bc

Penjara Cinta CEO Nakal

book_age18+
108
IKUTI
1K
BACA
one-night stand
arrogant
badboy
heir/heiress
sweet
bxg
campus
office/work place
addiction
assistant
like
intro-logo
Uraian

Vivian hanya ingin setia. Tapi malam itu, semuanya runtuh.Memergoki suaminya berselingkuh di hotel, Vivuan lari dari kenyataan dan menenggelamkan diri dalam alkohol. Lalu datanglah Ethan—pria asing dengan tatapan memabukkan dan ciuman yang terlalu mudah membuatnya lupa diri. Malam itu hanya seharusnya jadi pelarian. Sekali. Tanpa nama. Tanpa jejak.Sialnya, esok paginya, Ethan muncul lagi… sebagai bos barunya.Dan Ethan tak lupa rasa Vivian.

"Suamimu tak pantas mendapatmu. Tapi tubuhmu ... aku yang menginginkannya lagi.”Antara benci dan candu, Vivian terperangkap dalam permainan berbahaya yang menguji batas kesetiaannya—dan juga harga dirinya sebagai seorang istri.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Malam Penuh Kehangatan
“b******k, kamu Hans! Dasar binatang!” Suara Vivian memecah lorong hotel, menampar udara seperti cambuk. Beberapa tamu menoleh, sebagian terperangah, tapi Vivian tidak peduli. Tangannya gemetar, napasnya terengah, dan tubuhnya terbakar amarah saat mendorong pintu kamar 506—kamar yang seharusnya tidak pernah ia buka, tapi kini merobek sisa percaya yang ia punya. Di sana, suaminya, Hans, berdiri dengan d**a telanjang. Dan di bawah tubuhnya, seorang perempuan muda dengan lingerie merah menyala masih berbaring, pipinya merah, bibirnya bengkak, dan selimut hanya menutupi rasa malu yang datang terlambat. “Vivian ... ini nggak seperti yang kamu kira. Aku bisa jelasin.” “Jelasin?! Kamu mau jelasin gimana caranya kamu ngaceng sama perempuan lain sementara aku mikirin hadiah buat ulang tahun pernikahan kita yang keempat?!” ucap Vivian penuh amarah. Hans kehilangan kata. Perempuan di ranjang buru-buru menutup tubuhnya rapat, seolah itu bisa menyelamatkan harga diri. Vivian tertawa getir, tawa yang lebih mirip luka yang dibuka paksa. Air matanya jatuh, bukan karena hancur, tapi karena marah pada dirinya sendiri—terlalu bodoh percaya pada cinta yang busuk. “Kamu bahkan nggak punya nyali buat bilang kamu udah bosan sama aku, ya? Aku kurang seksi? Kurang liar? Atau kamu cuma pengecut yang cuma berani main belakang? Aah … kamu tahu. Pasti karena aku belum bisa kasih anak ke kamu.” Hans mencoba maju, tapi Vivian mundur selangkah. “Jangan sentuh aku. Mulai malam ini, kamu bukan siapa-siapa buat aku,” katanya. Tanpa menunggu jawaban, Vivian berbalik. Kakinya melangkah cepat, meninggalkan kamar hotel itu dengan sisa harga diri yang ia genggam rapat-rapat. Dunia di luar terasa dingin, angin malam menyapu kulitnya yang panas oleh kemarahan. Ia tidak tahu akan ke mana, tapi yang jelas, ia butuh lupa. Butuh sesuatu yang bisa menenggelamkan semua ini. Alkohol, mungkin. Musik keras. Dan pelukan asing yang tak butuh nama. Sampai akhirnya ia benar-benar sampai di sebuah bar. "Satu tequila. Yang paling kuat," katanya singkat pada bartender, ia duduk di bangku tinggi dengan pundak merosot. Minuman pertama hanya pembuka. Gelas kedua turun lebih cepat. Gelas ketiga tak sempat mendarat sempurna sebelum ia meminta yang keempat. Musik berdentum di belakangnya, lampu kelap-kelip menyapu wajahnya yang semakin kusut oleh mabuk dan luka. “Tau nggak, Mas…,” katanya, menunjuk bartender yang bingung harus menjawab atau tidak. “Aku udah empat tahun nikah. Empat. Tahun. Tapi suamiku malah ngeuwe sama cewek lain.” Dia tertawa–-lagi-lagi tawa pahit itu. Tangannya memutar gelas kosong, pandangan Vivian kabur tapi mulutnya lancar, seola-olah semua yang selama ini ia tahan akhirnya meluber keluar. “Mungkin karena aku nggak bisa hamil, ya? Mungkin karena rahimku kosong, makanya dia cari yang lain? Ha! Lucu banget hidup ini!” Beberapa orang mulai melirik. Seorang pria di ujung bar bahkan nyaris berdiri, mungkin berniat membantu, tapi Vivian menepis tatapan siapapun dengan gelas berikutnya. “Empat tahun aku setia. Nggak pernah neko-neko. Aku pikir, cinta itu cukup. Ternyata? Cinta, tuh, kayak ... kayak kontrak sewa! Kalo kamu nggak bisa ngasih keturunan, langsung expired!” kata Vivian. Bahunya mulai terguncang. Suara tawanya pecah, berubah jadi isakan yang ia tahan mati-matian. Namun, air matanya jatuh juga. Tangan gemetar mencengkeram gelas, lalu meletakkannya dengan kasar. "Harusnya aku nggak pernah percaya sama janji-janji cowok. Semua omong kosong. Termasuk Hans,” katanya lagi. Seseorang tiba-tiba mengambil duduk di bangku sebelahnya. Vivian tidak sadar, terlalu sibuk dengan dunia yang berputar dan matanya yang kabur oleh air mata dan alkohol. Namun, pria itu duduk tenang, mengamati dalam diam. “Kamu tahu?” Suara pria itu dalam dan tenang, “cara kamu memaki suamimu barusan ... cukup menghibur.” Vivian menoleh lambat. Samar, ia melihat sosok pria muda dengan kemeja gelap yang tampak terlalu mahal untuk tempat seperti ini. Rambutnya agak berantakan, rahangnya tegas, dan mata tajam itu menatapnya seolah-olah ia mainan yang rusak tapi masih menarik untuk dikoleksi. “Kamu nguping?” tanya wanita itu. “Aku memperhatikan,” jawabnya ringan. “Itu berbeda.” Vivian mendengkus. “Nggak usah sok perhatian, Mas Muda. Aku lagi nggak jual diri.” Pria itu tertawa kecil, santai, dan sedikit sinis. “Sayangnya, kamu terlalu mabuk untuk sadar kalau kamu justru sedang menjual kesedihanmu ke siapa pun yang mau mendengar.” Vivian mengerutkan alis, tapi tidak bisa membantah. Kepalanya berat. Lidahnya pahit. Dan entah kenapa, suara pria ini membuatnya semakin ingin melarikan diri. “Jadi, kamu mau apa? Mau sok jadi penyelamat?” “Bukan,” jawabnya pelan. “Aku cuma ingin kamu ... lupa. Semalam saja. Tanpa nama. Tanpa masa lalu.” Vivian tertawa pendek, getir. “Berani juga kamu, anak kecil,” katanya sarkas. Pria itu tersenyum, miring, dan tampak berbahaya. “Jangan tertipu usia. Aku bisa membuat kamu lupa dengan cara yang priamu tak pernah bisa lakukan,” katanya yakin. Vivian menyipitkan mata. Namun, tiba-tiba tertarik dengan tawaran gila itu. Jika Hans bisa, kenapa dia tidak? Batinnya. *** Lift bergerak naik dengan sunyi yang mencekam. Hanya terdengar deru napas Vivian dan derap detak jantungnya yang seolah-olah berlomba dengan detik waktu. Ethan berdiri tenang di sampingnya, tangan di saku, matanya mengawasinya lewat pantulan kaca lift. “Kamu masih bisa mundur, kalau mau,” ucap Ethan pelan. Vivian menoleh. “Kalau aku mundur, kamu kecewa?” “Kalau kamu mundur ... aku akan memikirkanmu semalaman. Dan mungkin besok pagi. Dan mungkin lebih lama dari itu. Tapi kalau kamu ikut, kamu akan memikirkan aku jauh lebih lama,” jelasnya. Vivian terdiam. Godaan itu tak sekadar kata, tapi itu janji. Saat pintu lift terbuka, Ethan menggandeng tangan Vivian. Lembut, tapi cukup tegas untuk menunjukkan siapa yang memimpin. Mereka masuk ke kamar hotel lantai atas. Gelap, mewah, dan sunyi. Hanya cahaya dari lampu kota yang menerobos tirai tipis, mewarnai siluet tubuh mereka yang saling mendekat. Vivian berdiri di dekat ranjang, diam. Tangannya gemetar, tapi bukan karena takut, tapi karena kesadaran bahwa ia benar-benar akan melangkah ke jurang ini. Ethan lalu mendekat perlahan, membungkuk tepat di depan wajahnya. “Kamu yakin?” bisiknya. Vivian menggigit bibir. Lalu mengangguk sekali. “Baik,” ucap Ethan. “Malam ini, kamu bukan istri siapa-siapa. Kamu hanya perempuan yang berhak merasa diinginkan.” Dan dengan itu, ia mencium Vivian. Dalam dan lembut. Namun, penuh hasrat. Bukan cinta. Tapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya, pelarian yang terasa terlalu nikmat untuk dihentikan. Vivian membalasnya. Tangannya naik ke tengkuk Ethan, menarik pria itu lebih dekat. Ciuman mereka tak sekadar basah oleh gairah, tapi juga oleh luka yang belum sempat sembuh. Tubuh mereka saling menyentuh, saling mencari, seperti dua orang asing yang tak tahu arah tapi nekat berjalan dalam gelap. Gaunnya meluncur perlahan ke lantai, tanpa suara. Ethan menyentuhnya seperti seseorang yang tahu dia rapuh, tapi tidak mengasihani. Jemarinya tidak kasar, tapi tegas. Matanya tidak berkedip, seolah-olah ingin mengingat setiap inci tubuh Vivian. Seolah-olah ini bukan hanya soal malam, tapi semacam penandaan. “Kamu indah sekali saat hancur,” bisik Ethan di telinganya, sebelum bibirnya turun ke leher, bahu, dan dunia yang hanya mereka berdua tahu malam itu. *** Cahaya pagi menyusup masuk melalui celah tirai, membasuh tubuh Vivian yang terbaring dengan selimut setengah menutupi d**a. Kepalanya berat, pikirannya kabur, tapi rasa hangat di kulit dan aroma asing di bantal cukup untuk menyadarkannya akan satu hal: Ia tidak di rumah. Dan tubuhnya telanjang. Tubuhnya ... bukan lagi milik dirinya sendiri. Ia bangkit perlahan, menggigit bibir sambil menatap ruangan mewah yang terlalu sunyi. Tak ada tanda-tanda pria semalam. Mungkin pria itu sedang mandi. Atau sengaja pergi lebih dulu. Vivian tidak mau tahu. Yang ia tahu, ini salah. Salah besar. “Gila ... aku sebinal itu ternyata,” gumamnya sambil memungut gaun yang semalam tergeletak di lantai seperti bukti dosa. Ia memakainya terburu-buru, lalu membuka tas tangan. Jemarinya mengeluarkan beberapa lembar uang dengan jumlah yang cukup besar, dilempar asal di meja kaca di dekat ranjang. “Thanks, Boy. Anggap aja ini tips buat semalam,” bisiknya getir, lalu segera melangkah pergi tanpa menoleh. Beberapa menit kemudian, Ethan keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk di pinggang. Ia menoleh ke arah ranjang yang kosong, lalu ke meja kaca. Lembar-lembar uang berserakan di sana. Ia terdiam cukup lama. Kemudian, sudut bibirnya terangkat. Senyumnya tipis … lalu menyeringai penuh arti. “Dibayar, ya?” Ia terkekeh pelan sambil duduk santai di ujung ranjang. “Lucu juga. Belum pernah ada wanita yang pikir aku butuh uang. Tapi oke, Vivian….” Ia memungut salah satu lembar uang, memutarnya di jemari. “Sekarang aku makin yakin, kamu layak untuk dikejar.” Senyumnya mengeras. Mata tajamnya menatap lurus ke jendela. “Dan aku selalu ambil kembali apa yang kuanggap milikku,” bisiknya mantap.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.5K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook