Bab 18

2230 Kata
Jessi tidak bisa berhenti mengarahkan pandangannya ke arah Alex. Laki-laki muda dengan wajah eropa yang sangat kental. Hidungnya mancung dan kedua alis tebalnya terlihat simetris. Gadis muda itu memang dapat membayangkan wajah tampan Alexander Morrothi yang tampil dengan kacamata. Ia memiliki netra biru yang lebih gelap daripada milik Jessi. Gayanya formal dan culun. Memang bukan selera gadis-gadis popular di sekolah. Namun sungguh, Jessi tidak yakin bahwa Alex adalah seleranya juga. Suara tak asing yang belakangan ini mengganggu telinga Jessi tiba-tiba kembali terdengar. “Jangan katakan bahwa kau tak ingat juga dengan Alex.” Kata-kata itu menyambar bagai petir di siang bolong, mengejutkan. Ternyata hubungan antara dirinya dan Alex bukan hanya diketahui oleh Diana, tetapi Jason juga. Kemungkinannya hanya ada dua. Satu, Jessi dan Alex memang berkencan lalu semua murid di kelas itu mengetahuinya atau dua, seseorang yang tidak memiliki pekerjaan sibuk menyebarkan rumor tidak benar mengenai hubungan mereka berdua. Karena satu-satunya yang janggal di sini adalah Alex sama sekali tidak menyapanya, terlihat berniatpun sepertinya juga tidak. Ia bersikap acuh dan hidup layaknya karakter novel penyendiri yang tidak memiliki teman. Jessi sibuk menangisi kepergian Rachel sampai tidak memerhatikan sekitar. Namun sungguh, kenapa harus Alex? Jujur saja, persentase kemungkinan Jessi menjalin hubungan dengan Alex memang lebih besar jika dibandingkan dengan William. Kapten basket arogan dan pemain hati gadis-gadis. “Dia tidak berani menyapamu karena takut,” lanjut Jason, seolah mendengar dengan jelas suara hati Jessi. Mereka berdua kini berdiri di dekat koridor sekolah, mengamati pergerakan Alex yang sibuk dengan buku-buku tebal di tangannya. Tampaknya murid kutu buku itu hendak mengembalikan beberapa buku ke perpustakaan. Alex berjalan dan kemudian menghilang setelah melewati belokan. Ya, Alex dipastikan pergi ke dunia sejatinya;buku. “Apa yang dia takuti?” Jessi membuka suara. “Entahlah,” jawab Jason tanpa minat. Ia lantas menarik resleting jaketnya ke atas, menutup sebagian besar bagian depan tubuhnya dan memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket. “Mungkin sesuatu yang lebih baik kau tidak ingat.” “Seperti misalnya?” “Uhm, kesalahannya padamu. Mungkin. Aku tidak tahu, hanya menebak-nebak.” Tanpa permisi, Jason berlalu begitu saja. Membuat tanda tanya besar di dalam d**a Jessi. Namun sepertinya laki-laki itu tidak akan peduli. Dan Jessi pun memutuskan untuk berbalik, berjalan menuju lokernya. Kini gadis itu memiliki kunci, hanya perlu tiket yang diberikan oleh Diana. Barangkali benda itu ada di sana, harapnya. Namun setelah diputar dan pintu berhasil dibuka dengan mudah, kedua alis Jessi justru saling bertaut keheranan. Manik birunya yang cerah menemukan beberapa novel, dua buah tiket dan sebuah jurnal. Barang-barang itu terlihat biasa sampai kemudian dirinya menyadari bahwa semua benda itu bukanlah miliknya, melainkan milik Rachel. *** “Hey, kau datang juga,” sapa Diana. Gadis berambut pirang itu tampil menawan dengan gaun pendek berwarna biru cerah. Bagian pundaknya sedikit terbuka dan tidak memiliki motif apapun. Bandana putih menghias rapi di rambutnya, memberi kesan anggun dan feminim di saat yang bersamaan. Ekspresi wajahnya yang sumringah terlihat berbeda dengan Diana yang ditemuinya di sekolah. Diana tidak lagi terlihat berhati-hati dan menjaga imejnya. Gadis itu dengan berani menghampiri Jessi yang kebingungan di ambang pintu, menarik lengannya dengan ramah dan tersenyum lembut. “Kita akan kemana?” Tanpa melepas senyuman di bibirnya, Diana melepaskan tangannya dan berbalik ke arah Jessi. “Peluncuran bukunya akan dimulai beberapa menit lagi, kau hampir terlambat, Jessi.” “Aku tidak tahu kau –“ Diana kemudian menyela. “Sudah kukatakan bahwa aku cukup dekat dengan Rachel belakangan ini. Cukup singkat, tapi pertemanan itu cukup berarti.” Meski tidak merasa yakin, Jessi hanya tersenyum kecil dan memandang Diana penuh hormat. Ia kemudian mengekori Diana yang tanpa ragu berjalan melewati jajaran kursi yang sudah diisi oleh pengunjung lain. Mereka tampak antusias dengan sebuah buku di d**a mereka. Diana kemudian menghentikkan langkahnya dan duduk di ujung kanan area, Jessi mengikuti di sebelahnya. “Ini, untukmu,” kata Diana, sembari menyerahkan sebuah novel berwarna hitam dengan judul berdarah di depannya. Ditulis dengan font Algerian tebal dan penuh dengan background bertema gelap. Jessi yakin novel ini adalah salah satu buku dengan genre pembunuhan, horror atau semacamnya. Terlihat jelas dari cover dan blurb yang tertera di sana. “Aku yakin Rachel sudah memiliki novel ini, tapi pasti tidak denganmu.” Diana menyenggol lengan Jessi sembari mengerlikan matanya menggoda. Benar-benar tipikal gadis ceria yang disukai banyak orang. Menyenangkan. “Kau tidak mungkin melewatkan tanda tangan penulisnya, bukan?” Dan Jessi mengedikkan bahunya tak peduli. “Kau juga pasti tahu aku kemari bukan karena itu.” “Oh, ayolah.” Lagi-lagi Diana mengeluarkan nada manja khas gadis-gadis rumahan. “Uhm, omong-omong, kau tidak mengajak siapapun?” “Aku tidak yakin harus mengajak siapa. Aku bahkan tidak ingat memiliki janji ini denganmu.” Mendengar kalimat itu, Diana hanya tersenyum dan menolehkan pandangan setelahnya. Mereka berdua kemudian fokus mengikuti acara peluncuran buku meski Jessi sebenarnya tidak benar-benar peduli. Di tengah acara yang menyenangkan, dering ponsel milik gadis muda itu sedikit mengusiknya. Membuat Jessi meninggalkan atensinya dari sang penulis novel ke benda pintar di saku celana jeansnya. William : Kau sudah memikirkannya? Mau bertukar loker? Kening Jessi pun berkerut dalam. Ia masih tidak yakin mengapa kapten tim basket sekolah yang popular harus repot-repot bertukar loker dengan Jessi, si murid biasa saja. Dan alih-alih menyimpan rasa penasarannya sendirian, gadis dengan kaos panjang berwarna hitam itu mendekati Diana dan berbisik, “Diana, apakah kau tahu sesuatu tentang William?” Namun Diana langsung mengernyitkan keningnya tak paham. “William? Ada apa dengannya?” “Apakah kau tahu bahwa William dan Rachel pernah dekat, berkencan mungkin?” Diana tiba-tiba tersenyum, kemudian terkekeh pelan. Khawatir jika suaranya mengganggu acara peluncuran buku yang belum selesai. Beberapa pembaca masih sibuk melemparkan pertanyaan-pertanyaan dasar seperti apa alasan sang penulis menciptakan novel atau siapakah sosok di balik inspirasi sang penulis. Gadis berambut pirang itu kemudian kembali berbisik di telinga Jessi. “Jangan dekat-dekat dengan William. Dia berbahaya.” Berbahaya? “William sangat suka sekali mempermainkan perasaan para gadis,” sambung Diana. “Dia akan mendekatimu dengan berbagai cara, menidurimu dan boom! Dia menghilang seperti hantu.” “Tapi dia ada di kelas yang sama dengan kita,” kata Jessi, mencoba menepis rasa penasarannya. “Maksudku, dia tidak mungkin menghilang dengan cara itu.” Namun ketua cheerleader First High School itu hanya mengangkat kedua bahunya cepat sembari tersenyum miring. “Dia benar-benar pembohong yang hebat. Kau akan terkesan dengan keahliannya yang satu itu, Jessi. Sebaiknya kau tidak terlalu penasaran dengan William, itu akan buruk untukmu.” *** MISTERI TIME. Kematian Akseyna Ahad Dori mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) jurusan Biologi angkatan 2013 masih menyimpan misteri. Hingga kini, belum jelas ihwal kematiannya. Keluarga Akseyna pun menemukan beberapa kejanggalan. Pekan lalu, pihak keluarga Akseyna membuat petisi untuk mengungkap dan menuntut agar kasus pembunuhan tersebut dapat mendapat titik terang. Mereka juga berharap pihak kepolisian bisa menangkap pembunuh mahasiswa UI itu. Kasus Akseyna bermula pada Kamis, 26 Maret 2015. Saat itu, sesosok jenazah ditemukan mengambang di Danau Kenanga UI. Empat hari kemudian, yakni Senin, 30 Maret 2015, baru diketahui bahwa jenazah itu adalah Akseyna. "Baru diketahui bahwa jenazah tersebut adalah anak/saudara kami. Akseyna Ahad Dori atau Ace (18) mahasiswa semester 3 Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Indonesia," tulis keluarga dalam petisi Change.org Saat ditemukan, Ace mengenakan baju hitam lengan panjang dan tas coklat. Adapun di dalam tasnya terdapat lima batu konblok. Polisi awalnya menduga Ace, sapaan Akseyna Ahad Dori, meninggal akibat bunuh diri. Kesimpulan itu didapat setelah pemeriksaan 15 saksi diperkuat dengan sepucuk surat. "Will not return for eternity, please don't search for existence, my apologies for everything," begitu isi surat yang ditemukan di kamar indekos Akseyna. Surat itu diserahkan oleh orangtua Akseyna, Mardoto ke Polisi. Mardoto mengaku mendapatkan surat itu dari Jibril, teman Akseyna pada Senin 30 Maret 2015 sekitar pukul 16.00 Wib di Gedung Jurusan Biologi Fakultas MIPA UI. Penyerahan surat itu disaksikan oleh dua pengajar jurusan Biologi. Mardoto meyakini surat itu bukanlah tulisan anaknya. Ia mengaku telah mencermati tulisan di surat itu. Keluarga menilai ada beberapa kejanggalan di surat tersebut. Pertama, pada kata "for". Ada tiga kata "for" di surat tersebut dan ketiganya memiliki bentuk berbeda. Kedua, tulisan existence dan beberapa kata lain memiliki bentuk serta kemiringan huruf sangat mencolok perbedaannya dengan huruf-huruf pada kata-kata yang lain juga. Ketiga, jarak spasi antar satu kata dengan kata lainnya berbeda-beda dan tidak beraturan. Keempat, tanda tangan di surat tersebut sangat tidak mirip dengan tanda tangan Ace di KTP yang reguler maupun yang e-KTP. Kelima, tata bahasa surat dalam bahasa Inggris itu tidak beraturan. Keluarga mengenal Ace memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik karena sudah terbiasa membaca jurnal ilmiah berbahasa Inggris, novel-novel bahasa Inggris dan menonton film-film berbahasa Inggris tanpa subtitle. Bahkan sewaktu di SMP saja sudah memperoleh TOEFL 433. Mardoto juga mengungkit kondisi kamar Akseyna selama empat hari sejak jenazah ditemukan di Danau Kenanga Universitas Indonesia pada Kamis, 26 Maret 2015 yang tak lagi steril. Beberapa teman korban mendatangi kamar Akseyna beberapa kali. Bahkan, ada teman Ace yang masuk ke dalam kamar Ace dan menginap di kamar tersebut pada Minggu malam, 29 Maret 2015. Padahal, tidak ada satupun pihak keluarga yang pernah meminta atau menyuruh siapapun untuk masuk bahkan menginap di kamar Akseyna. Hal itu diketahui setelah ibunda Ace berhasil menghubungi handphone Ace pada Minggu malam, 29 Maret 2015. Saat itu Ibu Akseyna sempat bicara dengan seseorang yang mengaku sebagai teman Ace. "Yang bersangkutan menyebutkan bahwa ia berada di dalam kamar Ace. Keberadaan yang bersangkutan di kamar Akseyna dilakukannya bukan karena permintaan dari orang tua," ujar dia. Menurut Mardoto, dengan banyaknya orang yang telah masuk ke kamar Akseyna, tidak ada seorang pun yang dapat menjamin bahwa di antara orang-orang tersebut tidak melakukan sesuatu. Apalagi saat polisi tiba, kamar sudah dalam kondisi berantakan. Handphone dan laptop milik Akseyna sudah diakses dan diotak-atik, koper berisi barang-barang dan baju juga telah terbuka, buku-buku dan perlengkapan lain di meja belajar sudah berserakan. "Kondisi ini memungkinkan banyak hal terjadi di dalam kamar Akseyna, termasuk kemungkinan berubahnya bentuk, letak, dan kondisi barang-barang yang seharusnya bisa menjadi barang bukti, termasuk pemunculan surat itu, "terang dia. Berdasarkan penyelidikan dan gelar perkara, polisi menegaskan bahwa Akseyna dibunuh, terlihat dari beberapa bukti, bahwa tubuh Akseyna dipenuhi luka di kepala dan badan. Saat ditemukan, jenazah Akseyna menggendong ransel berisi batu bata seberat 14 kg. Sementara surat wasiat palsu telah dibuktikan palsu oleh grafolog. Bahkan grafolog menyebutkan bahwa surat tersebut ditulis oleh dua orang yang berbeda. Berdasarkan keterangan polisi, hasil otopsi menunjukkan adanya air dan pasir di paru-paru Akseyna, menunjukkan bahwa Akseyna dimasukkan ke danau dalam kondisi hidup/bernafas namun tidak sadarkan diri. Adanya robekan pada sepatu bagian tumit yang menunjukkan bahwa Akseyna diseret sebelum dimasukkan ke danau. Petisi yang telah ditandatangani 18.000 akun pada Selasa (4/5/2021) pagi meminta lanjutkan penyelidikan dan segera ungkap pembunuh Akseyna mahasiswa Universitas Indonesia. Petisi itu ditujukan kepada Kapolsek Beji, Kapolres Depok, Kapolda Metro Jaya, Kapolda Jawa Barat, Dekan FMIPA UI, dan Rektor UI. Kematian mahasiswa jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI) ini pun menyisakan kejanggalan, dan masih menjadi misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini. “Kami sudah kenyang diberi janji. Tapi enggak putus harapan. Insya Allah tidak kejahatan yang sempurna. Pasti ada satu titik sebagai bukti pembuka,” ujar Mardoto, sang ayah dalam pesan singkatnya pada wartawan, Jumat (26/3/2021). “Saya masih optimis terungkap, entah kapan waktunya,” timpalnya lagi. Akan tetapi, meski dukungan terus mengalir dari banyak pihak, Mardoto berujar bahwa pihak kampus tempat anaknya mengenyam pendidikan justru tidak memberi bantuan ataupun dukungan. “Bantuan dan dukungan dari netizen sangat banyak. Tidak ada bantuan atau dukungan kampus. UI tidak mau membentuk tim investigasi sejak awal,” ungkapnya. Mardoto mengatakan, kabar terakhir yang diterimanya adalah polisi akan terus mengusut tuntas kasus ini hingga terungkap siapa dalang dibalik kematian Akseyna Ahad Dori. “Pernyataan bahwa kasus ini terus dilakukan penyelidikan sampai terungkap pelakunya,” pungkasnya. Semula polisi menyimpulkan bahwa Akseyna bunuh diri, tapi belakangan terungkap banyak kejanggalan: 1. Otopsi Tak Seizin Keluarga Kolonel Sus Mardoto, ayah Akseyna, mengatakanb, otopsi selama ini tak seizin keluarganya. Sus mendengar informasi anaknya meninggal empat hari setelah penemuan mayat tersebut. Ia dan keluarganya tinggal di Yogyakarta. “Sehingga tak ada permintaan izin otopsi kepada kami,” ucapnya, 25 Mei 2015. 2. Keluarga Belum Terima Hasil Otopsi Hingga kini keluarga Akseyna belum menerima hasil otopsi oleh dokter Rumah Sakit Polri Kramat Jati. “Apa perlu membuat surat tertulis untuk mendapat hasil visum itu?” kata Sus Mardoto. Pada 17 April, atau hampir sebulan setelah penemuan mayat anaknya, Sus mendatangi Kepolisian Resor Depok untuk menanyakan hasil otopsi. Waktu itu, kata dia, polisi mengatakan hasil otopsi belum bisa diberikan ke keluarga karena baru hasil sementara. 3. Pesan Akseyna yang Janggal Surat perpisahan yang diduga ditulis Akseyna dan ditemukan di kamar kosnya. Namun Deborah Dewi, grafolog dari American Hand Writing, menduga surat itu sudah dimodifikasi oleh seseorang. Tanda tangan di surat dengan di 300 dokumen Akseyna yang diperiksanya terdapat perbedaan. Deborah sudah memaparkan temuannya di depan penyidik Depok. Kecurigaan surat tersebut dibuat orang lain dikuatkan pengakuan ibunya. Menurut Sus, yang menulis kronologi kematian anaknya di blog www.mardoto.com kemarin, surat tersebut dia terima dari teman Akseyna ketika dirinya belum memastikan bahwa jenazah tersebut adalah anaknya. Dua hari sebelumnya, soal surat itu tak pernah muncul kendati istrinya sempat menelepon nomor Akseyna, yang dijawab oleh kawannya ketika sedang berada di kamar kos anaknya itu. Dengan segala kejanggalan itu, Sus menduga anaknya dibunuh. Ia berharap polisi menemukan titik terang penyebab kematian anaknya dengan membuat penyelidikan berdasarkan fakta-fakta dan temuan di lapangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN