Mobil hitam Ethan berhenti perlahan di halaman mansion, tapi tak ada yang turun. Lampu taman memantulkan cahaya lembut ke kaca depan, memperlihatkan wajah Vivian yang menatap kosong ke luar jendela. Sejak keluar dari rumah sakit tadi, ia belum banyak bicara. Pandangannya hampa, pikirannya berputar pada kata-kata sang ibu yang menolak menatapnya—menolak memeluknya. Dan yang paling menyakitkan adalah alasan di balik itu, ibunya benar-benar percaya kalau ia menikah bukan karena cinta. Ethan mematikan mesin mobil, tapi tidak langsung membuka pintu. Ia hanya duduk, memperhatikan profil wajah istrinya yang tampak rapuh. “Vi,” panggilnya pelan. Vivian menoleh, tapi tak berkata apa-apa. “Kadang … yang kita sayang butuh waktu buat ngerti,” ucap Ethan dengan suara rendah, nyaris seperti bisika

