Bab 17

1032 Kata
Setelah berhasil mendapatkan kunci loker – cadangan – miliknya sendiri, Jessi kembali ke ruang kelas. Bel sudah berbunyi dan gadis muda dengan jepit rambut peraknya itu pun menunda rasa penasarannya akan apa yang ada di dalam kotak besi bernomor tersebut. Tubuhnya yang kurus dengan sepasang kaki yang jenjang karena keturunan kedua orang tuanya melangkah dengan pasti menuju ke kelas. Ia sempat berhenti sejenak di ambang pintu masuk, mengedarkan pandangannya ke sekeliling, memerhatikan pandangan-pandangan murid lain yang membuatnya sakit kepala belakang ini. Jason terlihat asik memainkan ponsel di mejanya, sesekali laki-laki muda yang sudah melepas jaketnya itu – karena begitulah peraturannya di sekolah – tersenyum kecil karena sesuatu yang muncul di layar ponselnya. Mungkin club bola favoritnya baru saja memenangkan turnamen, atau Jason saja menonton serial televisi dewasa yang biasa diunduh oleh laki-laki muda pada umumnya. Meski itu agak mustahil mengingat ini di sekolah, di kelas, banyak orang akan melihat. Lalu beralih pada Maribeth, murid bersuara merdu yang digadang-gadang akan maju mewakili sekolah ke sebuah ajang perlombaan bernyanyi di pusat kota. Festival yang sangat bergengsi, benar-benar mengharumkan nama baik First High School. Ia tidak begitu dekat dengan Rachel, kelihatannya tidak banyak bersimpati juga atas kematiannya yang baru-baru ini terjadi. Rumornya, Maribeth dan Jason berkencan, tapi tak sekalipun, setelah Jessi kembali – dengan ingatan yang hilang – dirinya melihat atau menyaksikan langsung interaksi romantis di antara kedua temannya tersebut. Diana duduk bersama Maribeth, mereka sepertinya berteman. Namun Jessi tentu memiliki pandangan lain terkait hubungan pertemanan mereka. Keduanya tampak saling membutuhkan untuk sebuah kepentingan yang formal. Tidak benar-benar dekat. Gadis muda itu bahkan sangat yakin bahwa keduanya tidak saling mengetahui kebiasaan masing-masing yang bersifat personal. Di dalam kelas, mereka berdua sibuk menatap layar ponsel. Namun sesekali mereka berbincang dengan cukup seru. Bisa saja mereka sedang membicarakan tren fashion atau artis-artis tampan yang biasa dilakukan oleh sekumpulan gadis popular untuk menarik perhatian orang lain atau semacamnya. Tidak mungkin Rachel berada dalam lingkaran pertemanan mereka. Terlebih lagi, Diana tidak ingin kedekatannya dengan Rachel sampai terekspos di sekolah. Sedangkan William, ia terlihat sibuk dengan catatan di atas mejanya. Ya, wajah yang bagus tidak selalu menjamin otak yang bagus. Kapten basket sekolah yang namanya makin bersinar karena menjadi tim inti yang membawa medali emas untuk First High School. Seseorang yang sangat jauh dari jangkauan murid-murid seperti Jessi maupun Rachel. William dan Diana pasti saling berinteraksi, mengingat bahwa mereka sering bertemu di arena basket. Entah saat latihan atau bahkan turnamen. Namun Rachel? Gadis polos itu lebih sering menghabiskan waktunya bersama Jessi, di perpustakaan, di sebuah tempat yang sangat jarang disentuh oleh murid-murid popular seperti mereka semua. Jika memang William benar-benar sempat berkencan dengan Rachel, lalu kemudian berselingkuh dengan Jessi, apa motivasinya? Permainan? Taruhan? William jelas tidak pintar dalam bidang akademik, tetapi wajahnya jelas menunjukkan bahwa dirinya tidak awam soal dua hal, percintaan dan cinta. Jessi kemudian mendaratkan bokongnya di atas kursi, tepat di sebelah meja dan kursi yang kosong milik sahabatnya sendiri. Aroma lili dan suasana duka perlahan memudar, menyadarkan Jessi bahwa semua sudah berlalu, semua orang harus kembali menjalani hidup mereka seperti biasa. Menjadi lebih baik tanpa kehadiran gadis ceria itu lagi. Tiba-tiba saja sebuah pesan dalam ponsel menarik atensi Jessi. Diana : Sampai bertemu pulang sekolah. – Diana. Mata biru Jessi langsung menengadah, menatap Diana yang duduk jauh di depannya. Terhalang oleh dua meja lain sebelum pandangannya bertemu dengan rambut pirang milik Diana. Bahkan terlihat dari gaya rambutnya saja, Diana benar-benar berbeda dengan Rachel. Ia sangat terawat dan berkelas. Jessi mungkin akan menggambarkannya sebagai salah satu murid berperingai baik dan anggun, kebanggan dan idola murid-murid lainnya. Namun masalahnya, Jessi kehilangan tiket ke acara itu dan tidak dapat mengingat sama sekali. Ia tidak yakin pernah menerima sebuah hadiah dari Rachel yang memang berbentuk tiket masuk ke sebuah acara buku seperti itu sebelumnya, tapi melihat gerak-gerik Diana, bagaimana gadis seterkenal dia mau repot-repot menelpon di waktu malam dan mengiriminya pesan hanya untuk mengingatkan janji pertemuan mereka, sedikit membuat perasaan Jessi goyah. Diana sedikit meyakinkan, tapi motifnya memberikan hadiah kepada Rachel benar-benar tak terbaca oleh Jessi. Jessi : OK. Setelah membalas pesan singkat tersebut, Jessi menyimpan ponselnya ke dalam saku rok yang bermotif kotak. Biru adalah kesukaan Rachel dan Jessi akan sangat bosan mendengar sahabatnya berceloteh tentang rok seragam favoritnya tersebut. Diana : Apakah kau akan mengajak pacarmu? Sebuah balasan yang tidak terduga dari Diana membuat Jessi berkerut kening. Ia spontan kebingungan dengan maksud ucapan lawan bicaranya tersebut. Ia tidak yakin mengapa Diana masih saja membalas pesannya meski guru kimia sudah memasuki ruangan kelas dan tentu saja kalimat ‘pacar’ membuat Jessi sedikit terusik. Jessi : Kurasa aku tidak memiliki pacar. Dan manik biru itu kembali fokus ke depan, menghadap ke papan tulis, kea rah materi-materi tertulis yang dibuat oleh Mr. Bob. Seorang guru kimia yang mungkin akan mencampurkan air dan natrium hanya untuk meledakkan isi kepala murid-muridnya yang membangkang. Cara bicaranya tegas, tidak bertele-tele. Namun Mr. Bob masuk ke dalam daftar guru yang tidak disukai oleh Jessi mengingat pria berkulit hitam itu terus saja memberi banyak tugas dan kuis dadakan kepada murid-muridnya. Kali ini Mr. Bob tidak seserius biasanya. Ia tampaknya mengetahui kondisi salah satu murid di kelas itu dan mencoba mengulang materi-materi lalu yang memang sudah ada di dalam buku catatan Jessi. Diana : Kau bercanda, ‘kan? Apa kau putus dengan Alex? Mata Jessi membulat seketika mengetahui bahwa pacar yang dimaksud adalah Alex. Si kutu buku culun dengan kacamata besar yang selalu menghias kedua matanya yang berwarna hazel. Gadis itu sontak menoleh ke arah Alex, yang juga duduk di barisan belakang kelas, seperti dirinya. Seperti dari ujung ke ujung. Pemandangan murid laki-laki berpakaian rapi dengan rambut yang tertata dan klimi terlihat jelas di sana. Tepat lurus ke arahnya, Alex terlihat sibuk memerhatikan Mr. Bob sampai tidak menyadari bahwa Jessi terus memandanginya dengan heran. Alex memang laki-laki pendiam, tapi dia tidak buta dan tuli. Jika mereka benar-benar berkencan, mengapa Alex sama sekali tidak membantunya mengingat sesuatu, kisah asmara mereka misalnya. Jessi sama sekali tidak ingat bahwa dirinya sudah berkencan dengan beberapa teman laki-laki di kelas dan itu sangat mengganggu. Kini ia tidak yakin apakah salah satu dari laki-laki itu sudah menyentuh tubuhnya atau belum. Diana : Jadi, kau akan datang ke acara buku berdarah dengan Alex atau tidak, Jessi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN