Suasana di ruangan kuliah hening karena semua orang menatap Saras yang dipanggil ke depan oleh dosen.
‘Apa lagi yang telah aku lakukan? Ibu dosen yang satu ini terkenal sangat pelit nilai apalagi kalau sudah pernah bermasalah dengannya,’ batin Saras agak cemas saat sudah makin dekat dengan dosennya.
“Ini rahasia kita berdua saja. Jangan sampai mahasiswa yang lainnya tahu,” kata si ibu dosen dengan suara yang agak pelan.
“Baik, Bu.”
“Saya baru tahu kalau kamu adalah putri dari Hadi Kusuma.”
“Iya, Bu. Beliau ayah saya.”
“Saya sangat kagum padanya. Apakah kamu bisa bawa buku ini untuk beliau tandatangani?”
‘Oh my God. Penggemar papi. Aku pikir sesuatu telah terjadi padaku,’ monolog Saras pada dirinya sendiri dengan lega.
“Bisa sekali Bu. Saya akan sampaikan ke ayah saya.”
“Kamu bisa kembali ke tempat duduk. Ingat, jangan sampai temanmu yang lainnya tahu tentang hal ini.”
Saras mengangguk dengan sopan sebelum undur diri dengan membawa buku milik ibu dosen.
Setelah selesai jam kuliah, Livia dan Viana dengan rasa penasaran yang tinggi ingin tahu apa yang dosen tadi inginkan tapi dengan berkelit manis, Saras berhasil jelaskan hingga mereka tidak bertanya lagi.
“Ada hal yang jauh lebih penting yang perlu kalian ketahui,” ucap Saras saat mereka sudah mojok di kantin.
“Apa itu?” sahut kedua sahabatnya serentak.
“Kalian akan lihat pria menyebalkan yang bernama Natan itu di sekitarku dalam waktu dekat. Dia minta ke papi agar bisa jadi bodyguardku.”
“Whaaaatt!” seru Livia dan Viana tetap bersamaan bak paduan suara dan kali ini lebih tinggi nadanya untuk tunjukkan kalau mereka terkejut.
“Pria itu memang menyebalkan. Dia ingin dekati aku padahal jelas-jelas aku tidak suka. Di depan papi tadi pagi di kantornya, Natan minta ijin ke papi untuk jadi pelindungku. Makanya aku bilang saja, boleh sebagai bodyguard. Aku tidak sudi jadi kekasihnya.”
“Dan dia rela jalankan peran itu?” tanya Viana agak melongo.
“Kenapa kamu mau terpancing dalam permainannya, Natan? Dia terlihat kasar saat pertama kali kita jumpa dengannya bersama dua orang pengawal pribadi,” sambung Livia.
“Ada satu hal bodoh yang kulakukan yang belum bisa aku ceritakan sekarang yang ada sangkut pautnya dengan Natan. Dia ancam akan ceritakan hal itu pada papi dan mami makanya aku berusaha untuk tidak buat Natan kesal.”
Obrolan ketiganya terpaksa berhenti karena suara Natan tetiba sudah menggema di sekitar mereka, “Nona Saras, rupanya kamu ada di sini.”
Natan berdiri dengan tegapnya di depan meja mereka masih tetap bersama dua orang pengikut setianya.
“Sepanjang hari ini saya akan ada di kampus. Kamu seharusnya tidak perlu berkeliaran di sekitar saya setiap saat,” balas Saras berusaha untuk tidak ketus.
“Nona Saras, lain kali harus lebih baik dalam bertukar kabar agar saya bisa jalankan tugas saya. Tadi Pak Hadi sudah jelaskan semua hal penting yang harus saya pastikan saat hadir untuk menjaga kamu.”
“Kamu ‘kan seorang pengusaha muda. Kamu bisa tetap bekerja di kantormu selama saya kuliah. Saya bisa kirimkan pesan kalau saya sudah mau pulang.”
“Ho, itu memang ide yang bagus. Kebetulan, hari ini saya tidak ada jadwal rapat. Lagipula, saya bisa bekerja dari mana saja. Mungkin, tempat pertemuan bisnis bisa saya pindahkan ke kawasan di sekitar kampus ini. Benar ‘kan?” ucap Natan sambil mendelik pada kedua pengawalnya untuk minta persetujuan dan disambut dengan anggukan.
“Kami mau ke kelas sekarang. Tolong jangan terlihat heboh dengan berdiri di depan ruang kuliah seperti sedang menjaga seorang presiden dari serangan teroris,” umpat Saras tapi dengan nada datar.
Kali ini, Livia dan Viana yang mengangguk karena sepakat dengan perkataan Saras.
“Caranya bagaimana untuk bisa kontak kamu kalau kita tidak berbagi nomor ponsel?” tagih Natan merasa menang satu langkah dari Saras.
‘Sialan! Ini yang aku tidak inginkan. Aku tidak akan berikan nomor ponsel pribadiku. Aku siapkan nomor baru saja nanti,’ batin Saras sebelum menjawab.
“Gampang! Ketik dan simpan nomorku sekarang.”
Natan beri tanda pada salah satu pengawalnya untuk catat deretan angka yang Saras ucapkan.
Livia membeliak begitu sadar kalau itu semua nomor ponselnya dan bukan milik Saras. Di saat yang sama Saras sudah mencubit paha Livia agar tidak bersuara.
“Terima kasih Nona untuk kiriman nomor kontaknya. Saya akan ada di sekitar kampus jika Nona butuh sesuatu.”
Natan dengan bangganya tinggalkan kantin bersama pengikut setianya.
“Saras! Kenapa nomorku yang kamu berikan?” gerutu Livia menatap lekat mata Saras.
“Aku benci pria itu. Kamu bisa pura-pura jadi aku saja kalau dia berkirim pesan. Kita ‘kan selalu bersama, jadi kamu pasti tahu di mana aku berada.”
“Iya, itu bagus juga untuk lindungi Saras darinya,” imbuh Viana.
“Maksudmu!” hardik Livia kesal karena tidak ada yang membela dirinya.
“Kalau Natan ingin berbuat yang aneh-aneh pada Saras seperti janjian berjumpa di suatu tempat yang sepi, kita jadi tahu.”
“Betul, jadi semua yang Natan anggap rahasia sebenarnya kalian berdua juga bisa tahu. Jadi, kalau dia mau adukan aku pada papi dan mami, kalian bisa dukung aku,” timpal Saras kuatkan argumen Viana.
“Ini tidak adil untukku.”
“Cintaku, aku minta maaf karena tidak ijin padamu. Tapi, aku harus tunjukkan di depan Natan kalau aku bukan gadis bodoh yang bisa dia manfaatkan untuk kepentingannya. Saat ia bertanya tadi, aku langsung ingat nomormu bukan punya Viana. Jadinya, itu yang keluar dari mulutku.”
Saras sambil memeluk erat sahabatnya agar tidak jadi ngambek tapi mau membantunya bebas dari jeratan Natan.
Livia tidak senang dengan keputusan Saras tapi juga tidak tega menolak karena ikatan persahabatan di antara mereka.
Di saat bersamaan, ada nada denting pesan yang masuk ke ponselnya.
“Nomor asing dan sepertinya pesan untukmu, Saras,” ucap Livia begitu buka ponselnya.
“Itu pasti dari Natan.”
“Simpan dulu nomornya dan beri nama yang unik biar kamu langsung ingat ujudnya,” sambung Viana.
“Kamu hari ini memang cerdas, Viana,” imbuh Saras.
Livia mengutak atik ponselnya sambil bertanya, “Apa yang harus kujawab setiap terima pesan dari Natan?”
“Kalau hanya pesan yang tidak penting, kamu bisa jawab atas namaku. Intinya, dalam setiap kalimat yang kamu sampaikan itu tidak boleh beri harapan padanya kalau aku suka atau aka nada peluang baginya untuk jadi kekasihnya. Jawab secara profesional antara seorang bodyguard dan juga orang yang ia harus lindungi dari segala jenis kejahatan.”
Livia hanya manyun. Dia sudah tahu apa yang Saras maksud. Pada dasarnya, Livia hanya butuh kekuatan untuk bisa beradaptasi dengan Natan yang sebenarnya tidak sebaik yang ia tampilkan di depan umum.