1. Benjamin O'Brien
“Aaa ...!”
Suara itu menggema di dalam suatu ruangan sempit. Bukan pekikan biasa, melainkan jeritan kesakitan yang terlalu intens untuk disebut manusiawi. Suaranya terdengar bergetar, pecah, lalu menghilang, seolah ditelan oleh kesunyian lorong-lorong ruangan yang dingin dan mencekam.
Kini yang tersisa dalam ruangan sempit tersebut hanyalah bunyi detak mesin pendeteksi kehidupan.
“Proyek ketiga dijalankan,” ujar seorang perempuan dengan suara datar, merekam laporan pada alat kecil di genggaman tangannya. Ia berjalan mengelilingi tubuh seorang pria yang terbaring tak berdaya di atas brangkar.
“Nama subjek, Benjamin O’Brien. Statusnya suami, memiliki satu anak dan istri sedang hamil anak kedua.” wanita itu berhenti sesaat, menatap wajah sang pria.
“Tidak memiliki catatan kriminal. Membayar pajak tepat waktu dan seorang pria yang bertanggung jawab.” pungkasnya sambil mematikan rekaman.
Tubuh Ben terikat di atas brankar. Kedua lengannya direntangkan dan diikat di pergelangan, sementara kakinya dirantai kuat. Di bagian atasnya samping kepala terdapat mesin pemantau kehidupan menyala stabil, terhubung dengan chip mikro yang tertanam di bawah kulit pergelangan tangannya.
Jarum suntik telah ditarik. Namun wajah Ben sempat berjengit akan rasa sakitnya.
**
Entah berapa lama Ben terlelap. Kini ia terbangun, tanpa rasa sakit. Namun justru itulah hal pertama yang membuatnya curiga.
Ben memindai sekelilingnya, ia berada dalam ruangan tertutup dengan langit-langit putih bersih membentang di atasnya. Tidak ada retakan juga tidak ada noda lembap.
Cahaya lampu menyebar lembut, tidak menyilaukan mata. Udara hangat menyelimuti, membuat napas Ben terasa …normal, bahkan nyaman.
Ben mencoba bergerak. Tubuhnya merespons.
Tidak ada borgol.
Tidak ada ikatan.
Hanya ranjang empuk yang menopang punggungnya, terlalu empuk untuk disebut kebetulan.
Ben teringat dengan jelas, sebelumnya ia terikat, kakinya dirantai, lalu sebuah suntikan menyakitkan menusuk sisi bagian dalam sikunya.
Ben memperhatikan siku bagian dalamnya, ada bekas jarum kecil, tapi sudah tidak terasa sakit saat disentuh.
Ia kembali mengedarkan pandangannya, di sisi ranjang ada sebuah meja kecil tertata rapi yang terdapat segelas air, dua pil berwarna pucat dan selembar kertas tipis di bagian bawahnya.
'Minum setelah bangun.'
Tulisan tangan yang rapi.
Ben duduk perlahan di tepi ranjang. Kepalanya sedikit berat, tapi tidak berdenyut. Tidak ada mual juga ia tidak merasakan ada luka terbuka. Tubuhnya terlihat sehat dan baik-baik aja.
Namun Ia merasakan ada perasaan aneh, seolah tubuhnya dirawat oleh seseorang yang sangat memahami batas antara perhatian dan pengawasan.
“Apa yang terjadi …?” gumam Ben pelan.
Pikirannya berkelana, mencoba mengingat-ingat, "Katie ...Elisa ...di mana kalian?" bathinnya bertanya, cemas.
Ben bangkit dari duduknya pada tepian ranjang, berjalan meraba dinding. Tidak ada kenop pintu terlihat. Ia menekan permukaan putih itu ke segala arah, hingga tiba-tiba salah satu dinding bergerak, terbuka dari luar.
“Kau sudah bangun.”
Seorang perempuan masuk dengan langkah tenang. Senyum tipis terlukis di bibirnya.
Ben mengernyit, berusaha mengenali wajah itu, namun ingatannya kosong.
“Kau lupa padaku?” perempuan itu tergelak pelan.
“Benjamin O’Brien …kita dulu sering duduk satu bangku saat kuliah di London.”
Ia mengulurkan tangan ke depan Ben yang berdiri tegak setengah kaku, “Charlotte. Dulu kau biasa memanggilku Charlie.”
Ben membalas jabatannya dengan senyum terpaksa. Otaknya masih gagal menautkan wajah cantik di depannya tersebut dengan kenangan apa pun.
“Kepalamu pusing? Mual? Atau …lapar?” tanya Charlotte sambil meletakkan punggung tangannya ke kening Ben, memeriksa suhu tubuhnya dengan akrab.
“Di mana aku?” tanya Ben singkat.
Charlotte menarik napas pelan, “Mari. Aku antar kau ke ruang makan dulu. Nanti ku ceritakan.” ucapnya ringan seraya merangkul lengan Ben, seolah itu hal yang paling wajar di dunia.
Ben melirik lengannya yang dirangkul Charlotte, sentuhan itu terasa asing. Sangat berbeda dari rangkulan hangat Katie, atau pun gelayutan ceria Elisa, putrinya yang berusia tujuh tahun.
Setelah melewati lorong demi lorong panjang yang sepi dan dingin, kini Ben dan Charlotte berada dalam ruangan makan berdinding kaca tebal terbentang di hadapan mereka.
Di luar, salju memutih sejauh mata memandang. Tidak ada kota. Tidak ada jalan pulang.
Charlotte memesankan makanan untuk Ben dan kopi untuk dirinya. Begitu nampan diletakkan di meja, rasa lapar menyerang Ben dengan brutal.
“Makanlah,” ucap Charlotte lembut.
Ben menuruti. Ia makan cepat, terlalu cepat. Sangat jauh dari kebiasaannya. Ia juga meminum soda tanpa ragu, sesuatu yang biasanya ia hindari.
“Pelan-pelan. Tak perlu terburu-buru.” Charlotte menegurnya halus seraya terkekeh rendah.
Ben tidak menjawab, mencoba mengingat rasa makanan yang ia kunyah dan telan, sedikit asing tapi lidahnya berdec3k nikm3t.
“Kau mengalami kecelakaan,” lanjut Charlotte, suaranya merendah, “Kepalamu terluka parah. Tim dokter sudah menyerah.”
Ben terdiam, tetapi tangannya tak berhenti menyuap juga minum minuman bersodanya tapi sesekali matanya memandang Charlotte yang menganggukkan kepala pelan jika ceritanya adalah kebenaran.
“Tapi aku datang tepat waktu dan aku langsung mengenalimu. Jadi aku membawamu ke sini untuk pemulihan.”
Charlotte kembali mengangguk, seolah ia perlu memastikan ceritanya sendiri.
“Kami …gagal menyelamatkan istri dan anakmu.”
Tangan Ben berhenti.
“Kau yang menembak mereka, Ben.” lirih Charlotte seolah ia menyesal, memandang meraih telapak tangan Ben di atas meja dan menatapnya sedih.
Ben menarik tangannya kasar. Kepalanya menggeleng cepat dan nafsv makannya menghilang seketika.
“Tidak mungkin!” ucapnya tajam.
“Aku juga berharap begitu,” Charlotte menatapnya lurus.
“Tapi sidik jari di pistol itu milikmu.” lanjutnya sambil menghela napas panjang.
“Bagi dunia, kau sudah mati, Ben. Rumah sakit telah mengeluarkan surat kematianmu, kau menabrakkan mobil yang kau kemudikan ke tembok rumahmu sendiri. Aku membawamu ke sini …dari dalam kantung mayat.”
Charlotte kembali meraih tangan Ben, lebih lembut namun tegas.
“Aku tidak percaya kau benar-benar mati, Ben." ucap Charlotte sambil memperhatikan setiap perubahan reaksi pada wajah dan tubuh Ben yang kedua bola matanya bergerak-gerak memandang Charlotte.
Charlotte terlihat sangat jujur, lembut dan tak ada celah kebohongan sedikitpun.
"Kau sahabatku. Dulu kau sering membantuku, membayarkan uang kuliah dan membantu tugas-tugas kuliah. Anggap saja, ini caraku membalas kebaikanmu.”
Pandangan Charlotte jatuh ke nampan makanan Ben, "Baiklah. Kau perlu mandi sekarang. Nanti, aku akan membawamu berkeliling dan kau juga harus diperiksa kembali."
Ada banyak pertanyaan yang bercokol dalam benak Ben, tetapi tak satupun yang keluar meluncur dari bibirnya yang kini ia patuh dibawa Charlotte ke sebuah ruangan seperti kamar tidur, terletak di lantai delapan.