Setelah Daniel dan Emma mengantarkan kepergian Detektif Tom, Jessi segera kembali ke kamarnya. Ia kembali diliputi perasaan bersalah karena tidak dapat banyak membantu proses penyelidikan karena hilangnya sebagian memori di kepalanya akibat trauma. Jangankan tentang bagaimana Rachel bisa ada di lantai tertinggi sekolahan dan melompat, mengingat apa yang terjadi kepada dirinya saja Jessi tidak bisa.
Gadis itu mengalami gegar otak ringan akibat benturan yang sangat keras di bagian kepala. Sebagian wajahnya juga mengalami lebam dimana hal tersebut mengindikasikan bahwa kemungkinan besar terjadi kekerasan kepada dirinya. Namun soal Rachel, benar-benar tidak terduga.
Tom mengatakan bahwa ada beberapa kejanggalan dalam kematian sahabatnya itu. Tidak ditemukan sidik jari lain selain milik Rachel dan kondisi kepalanya hancur karena terbentur dari ketinggian. Dinyatakan meninggal karena pendarahan dalam dan rusaknya syaraf membuat semua orang, terutama polisi akan menyimpulkan bahwa kematiannya murni akan bunuh diri. Namun Tom berinisiatif memeriksa ulang kasus ini karena di dalamnya ada Jessi yang juga terlibat, menjadi korban lain yang sama sekali tidak terendus oleh media manapun. Bahkan gadis itu tidak menemukan satu artikel berita pun yang mengatakan bahwa dirinya juga ada di sana, di malam mengerikan dimana Rachel akhirnya meregang nyawa.
Setelah pembicaraan yang cukup intens dan serius, Jessi tiba-tiba berpikir, bahwa Rachel mungkin masih memiliki petunjuk bahwa dirinya tidak membunuh dirinya sendiri. Persetan dengan surat wasiat yang ditinggalkan Jessi di dalam kantung roknya, gadis itu jelas tidak mempercayai apa yang dilihatnya.
Ia bahkan tidak yakin bahwa dirinya benar-benar berkencan dengan William, belum lagi drama di balik hubungan rahasia mereka yang disebut-sebut menarik Rachel juga di dalamnya. Yang Jessi tahu, Rachel berkencan dengan Jason. Hanya beberapa hari sebelum Rachel meninggal, hubungan keduanya berakhir. Alasannya cukup jelas, Jason mengkhianati Rachel, berkencan dengan Maribeth, Rachel merasa tidak nyaman dan boom! Mereka akhirnya putus.
Namun jika semudah itu, dimana bagian Rachel dan William memiliki celah? Apakah benar William berkencan dengan Jessi dan Rachel di waktu yang bersamaan? Jessi menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, kemudian menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan, mendesah dengan sangat lelah dan panjang. Benar-benar frustrasi karena masalah yang dihadapinya sekarang.
“Ah!!! Sial!!”
Jessi mengerang dan menendang-nendang kakinya di atas ranjang, membiarkan bantal yang digunakannya, bahkan selimut dan sebuah guling yang sejak tadi tersimpan dengan rapi di sana menjadi berantakan seperti kapal pecah.
“Kenapa aku sama sekali tidak ingat?! Dari sekian banyak kenangan, kenapa tidak ada petunjuk?!”
Baru saja Jessi hendak kembali membuat keributan di kamarnya sendiri, tiba-tiba saja ponselnya yang berada di atas nakas berdering. Suaranya yang tidak bisa berhenti berputar memekakkan telinga, membuat gadis muda itu menghentikkan aslinya untuk segera bangkit dan meraih benda pintar tersebut. Sebuah pengingat kalender muncul di sana.
PESTA BUKU BERDARAH, PERPUSTAKAAN KOTA.
BESOK. PULANG SEKOLAH.
Kedua alis Jessi sontak berkerut dalam. “Pesta buku berdarah?”
Ia sama sekali tidak tahu bahwa dirinya dan mungkin bersama Rachel memiliki sebuah agenda semacam itu besok. Namun mengingat bahwa gadis berusia 17 tahun itu sampai menyimpannya di dalam pengingat kalender, artinya acara itu memang tidak boleh dilewatkan. Sebuah acara buku. Rachel memang sangat menyukai novel, Jessi berpikir bahwa novel adalah cinta pertama Rachel sampai kemudian dia benar-benar berkencan dengan Jason. Namun, mengapa judul acara buku yang dillihatnya malam ini sedikit mencurigakan.
“Aku tidak tahu Rachel menyukai novel bergenre horror seperti ini,” lanjut Jlliet. “Apakah ini buku baru bertema thriller atau semacamnya?”
Dan setelah mematikan pengingat pesan dalam ponsel tersebut, sebuah dering lainnya muncul di sana. Kali ini bukanlah sebuah alarm atau pengingat pesan, melainkan sebuah panggilan masuk yang berasal dari Diana. Teman satu kelas mereka, yang diingat Jessi sebagai salah satu murid yang juga tidak mungkin menelponnya di waktu seperti ini.
Pertama William dan kedua Diana, apakah mereka bersengkokol, ataukah Jessi memang kehilangan ingatannya lebih banyak daripada yang bisa ia bayangkan?
“Hai, Jessi, kau sibuk?”
Suara nyaring dari ketua cheerleader di sekolah langsung menyahut tanpa permisi setelah panggilan tersambung. Ia terdengar sedikit bersemangat dan senang, seperti yang orang-orang tahu.
“Kurasa ini sudah cukup malam,” kata Jessi apa adanya.
Tawa kecil tiba-tiba terdengar dari sebrang sana, Diana benar-benar memberikan kesan yang hangat dan ramah. “Maafkan aku mengganggumu, Jessi. Ini soal acara besok.”
Acara besok?
“Aku akan menemuimu di perpustakaan kota. Maaf karena aku tidak bisa mengajakmu pergi bersama untuk sampai ke sana. Kau pasti tahu soal latihanku dan ya, sedikit pamor,” ucap Diana, terdengar sedikit merasa bersalah. “kau tidak keberatan, bukan?”
“Apa yang akan kita lakukan memangnya? Aku tidak tahu kita cukup dekat untuk pergi ke sebuah acara bersama.”
Seperti biasa, Jessi selalu bersikap apa adanya. Tidak bisa berpura-pura. Dan hal tersebut membuat Diana sedikit merendahkan suaranya. “Jadi, rumor mengenai ingatanmu yang hilang itu –“
“Itu bukan rumor, Diana,” sela Jessi.
Diana terdengar menghela napas dari sambungan telpon dan melanjutkan, “Sebenarnya, kita akan pergi ke acara peluncuran buku itu bersama-sama. Aku, kau dan Rachel. Belakangan, aku dan Rachel menjadi dekat. Tiket untuk datang ke acara itu adalah hadiah ulang tahunku untuknya.”
“Hadiah ulang tahun?”
Dan Diana menggumam di sana. “Besok adalah hari ulang tahun Rachel. Itu hadiah untuknya.”
Kini Jessi dibuat keheranan setengah mati. Ini bukan soal dirinya yang lupa tentang tanggal kelahiran sahabatnya sendiri, melainkan seorang Diana, yang entah sejak kapan, juga menjadi sedekat itu dengan Rachel dan bahkan gadis popular itu tahu dan juga memberikan hadiah. Hadiah dari seorang Diana untuk Rachel, benar-benar sesuatu yang mengejutkan.
Jessi lantas merasa ia telah melewatkan banyak kenangan. Ia bahkan tidak tahu kapan Diana menjadi bagian dari mereka.
“Karena tidak ada acara buku yang sesuai dengan kesukaan Rachel, jadi aku menghadihinya sesuatu yang kupunya. Tiket masuk ke acara itu adalah hadiahku untuknya. Aku sangat berharap dia menyukainya dan tentu saja, dia ingin kau hadir di sana. Bukankah kau masih memiliki tiketnya, Jessi?”
“Entahlah,” ucap Jessi tergagap. “Aku tidak yakin.”
“Uhm, baiklah, kau masih memiliki sekitar beberapa jam untuk mencarinya di rumahmu sebelum pulang sekolah besok.” Diana sama sekali tidak terdengar marah atau kecewa, ia justru berbicara dengan nada suara yang cukup ramah dan hangat. “Aku tidak bisa berbicara denganmu di sekolah. Tapi aku akan mengirimkan pesan.”
“Ini sedikit aneh, kita berada di kelas yang sama. Kenapa kau tidak bisa menemuiku?”
“Oh, ya, karena aku sedikit memaksakan keadaan, Jessi.”