22 Badai rasa bersalah menerpa Arion. Kandungan Flora yang berumur tujuh minggu tidak bisa diselamatkan. Mata Arion terbakar oleh air mata. Dadanya sesak. Ia duduk di kursi dekat ranjang, memandang Flora yang terbaring di ranjang rumah sakit. Tatapan wanita itu kosong. Hati Arion sakit, bak ditusuk-tusuk dengan brutal menggunakan belati. Arion mengulurkan tangan dan menyentuh lembut tangan Flora. Wanita itu bergeming. Tidak merespons sama sekali. Hati Arion nyeri. “Maafkan aku, Flora.” Arion tahu, seribu kali permintaan maaf pun, tak akan mengembalikan kandungan Flora, atau membuat wanita itu memaafkannya. Namun perasaan bersalah, rasa sedih, dan berbagai perasaan gelap lainnya yang merongrong hatinya membuat ia terus-menerus mengucapkan kalimat itu. Arion benci pada diri sendiri.

