23 Flora berjongkok di dekat pusara ibunya. Air mata membasahi pipinya. Ayahnya meninggal beberapa tahun lalu karena kecelakaan. Beberapa bulan kemudian, sang ibu menyusul, akibat terlalu sedih. Flora mengusap batu nisan ibunya. Air mata tanpa henti menuruni pipinya. Flora tidak tahu ia memiliki begitu banyak air mata, yang akhir-akhir ini tumpah ruah seakan tak ada habisnya. Ia telah belajar menjadi pribadi yang mandiri sejak kepergian kedua orangtuanya. Ia menjalani hidup sebaik mungkin. Namun kini ia sangat rapuh. Ia lemah. Tak berdaya. Pengkhianatan Arion dan Sonia begitu dahsyat melukainya. Dan kehilangan bayinya membuatnya hancur. Flora menangis sesenggukan, mencoba meluahkan seluruh isi hati dan penderitaannya lewat air mata. *** “Kenapa kalian biarkan Flora pergi?” Arion me

