi.
Tidak ada pengurus rumah yang membantu. Entah bagaimana, dua hari setelah pernikahan Flora dan Arion, dua pengurus rumah keluarga Mahardika mengundurkan diri bersamaan. Sejak itu Flora-lah yang membersihkan rumah dan memasak. Flora bersyukur sebelumnya ia memiliki sedikit keahlian memasak, karena sedari kecil ia senang membantu ibunya di dapur.
Setelah semua pekerjaan rumah selesai, Flora bersiap beranjak ke kamarnya untuk mandi. Saat itulah bel pintu berbunyi. Mengurungkan niatnya, Flora melangkah ke pintu. Saat membukanya, ia terkejut melihat sesosok cantik bergaun putih selutut. Tidak ada senyum di wajah itu yang seketika—menurut Flora—memudarkan kecantikannya.
Belum sempat Flora bertanya siapa gadis itu dan ingin bertemu siapa, sebuah mobil Range Rover seri terbaru melenggang masuk ke halaman.
Jantung Flora berdegup kencang. Sebisa mungkin ia menahan diri untuk merapikan rambut yang pastinya berantakan setelah seharian bekerja hampir tanpa henti. Meski Arion tidak benar-benar memperlakukannya layaknya seorang suami kepada istri, tapi Flora merasa harga dirinya menciut jatuh bila pria itu melihatnya dalam kondisi kusam seperti ini. Apalagi di hadapannya ada gadis secantik bidadari.
Arion keluar dari mobil dan melangkah menuju mereka. Gadis di depan Flora berbalik, memandang Arion dengan mata berbinar dan senyum lebar melengkung di bibir. Sangat berbanding terbalik dengan sikapnya terhadap Flora.
Hati Flora mencelus. Apakah gadis cantik itu kekasih Arion?
“Arion …,” sapa gadis itu dengan nada manja.
Arion tidak memandang si gadis, melainkan Flora.
Jantung Flora memberontak, hampir meremukkan tulang rusuknya. Ia terdiam dengan mata yang terkunci pada iris cokelat keemasan Arion.
“Arion …,” panggil gadis itu sekali lagi. Kali ini bibirnya sedikit cemberut, tampak tak senang Arion mengabaikannya.
Arion berpaling memandang gadis itu. “Apa yang kau lakukan di sini, Selvi?”
Seketika senyum bak bunga matahari mengembang di wajah gadis bernama Selvi itu.
Flora muak. Ia berbalik dan melangkah pergi, tapi masih sempat mendengar jawaban si gadis. “Bibi mengundangku makan malam.”
Bibi yang dimaksud pastinya ibu Arion. Flora tidak tahu haruskah ia merasa lega mengetahui gadis itu bukanlah wanita yang parfumnya melekat di tubuh Arion. Kenyataannya, Arion memiliki wanita lain.
***
Arion menyantap hidangan lezat—yang ia tahu adalah masakan istrinya. Ia duduk di bagian kiri meja makan dengan Flora di sisinya, sementara sang ayah di kepala meja. Sang ibu dan Selvi duduk di bagian kanan.
Ruang makan dihiasi oleh suara centil Selvi yang membuat Arion gerah. Sosialita cantik nan dangkal itu adalah putri kenalan ibunya. Arion tahu sang ibu ingin menjodohkannya dengan gadis itu. Selvi bukanlah gadis pertama yang ibunya ajak makan malam di rumah dengan niat dicomblangkan dengannya. Setiap kalinya, Arion menunjukkan dengan jelas ia tidak tertarik pada gadis-gadis yang ibunya kenalkan, termasuk Selvi. Namun rupanya sang ibu buta tuli. Yang menyebalkan dan membuat Arion tak habis pikir adalah, pernikahannya dengan Flora sama sekali tidak menghentikan niat ibunya.
Arion melirik Flora yang duduk di sisinya. Istrinya itu mengenakan gaun terusan selutut berwarna biru lembut. Gaun itu tampak longgar di tubuhnya. Rambut sehitam bulu gagak sepunggungnya tergerai, tampak lembap menandakan wanita itu baru selesai mandi dan keramas. Flora sangat cantik dan muda. Wanita itu baru berusia 23 tahun, terpaut delapan tahun dari Arion yang berusia 31.
“Kepiting asam manis ini sangat enak, Bibi.”
Suara ceria nan manja yang dibuat-buat itu membuyarkan pikiran-pikiran Arion. Ia menoleh, memandang ibunya dan Selvi.
Wajah ceria sang ibu seketika berubah masam. Sesaat kemudian senyum licik menghias wajah tua yang masih menampakkan kecantikan masa mudanya itu. “Ya, Selvi sayang. Kami memesannya dari restoran. Senang mengetahui kau menyukainya.”
Arion menyayangi ibunya, tapi akhir-akhir ini sifat sang ibu membuatnya kesal. Kepiting asam manis yang lezat itu jelas masakan Flora. Meski Arion tidak mencintai Flora, tapi penyangkalan ibunya atas kerja keras wanita itu membuatnya jengkel. Ia melirik Flora yang tampak terkejut tapi kemudian menerima dengan pasrah.
Arion menyeringai sinis. Tidak bisakah Flora menjadi lebih berani? Bersuara dan nyatakan dengan jelas bahwa itu masakannya. Ibu Arion akan tertampar dengan telak. Namun sepertinya Flora tipikal menantu yang patuh.
“Apakah sayur capcai itu juga enak, Nak Selvi?” tanya Abhidama Mahardika.
Selvi menoleh pada ayah Arion dan tersenyum lebar. “Sayur capcai ini juga sangat enak, Paman.”
Abhidama tersenyum. “Itu masakan Flora, istri Arion.”
Senyum seketika meninggalkan wajah Lily dan Selvi.
Diam-diam Arion menyeringai.
***
Love,
Evathink
Instagram: evathink