5

1278 Kata
5 Dengan mata yang mengabur oleh air mata, Flora mengeluarkan pakaian-pakaiannya dari lemari. Sesekali kristal bening bergulir di pipinya. Ia menggigit bibir menahan isak. Meski saat ini hatinya sangat sedih akibat perlakuan ibu mertuanya—juga Arion, tapi Flora tidak ingin memancing kemarahan suaminya. Arion tidak ingin ia mengenakan pakaian-pakaian sederhananya lagi, dan itulah yang akan ia lakukan. Selama ini Flora tidak memiliki pakaian mahal. Ia tak mampu membelinya. Ia bekerja di toko kue milik saudara Santika dengan gaji tak seberapa. Setiap bulan, hanya ada sedikit uang tersisa, dan ia memilih menabungkannya. Meski begitu, Flora tetap bersyukur. Tak mudah untuk lulusan SMA seperti dirinya mendapatkan pekerjaan. Setelah mengeluarkan hampir seluruh isi lemari, Flora pun melipat pakaian-pakaian itu dan memasukkannya ke dalam koper. Nanti, ia akan membawanya ke rumahnya—rumah mungil peninggalan orangtuanya—dan menyimpannya di sana. Mungkin kelak ia akan mengenakannya kembali setelah tiba waktu Arion mencampakkannya. “Kau akan menjadi istriku selama aku menginginkannya. Kau tak berhak mempertanyakan kehidupan pribadiku.” Itulah yang pria itu katakan. Sewaktu-waktu, Arion bisa saja menceraikannya. Apalagi melihat betapa tak suka ibu Arion padanya, bahkan memerintahkan putranya menceraikannya, mungkin saja saat itu akan tiba tak lama lagi. Setelah selesai, Flora ke kamar mandi. Berendam air hangat dengan sabun beraroma terapi mungkin akan mengurangi rasa sedihnya. *** Ketika memasuki kamar sepulang dari rumah Harvey, Arion mengerut kening karena tidak mendapati keberadaan Flora. Ia memandang seisi kamar dan melihat koper yang tergeletak di lantai di depan lemari. Matanya beralih ke lemari pakaian Flora yang terbuka. Tampak isi lemari hampir kosong. Hanya tersisa beberapa helai pakaian di sana. Tanpa alasan yang jelas, jantung Arion berdegup tak nyaman. Apakah Flora memutuskan untuk pergi? “Flora,” panggil Arion dengan suara yang tiba-tiba berubah serak. Tidak ada sahutan. Arion menajamkan pendengaran, berharap mendengar suara dari kamar mandi, tapi tidak ada. Jantung Arion berdegup kian liar. Ia keluar dari kamar dengan langkah lebar. “Flora!” Arion tiba di ruang keluarga. Ibu dan ayahnya tampak duduk menonton televisi.  “Perempuan jahat itu entah ke mana, Arion. Dia bahkan tidak memasak untuk makan siang,” kata ibu Arion jengkel. “Tidak baik menyebut menantu kita seperti itu, Ma,” tegur Abhidama. Lily mendengkus. “Dia memang jahat. Dia merusak gaunku.” “Gaun cokelat itu?” tanya Abhidama. Lily mengangguk. “Harga gaun itu sepuluh juta, Pa.” “Bukankah kau sendiri yang menyobeknya? Kenapa menuduhnya?” Wajah Lily seketika merah padam. “Tadinya aku pikir kau merusak gaun itu karena sedang kesal.” Abhidama memandang istrinya dengan gusar. “Ternyata untuk memfitnah Flora.” Lily tertunduk malu dengan wajah semerah bara. Kini semua sudah terbukti kalau gaun ibunya yang rusak bukan ulah Flora. Arion menghela napas panjang. Tanpa kata-kata ia berbalik ke kamar. Jika Flora tidak ada di mana-mana di rumah itu, mungkinkah istrinya berada di kamar mandi? Namun mengapa tadi ia tidak mendengar suara apa pun dari sana? Ketika tiba di kamar, Arion segera ke kamar mandi dan membuka pintu. Seketika ia mengembus napas lega. Di sana, di dalam bak berendam bertabur busa sabun, tampak Flora berbaring setengah bersandar dan terlelap. Arion memandang wajah Flora yang tampak sembap dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipi. Arion beranjak mendekat ke bak. Ia sedikit membungkuk, menyentuh dengan lembut pipi tanpa noda Flora. Flora sedikit bergerak membuat Arion dengan cepat menarik diri. Jantungnya seketika berdegup kencang. Wanita itu melanjutkan tidurnya. Senyum samar melengkung di bibirnya, seakan sedang bermimpi indah. Arion terpesona. Ia memandang wajah Flora tanpa berkedip. Arion hampir tidak pernah melihat senyum Flora. Ketika wanita itu tersenyum seperti ini, meski dalam tidur, dia tampak sangat memikat. Lama Arion terpaku, sampai ia teringat mungkin Flora sudah lama berendam. Ia mengulurkan tangan ke dalam bak. Airnya sudah dingin. Ia harus segera membangunkan wanita itu. “Flora.” Flora bergeming. “Flora.” Masih tidak ada respons. Akhirnya Arion mengambil gagang pancuran, memutar keran dan mengarahkan pancuran ke wajah Flora. Flora gelagapan dan seketika terbangun. Ia terduduk di bak. Mengedip-ngedipkan mata dengan bingung. Arion terpaku. Pemandangan yang tersaji di depannya seketika membuat darahnya menderu-menderu ke bawah pusar. Flora tampak sangat seksi dengan seluruh tubuh yang basah dan berbalur busa. Busa-busa itu tidak sepenuhnya menutupi tubuhnya. Mata Arion menyusuri leher jenjang Flora, lalu terpaku pada sepasang p******a yang tampak kencang dan indah dengan puncak kemerahan yang terlihat tegang. Hasrat Arion terbakar. Ia belum pernah melihat tubuh telanjang Flora. Sampai saat ini mereka belum melakukan hubungan suami-istri. Tanpa sadar gagang pancuran jatuh dari pegangan Arion, membuyarkan lamunannya. Ia tersentak. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Flora panik sambil kembali masuk ke dalam air. Sesaat Arion terdiam, berusaha meraih kembali kesadarannya yang sempat menguap entah ke mana sesaat tadi. “Membangunkanmu, Flora. Apa lagi?” kata Arion akhirnya. Ia mematikan keran, membungkuk, mengambil gagang pancuran dan meletakkannya ke tempat semula. Flora berkedip. “Oh …, aku ketiduran.” “Ya, kau ketiduran.” Flora terdiam. Arion teringat koper Flora. Rasa gelisah seketika menerjangnya. “Kenapa kau mengemas pakaianmu ke koper?” “Koper?” “Aku melihat lemari pakaianmu hampir kosong, dan ada koper di lantai.” Arion menjelaskan, memahami kalau kesadaran Flora pasti belum kembali sepenuhnya. “Oh …, itu …. Seperti yang kau suruh, aku akan membeli pakaian baru ….” “Bagus.” Arion merasa lega luar biasa. Ia berbalik, siap melangkah pergi. “Arion …,” panggil Flora ragu-ragu. Arion berhenti melangkah dan memutar tubuh menghadap Flora. “Apakah ….” Flora kesulitan menemukan kata-kata yang tepat. Arion mengangkat alis. “Apakah kau akan menceraikanku?” “Menceraikanmu …?” tanya Arion bingung. Flora mengangguk pelan. “Ibumu ingin kau menceraikanku.” Tiba-tiba Arion tertawa pelan. Tawa pertamanya ketika bersama Flora—yang sebenarnya adalah tawa sinis. Wajah Flora memucat. “Yang benar saja, Flora! Apa kau pikir aku mengeluarkan uang tujuh ratus juta hanya untuk menikahimu selama seminggu? Aku bahkan belum menidurimu.” Arion memandang Flora dengan intens. Rona merah merambat di wajah pucat Flora. Ia makin merosot ke dalam air. Arion merasa gairahnya kian terbakar. Yakin tidak akan bisa menahan diri jika berada di sana lebih lama, Arion berbalik dan melangkah pergi. *** Flora tidak mengerti mengapa ia merasa lega mengetahui Arion tidak akan menceraikannya. Ia juga tak mengerti mengapa pusat dirinya berdenyut saat suaminya itu berbicara tentang belum menidurinya, sama tidak mengertinya mengapa sampai saat ini sang suami belum menyentuhnya. Bukan berarti Flora mendambakan hubungan intim dengan Arion. Tiba-tiba ingatan akan parfum feminin yang selalu menguar dari tubuh Arion setiap pria itu pulang larut malam, membuat d**a Flora seketika memberat bak ditindih gunung. Ya, Arion tidak membutuhkan dirinya karena sudah memiliki tempat pelampiasan di luar sana. Hati Flora memerih. Sampai kapan Arion akan menduakannya? Dan sampai kapan ia akan bertahan berpura-pura tak tahu?—atau tidak peduli. Meski tidak mencintai Arion, bagaimanapun ketika setuju menikah dengan pria itu, ia berharap pernikahan mereka bisa berjalan langgeng. Namun tampaknya, harapannya itu sia-sia belaka. Perut yang tiba-tiba terasa lapar membuyarkan pikiran-pikiran itu. Seketika Flora melonjak bangun. Ia bergegas ke bawah pancuran untuk membilas diri. Bertanya-tanya sudah pukul berapa saat ini. Ia belum memasak untuk makan siang. Semoga saja ia masih sempat memasak. Flora tak ingin sang ibu mertua mendapat senjata untuk menyerangnya. Sepuluh menit kemudian, saat melewati ruang keluarga, Flora menerima dengkusan masam sang ibu mertua. Mengabaikan itu meski merasa tidak nyaman, Flora melanjutkan langkah menuju dapur. “Tak perlu memasak, Flora. Arion sudah memesan makanan dari restoran,” kata Abhidama. Flora berhenti melangkah, berbalik memandang ayah mertuanya, dan mengangguk pelan dengan perasaan lega. Lalu ia melirik Arion yang tampak tak terbaca. Tatapan pria itu fokus pada televisi yang sedang menayangkan berita nasional. Diam-diam Flora berterima kasih kepada suaminya. *** Love, Evathink Follow i********:: evathink
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN