Bab 16 Asal Muasal Pertukaran Pewaris Takhta

1138 Kata
Devinta akhirnya sampai juga di kamarnya. Ia sudah bebas dari ketegangan harus berbicara tentang rahasia masa lalunya. Tapi, tetap saja ia harus penuhi permintaan Wulandari dan jawab segala pertanyaannya jika mereka berjumpa nantinya. Devinta bersihkan diri terlebih dahulu barulah ia meringkuk di balik selimutnya. Kenangan dua puluh tahun silam kembali mengganggunya. Devinta masuk ke kamar Wulan dan ia dapati majikannya itu sedang menangis tersedu-sedu. Saat itu Wulan sedang hamil besar dan menanti kelahiran dari anak pertamanya bersama Bintang. “Ada apa Chai? Kenapa kamu menangis? Apakah ada yang sakit? Siapa yang menganggumu?” tanya Devinta beruntun. “Bintang, Mee. Dia ternyata sudah punya anak dengan wanita lain.” “Cerita omong kosong dari mana itu? Siapa yang telah berani sebarkan cerita bohong tentang Tuan Bintang?” “Aku dengar sendiri, Mee. Aku tadi melintas di depan ruang kerja Bintang dan tanpa sengaja aku simak ada yang sedang bicarakan tentang fakta itu.” “Aku tidak paham ucapanmu, Chai. Begini saja, kita keringkan air matamu dulu barulah kita bicara dengan tenang. Seperti ini juga tidak baik untuk kandungan kamu dan juga janin yang ada di sana.” Devinta segera ke kamar mandi dan ambil handuk kecil yang sudah dibasahi dengan air hangat. Ia kembali dan minta Wulan untuk duduk tegak agar bisa ia bersihkan air mata yang sudah membanjiri paras dari majikannya yang ia sangat sayangi itu. “Semua masalah, pasti ada jalan keluarnya. Segala sesuatu terjadi dengan alasan tertentu. Pastilah Tuan Bintang bisa jelaskan semuanya. Tenanglah biar Chai bisa bicara dengan lebih jelas.” Devinta singkirkan handuk basah yang telah ia pakai dan ganti dengan tisu wajah untuk keringkan bekas usapan di wajah Wulan. “Mee, kamu seharusnya tadi ikut bersamaku jadi kamu bisa dengar sendiri ucapan mereka.” “Siapa mereka sebenarnya? Apa yang Chai tangkap waktu itu?” “Aku tidak bisa pastikan siapa sebenarnya mereka karena aku tidak lihat wajah tapi hanya dengarkan suara. Namun, aku pastikan kalau mereka sedang berbicara tentang suamiku.” “Tepatnya apa yang mereka katakan?” “Bintang sudah tahu kalau ia adalah ayah dari putraku. Meski ia tidak mungkin nikahi aku, tapi ia sudah sepakat untuk menafkahi kami. Sudah ada surat perjanjian yang kami tandatangani bersama sebagai bukti perkataannya. Aku akan pastikan putraku jadi penerus nama besar Bintang. Ia tidak boleh punya anak dari istri sahnya. Kita harus selamatkan posisi putraku.” Devinta yang tadinya bersujud di dekat kaki Wulan bangkit berdiri dan berjalan mondar mandir di dalam kamar. Ia tidak sangka kalau tuan Bintang sudah bertindak sejauh itu. Devinta masih tidak percaya karena ia tidak pernah dengar gosip di sekitar para pekerja soal perselingkuhan dari Bintang. “Mee, kita harus pikirkan cara untuk selamatkan anakku. Mereka tidak boleh sentuh buah hatiku ini, bagaimana pun caranya,” ucap Wulan seperti baru tersadar dari hibernasinya. Ia mengelus-elus perutnya sambil menatap Devinta. “Kita jujur saja pada tuan Bintang tentang apa yang Chai dengar tadi.” “Tidak mungkin, Mee. Kalau sampai Bintang sudah tanda tangan surat sepakat artinya anak itu sudah besar. Jadi selama ini ia sembunyikan tentang hal ini agar aku tidak tahu. Lagipula, orang-orang tadi sepertinya mereka yang dipercayai oleh Bintang karena tidak mungkin suamiku biarkan orang asing masuk ke ruang kerjanya.” “Itu benar. Tapi, kita juga tidak bisa singkirkan bayi ini begitu saja karena hasil menguping tanpa sengaja.” “Sebagai seorang ibu, aku sangat yakin kalau semua yang aku dengar itu benar adanya. Meski mungkin mereka hanya sekedar keluarkan isi kepalanya karena ambisi tertentu tapi aku tidak akan pertaruhkan nyawa anakku. Bantu aku, Mee, kumohon.” “Chai, kamu sadar apa yang kamu minta? Ini bukan keputusan yang asal-asalan. Kita akan ada dalam masalah besar.” “Mee, jika mereka ingin bunuh anakku secara diam-diam. Maka kita perlu lakukan hal yang sama dengan mereka. Kita harus selamatkan anakku sebelum mereka merenggut nyawanya dengan keji.” “Tapi, apa kata Tuan Bintang nantinya kalau ia tidak bisa lihat anaknya begitu lahir?” “Kita tetap harus punya seorang bayi yang hidup, Mee. Tapi, bukan bayiku dan ia haruslah seorang bayi perempuan agar tidak ada yang merasa tersaingi. Kamu paham yang aku maksudkan?” tanya Wulan dengan suara desakan agar Devinta turuti apa yang ia minta. “Kita harus cari bayi perempuan pengganti dan sembunyikan bayi laki-laki yang akan lahir? Seperti itu, Chai?” balas Devinta untuk yakinkan diri bahwa apa yang ia dengar tidak keliru. “Ya, Mee. Tepat sekali. Kumohon, Mee! Tolong bantu aku karena tidak mungkin aku yang turun tangan sendiri karena aku pasti masih dalam masa pemulihan.” “Chai, apa kamu yakin bisa berpisah dari darah dagingmu sendiri untuk waktu yang sangat lama? Bisa jadi kalian tidak akan bisa berjumpa lagi karena terpisah oleh jarak dan waktu.” Air mata Wulan menetes lagi tapi ia sendiri yang hapus sampai kering. “Lebih baik ia hidup karena aku sembunyikan daripada ia mati sia-sia karena rasa benci dari orang lain. Aku tidak akan sanggup lindungi dia karena Bintang pun tidak punya banyak waktu di rumah. Orang-orang itu akan cari cara sampai anakku meninggalkan dunia ini.” “Bagaimana kalau kita salah, Chai? Orang-orang yang Chai dengar tadi hanya bercanda saja atau sedang baca skenario drama?” balas Devinta masih tidak ingin terima kenyataan. “Mari kita buktikan sama-sama. Beberapa hari lagi aku akan melahirkan. Setelah percakapan kita ini, pasang telinga dan pertajam mata kita untuk amati hal yang aneh terutama mereka yang keluar dan masuk di ruang kerja Bintang. Aku juga akan coba cari cara lain yang bisa yakinkan aku untuk benar-benar lakukan keputusan yang amat berat ini.” Lamunan Devinta seketika buyar karena ketukan di pintu kamarnya. Ia baru saja bertemu dengan Wulandari yang katakan kalau ia mau beristirahat jadi, tidak mungkin nyonya rumah itu mencarinya. Tapi, wanita paruh baya itu tetap turun dari pembaringannya dan bukakan pintu. Ia terkejut karena bukan Wulandari yang ada di depannya, tapi Bintang, majikan laki-lakinya. Di kampus Saras. “Akhirnya kamu datang juga. Kalau sampai kamu terlambat, pasti sudah diberi tanda X oleh dosen yang satu ini,” ujar Livia menyongsong Saras. “Aku akan cerita nanti pada kalian apa yang barusan aku lakukan. Intinya, aku ada dalam masalah saat ini tapi masih bisa kutangani.” “Kita lanjutkan nanti. Saatnya kita masuk kelas,” balas Viana sudah menunjuk ke arah dosen pria yang sedang berjalan mendekat. Tiga sekawan itu bergegas masuk ke dalam kelas. “Siapa di sini yang bernama Saraswati Kusuma?” tanya si dosen begitu sudah ada di dalam kelas. Semua mahasiswa yang hadir menatap ke arah Saras dan berikan isyarat padanya untuk acungkan jari. “Saya, Pak!” jawab Saras sambil berdiri. “Oh, jadi kamu yang bernama Saras. Sini!” panggil dosen tersebut buat semua teman-teman sekelas menatap Saras dengan pandangan kasihan. Saras berjalan dengan perlahan menuju meja dosen di depan dan sempat melirik ke Livia dan Viana seolah-olah minta dukungan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN