3

1080 Kata
3 Setelah membersihkan meja makan dan dapur seusai makan malam, Flora langsung beranjak ke kamar. Kedua mertuanya dan Selvi tampak duduk-duduk di ruang keluarga. Ketika membuka pintu kamar, Flora mendapati Arion sedang bersiap-siap. Pria itu mengenakan celana jins panjang berwarna biru pudar, dipadu dengan kaus pas tubuh berwarna putih. Arion menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Sesaat pandangan keduanya bertemu. Jantung Flora berdegup kencang. Arion tidak mencintainya, dan ia pun tidak mencintai pria itu. Lalu mengapa dadanya berdebar liar setiap mereka berdekatan atau pun ketika tatapan mereka beradu? Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arion memalingkan wajah. Pria itu menatap ke cermin meja rias di depannya. Flora berjalan ke arah Arion. Bukan untuk mendekati suaminya itu, melainkan menuju lemari yang terletak tidak jauh dari meja rias. Mengabaikan Arion—dan jantungnya yang berdetak menggila—ia meraih sepasang piama, lalu berderap ke kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi dengan piama membalut tubuh, Arion sudah tidak ada. Flora melangkah cepat menuju jendela kamar. Ia mengintip dari balik gorden berbahan lembut nan mahal itu. Tampak mobil mewah Arion meninggalkan pekarangan rumah. Flora berbalik, bersandar di kusen jendela dengan mata terpejam. Ia menyentuh dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. Rongga matanya memanas. Setetes kristal bening pun bergulir di pipinya. Arion pasti pergi menemui kekasihnya, atau wanita mana pun yang menjadi pemuas nafsunya itu. Setelah beberapa saat, Flora membuka mata. Lalu beranjak menuju sofa yang menjadi tempat tidurnya dengan langkah lesu. Ia merana. Pernikahan macam apa yang sedang ia jalani? Suaminya sibuk dengan wanita lain di luar sana. Sementara ia dianggap barang pajangan berstatus istri di rumah. Belum lagi ibu mertuanya tidak menyukainya. Sampai kapan harus begini? *** “Aku ingin mengenalkan kau pada seseorang.” Flora yang sedang duduk di sisi Sonia yang sedang mengemudi mobil menyusuri jalan raya, menoleh ke arah sepupunya itu. Saat itu Sabtu pagi. Udara segar dengan langit cerah tanpa awan. Tidak seperti biasanya, pagi ini angin betiup lebih kencang. Dedaunan tampak melambai penuh semangat. Ada yang jatuh dan berterbangan, tampak sangat indah. “Dia teman Roby. Namanya Alaric,” lanjut Sonia. “Tapi kenapa?” tanya Flora tak mengerti. Keningnya berkerut samar, sementara tatapannya sedikit pun tak teralihkan dari sang sepupu. Tadi pagi-pagi ia dikejutkan dengan pesan dari Sonia yang mengatakan ingin mengajaknya sarapan. Selama ini mereka tak pernah jalan bersama. Tadinya Flora pikir Sonia ingin berterima kasih atas bantuannya—yang menurut Flora tidak perlu, karena sebelumnya wanita itu sudah memeluknya erat dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. Namun ternyata …. “Kenapa bagaimana?” Sonia menoleh sekilas pada Flora, lalu membelokkan mobilnya ke sebuah restoran. Mobil parkir dengan rapi. Sonia melepas sabuk pengaman, tapi Flora masih bergeming. “Ayo,” ajak Sonia. “Tapi kenapa?” Flora mengulang pertanyaannya, alih-alih mengikuti Sonia. Sonia menatap Flora, lalu menghela napas panjang. “Dia sudah lama ingin berkenalan denganmu, Flo, tepatnya sejak melihatmu tiga bulan lalu saat kau ke restoran kami dan kita mengobrol. Baru sekarang aku bisa mengatur waktu.” “Tapi aku sudah menikah, Nia. Ini tidak pantas.” “Apakah kau bahagia dengan pernikahanmu?” Flora terkejut. Ia tidak pernah menceritakan apa pun perihal rumah tangganya dan Arion. Berkali-kali Sonia bertanya, tapi Flora selalu mengelak menjawab. Ia bukan jenis orang yang suka mengumbar masalah pribadi, meskipun kepada sepupu sendiri. “Apakah Arion memperlakukanmu dengan baik?” Flora diam seribu bahasa. “Lihat, wajahmu sembap. Kau pasti menangis semalaman. Entah mengapa aku yakin kau tak bahagia. Dan karena akulah penyebab kau menjalani pernikahan penuh penderitaan itu, aku bertanggung jawab mengembalikan kebahagiaanmu.” Flora menggigit bibir. Tadi malam ia memang menangis hingga ketiduran. Pagi ini ia sudah berusaha berdandan sebaik mungkin untuk menutupi jejak itu di wajahnya saat memenuhi ajakan sarapan bersama dari Sonia, tapi wanita itu rupanya bisa menebak dengan baik. “Mungkin sebaiknya kau berpisah dengan Arion, Flo. Alaric tepat untukmu. Ayo.” Sonia membuka pintu mobil. Flora bergeming. “Ini salah, Nia. Aku tak ingin berselingkuh.” Sonia mendesis gusar. “Kalau begitu lupakan tentang niatku. Ayo sarapan.” “Tapi pria itu ada di dalam, bukan …?” Flora menatap Sonia dengan sorot ragu. “Kalian bisa berkenalan dan berteman. Hanya berteman, tidak lebih dari itu, jika itu yang kau mau.” Sonia pun keluar. Mau tidak mau Flora melepas sabuk pengaman dan mengikuti sepupunya. *** Titik-titik keringat membasahi tubuh Arion. Sudah hampir satu jam ia berolahraga di ruangan khusus olahraga yang ada di rumah mewah orangtuanya. Sejak tadi ia berusaha mengalihkan pikiran dengan berolahraga hampir tanpa henti. Namun kini, saat tubuhnya mulai lelah, pikirannya kembali dipenuhi Flora. Ke mana istrinya itu? Sedari bangun tidur, Arion tidak melihat keberadaan wanita itu. Saat bertanya pada ibunya, hanya dengkusan tak senang yang ia dapat. Sementara sang ayah sudah pergi pagi-pagi sekali. Setiap akhir pekan, ayahnya akan bertemu teman-temannya, joging, lalu sarapan bersama dan berbagi cerita. Seperti itulah ayahnya menikmati masa pensiun. Arion meneguk air putih, lalu meraih handuk kecil dan melangkah keluar dari ruang olahraga. Ia berjalan ke beranda sambil mengelap keringat di wajah dan leher. Tepat saat ia tiba di beranda, sebuah mobil mungil berhenti di depan pintu pagar. Pak Somad, si sekuriti, membukakan pintu. Tampak seorang wanita cantik berpakaian sederhana keluar dari mobil. Rambut sepunggungnya yang tergerai melambai-lambai ditiup angin kencang. Arion menyeringai sinis. Wanita itu mendapat banyak uang dengan menjadi istrinya. Arion juga memberinya kartu debit dan kredit, tapi ironis, dia masih saja mengenakan pakaian yang jauh dari pantas untuk istri seorang pengusaha sukses. “Apakah kau ingin mampir?” Pikiran sinis Arion itu buyar. Ia melihat Flora membungkuk di dekat jendela mobil. Rasa gusar Arion yang sesaat tadi sempat teralihkan, kini kembali membara. Ia mendengar wanita di balik kemudi itu berkata “tidak”. Lalu setelah membunyikan klakson satu kali, mobil mungil itu berlalu. Arion memandang Flora yang berjalan santai menuju rumah. Saat menyadari kehadirannya, wanita itu tampak terkejut. Langkahnya tiba-tiba terhenti. Setelah sesaat, kembali melanjutkan langkah. Flora berjalan melewati Arion dan masuk ke dalam rumah tanpa kata. Arion mengikutinya. Begitu pintu tertutup di belakang mereka, ia meraih tangan Flora hingga langkah wanita itu terhenti. Keduanya berdiri berhadapan di ruang tamu. “Dari mana saja?” tanya Arion dingin. “Sarapan bersama Sonia,” jawab Flora datar. Ia melepas cekalan Arion di tangannya, lalu berbalik dan melangkah pergi. Arion berang. Ia kembali meraih tangan Flora. Kali ini mencekal dengan kuat, tak memberi kesempatan wanita itu melepaskan diri. “Lepaskan, Arion. Sakit.” Flora menggeliatkan tangannya. Arion menyeringai sinis. “Kau pantas mendapatkannya. Siapa yang mengizinkanmu pergi, hah?” *** Love, Evathink Instagram: evathink
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN