Jika ada hal lain yang lebih gila dari apa yang dilakukan Jessi saat ini, maka jawabannya adalah tidak. Gadis muda itu, dengan piyama tidur berwarna birunya yang polos dan sendal berbulu yang bagian depannya sedikit terbuka kini sibuk memenuhi beberapa kertas tentang opini-opininya.
Rachel dibunuh.
Rachel Bunuh diri.
Rachel dalam bahaya?
Jessi menghela napas berat dan panjang, sebelum kemudian menjatuhkan bokongnya di atas kursi belajarnya. Manik birunya yang sayu karena belum juga tertidur di jam yang seharusnya itu menatap coretan-coretan di atas kertas putih dengan saksama. Ia memerhatikan, berharap tidak ada sesuatu yang terlewatkan.
Semua sisa kenangan yang diingatnya, tertulis dengan jelas di sana. Tidak tersusun dengan rapi karena memori itu teringat secara acak. Dan Jessi menunjuk salah satu kalimat dengan ujung penanya yang sudah ditutup dengan rapi. “Berakhir di sini.”
Ingatannya. Jessi membicarakan ingatannya yang terhenti hanya sampai pada pagi hari dimana dirinya masih bertemu dan berbicara dengan Rachel. Ia bahkan masih mengingat jelas ekspresi ceria di wajah Rachel saat mereka bertemu di halte bus dan membicarakan peluncuran novel terbaru yang memang sangat diidam-idamkan oleh Rachel.
Namun anehnya, Jessi sama sekali tidak dapat melanjutkan ingatannya sendiri setelah itu. Ia bahkan tidak yakin apakah menghabiskan jam istirahat di kafetaria atau di perpustakaan, entah Rachel menawarkannya minuman atau tidak dan bagaimana dirinya juga Rachel bisa berada di sekolah sampai malam tiba.
“Jessi.” Suara Emma yang berasal dari luar pintu seketika membuat Jessi panik.
Ia buru-buru beranjak dan membereskan tulisan di atas tumpukan kertas itu, menyembunyikannya di dalam laci meja belajarnya sebelum kemudian berlari kecil dan membukakan pintu. Ibunya berdiri di sana, dengan eskpresi datar. Sepertinya karena kecepatan pergerakan yang dilakukan gadis itu, Emma tidak menyadari apapun. Wanita paruh baya itu terlihat sama sekali tidak curiga dengan putrinya.
“Apa Mom mengganggumu?”
‘Oh, tidak,” kata Jessi sedikit terbata-bata. Suara napasnya belum stabil, tapi Emma juga tidak menyadarinya. “Ada apa, Mom?”
“Polisi ingin menemuimu.”
Ekspresi panik itu berubah menjadi tegang. Jessi sempat tidak bisa berkata-kata selama beberapa detik, sebelum kemudian satu anggukan kepala ditunjukkan olehnya di sana. “Baiklah.”
Jessi kemudian mengekori sang ibu yang memang berjalan satu langkah di depannya. Tidak ada percakapan yang terjadi selama mereka menuruni tangga dari lantai dua bangunan rumah menuju ke bawah, ke ruang tamu.
Netra biru Jessi langsung menangkap pemandangan tak biasa di sana. Daniel duduk bersama seorang polisi bertubuh tinggi di sofa. Postur tubuh keduanya tampak kaku dan formal, menunjukkan sikap professional di antara dua pria dewasa. Wajah sang polisi cukup asing, Jessi tidak pernah melihatnya. Bahkan meski gadis itu sudah tinggal sangat lama di kota, ia tidak benar-benar yakin pernah menemukan polisi itu di suatu tempat.
“Maaf mengganggumu malam-malam begini,” kata polisi itu memulai.
Pria dengan bahu lebar yang kekar itu lantas berdiri, menyambut kedatangan sang saksi kunci dengan penuh semangat. Ia tersenyum kecil, tidak benar-benar senang dengan raut yang diperlihatkan oleh Jessi. Gadis itu tampak kebingungan, tapi ekspresinya datar dan tidak mudah terbaca. Membuat sang polisi berpikir bahwa ia mungkin harus berusaha lebih keras lagi kali ini. Terutama dengan ahli medis yang sudah menyatakan kondisi Kesehatan Jessi yang tidak stabil. Kehilangan ingatan tentu memperburuk situasinya.
“Aku adalah Detektif Tom,” sambungnya. “Dari satuan kepolisian New York. Mereka mengirimku untuk memastikan kau baik-baik saja.”
Namun Jessi justru menunjukkan sikap skeptisnya. Ia membalas tatapan Tom dengan dingin, lalu ikut duduk bersama Daniel di sana.
“Detektif Tom akan menanyaimu beberapa hal, tapi jangan memaksakan diri,” kata Daniel berusaha menenangkan putrinya.
Mendadak Jessi menjadi pasi. Ia sungguh tidak takut kepada polisi itu, ia hanya khawatir jika ingatannya sama sekali tidak dapat membantu proses penyelidikan kematian sahabatnya sendiri, meski seharusnya dia bisa. Gadis berambut cokelat itu lantas menatap Tom yang kini duduk di sebrangnya. Gerakan dari detektif yang usianya mungkin menyentuh angka 30an itu benar-benar membuat Jessi tidak nyaman. Tatapannya dalam dan sedikit menyudutkan.
“Bolehkah aku tahu seberapa dekat hubunganmu dengan Rachel Bell?” Tom memulai.
Sementara kedua tangannya sibuk dengan jurnal dan pena, Jessi justru menarik pandangannya ke arah lain, ke arah jendela. Tirainya terbuka, sehingga mata gadis itu dapat menangkap situasi langit yang gelap. Sunyi dan menenangkan, mengingatkannya kepada malam-malam akhir pekan yang biasa ia habiskan bersama sahabatnya yang kini sudah tiada.
“Cukup dekat … sangat dekat,” jawab Jessi tanpa menatap lawan bicaranya.
“Apakah Rachel adalah seseorang yang mungkin melakukan sesuatu seperti –“
“Rachel tidak mungkin membunuh dirinya sendiri,” potong Jessi dengan sangat tegas. Tingginya intonasi suara gadis itu, bahkan sempat membuat Emma dan Daniel tertegun, sedikit kaget. Namun semuanya kembali seperti semula setelah Jessi beralih kepada kedua mata Tom. “Aku mungkin kehilangan ingatanku tentang dia, tapi aku tahu dia tidak seperti itu.”
Tom hanya mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian mencatat apa yang dikatakan oleh Jessi ke dalam jurnal kecil berwarna hitam di tangannya. Setelah jeda beberapa detik, detektif muda itu kembali melanjutkan, “Apakah ada sesuatu yang mencurigakan sebelum insiden di malam itu terjadi?”
“Sesuatu yang mencurigakan?”
Tom menggumam pelan. “Apakah dia bersikap tidak biasa, melakukan sesuatu yang sangat jarang dia lakukan atau mengucapkan kalimat yang sangat bukan dirinya?”
Jessi berpikir dalam diam. Ia tidak yakin Rachel menunjukkan gejala-gejala keanehan, sampai kemudian sebuah ingatan kecil yang dirasa Jessi sangat sepele muncul dan bibir gadis itu mengungkapkannya dengan cepat. “Rachel tidak biasanya mengunci loker hari itu.”
“Apakah itu hari dimana dia ditemukan?” tanya Tom memperjelas situasi.
Namun gadis bertubuh kurus itu menggelengkan kepalanya. Wajahnya sempat tertunduk, tapi kemudian kembali terangkat dan memandangi Tom seperti sebelumnya. “Kurasa itu sehari sebelumnya, saat kami akan pulang bersama.” Daniel dan Emma tampak saling bertukar pandang, ekspresi mereka cemas tapi mereka memilih diam dan mendengarkan semuanya. “Dia tiba-tiba mengunci lokernya dan membawa kunci itu bersamanya.”
“Apakah Rachel menyimpan sesuatu yang berharga di dalam lokernya … atau sesuatu yang mencurigakan?”
Dan tentu saja jawaban Jessi adalah, “Aku tidak ingat.”
Tom menuliskan semua keterangan remaja di hadapannya dengan sangat cepat. Bahkan kini pria muda itu siap melempar pertanyaan berikutnya. “Aku ingin tahu apakah kau ingat mengapa malam itu, soal pesanmu kepada Mrs. Ferr, apakah kau tahu sesuatu?”
“Aku tidak yakin, Detektif,” kata Jessi pada akhirnya. “Tapi sepertinya Rachel benar-benar dalam bahaya malam itu.”
“Sepertinya memang begitu.”
***
MISTERI TIME.
Lukisan apa yang paling populer di seluruh dunia? Jawabannya pasti Mona Lisa. Saking populernya, lukisan karya Leonardo Da Vinci ini telah lama menjadi bahan spekulasi. Siapa sebenarnya Mona Lisa, model yang dilukis Da Vinci? ada apa dibalik pembuatan lukisan yang sekarang berada di museum Louvre Paris itu?
Lukisan ini pada 14 Desember 1962 memecahkan rekor karena diasuransikan sebesar 100 juta dolar AS. Bahkan, jika menurut pecinta seni, lukisan ini tidak ternilai harganya.
Nah, semua teka teki lukisan ini hanya bisa dijawab oleh sang pelukis, Leonardo Da Vinci. Dikenal sebagai pelukis dari masa renaissance dengan penggambaran sebagai manusia yang jenius.
Lahir di Vinci, propinsi Firenze, Italia, 15 April 1452 dan meninggal di Clos Luce, Prancis, 2 Mei 1519 pada umur 67 tahun dan dimakamkan di Kapel St Hubert, Amobise, Prancis. Karya-karya Da Vinci begitu piawai, melegenda sekaligus menyimpan banyak rahasia dan spekulasi, hingga mengilhami beragam penelitian juga tulisan yang mengundang kontroversi terutama bagi kalangan Agamawan.
Leonardo Da Vinci diyakini mulai melukis Mona Lisa antara tahun 1503 hingga 1506. Pada tahun 1516, Leonardo diundang Raja François I untuk bekerja di Clos Luce yang berdekatan dengan istana kerajaan. Di sana, Leonardo melanjutkan proses pelukisan Mona Lisa yang sebelumnya telah berhenti selama beberapa tahun.
Wanita yang berada di lukisan tersebut dipercaya sebagai Lisa Gherardini. Lisa merupakan istri dari Francesco del Giocondo, seorang pengusaha kain sutra di kota Florence, Italia. Lukisan tersebut rencananya akan dipajang di rumah mereka.
Setelah Da Vinci meninggal, lukisan ini diwarisi oleh murid dan asistennya yakni Salai. Lukisan ini kemudian dibeli oleh Raja Francis I dari Prancis dan disimpan di Palace of Fontainebleau. Setelah beberapa kali dipindahkan dan bahkan hilang karena dicuri, lukisan Mona Lisa secara permanen disimpan di museum The Louvre, Paris.
Dari berbagai spekulasi yang menyelimutinya, senyuman Mona Lisa dianggap sebagai yang paling menarik dan mengundang rasa penasaran. Senyuman yang tergambar dalam lukisan tersebut memang sangat misterius karena setiap orang dapat menginterpretasikannya dengan berbeda-beda.
Beragamnya interpretasi tersebut membuat para ahli tertarik untuk menelitinya lebih dalam lagi. Salah satunya adalah Dina Goldin, seorang professor di Brown University, yang menyatakan jika perubahan ‘rasa’ senyuman tersebut diakibatkan oleh bentuk dinamis dari lekuk muka Mona Lisa.
Selain itu pada tahun 2005 para peneliti dari University of Amsterdam mencoba menganalisis senyuman tersebut dengan menggunakan software komputer yang bisa mendeskripsikan perasaan seseorang melalui sebuah gambar. Hasilnya, senyuman tersebut menunjukan 83 persen perasaan bahagia, 9 persen lelah, 6 persen takut, 2 persen marah, kurang dari 1 persen netral, dan 0 persen terkejut.
Beberapa sejarawan menyatakan bahwa Mona Lisa adalah kombinasi dari pria dan wanita. Kata-kata Latin Amon dan Elisa bergabung untuk membentuk Mona Lisa. Hal tersebut membuat Mona Lisa cenderung sebagai seorang yang memiliki kelamin ganda atau hermaphrodite. Teori ini memang paling kontroversial. Banyak sejarawan yang menganggap jika yang menjadi Mona Lisa itu adalah Francesco del Giocondo. Ya, Francesco meminta Da Vinci untuk melukis dirinya sendiri, bukan istrinya.
Hal serupa juga diungkapkan oleh seniman Susan Dorothea White yang menyatakan jika Mona Lisa adalah seorang pria. Bedanya, Susan mengklaim jika lukisan tersebut adalah potret dari Leonardo Da Vinci sendiri. Dalam penelitiannya ia menggabungkan wajah Da Vinci dan Monalisa dalam satu gambar dan hasilnya kedua wajah tersebut menyatu dengan sempurna.
Pendapat kontroversial lainnya diungkapkan oleh sejarawan Silvano Vinceti. Ia menyatakan bahwa Mona Lisa adalah kekasih pria dari Da Vinci yakni Gian Giacomo Caprotti. Sedangkan Serge Bramly menyatakan jika Mona Lisa dibuat tanpa ada model di dunia nyata karena Da Vinci sedang menggambarkan sesosok wanita yang sempurna.
Sudah bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa wanita dalam lukisan karya Leonardo da Vinci menyimpan banyak misteri. Sejumlah ilmuwan dan para ahli pun sudah beberapa kali mencoba menemukan "kejanggalan" itu melalui penelitian mereka.
Perempuan tak bernama yang digambarkan sang maestro dalam lukisan berjudul "Mona Lisa", tampak melihat lurus ke depan, meski badannya agak sedikit menyamping.
Namun, orang-orang yang sudah melihat langsung karya yang kini ditempatkan di Museum Louvre ini, mengaku bahwa mata "Mona Lisa" mampu menatap ke segala arah. Ke mana pun kita bergerak atau berpindah tempat, ia bak sedang mengawasi kita.
Namun, tahukah Anda bahwa pengetahuan umum ini ternyata salah besar dan hanya mitos semata?
Sebuah studi baru menemukan, wanita dalam lukisan terkenal itu hanya memandang ke sudut yang berjarak 15,4 derajat dari sebelah kanan pengamat.
"Dia tidak memandangmu," kata penulis penelitian itu, Gernot Horstmann, yang merupakan seorang psikolog perseptual di Bielefeld University di Jerman, seperti dikutip dari Live Science.
Fakta ini, bagi Horstmann, agak ironi sebab seluruh fenomena yang berkaitan dengan tatapan seseorang dalam foto atau lukisan --yang tampaknya mengikuti individu yang melihatnya-- disebut 'Efek Mona Lisa'.
Jika seseorang dilukis atau difoto dengan pandangan menatap lurus ke depan, maka orang yang melihat potret tersebut dari sudut yang berbeda akan merasa mereka sedang "diikuti".
"Selama sudut pandangan orang itu tidak lebih dari 5 derajat ke kedua sisi, Efek Mona Lisa akan terus berlangsung. Ini penting untuk mengetahui interaksi manusia dengan karakter yang ada di dalam potret atau lukisan," papar Horstmann.
Jika Anda pergi ke sisi kanan ruangan hanya untuk membuktikan bahwa orang yang ada di lukisan sedang menatap Anda, maka Anda tidak memotong pandangan karakter dalam lukisan itu.
Namun, melakukan hal seperti itu akan membuat Anda merasa bahwa tokoh dalam lukisan tidak menatap kepada siapa pun di ruangan itu. Justru, Anda hanya akan melihat tatapan matanya lurus ke depan.
Horstmann dan rekan penulisnya, ilmuwan komputer Sebastian Loth yang juga dari Bielefeld University, sedang mempelajari Efek Mona Lisa untuk diaplikasikan dalam penciptaan avatar kecerdasan buatan (AI).
Ide penulisan makalah ini muncul saat Horstmann menatap lukisan "Mona Lisa" dalam waktu yang cukup lama dan menyadari sesuatu.
"Ketika itu, aku berpikir, 'Tunggu, dia tidak memandangku,'" katanya.
Untuk memastikan bahwa bukan hanya dia yang mengalaminya, para peneliti meminta 24 orang pengunjung Museum Louvre untuk melihat gambar "Mona Lisa" di layar komputer. Mereka mengatur penggaris yang ditempatkan di antara peserta dan layar. Setelah itu, periset meminta mereka untuk mencatat nomor yang dilihat pada penggaris, yang memotong pandangan "Mona Lisa".
Untuk menguji apakah ciri-ciri lain lukisan itu membuat perbedaan dalam cara pandangannya dirasakan oleh pengamat, para peneliti mengubah zoom pada gambar, mengubah apakah mata dan hidung wanita atau seluruh kepala terlihat.
Untuk menghitung sudut pandangan Mona Lisa ketika dia melihat ke arah peserta, para ilmuwan memindahkan penggaris lebih jauh atau lebih dekat ke lukisan. Ini akan memungkinkan untuk menghitung sudut pandangnya.
Mungkin banyak dari kita sering mendengar istilah "sebuah gambar melukiskan ribuan kata". Ya hal itu memang benar adanya, seperti lukisan karya Leonardo Da Vinci yang bernama "Mona Lisa" ini.
Nah, berikut adalah beberapa misteri tentang lukisan Leonardo Da Vinci "Mona Lisa", yang dikutip dari berbagai sumber.
Siapa Mona Lisa sebenarnya?
Hingga saat ini, identitas tentang siapa sebenarnya Mona Lisa masih tetap jadi misteri. Banyak yang percaya bahwa wanita dalam lukisan tersebut adalah Lisa Maria de Gherardini. Seorang wanita bangsawan Italia berusia 24 tahun, yang lahir di Florence pada tahun 1479. Suaminya, Francesco, yang menyuruhnya agar mau dilukis di Bartolomeo, Zanobi del Giocondo. Ia menjalani kehidupan sebagai kaum kelas menengah bersama suaminya yang bekerja sebagai pedagang sutra dan kain. Mereka memiliki lima anak bernama Piero, Andrea, Camilla, Giocondo, dan Marietta.
Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa wanita tersebut adalah Caterina Sforza, istri pangeran Forli. Ada juga yang mengatakan sebagai Isabella d'Este, wanita simpanan Giuliano de 'Medici, penguasa Florence. Beberapa orang juga sempat mengira bahwa wanita tersebut adalah ibu da Vinci karena kesamaan struktur wajah.
Senyuman Mona Lisa.
Senyum Mona Lisa yang penuh teka-teki dan membingungkan merupakan salah satu elemen paling misterius dari lukisan karya da Vinci ini. Selama lima abad, telah terjadi perdebatan tentang apakah ia tersenyum bahagia, atau malah sedih. Profesor Margaret Livingstone dari Universitas Harvard menjelaskan bahwa frekuensi spasial rendah di mana gambar tersebut dilukis dengan menciptakan senyum yang begitu aneh ketika orang-orang melihat ke arah matanya.
Setelah diadakan penelitian oleh para ilmuan Belanda pada tahun 2005, terungkap dari lukisan tersebut adalah 83 persen bahagia, 9 persen jijik, 6 persen takut, dan 2 persen marah.
3. Kode rahasia.
Setelah dilihat melalui kaca mikroskop dari lukisan asli yang beresolusi tinggi, Komite Nasional untuk Warisan Budaya Italia mengungkap adanya serangkaian huruf dan angka yang dilukis pada kanvas. Sejarawan seni, Silvano Vinceti, menyatakan bahwa terlihat adanya huruf "LV" pada mata sebelah kanan Mona Lisa.
Yang diartikan sebagai nama pelukis itu sendiri, yakni Leonardo da Vinci. Sedangkan pada mata sebelah kiri, terlihat adanya huruf "CE". Dan pada jembatan yang berada di belakang Mona Lisa, terlihat juga angka "72", huruf "L", dan diikuti angka "2" yang dilukis di atas lengkungan.
4. Jembatan yang tak dikenal.
Meskipun sedikit kabur, bisa kita lihat adanya tiga lengkungan di bawah jembatan. Sejarawan asal Italia, Carla Glori, menyatakan bahwa jembatan yang berada di sebelah atas bahu kiri Mona Lisa adalah Ponte Gobbo atau Ponte Vecchio yang berarti jembatan tua. Terletak di Bobbio, sebuah desa kecil berbukit, di sebelah selatan Piacenza, Italia Utara.
Teori Glori menyatakan bahwa angka "72" yang tersembunyi di jembatan tersebut merujuk pada tahun 1472. Pada tahun 1472 sendiri, telah terjadi bencana banjir di sungai Trebbia yang menghancurkan jembatan Bobbio. Semua itu ia tulis dalam bukunya yang berjudul The Leonardo Enigma.
5. Kehamilan Mona Lisa.
Para sejarawan seni yang meyakini bahwa wanita tersebut adalah Lisa del Giocondo, juga percaya jika ia masih muda ketika da Vinci melukisnya. Tangannya yang menyilang di atas perutnya yang membuncit, menjadi bukti sejarah bahwa Lisa del Giocondo tengah hamil ketika itu.
Selain itu, pemindaian yang dilakukan melalui sinar inframerah menunjukkan adanya guarnello yang menutupi bahunya. Guarnello merupakan pakaian luar yang terbuat dari linen dan biasa dikenakan oleh wanita hamil.
6. Lukisan yang dicuri.
Pada tahun 1911, lukisan Mona Lisa pernah dicuri oleh seorang karyawan di Louvre, Italia, yang bernama Vincenzo Perugia. Ia percaya bahwa lukisan itu telah dicuri dari Florence oleh Napoleon Bonaparte. Selama dua tahun, lokasi keberadaan lukisan tersebut pernah menjadi misteri. Kemudian pada tahun 1913, Perugia menghubungi seorang seniman Italia, Alfredo Geri.
Ia meminta tebusan dari pemerintah Italia atas lukisan Mona Lisa yang telah ia curi. Namun akhirnya terungkap bahwa siasat pencurian tersebut adalah cara untuk membuat salinan sejumlah lukisan Mona Lisa yang dilakukan oleh pemalsu seni terkenal, Eduardo de Valfierno. Di mana orang-orang tidak sadar jika lukisan palsunya dijual dengan harga mahal.
7. Adanya penyakit yang diderita Mona Lisa.
Misteri di balik senyum Mona Lisa akhirnya dipecahkan oleh seorang dokter asal Boston, Mandeep R. Mehra. Ia mendiagnosis penyakit yang diderita Mona Lisa ketika melihat keanehan pada penampilannya. Di mana kulitnya yang pucat, rambut yang menipis, dan senyum yang tidak selaras. Mehra yang bekerja sebagai direktur medis Heart and Vascular Center di Brigham dan Rumah Sakit Wanita, mengamati adanya benjolan kecil di sebelah dalam mata kiri Mona Lisa.
Ditambah lagi dengan kulitnya yang kuning dan benjolan di lehernya, yang dinyatakan oleh dokter Mehra sebagai indikator kelenjar tiroid yang membesar. Akhirnya disimpulkan bahwa Mona Lisa menderita suatu kondisi yang disebut hipotiroidisme, di mana tangannya yang membengkak, rambutnya yang menipis, dan benjolan yang ada di lehernya.
Melihat dari sejarahnya, Leonardo Da Vinci dipercaya untuk melukis Mona Lisa antara tahun 1503 hingga 1506.
Hingga pada tahun 1516, Leonardo Da Vinci yang diundang oleh Raja François I untuk bekerja di Clos Lucé. Di tempat itulah dirinya melanjutkan pembuatan lukisan ini.
Banyak yang percaya bahwa wanita ini adalah Lisa Gherardini yang merupakan istri Francesco del Giocondo, seorang pengusaha kain sutra yang sangat kaya di Kota Florence, Italia.
Selain itu, ada yang percaya kalau sosok Lisa Gherardini adalah Leonardo Da Vinci saat masih muda. Kabar lain menyebutkan bahwa sosok di lukisan itu adalah ibu dari Leonardo Da Vinci.
Dari lukisan tersebut, Mona Lisa memang adalah seorang wanita. Namun, sejarawan Silvano Vinceti memiliki pendapat yang dianggap kontroversial.
Silvano Vinceti menyebutkan bahwa sosok Mona Lisa adalah kekasih pria Leonardo Da Vinci yang bernama Gian Giacomo Caprotti.Sayangnya, hal ini tinggal menjadi misteri tanpa penjelasan hingga saat ini.
Lukisan Monalisa karya Leonardo Da Vinci kembali menjadi sebuah karya penuh misteri. Sebelumnya, banyak orang percaya jika lukisan itu menyimpan banyak pesan rahasia yang digambarkan langsung oleh si empu lukisan.
Kali ini, sebuah teori konspirasi mengungkapkan jika Monalisa adalah pertanda dari eksistensi alien. Hal tersebut ditunjukkan melalui sebuah video yang sudah tersebar di dunia maya.
Video tersebut menjelaskan dengan gamblang jika dua lukisan Monalisa dipertemukan, maka wajah alien akan seolah terlihat di situ. Bahkan menurut penjelasan, wajah alien tersebut sudah seperti manusia yaitu memiliki mata, hidung, mulut dan bahkan tangan.
"Banyak teolog percaya bahwa Leonardo Da Vinci sengaja menyembunyikan kode rahasia dan pesan subliminal di sebagian besar karyanya," video teori konspirasi itu menjelaskan tentang lukisan Monalisa.
Tak hanya sampai di situ saja, ada sebuah teori konspirasi lagi dari Scott C. Waring yang mengatakan bahwa Leonardo Da Vinci adalah seorang alien. Sulit dipercaya memang, namun Scott yang juga menjalankan sebuah website UFO harian mengatakan jika kemungkinan itu masihlah tinggi.
"Kemungkinan Leonardo Da Vinci menjadi alien atau setengah alien sangatlah tinggi," ujar Scott C.Waring.
Menurut dia, ada beberapa tanda yang membuatnya yakin bahwa pendapatnya ini masihlah masuk akal. Salah satunya adalah daya intelektual Leonardo Da Vinci yang sangat luar biasa.
"Dia (Leonardo Da Vinci) menunjukkan semua tanda. Dia memiliki kemampuan intelektual yang sangat tinggi, kreatifitas yang luar biasa. Leonardo adalah seseorang yang mampu beroperasi di semua area yang sangat tidak biasa," tambah Scott.
"Seorang yang jenius jarang bisa besar di semua bidang seperti Leonardo. Dia dikenal dengan kemampuannya menyembunyikan pesan dan kode dalam artwork miliknya, sehingga penemuan baru ini memberikan kita kunci bahwa kita telah luput dengan kemampuan luar biasanya yang datang dari alien," pungkas Scott.
Namun sayangnya, semua itu masih belum bisa dibuktikan kebenarannya secara 100 persen. Para peneliti pun masih berusaha mengungkap pesan yang ada dalam Monalisa. Apakah akan rahasia lain yang akan muncul dari lukisan penuh misteri ini?
Dilansir brilio.net dari mentalfloss, Rabu (10/8), ini dia 6 rahasia di balik senyum misterius Mona Lisa.
Mona Lisa bukanlah namanya.
Mona Lisa bukanlah nama asli wanita dalam lukisan tersebut. Objek dalam lukisan tersebut adalah Lisa Gherardini yang merupakan istri bangsawan bernama Francesco Del Giocondo. Dalam Bahasa Italia, Mona Lisa berarti 'My Lady Lisa'.
Napoleon pernah jatuh cinta padanya.
Sebelum tergantung di Louvre, Napoleon pernah memilikinya dan memajang di kamar tidurnya agar bisa dipandangi tiap malam.
Banyak pria meninggal karena mencintainya.
Pada tahun 1852, seniman bernama Luc Maspero meloncat dari lantai empat dan meninggal sebuah surat yang berisi 'Selama bertahun-tahun aku telah bergulat dengan senyumnya, lebih baik aku mati'. Lalu pada tahun 1910, satu pria lagi meninggal dengan menembak dirinya sendiri setelah tak kuat melihat senyum Mona Lisa. Wah!
4. Senyum itu terjadi bila Mona Lisa tidak memiliki gigi.
Sebuah riset yang dilakukan dari tahun 1997 hingga 2001 yang dipimpin oleh Dr Montague Merlic, ahli forensik asal Inggris, mengungkapkan bahwa Mona Lisa tidak dapat menutup mulutnya dengan pas karena dia mungkin telah kehilangan gigi-giginya.
5. Senyum Mona Lisa bisa berubah?
Rumor yang pernah berembus mengatakan bahwa senyum Mona Lisa bisa berubah-ubah. Namun Seorang pakar neuroscientist dari Universitas Harvard, Margaret Livingstone, yang mendapat dukungan dari ahli sejarah kesenian zaman Renaissans dari Universitas Columbia, James Beck, mengungkapkan sebuah kajian ilmiah yang menyatakan bahwa senyum Mona Lisa terlihat berbeda itu tergantung dari sudut mana orang tersebut melihat.
Semuanya hanya ilusi optik. Wuih, keren ya?
6. Presentasi ekspresi dari senyum Mona Lisa.
Para ilmuwan dari Universitas Amsterdam dan Universitas Illinois pada tahun 2005 tidak mau ketinggalan untuk menganalisis senyum Mona Lisa menggunakan bantuan software komputer untuk mengungkap rahasia emosi yang terkandung dalam lukisan tersebut. Dalam 'New Scientist' mereka menyimpulkan bahwa senyuman Mona Lisa menyampaikan pesan bahwa senyum tersebut mengandung 83% bahagia, 9% kekejian, 6% rasa takut, dan 2% rasa marah.