4
Flora memandang Arion dengan mata melebar. “Kepada siapa aku harus minta izin? Dan kenapa aku harus melakukannya?”
Amarah bergulung di d**a Arion. “Kau lupa kalau kau sudah menikah, Flora? Kau istriku. Ke mana pun kau pergi, setidaknya kau harus berpamitan!”
Flora kembali menggeliatkan tangannya, tapi Arion mencengkeram kian erat. Arion sadar Flora kesakitan, tapi rasa gusar telah menelan habis sisa belas kasihannya.
“Aku tidak pernah lupa kalau aku sudah menikah denganmu, Arion. Tapi kaulah yang lupa. Aku tidak berpamitan karena saat aku pergi, kau masih tidur. Tolong, lepaskan tanganku. Kau menyakitiku.” Flora terus menggeliatkan tangannya.
Pernyataan Flora itu membuat Arion makin marah. Berani-beraninya istrinya itu menyindirnya!
Cengkeraman Arion semakin kuat. “Dengar, Flora. Kau tak berhak mengomentari apa pun tentang aku. Yang harus kau lakukan adalah jadi istri yang baik. Sekarang, siapkan sarapan untukku!” Arion melepaskan cekalannya.
Flora mengusap-usap bekas cekalan Arion yang memerah tanpa mengalihkan pandangan.
Mata keduanya beradu.
“Tunggu apa lagi??” bentak Arion.
Flora menahan dengkusan. “Aku sudah menyiapkan sarapan. Ada bihun goreng di meja makan.” Flora berbalik dan melangkah pergi.
Napas Arion memburu. “Kau pergi bersenang-senang, dan menyuruhku makan makanan yang sudah dingin??”
Langkah Flora terhenti, tapi tidak berbalik.
“Akan kumasakkan yang baru untukmu.”
Flora berlalu. Namun Arion tidak merasa menang. Dadanya masih saja panas. Ia sangat tidak suka Flora pergi tanpa pamit, tapi kemudian memaklumi alasan istrinya itu. Yang membuatnya sangat gusar adalah Flora pergi dengan Sonia.
***
Flora berkutat di dapur, memasak bihun goreng untuk Arion. Tadi pagi, sebelum pergi, ia sudah menyiapkan sarapan untuk kedua mertua, juga suaminya. Namun rupanya Arion sangat cerewet.
Bertepatan dengan Flora selesai memasak dan menghidangkan sepiring bihun goreng lengkap dengan perencah sayur sawi, udang dan bakso ikan, yang masih mengepulkan uap, Arion masuk ke ruang makan. Pria itu tampak sudah mandi. Jins tiga per empat dan kaus santai membalut tubuhnya.
Tatapan mereka beradu. Darah Flora berdesir. Jantungnya seketika berdegup kencang. Flora benci efek Arion terhadap dirinya. Pria itu membuatnya sangat kesal, tapi juga berdebar tak menentu.
Arion duduk di balik meja dan mulai menyantap bihun goreng. Flora bersiap meninggalkan Arion.
“Mulai hari ini aku tak ingin lagi melihat kau mengenakan pakaian jelek itu, Flora.”
Langkah Flora terhenti. Ia berbalik. “Apa maksudmu?”
Arion memandang Flora dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Pakaianmu tak pantas untuk istri pengusaha. Bukankah aku sudah memberimu kartu debit dan kredit? Kenapa takut membelanjakannya? Bukankah karena uangku juga kau bersedia menikah denganku?”
Wajah Flora seketika panas terbakar malu. Ia sadar sesadar-sadarnya, ia menikahi Arion karena uang semata—tepatnya demi membantu Sonia. Arion pun tahu itu. Mengapa sekarang mengungkit-ungkitnya lagi?
“Aku tahu apa yang aku kenakan, Arion.” Flora berbalik dan melangkah pergi.
Namun ia salah jika berpikir Arion akan melepaskannya begitu saja. Kursi berderit nyaring dan jari-jemari panjang nan kuat tiba-tiba melingkar di pergelangannya. Langkah Flora terhenti. “Apa yang kaulakukan?” desisnya terkejut sembari menggeliatkan tangan untuk melepaskan diri.
“Aku tegaskan padamu, Flora. Mulai hari ini, buang semua pakaian-pakaian buruk itu. Jangan membuatku malu.”
Flora mendelik kesal. “Tidak ada yang salah dengan pakaianku.”
“Salah jika kau istri seorang pengusaha kaya-raya. Tempatkan dirimu dengan baik, Sayang.”
Flora menatap Arion dengan kesal, tapi pria itu hanya menyeringai sinis. Dan Flora tahu, ia harus menuruti keinginan suaminya. Arion benar. Sudah seharusnya Flora pandai menempatkan diri. Ia sekarang istri pengusaha sukses. Lingkungan Arion menuntut segala sesuatu yang mahal dan berkelas.
“Baiklah!” Flora menyentakkan tangannya hingga cekalan Arion di pergelangannya terlepas. Ia berbalik dan melangkah pergi. Namun rupanya nasib baik belum memihaknya. Tiba di ruang keluarga, ia dikejutkan oleh adangan sang ibu mertua.
“Apa yang kau lakukan dengan gaunku, Flora??” serang Lily Mahardika marah sambil menunjukkan gaun cokelat berkilaunya yang tampak robek di bagian perut.
Mata Flora membesar. Ia yang mencuci gaun itu dua hari lalu. Namun tidak ada sobekan di bagian perut atau mana pun. Ia sangat berhati-hati saat mencucinya karena tahu itu gaun mahal.
“Ada apa?” Arion memasuki ruang keluarga.
Flora melirik suaminya sekilas dengan perasaan cemas, lalu kembali beralih pada ibu mertuanya.
“Tapi, Ma—”
Lily melangkah maju. “Apa kau tahu berapa harga gaun ini, hah? Sepuluh juta! Dan kau telah merusaknya!”
“Tapi aku tidak—”
“Tak perlu menyangkal!” Lily menekan gaun itu ke d**a Flora dengan kuat.
Flora yang tidak siap, terjatuh dengan gaun tersebut melongsor dari d**a ke pangkuan.
“Jika kau tidak becus mencuci, katakan saja! Aku bisa mengupah penatu!”
Mata Flora memanas mendapat perlakuan itu.
“Ceraikan wanita itu, Arion! Dia tak pantas berada dalam keluarga kita!” Setelah mengatakan itu, Lily berlalu.
Flora terdiam kaku di lantai dengan d**a sesak oleh air mata.
Arion hanya diam memandang Flora. Sedetik kemudian, pria itu melangkah pergi. Meninggalkan Flora di sana sendirian.
Hati Flora berdarah. Sangat sakit.
Arion melihat perlakuan ibunya kepada Flora, tapi pria itu sedikit pun tidak peduli.
Flora menangis dengan isak tertahan. Neraka apa yang telah ia masuki dengan memutuskan menikah dengan Arion?
***
Matahari kian meninggi. Sinarnya terasa menyengat. Arion berenang ke hulu dan hilir hampir tanpa henti. Setelah lebih dari tiga puluh menit, ia pun berenang ke tepian.
Harvey yang duduk di kursi santai di bawah payung dengan pepohonan hias di sekitarnya, menyeringai samar melihat tingkah sahabatnya. Keduanya sedang berada di rumah mewah Harvey.
Arion naik dari kolam. Ia meraih jus jeruk dan meneguknya. Setelahnya ia meraih handuk dan mulai mengusap wajah dan badan. Ia duduk di kursi tidak jauh dari Harvey. Di tengah-tengah mereka terdapat meja kecil tempat keduanya meletakkan minuman.
“Ada yang membebani pikiranmu, Kawan?” tanya Harvey dengan alis terangkat.
Arion meletak handuk ke sandaran kursi, lalu bersandar dan memejamkan mata.
Kejadian di ruang keluarga tadi kembali berputar di benaknya. Melihat reaksi Flora, entah bagaimana Arion yakin, sobeknya baju ibunya sama sekali tidak ada sangkut-paut dengan wanita itu.
Arion sadar sejak awal ibunya sangat tidak menyukai Flora, yang ia yakini bukan karena wanita itu tidak bersikap manis, melainkan sang ibu ingin Arion menceraikan Flora dan menikahi Selvi, atau gadis mana pun yang dipilihnya.
“Hanya sedikit masalah keluarga,” desah Arion pelan.
“Istrimu?”
“Hmm ….”
Melihat keenggan Arion bercerita lebih jauh, Harvey pun tidak bertanya lagi.
***
Love,
Evathink
Follow i********:: evathink