Jessi telah berdiri menatap jajaran loker berbahan besi di hadapannya selama kurang lebih lima belas menit. Sungguh dia telah menghabiskan lima belas menit dengan sesuatu yang sia-sia. Netra biru Jessi hanya menatap lurus ke arah benda berwarna abu-abu itu bingung. Lokernya terkunci. Namun gadis itu sama sekali tidak ingat dimana dirinya menyimpan alat untuk membuka lokernya sendiri. Persetan dengan lupa ingatan.
Gadis itu kemudian mendesah dan mencoba menarik gagang loker sekali lagi. Sekuat tenaga, tapi tetap tidak berhasil. Padahal ia sudah repot-repot berangkat lebih awal ke sekolah agar tidak diketahui siapapun –tentang betapa buruk ingatannya. Hingga pada percobaan ketiga, suara berat milik seseorang yang tak asing menggugah fokus Jessi.
“Kau tampak kesulitan, Ms. Swan.”
Jessi yang pagi ini menghias sisi kanan rambutnya dengan jepit Mutiara berwarna perak kemudian terenyak untuk beberapa saat. Wajahnya lantas menoleh ke sumber suara, pada Jason yang berdiri cukup dekat di belakangnya. Dengan jaket baseball berwarna putih dengan garis biru di bagian lengannya yang panjang dan kedua tangan yang disembunyikan di dalam saku celana seragamnya. Celana itu tampak rapi, tidak terlihat lipatan atau noda sama sekali. Anak laki-laki yang cukup perfeksionis, pikir Jessi. Pantas saja Rachel menyukainya. Jason memang menyentuh tipikal lelaki yang diinginkan oleh sahabatnya itu. Nilai minus, karena Jason ternyata tukang selingkuh.
“Well –kurasa aku menyimpan kunci lokerku di suatu tempat dan tidak bisa mengingatnya,” tukasnya berterus terang.
Entah sejak kapan dirinya mulai terbuka kepada mantan pacar sahabatnya itu, tapi yang jelas, Jessi merasa bahwa Jason berada di pihak yang sama. Mari kita garisbawahi perselingkuhan yang dilakukan oleh Jason dan Maribeth, Jessi belum menemukan bukti akurat dan bisa saja Rachel hanya salah paham atau semacamnya.
Jason menggumam dan mengangkat kedua bahunya cepat. “Kau tahu kau bisa mendapatkan kunci ganda, bukan?”
“Di mana?”
“Kau sungguh tidak tahu?” tanya Jason meyakinkan.
Dan Jessi tidak suka dengan basa-basi. Ia memutar kedua bola matanya dengan malas dan menyandarkan punggunya ke loker sembari berpangku tangan. Wajahnya terlihat tak senang. “Apakah aku terlihat sedang membuang-buang waktuku sekarang?”
Namun laki-laki muda dengan rambut kecokelatannya yang khas itu justru tertawa pelan di sana. Ia mengangkat kedua tangannya, memberi isyarat agar Jessi tidak meledakkan amarah di depannya seraya berkata, “Aku akan mengantarmu ke ruang kepala sekolah sekarang. Kau bisa mendapatkan kunci gandanya di sana.”
Jason mungkin mendengar Jessi mengumpat di belakangnya, tapi laki-laki itu mencoba bersikap tenang. Ia memilih untuk berpura-pura tidak tahu daripada memperpanjang masalah yang dianggapnya tidak begitu penting. Mereka kemudian berjalan bersama menuju ruangan kepala sekolah yang berada di ujung lorong sekolah. Tempatnya berada di dekat lapangan sekolah. Lokasi yang cukup strategis untuk mengawasi para murid yang malas mengikuti kelas olahraga atau memilih bersantai di pinggir lapangan demi menghindari teriknya matahari. Jessi tak banyak berbicara selama perjalanan, hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan tak penting yang sengaja diciptakan Jason untuk memecah suasana. Pertanyaan klise seperti apakah kau sudah mengerjakan tugas di kelas kimia, apa menu sarapanmu dan hal-hal lain yang dianggap Jessi sangat tidak penting.
“Silakan,” ujar Jason ketika langkahnya berhenti tepat di depan ruangan kepala sekolah.
Manik biru Jessi berpindah cepat dari atas ke bawah, memerhatikan pintu besar berwarna cokelat yang tertutup dengan sangat rapat. Ada jeda di sana sebelum kemudian Jessi kembali membuka percakapan. “Kau tidak ikut masuk?”
“Uhm, aku sedikit tidak akrab dengan Mrs. Looper.” Suaranya rendah dan terbata-bata, sepertinya Jason sedang menahan malu atau takut. “Dia akan langsung memberikanmu kunci ganda jika kau ke dalam sendirian.”
“Bagaimana denganmu?”
Dan Jason pun mendengus geli mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Jessi. Ia mengedikkan bahunya dengan cepat dan tersenyum simpul, penuh arti. Dan jujur saja, Jessi menganggap itu senyuman yang cukup manis. “Aku akan menunggumu dan kita bisa pergi ke kelas bersama. Romantis, bukan?”
Mendengar Jason baru saja menggodanya, gadis itu buru-buru mendesis jijik dan mendelik sinis kepada lawan bicaranya itu. Rupanya laki-laki itu salah paham. “Kau sebaiknya pergi sebelum aku keluar dari ruangan ini.”
Namun tiba-tiba Jason mendekatkan dirinya kepada Jessi, membuat jarak di antara mereka hanya beberapa jengkal saja. Aroma segar dari parfum dan krim rambut yang digunakan oleh lelaki itu bahkan langsung menyeruak masuk tanpa aba-aba. “Dan bagaimana jika aku menolak?”
Membuat rona di kedua pipi Jessi memerah seketika. Ia tidak biasa, bahkan hampir tidak pernah berinteraksi dengan teman pria dalam jarak seintens ini. Terakhir kali ia berbicara dengan teman lelakinya, William, ia langsung merasa muak dan meyakini bahwa teman laki-laki yang mengaku sebagai mantan kekasihnya itu adalah seorang pembual yang ahli.
Ketika sudut bibir Jason terangkat lebih naik daripada sebelumnya, disitulah Jessi segera tersadar dari lamunannya dan dengan cepat mendorong tubuh lawan bicaranya itu menjauh, ke belakang. Membuat Jason sedikit terkejut tapi raut ekspresinya memang tidak banyak berubah.
“Aku akan masuk sekarang dan pastikan wajahmu tidak ada lagi di hadapanku setelah aku selesai,” kata Jessi, terdengar seperti ancaman. “Ini perintah, bukan permintaan.”
Dan kata-kata terakhir dari gadis muda yang sedikit lebih pendek darinya itu berhasil membuat desir aneh di dalam d**a Jason yang kini berjalan mundur, beberapa langkah ke belakang, memperpanjang jarak yang sebelumnya menyempit dan menciptakan atmosfer berbeda di antara mereka. Ia tersenyum senang, tapi susah payah menutupinya dengan mengatup kedua bibirnya. Sembari melambai dan terus berjalan mundur, ia menangkap ekspresi kesal di wajah Jessi benar-benar menggemaskan di kedua matanya.
“Sampai bertemu di kelas, Jessi.”
Dan setelah tubuh Jason berbalik, benar-benar pergi meninggalkan lorong, barulah Jessi kembali menatap pintu ruangan di hadapannya. Baru saja gadis itu mengembuskan napas dan bersiap mengetuk, tiba-tiba saja pintu terbuka begitu saja. Sosok wanita gempal dengan pakaian ketatnya yang berwarna merah membuat Jessi terkesiap. Kepala sekolah mereka, Mrs. Winnie Looper baru saja berdiri, menghalangi pintu dengan tubuhnya yang besar dan menatap heran ke arah Jessi.
“Apa yang sedang kau lakukan di depan ruanganku, Jessi?” Berbeda dengan penampilannya yang terlihat menakutkan dan nyentrik, suaranya justru terdengar sangat ramah dan bersahabat. Ia bahkan melembutkan tatapannya dan kembali memastikan, “Apakah kau kesulitan menemukan ruanganmu, Nak?”
“Uhm, tidak,” jawab Jessi kikuk. Ia bahkan menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal karena terlalu gugup. “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu, Mrs. Looper.”
Wajahnya tampak sabar menunggu salah satu murid di sekolahnya itu. Tidak lupa dengan senyuman kecil yang juga tercetak di wajahnya. “Dan apakah itu?”
“Bisakah, uhm, bisakah kau memberikan kunci ganda untuk lokerku, Mrs. Looper?”
***
MISTERI TIME.
Siapa yang tak kenal dengan Lawang Sewu? Sebagai salah satu destinasi wisata di Semarang, Lawang Sewu selalu berhasil menarik banyak wisatawan yang berkunjung.
Di balik bangunannya yang unik dan megah, ternyata Lawang Sewu menyimpan sejuta misteri. Selengkapnya tentang misteri Lawang Sewu akan dibahas di bawah seperti dihimpun oleh Reservasi.com. Yuk dibaca!
1. Digunakan sebagai kantor administrasi kereta api
Lawang Sewu dibangun pada tahun 1904-1907 dan digunakan sebagai kantor administrasi kereta api di masa Hindia-Belanda. Sebelum membangun kantor KA di Semarang, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) sudah membangun rel kereta api pertama di Indonesia, tepatnya di tahun 1864 silam.
Seiring berjalannya waktu, kantor ini tidak mampu menampung jumlah pegawai yang membludak. Hingga akhirnya jadilah Lawang Sewu yang digunakan sebagai kantor NIS yang baru.
2. Pernah dijadikan ruang penjara di zaman penjajahan
Lawang Sewu sering digunakan untuk kegiatan operasional administratif oleh pemerintahan Belanda. Tapi di balik itu, Lawang Sewu juga pernah dijadikan sebagai ruang penjara bawah tanah di masa penjajahan Jepang.
Konon katanya, ruang penjara ini termasuk penjara paling sadis dan kejam di masa penjajahan. Jadi nggak heran kalau penjara terlihat seram ketika kalian melintasinya.
3. Merupakan saksi bisu atas pertempuran 5 hari di Semarang
Pada tanggal 14-19 November 1945, terjadi peperangan antara Indonesia melawan Jepang. Dan Lawang Sewu menjadi salah satu lokasi peperangan antar kedua negara.
Namun akhirnya, Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) Indonesia berhasil merebut kembali gedung ini setelah sebelumnya dijadikan sebagai Kantor Jawatan Transportasi oleh Jepang.
4. Terdengar suara teriakan di sumur bawah tanah
Di halaman utama gedung Lawang Sewu, terdapat sebuah sumur tua yang sudah lama tidak dibuka bagi publik. Alasan penguncian sumur ini diduga karena adanya suara teriakan yang sering kali muncul saat malam hari tiba.
Menurut kabar, sumur inilah yang dipakai oleh tentara Jepang untuk menyiksa tentara Belanda. Sehingga kerap terdengar suara-suara berteriak minta tolong dari bawah sumur tersebut.
5. Penampakan makhluk halus di ruang utama
Sebelum memasuki ruang utama Lawang Sewu, kalian harus melewati pintu gerbang besar terlebih dahulu. Ketika melintasi pintu gerbang, orang-orang sering melihat penampakan roh-roh halus. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.
Pertama, yaitu penampakan tangan hitam besar yang menutupi bagian jendela. Kedua, di bagian sudut-sudut langit utama terdapat penampakan orang yang suka menyenter di malam hari. Selain itu, ada pula penampakan dengan kondisi wajah yang rusak. Serem ya!
6. Disebut sebagai bangunan 1.000 pintu, nyatanya hanya 429 pintu
Di setiap sudut ruangan Lawang Sewu terdapat pintu-pintu berwarna kecoklatan. Anehnya, pintu-pintu ini digunakan sebagai penghubung antara ruangan yang satu dengan ruangan yang lain yang jaraknya masih sangat berdekatan.
Pintu-pintu ini dikabarkan berjumlah 1.000 pintu. Ternyata saat dihitung, pintu ini hanya berjumlah 429 buah. Bila dihitung dengan daun pintunya, jumlahnya masih 928 buah. Sisanya kemana ya kira-kira?
7. Sering tercium bau-bau aneh di ruang penjara berdiri
Di ruang bawah tanah terdapat penjara berdiri yang berukuran 60 cm x 1 m. Penjara yang harusnya digunakan untuk 1 orang tahanan malah digunakan untuk menampung 5-6 orang tahanan. Hingga akhirnya seluruh tahanan tewas karena kesempitan.
Jika ada tahanan yang masih hidup tak akan bertaham lama. Setelah itu, mayatnya akan dibuang ke sungai terdekat. Akibat dari penyiksaan sadis ini, sering tercium bau-bau aneh dari ruang penjara, termasuk bau anyir darah.
Lawang Sewu memang sudah bermetamorfosis. Bangunan yang dulu terkenal karena keangkerannya itu kini menjadi spot favorit anak muda untuk berswafoto.
Meski begitu, kisah misterinya masih dituturkan hingga kini. Pemandu wisata di Lawang Sewu, Abdul Hadi (50) menceritakan salah satunya yang membuat bulu kuduk merinding.
Gedung berlantai dua yang luas tersebut hanya berupa ruang kosong. Di lantai bawah tanah terdapat lorong bak penampungan air dan menurut cerita pernah digunakan sebagai tempat penyiksaan.
Menurut penuturan Abdul, gedung tersebut menjadi tempat bersemayam banyak makhluk gaib. Tapi, ketenangan para "penghuni" gedung terusik gara-gara sebuah acara stasiun televisi swasta dari Jakarta yang memanggil mereka dengan sesajen.
Acara televisi tersebut dikatakan ibarat membangunkan orang yang sedang tidur dalam kedamaian, sehingga kemudian berkeliaran dan menampakkan diri kepada pengunjung.
"Karena dibangunkan, makhluk halus tersebut kemudian meminta sesajen lagi dan kalau tidak mendapatkannya, mereka akan mengganggu pengunjung lain," kata Abdul dengan mimik wajah serius, dilansir Antara, Selasa, 12 Juni 2018.
Pada sebuah kesempatan saat memandu, seorang wisatawan kepada Abdul mengatakan bahwa ia melihat seorang noni Belanda dengan pakaian serba putih berdiri di pojok ruangan.
Ada juga pengunjung wanita yang diyakini "dimasuki" oleh roh gaib, tiba-tiba melakukan gerakan tari balet di salah satu lorong. Padahal dalam sehariannya wanita tersebut sama sekali tidak memiliki bakat menari, apalagi tari balet.
Beberapa cerita mengenai makhluk halus penghuni Lawang Sewu yang dikemas sedemikian rupa, membuat pengunjung seolah terbawa pada dunia gaib. Tidak sedikit yang mengaku merinding.
Salah seorang pengunjung wanita, Denty asal Jakarta, sampai meminta tolong kepada rekannya agar ditemani ke toilet yang terletak di salah satu pojok bangunan dan saat itu sepi pengunjung.
Cerita mengenai "penghuni" Lawang Sewu dan segala keseruannya yang membuat bulu kuduk berdiri, hanyalah sisi lain dari sejarah gedung tersebut. Sebagai sebuah bangunan bersejarah, Lawang Sewu memang menyimpan banyak kisah menarik, terutama mengenai sejarah kolonialisme Belanda di Tanah Air.
Arsitek Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag, dua tokoh di balik pembangunan gedung Lawang Sewu, mengajarkan kepada semua pihak bahwa proses pembangunan dengan menggunakan bahan bermutu serta perencanaan yang matang akan menghasilkan karya yang mampu bertahan ratusan tahun.
Tidak hanya soal mutu bangunan, tetapi juga estetika. Contoh kecilnya adalah soal pipa saluran air hujan yang rapi mengalir, tanpa menimbulkan genangan saat musim hujan.
"Coba lihat, tidak ada satu pun dinding yang retak, padahal gedung ini sudah berusia ratusan tahun," kata Abdul saat memandu sekitar 10 pengunjung yang berasal dari luar Jawa Tengah.
Dibangun pada 1904 dan selesai 1907, gedung ini awalnya dimaksudkan sebagai kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS, alias kantor perkeretaan di masa pemerintahan kolonial Belanda. Namun, perkembangan perkeretaapian pada masa itu terlalu pesat hingga bangunannya tak lagi memadai.
Kemistisan tersebut diperkuat dengan memudarnya fisik bangunan Lawang Sewu. Setelah kosong bertahun-tahun, gedung ini jadi nggak terurus hingga makin terlihat menyeramkan. Katanya, warga sekitar sudah 'akrab' dengan suara-suara gaib dari sana.
Kalau kamu mau ke sini, Lawang Sewu buka dari pukul 07.00-21.00. Harga tiket masuk hanya Rp10.000,- untuk dewasa dan Rp5.000,- untuk anak-anak. Kalau pengin uji nyali ke ruang bawah tanah, kamu harus sewa tour guide untuk memandu dengan biaya Rp30.000,- saja.