Saras bersama kedua sahabatnya menyusuri jalan raya utama tanpa tujuan yang pasti.
“Ada apa kamu ajak keluar malam-malam begini?” pancing Livia yang duduk di depan.
“Masih ingat pria bodoh yang datang bersama pengawal di kampus kita?”
“Ya, tapi tidak tahu siapa dia karena kamu tidak cerita.”
“Singkat cerita, dia itu anak dari teman papi. Sepertinya, para orang tua terlalu bersemangat untuk mempererat relasi mereka jadi kami sempat bertemu di suatu jamuan makan siang.”
“Hm, kamu mau dijodohkan dengannya? Dia sepertinya anggap kamu sebagai kekasihnya.”
“Mungkin itu yang ada dalam otaknya sehingga saat aku menolaknya, dia berulah.”
“Kamu sudah menolaknya? Kapan? Bagaimana? Kenapa tidak cerita.”
“Untuk apa? Dia bukan orang yang spesial untuk dibahas. Aku langsung bilang padanya kalau aku sudah punya kekasih.”
“Oh, aku jadi paham. Pantas dia datang dengan teriakan tidak percaya pada apa yang kamu bilang.”
“Betul.”
“Eh, kita mau ke mana sebenarnya?” sela Livia karena Saras menyetir perlahan tanpa rencana untuk berhenti.
“Kamu mau tahu ceritaku sampai tuntas tidak?”
“Ah, iya.”
“Tadi dia jumpa dengan mami dan papi di sebuah acara dan ia bilang akan kirim bukti ke papi kalau dia lihat aku sedang pacaran dengan seorang pria dan mungkin akan berlanjut di kamar hotel. b******k ‘kan?”
“Wah, itu mah tipe cowok bawel.”
“Maka dari itu. Aku jadi sangat benci padanya.”
“Tapi, apa benar dia punya bukti itu?”
“Itu hanya bualannya saja,” elak Saras menutupinya aksi ciumannya pada Wira.
“Jadi, apa rencanamu sekarang?”
“Menurutmu aku harus bagaimana?”
“Coba temui saja dia untuk perjelas semuanya sebelum ia benar-benar menghasut Om Hadi.”
“Papi bahkan sudah mulai percaya padanya. Dasar pria menyebalkan. Tapi, aku juga pikir akan lakukan hal yang sama. Bertemu dia sebelum ia jumpa dengan papi lagi.”
“Kita bisa pergi bertiga untuk cari pria itu.”
“Aku nanti pikirkan caranya karena aku juga tidak punya nomor kontak atau alamatnya.”
“Siapa nama orang tuanya biar kita cari di internet. Kalau anak pejabat atau pengusaha pasti pernah masuk media.”
“Aku lupa tepatnya. Nanti aku tanya mami baru kita cari lagi.”
“Sudah lega sekarang? Kita pulang saja kalau memang tidak ada tujuan pasti. Viana sudah tidur,” ucap Livia melirik ke jok belakang.
“Makasih, Li. Tapi aku mau es krim sekarang.”
“Ampun, Saras. Tengah malam begini? Terserah kamu saja,” sahut Livia sambil menguap.
Mereka berakhir kembali ke restoran di mana Viana ditraktir makan sampai kekenyangan.
“Aku pesan jus apa pun itu,” ucap Livia.
“Oke. Aku ingin es krim malam ini.”
“Untuk Viana apa? Dia sudah tidur pula.”
“Kalau begitu, kamu temani Viana di mobil saja. Aku akan beli minuman untuk kita bertiga dan bawa pulang ke rumah.”
“Ide bagus,” balas Livia sambil duduk bersandar.
Gadis itu mulai ketularan ngantuk seperti Viana.
Begitu Saras sudah turun dari mobil, sebagai sahabat Livia masih teriak, “Kamu yakin tidak ingin ditemani?”
“Aku tidak akan lama,” sahut Saras sudah bergegas masuk ke dalam restoran.
Fokus pada apa yang ingin ia pesan, Saras berdiri dalam antrian tanpa sadar kalau seseorang sedang menatapnya dari jauh.
Saras berhasil ambil pesanannya dan bayar. Tapi, ia tidak bisa langsung keluar dari restoran itu karena tuntutan siklus biologisnya.
Saras berbelok ke lorong yang menuju kamar mandi.
Uniknya, ada wastafel dan dua bilik toilet tapi tidak ada pemisahan perempuan dan laki-laki.
Sebelum ia masuk, memang Saras sempat lihat, ada pintu lagi tapi tertulis sedang dalam
perbaikan, jadi akhirnya ia masuk ke pintu yang terbuka dengan penerangan terang benderang.
Mengamati tidak ada tempat untuk letakkan minumannya, ia putuskan taruh di atas wastafel.
Setelah beberapa menit, Saras keluar dengan perasaan lega.
Tapi, ia bingung karena bungkusan yang ia letakkan di luar sudah tidak ada lagi.
‘Astaga, restoran apa ini? Bahkan minumanku saja bisa raib dalam sekejab. Apa tadi ada orang lain juga di sini dan tanpa sengaja ambil barangku? Mungkin memang dia lebih butuh dariku dan Livia. Apa aku mesti antri lagi?’ batin Saras agak kesal.
Ia putuskan untuk kirimkan pesan pada Livia agar menunggu karena ia mesti antri lagi. Nanti saja baru ia ceritakan alasannya setelah sampai di mobil.
Saras melangkah keluar tapi kaget karena ada yang sudah berdiri mencegatnya.
“Bingung cari ini?” tanya seorang pria yang mengangkat pesanan Saras dengan tangan kirinya.
“Eh, kembalikan. Kamu mau apa?” sahut Saras berusaha meraih minumannya.
“Sekarang giliranku balas perbuatanmu waktu itu. Ikut aku sekarang!” tegas si pria yang sudah menarik lengan Saras dengan tangannya yang bebas.
“Lepaskan aku!” balas Saras sudah menepis tangannya karena ia lihat di sekitar mereka begitu sepi.
“Aku seorang dosen, ingat! Lagipula kamu itu anak dari Hadi Kusuma. Apa kamu ingin jadi sorotan pengunjung di sini.”
“Aku harus pulang sekarang, teman-temanku menanti di mobil,” balas Saras dengan suara yang sudah agak normal, tidak berteriak seperti sebelumnya.
“Tidak akan lama. Hanya ada satu hal yang mengganjal yang ingin aku lakukan padamu. Atau… !” ucap si pria sudah berhenti berbicara sambil melihat ke sekitarnya.
Saras semakin waspada karena sikap pria yang berdiri di depannya. Tak lain adalah Wira. Entah pria itu sudah ada di sana sejak kapan, tapi berjumpa lagi dengannya buat Saras agak khawatir.
Wira sudah menarik Sarah untuk masuk kembali ke dalam kamar mandi dan bersandar di balik pintu agar menutup di belakang mereka.
Tangan kanannya yang bebas bergerak dengan lincahnya.
“Kita tuntaskan di sini saja,” ucap Wira dengan sigap memeluk pinggang Saras agar merapat dan mencium bibir gadis itu tanpa ijin sama sekali.
Saras yang kaget tidak sempat meronta karena tubuhnya juga ikut patuh dan tenggelam dalam permainan Wira.
Saras tidak lagi gunakan logikanya tapi ikut terhanyut dalam beberapa detik.
“Rasamu masih manis, seperti di awal,” ucap Wira melepas lumatannya.
“Pak dosen, aku harus pergi sekarang!” sahut Saras tidak bisa berpikir jernih dan juga tidak bisa mengamuk.
Ia benar-benar kehilangan kata-kata.
“Silakan!” balas Wira sudah lepaskan pelukannya dan bergeser membuka pintu sambil serahkan bungkusan milik Saras agar gadis itu bisa keluar.
Saras melangkah lebar lewati pintu restoran dengan menunduk.
‘Jangan sampai ada wartawan atau kamera di restoran ini yang menangkap perbuatanku kali ini. Astaga, apa yang barusan terjadi? Aku ada dalam masalah besar sekarang. Lebih parah dari ada dalam perangkap Natan,’ gumam Saras dalam diam.