“Tubuhmu wangi sekali, Sayang …,” bisik Ethan, suaranya serak, seolah baru saja merambat dari dasar dadanya. Nada itu menembus jantung Vivian yang masih berada di bawah kungkungan pria itu. Ethan menghidu lehernya, lalu turun ke d**a perlahan, membiarkan dirinya larut dalam aroma tubuh wanita yang kini menjadi candu. Berlama-lama di sana menikmati kerasnya d**a Vivian dengan rakus. Ia sempat memberi Vivian waktu untuk bernapas, sebelum kembali menghujani dengan belaian lembut dan sentuhan yang memabukkan. “Jangan bohong … aku penuh keringat,” gumam Vivian, matanya redup, bibirnya bergetar. “Ya … dan keringatmu ini,” Ethan mendesah, lidahnya mendarat sekali lagi di d**a menantang Vivian, “justru yang paling membuatku gila.” Vivian mendesah panjang saat sensasi itu menyeretnya kembali. J

