Saras melewati ruang makan dengan wajah memberengut.
“Ada apa, Sayang. Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Anita ketika putrinya muncul.
“Saras tidak lapar. Ini semua karena Papi ijinkan pemuda itu jadi bodyguard Saras,” rajuk Saras di depan kedua orang tuanya.
“Ini semua demi kebaikanmu. Natan sudah berjanji untuk lindungi kamu dari semua pria penggoda yang ada di sekitarmu, termasuk saat berada di kampus.”
“Sebentar! Mami tidak tahu apa yang sedang Papi bicarakan,” sela Anita bingung.
“Kemarin Natan ke kantor bersamaan dengan putri kita juga ada di sana. Natan jelaskan kalau ia keliru soal Saras bersama seorang pria dan dia ingin jadi pelindung Saras. Makanya, Saras sendiri yang usulkan agar Natan jadi bodyguard. Aku tidak ikut campur dalam percakapan mereka dan Natan terima dengan senang hati. Aku sudah bicara padanya sebagai sesama pria dan dia berjanji untuk jaga Saras.”
“Saras, kamu baik-baik saja?” tanya Anita sudah mengusap pelan punggung putrinya.
“Saras tidak masalah Mami. Dia lakukan tugasnya dengan baik. Sekarang saja dia sudah ada di depan pintu rumah. Tapi, Saras tidak ingin naik ke mobilnya. Papi harus ingatkan Natan agar mengawal Saras dari jauh saja dan tidak harus berada di dalam mobil yang sama. Saras ingin menyetir sendiri agar bisa bepergian dengan Livia dan Viana tanpa ada orang lain. Lagipula mobil Saras juga kecil ukurannya.”
Hadi mengangguk sanggupi apa yang Saras minta. Ia akhirnya bangun meski belum habiskan kopinya.
Mereka bertiga menuju pintu keluar dan benar saja, Natan sudah rapi dan menanti Saras dengan sabar.
“Selamat pagi, Natan,” sapa Hadi disambut dengan balasan salam yang sama dari Natan.
“Aku pergi dulu, Mami, Papi!” pamit Saras dengan lakukan sun pipi kiri dan kanan.
“Natan, biarkan Saras menyetir sendiri. Tolong kamu amati dari jauh saja. Terima kasih.”
Natan terpaksa tutup kembali pintu mobilnya yang sudah ia bukakan untuk Saras. Ia mengumpat kecewa dalam hatinya karena harus turuti perintah dari Hadi.
“Kami pamit Pak Hadi dan Ibu,” sahut Natan dengan menahan rasa dongkol dalam hatinya.
Mobil Saras keluar dari halaman rumah keluarga Kusuma disusul oleh kendaraan milik Natan.
‘Aku akan terus bersabar tapi tidak akan lama, Saras. Kamu akan segera jadi milikku,’ batin Natan menatap tajam mobil Saras yang melaju di depannya.
Ia terus membuntuti mobil Saras yang tidak langsung ke kampus tetapi menuju ke alamat yang lain.
Sementara di rumahnya, Livia sudah tidak sabar lagi karena Saras belum juga tiba sedangkan ia janji untuk menjemputnya.
Pesan dari Natan sudah penuh di ponselnya sejak semalam tapi tidak ia balas satu pun karena ia bingung juga harus jawab apa.
Ia masih ingat ucapan Saras saat ia telepon semalam untuk abaikan saja semua pesan dari Natan karena itulah yang akan Saras lakukan.
Tidak ada hal urgen bari Saras untuk jawab semua kata-kata dari Natan karena memang tidak perlu.
“Aku sama sekali tidak bahagia dengan peran pengganti ini, Saras. Meski hanya untuk balas pesan dari pemuda itu,” ucap Livia begitu sudah ada di dalam mobil Saras.
“Santai Liv. Kenapa kamu begitu tegang, sih?” sahut Saras langsung tinggalkan rumah Livia menuju kampus.
“Dia tidak berhenti kirimkan pesan sejak kau berikan nomorku padanya.”
“Apa saja yang ia katakan. Coba baca semua pesannya!” pinta Saras.
“Hampir lima puluh pesan Saras. Ini benar-benar gila. Aku dari semalam tidak baca satu pun. Euih!”
“Ada apa? Kamu hanya ngomel tapi tidak bacakan satu pun pesan darinya.”
“Nanti kamu baca sendiri saja. Aku juga tidak punya ide untuk membalasnya.”
“Coba simpulkan saja apa yang dia inginkan sebenarnya?”
“Kalimat pertanyaan, kata-kata rayuan dan beberapa pesan tanda kesal karena tidak ada satu pun balasan darimu.”
“Itu yang aku tidak ingin ketahui. Natan memang buat aku sangat kesal. Kita harus pikirkan cara untuk menjebaknya hingga ia terlihat tidak berguna di depan papiku, agar peran bodyguard ini bisa segera berakhir.”
“Pusing juga kalau aku disuruh mikir sekarang. Nanti saja.”
“Hmm, setuju. Sekarang kita harus hadapi asdos yang satu itu lagi.”
“Eh, tugasmu sudah dibawa?”
“Harusnya sudah di dalam tas. Nanti cek lagi sebelum turun. Aku parkir dulu. Apa mobilnya Natan masih ada di belakang kita?”
“Aku tidak tahu. Tidak ada mobil yang ikuti kita,” sahut Livia setelah menengok ke belakang.
“Baguslah. Gerah juga kalau tahu dia selalu ada di sekitar kita.”
“Ayo, cepat. Semoga Viana sudah ada jadinya bisa siapkan tempat duduk untuk kita.”
“Bentar, aku cek lagi tugasku sudah terbawa belum.”
Keduanya lalu bergegas ke ruang kuliah meski masih ada waktu lima belas menit sebelum mulai.
“Ish, aku sekarang lapar. Tadi, karena aku lihat mobil Natan sudah ada di depan rumah, aku jadi malas sarapan,” keluh Saras saat sudah duduk di dalam ruangan.
“Minta Natan belikan sarapan saja, gimana?” usul Livia sambil goyangkan ponselnya.
“Ogah. Aku ke kantin saja sekarang. Masih ada 10 menit lagi, ‘kan?”
“Iya, masih ada waktu,” imbuh Viana.
“Kalian di sini saja jadi bisa kabari kalau dosen sudah masuk. Aku pikirkan alasannya nanti kenapa telat masuk.”
“Bilang saja dari belakang karena tas kamu sudah ada di sini,” usul Livia sambil tunjuk tas Saras.
“Ah, kamu memang cerdas,” balas Saras lalu berlari kecil menuju kantin.
Saras melihat sekelilingnya dan lega karena tidak nampak Natan atau pun pengawal setianya.
Di tengah jalan ia berpapasan dengan Wira. Rencananya mau menghindar tapi tidak bisa karena pria itu sudah melihatnya.
Terpaksa Saras terus melangkah dan agak menunduk tanda hormat saat berpapasan dengan Wira, tapi si asdos malah cuek. Pura-pura tidak melihat Saras.
Alhasil, Saras meradang dalam diam karena merasa sangat malu. Ia sudah berusaha bersikap sopan tapi malah diabaikan.
Rencana awal ke kantin akhirnya ia batalkan. Ia berlari mencari jalan memutar agar bisa tiba di kelas terlebih dahulu sebelum Wira.
Pagi itu memang situasi tidak bersahabat sama sekali dengan Saras.
Sejak dari rumah moodnya sudah berantakan. Sekarang dia dipaksa untuk konsentrasi dengan perut yang kosong. Apalagi dia harus berhadapan dengan Wira untuk serahkan tugas.
“Lho, cepat sekali?” tanya Livia begitu temannya sudah ada di sampingnya dengan deru napas yang tidak beraturan seperti pelari marathon yang baru sampai garis akhir.
“Asdos dalam perjalanan ke sini. Aku tidak ingin cari perkara. Nanti saja setelah kuliah baru aku isi perutku.”
Viana melihat Livia dan gelengkan kepala minta agar tidak ganggu Saras dengan banyak pertanyaan lagi.
Livia akhirnya mengalah. Mereka bertiga tidak bicara lagi karena Wira sudah masuk dan menyapa semua yang hadir.
Saras menatap asdos itu dan sadar kalau dia harus bisa alihkan perhatian Natan dari Wira karena ia bisa dapatkan lebih banyak masalah lagi jika Natan tahu kalau Wira juga mengajar di sana.