Hadi turun dari mobil dengan wajah yang kesal dan penuh curiga. Keduanya naik ke lantai dua di mana kamar mereka berada. Sedang kamar anak-anak ada di lantai satu.
Omongan Natan berhasil menyita pikirannya hingga buat ia tidak bahagia.
“Papi, aku akan bicara dengan putri kita. Papi bisa bicara dengan Saras nanti. Papi tidak usah khawatir. Apa yang pemuda bernama Natan itu katakan, aku yakin tidak benar adanya.”
“Periksa tubuh Saras malam ini juga. Kalau sampai aku dapat bukti dari Natan, aku tidak akan diam saja.”
“Ya, aku akan panggil Saras ke kamar tamu sekarang juga. Papi istirahat saja.”
Anita keluar dengan masih berpakaian lengkap dengan menyandang tasnya.
Sampai di salah satu kamar tamu barulah Anita buka sepatunya dan ambil ponsel untuk bicara dengan Saras.
Tidak sampai lima menit, Saras sudah masuk ke kamar di mana ibunya berada.
“Mami, ada apa panggil Saras ke sini?”
“Maaf Mami ganggu waktu kamu dengan kedua sahabatmu.”
“Kami memang belum tidur, tapi sebenarnya ada apa, Mi? Sepertinya dari nada suara Mami di telepon, ada berita gawat.”
“Apa yang terjadi antara kamu dan Natan, Saras? Papimu sedang marah.”
“Eh, Papi marah karena apa? Saras tidak ada masalah dengan Natan sama sekali.”
“Tadi kami jumpa dengannya dan ia sampaikan sesuatu yang buat Papi sangat kesal.”
‘Sialan! Pria itu memang sangat menyebalkan. Apa sih yang ia mau? Dasar pecundang. Apa aku jujur pada mami saja? Tapi, aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi,’ batin Saras waspada.
“Apa yang Natan katakan, Mi? Apakah ia jelek-jelekkan Saras?”
“Dia bilang kalau ia punya bukti tentangmu sedang bersama dengan pria lain.”
“Hah? Bukti apa yang ia tunjukkan?” sela Saras dengan ekspresi mulai tegang.
Terbayang betapa ia sudah bersikap tanpa rasa malu sama sekali saat itu.
“Kenapa kamu tampak tegang seperti itu, Saras? Apakah pemuda itu bicara benar?”
“Mi, tolong ceritakan semuanya dengan lengkap agar Saras tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Natan bilang, dia lihat kamu sedang mojok bersama seorang pria di restoran dan gaya pacaran pemuda masa kini yang biasanya akan berakhir di kamar hotel.”
“Apa?” teriak Saras buat ibunya kaget.
“Jangan seperti itu, Saras. Papimu bisa dengar di kamar kalau suaramu begitu melengking.”
“Mami, apa bukti yang ia tunjukkan? Tolong jangan sembunyikan apa pun dari Saras.”
“Mami tidak tahu. Sebelum ia pamit, ia bilang akan kirimkan bukti. Jadi, papimu sedang menanti janji kiriman bukti yang Natan maksud.”
Saras melirik lonceng di pergelangan tangannya.
‘Aku harus lakukan sesuatu sebelum pria brengseek itu kacaukan hidupku,’ batin Saras gelisah.
“Semua yang Natan katakan bohong adanya, Mi. Dia sama sekali tidak punya bukti karena Saras tidak lakukan apa yang ia tuduhkan. Itu semua cuma karangan dia saja untuk memeras Saras. Dia ingin dekati Saras tapi Saras sudah menolaknya sejak jamuan makan siang itu. Saras sama sekali tidak nyaman ada di dekatnya.”
“Tapi, papi percaya kalau Natan memang punya bukti. Dia sangat percaya pada pemuda itu karena Natan anak dari temannya.”
“Mami, Saras tidak ingin dijodohkan. Saras juga masih ingin kuliah dan bekerja. Selama proses ini, Saras tidak ingin terikat dengan siapa pun apalagi pria mana pun.”
“Tapi, sepertinya papi ingin agar kamu bisa dekat dan kenal padanya. Mungkin, kita bisa cari jalan tengah untuk masalah ini.”
“Mami, tolong dukung Saras. Kalau mami setuju dengan papi, Saras harus bersandar pada siapa?” pinta Saras sambil bersujud dan memegang kedua tangan ibunya.
“Iya, Saras. Mami akan dukung kamu. Tapi, sekarang, Mami harus periksa semua tubuh kamu karena papi sedang tunggu hasilnya di kamar. Dia tidak akan tidur sampai mami laporkan tentang keadaanmu.”
Saras bangkit dan melucuti pakaiannya satu per satu.
Ada genangan air mata yang sudah menggantung karena dadanya begitu sesak. Ia kesal dengan situasi yang ia sedang hadapi dan juga soal Natan yang mengambil untung dari perilaku spontannya.
Tapi, Saras bertahan untuk tidak terlihat cengeng. Ia angkat wajahnya tinggi-tinggi dan buka kelopak matanya lebar-lebar agar tidak ada satu butir air mata pun yang mengalir.
‘Aku benci padamu Natan. Kalau pun aku harus berurusan denganmu lagi, semuanya karena aku terpaksa. Demi kedua orang tuaku,’ batin Saras.
Tindakannya itu cukup membantu apa lagi ibunya memang sedang sibuk mengamati sekujur tubuhnya yang hanya tersisa dalaman saja.
Ibunya memang lakukan tugas dari ayahnya dengan teliti karena ia minta Saras untuk berdiri dan berputar agar bisa ia lihat dari semua sisi.
“Kenakan lagi pakaianmu. Maafkan mami karena harus bersikap seperti ini. Semuanya demi kebaikanmu, Sayang.”
“Saras paham, Mi. Ini jauh lebih baik dibandingkan harus lakukan tes yang papi syaratkan.”
“Kembalilah ke kamarmu. Kasihan, Livia dan Viana ditinggal sendirian terlalu lama.”
Sambil rapikan dirinya, Saras berkata, “Mami, kami sepertinya ingin keluar sebentar untuk cari peralatan kuliah. Tugas wawacara tadi harus dikumpulkan besok dan mesti dimasukkan ke dalam map plastik. Saras tidak punya. Bahkan yang bekas pun tidak ada.”
“Baiklah tapi jangan terlalu malam pulangnya. Mami khawatir, kalau papi tahu kamu keluar lagi malam ini, Mami harus kembali mengecek sekujur tubuhmu.”
“Baiklah, Mi. Terima kasih karena selalu jadi pendukung setia Saras.”
Ibu dan anak itu saling berpelukan lalu kembali ke kamar masing-masing.
“Livi, kita harus keluar sekarang,” tegas Saras begitu ia sudah buka pintu kamar.
“Ke mana? Aku sudah ngantuk,” jawab Viana.
“Kalau begitu boleh Livia saja yang ikut aku.”
“Eh, enak aja. Aku juga ingin tahu apa yang kalian lakukan,” protes Viana langsung melompat turun dari kasur karena takut ditinggal.
“Sebenarnya ada apa, Ras?” balas Livia sudah kenakan jaketnya.
“Nanti aku cerita di mobil. Aku juga bingung harus buat apa. Aku butuh udara segar untuk bisa berpikir lebih jernih lagi.”
“Kita ke taman saja atau mau ke mana? Aku sudah kenyang tidak bisa jajan lagi,” balas Livia.
“Aku masih bisa makan,” timpal Viana mengekori langkah kedua sahabatnya.
“Kita pikirkan sambil jalan,” sahut Saras sudah buka pintu mobil.
Di Bangkok, Thailand.
Devinta sampai di sebuah taman kota. Hari sudah malam tapi ada begitu banyak pengunjung sehingga suasana masih ramai.
Ia cari tempat yang tidak terlalu sepi agar saat bicara di telepon nanti tidak akan terlalu berisik.
Devinta sudah siapkan pulsa ponsel yang cukup dan juga baterai cadangan agar percakapannya tidak terputus.
Sebelum ia mulai menekan nomor yang harus ia tuju, sekali lagi ia melihat ke sekelilingnya. Ia ingin pastikan tidak ada satu pun orang yang membuntutinya.
Tidak ada satu pun orang yang ia amati yang pernah ia kenal jadi Devinta beranggapan kalau ia ada dalam posisi yang aman.
Butuh beberapa menit barulah nada sambung dari ponsel Devinta terhubung dengan orang yang ia cari.
Percakapan mereka pun berlangsung dengan serius.
“Apa kabar?”
“Kak, sudah lama sekali baru kamu meneleponku.”
“Apa kamu sudah tidur? Maafkan ganggu tengah malam begini. Aku tidak punya pilihan lain.”
“Jam berapa sekarang di tempatmu? Di sini sudah jam setengah dua belas malam.”
“Hampir pukul sembilan malam. Ini aku sedang di taman, tidak bisa bicara dari rumah majikanku.”
“Ada apa, Kak? Apakah menyangkut anakku?”
“Nyonyaku ingin tahu bagaimana keadaannya? Ia minta foto karena ia sudah tidak bisa bendung rasa rindunya.”
“Dia sehat. Kami juga jarang kontak karena dia semakin sibuk. Tapi, kalau nanti dia pulang ke rumah, aku bisa minta fotonya.”
“Apa kamu tidak punya satu pun bukti parasnya selama ini?”
“Tentu saja ada, tapi sebaiknya kukirimkan yang terbaru karena foto masa kecil juga tidak akan banyak membantu.”
“Ada yang lebih gawat lagi sebenarnya. Tuan sudah semakin berusia dan ia butuh seseorang untuk jadi penerusnya. Masalahnya, ia sudah tentukan seseorang untuk jadi penggantinya. Nyonya tidak ingin hal ini terjadi.”
“Jadi, apa rencana kalian? Aku harus buat apa?”
“Apakah kamu sudah pernah ceritakan pada anakmu hal yang sebenarnya?”
“Tidak pernah tebersit dalam benakku. Aku tidak tega untuk jujur padanya. Dia terlalu penurut dan sangat membanggakan. Aku bahkan tidak pernah merasa kalau dia bukan anak kandungku.”
“Maafkan, aku. Kamu harus ada dalam situasi ini. Kamu pasti akan merasa sangat patah hati kalau dia tahu semuanya. Dia pasti akan sangat kecewa padamu karena sudah berbohong padanya selama ini.”
“Aku tahu kalau pilihan hidupku sangat terbatas. Dengan membesarkannya, aku jadi punya harapan hidup. Dia adalah salah satu alasan aku bisa bertahan sampai sekarang.”
“Aku takut sebenarnya. Kalau semuanya terungkap, kita bisa dipenjarakan. Apa kamu tidak rasakan hal yang sama?”
“Aku sudah pasrah Kak. Saat pertama kamu minta aku untuk rawat bayiku, aku tahu kalau hidupku sudah dalam bahaya. Tapi, saat melihat wujud bayiku yang seperti malaikat, semua rasa cemas itu hilang. Aku hanya ingin ia hadir dalam hidupku sebagai pengobat luka hatiku.”
“Aku sungguh tidak tahu harus bicara apa lagi. Kita sebaiknya siap-siap saja karena nasib kita sekarang di ujung tanduk. Meski, kita lakukan perintah dari majikan perempuanku, kalau Tuan marah besar maka kitalah yang akan dikorbankan. Tidak mungkin ia jebloskan istrinya sendiri ke penjara.”
“Kakak tidak boleh putus asa. Meski kita sudah salah, kita tentu punya alasan kuat untuk lakukan perintah dari majikan Kakak.”
“Saat itu, semuanya begitu rumit. Aku juga tidak sangka kalau usulku diterima oleh nyonya.”
“Kak, kalau aku boleh tahu, apa penyebab utamanya sampai bayi itu harus aku yang rawat? Sampai detik ini, Kakak belum pernah berikan alasan yang jelas padaku.”
“Aku sudah cerita semuanya padamu, bukan?”
“Tidak semuanya. Aku selama ini ingin tanya tetapi waktunya tidak pernah tepat. Karena, setiap Kakak telepon pasti aku sedang sibuk layani tamu di toko atau anakku ada di dekatku. Kakak ‘kan bilang kita tidak boleh berkomunikasi dalam bentuk apa pun termasuk saling kirim pesan. Hanya Kakak yang boleh kontak aku dan tidak boleh sebaliknya karena terlalu berbahaya.”
“Ya, itu benar. Aku selalu pakai nomor yang berbeda untuk kontak kamu untuk keselamatan kita berdua.”
“Maka dari itu, Kak. Ini waktu yang tepat untuk Kakak jawab pertanyaanku.
Devinta menatap ke sekelilingnya dan beberapa orang yang tadinya bisa ia lihat dari tempatnya berada sudah tidak nampak lagi.
Tandanya, taman sudah mulai sepi karena hari makan larut. Devinta harus tuntaskan percakapan dengan adiknya sebentar lagi.