11

1504 Kata
I knew my feelings for you were real when i spent more time thinking about you than worrying about my self. -Jason James Heilton- **** Valeri memakai satu set baju kerjanya yang baru dibelikan oleh Jason dengan rapi. Uhm, sebenarnya lelaki itu tak hanya membelikan satu set sih. Ada beberapa set baju dengan warna yang berbeda yang Jason belikan. Dan jujur saja, Valeri sempat merasa tak enak hati. Tapi karena sikap lelaki itu yang angkuh dan mengatakan kalau ini adalah perintahnya, Valeri jadi merasa biasa saja. Yah, lagipula ia tak bisa menolak, 'kan? Valeri meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku dan tegang berkat kelelahan. Uhm, kehadiran George tidak hanya menyiksa fisik Valeri, tapi juga batinnya. Dia bahkan tak bisa terlelap dengan mudah semalam. Tapi setidaknya, George tidak akan bisa menembus keamanan mansion Jason. Ya, Valeri tahu ke amanan mansion ini benar-benar luar biasa. Apa lagi CCTV terpasang hampir di seluruh ruangan, Jason bahkan memiliki ruang untuk pemantauan CCTV dan Valeri yakin ruangan itu tidaklah kecil. Suara ketukan pintu pelan menyadarkan Valeri dari lamunannya, ia menoleh dan menatap pintu itu sejenak, "Masuk," ucap Valeri. Pintu terbuka menampakan seorang pelayan muda yang mungkin umurnya jauh di bawah Valeri. Pelayan itu tampak kikkuk dan canggung, ia menunduk hampir 90 derajat ke arah Valeri dengan kedua tangannya yang berada di perut. "Anda sudah ditunggu Tuan Jason di bawah untuk sarapan, Nona," ucapnya sopan. Valeri tersenyum kecil melihat tingkah laku pelayan yang terlihat sangat gugup itu. 'Apa Jason tak pernah membawa wanita lain untuk tinggal disini?' Pikiran itu terlintas begitu saja di benak Valeri, membuatnya langsung menggelengkan kepalanya cepat. Hah, memangnya apa urusannya dengan Valeri kalaupun Jason sering membawa wanita kemari? "Baiklah, aku akan turun," ucap Valeri sambil tersenyum ramah. Pelayan itu kembali membungkuk sopan dan keluar dari kamar yang sementara Valeri tinggali ini. Valeri menggamit tasnya dan berkaca sejenak sebelu ikut berjalan keluar kamar. Wangi masakan menyeruak, membuat napsu makan Valeri naik begitu saja sesaat setelah ia sampai di dapur Ia terpana saat melihat masakan tertata dengan begitu sempurna di meja "Wah, cantik sekali." Valeri memuji setiap masakkan yang sudah di hias sebegitu cantiknya sebelum memandang Jason binggung. "Apa ada orang lain lagi disini?" Jason menggeleng, "Kokiku memang selalu memasak banyak karena porsi makanku yang super. Kau belum tahu saja." Valeri menarik kursi dan duduk di depan Jason, matanya membulat sempurna saat Jason mengambil begitu banyak nasi dengan lauk pauk yang sudah sangat penuh di piring kecil itu. Dan gilanya lagi, ia meminum s**u coklat bukan air putih. "Kau makan sebanyak itu, boss?" tanya Valeri tak percaya. "Ada masalah?" tanya Jason cuek sekaligus acuh. Ia menyuapkan sesendok besar nasi ke dalam mulutnya, membuat Valeri bungkam karena takut Jason akan tersinggung dengan ucapannya. "Tidak kok, boss. Selamat makan,"ucap Valeri tersenyum sambil menikmati sarapan paginya bersama bossnya. *** Sanna melirik jam tangannya dengan resah. Siang ini, ia sudah meminta Jason untuk menemuinya. Mereka sudah berjanji bertemu di restaurant xx untuk makan siang. Tapi ini sudah hampir setengah jam. Dan Jason datang juga. Ia mendengus kesal saat ponsel Jason terus menerus tak aktif, padahal Sanna sudah menghubunginya sedaritadi. 'Apa ia sibuk? Atau ia lupa?' batin Sanna bertanya-tanya. Ia kembali menghela napas sembari menggamit tas nya kasar. Di keluarkannya uang ratusan ribu untuk membayar jus yang ia pesan tadi. Well, kalau Jason tak mau datang dan menemuinya, maka Sanna lah yang akan mengejar Jason. **** "Boss, apa kau tak akan makan siang?" tanya Valeri pada Jason yang masih saja sibuk berkutat dengan laptopnya. Jam istirahat sebentar lagi akan habis, dan Valeri tak bisa keluar tanpa izin Jason. "Apa jadwalku selanjutnya?" tanya Jason tanpa menggubris pertanyaan Valeri, membuat gadis itu mendengus kesal dan membuka buku jadwal yang telah ia buatkan untuk Jason. "Pukul setengah 2, kau ada pertemuan dengan perusahaan asing dari China Boss. Mereka meminta kita untuk bertemu di restaurant China di persimpangan jalan," jelas Valeri sambil menatap Jason yang sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari laptop tersebut. "Oke, kita bisa makan sebelum kesana," ucap Jason cuek. Valeri mengernyit, "Hah? Makan sebelum kesana?" tanya Valeri sambil menatap Jason binggung. Lelaki itu tampak tak terusik sama sekali, "Iya, tentu saja, apa ada yang salah jika kau makan denganku?" tanya Jason sambil memandang Valeri menyelidik. "Errr, tak ada yang salah sih Boss, hanya saja ... aku takut akan ada gosip tentang kita. Setelah insiden ciuman kemarin, dan lagi kita datang bersama tadi pagi, itu sedikit membuatku tak nyaman. Rasanya aku bisa merasakan tatapan para wanita yang menatapku kesal. Tatapan mereka seakan bisa menembus tubuhku," jelas Valeri seraya mendengus. Dan semua yang ia katakan memang berdasarkan fakta yang ada. Tadi pagi, saat ia berada di dalam toilet, Valeri bisa mendengar para cabe-cabean tengah menggosipi dirinya. Well, mereka bilang, Valeri memakai pelet sampai-sampai ia bisa menggaet dan mendapatkan perhatian Jason hanya dalam satu hari, dan mereka perlu bertahun-tahun untuk melakukan itu,dan mereka tetap saja tak berhasil pada akhirnya. Hahaha, poor them. "Aku tak merasa tergangu sama sekali dengan hal itu, apa lagi mengingat kalau aku sedang mencoba membuka diri padamu, agar hubungan kita dapat berlangsung baik," jawab Jason sambil menatap Valeri dengan tatapan Aku-sama-sekali-tak-terganggu-maka-kau-juga-harus-begitu. "Ugh," gumam Valeri kesal, ia hanya diam dan tak menjawab perkataan Jason. Lagipula lelaki itu sudah mengembalikan fokusnya pada laptop tercintanya itu. Yah, Valeri jadi kasihan pada orang yang akan menikah dengan Jason, karena pasti fokusnya terbagi dua antara isterinya dengan laptop tersayangnya itu. Lelaki itu tiba-tiba menutup laptopnya dengan sedikit kasar, membuat suaranya nyaring dari sana. Ia berdiri dan berjalan melewati Valeri, sedangkan Valeri masih terdiam di tempatnya, memandangi Jason dengan tatapan aneh. Valeri mengernyit, "Kau mau kemana, Boss?" tanya Valeri binggung. "Kita mau makan, 'kan?" tanya Jason. "Oh. Oke," ucap Valeri bingung lalu segera menyusul Bossnya. Dan saat Jason membuka pintu, Valeri langsung terbelak saat menemukan kehadiran seorang wanita cantik, tinggi, langsing semampai di depan pintu ruang kerjanya . Wanita itu cantik sekali, badannya bagus dan kulitnya putih mulus. Sungguh perpaduan membuat Valeri iri setengah mati. "Jason! Kenapa kau tak balas SMS ku? Aku sudah menunggumu di restaurant xxx tadi," ujar wanita sambil menatap Jason manja. Nada sebal yang di buatnya itu tampak menyebalkan, karena wajahnya sama sekali tak cocok. Valeri melirik Jason yang sama sekali tak antusias dengan kedatangan wanita cantik ini. Bossnya itu terlihat dingin, datar dan yah cuek. Sama seperti kemarin. "Aku lupa," ucap Jason singkat membuat gadis itu mendengus pelan. "Bagaimana bisa kau lupa pada janji kita?" ucapnya dengan nada aneh. Lalu tatapannya beralih pada Valeri, seakan baru menyadari kehadiran Valeri sedaritadi. "Siapa kau?" Valeri sedikit terkejut karena sedari tadi ia melirik Jason. Ia segera menutupi keterkejutannya itu dan mengulurkan tangannya, "Namaku Valeri Valentine, sekertaris Jason yang baru," ucap Valeri sopan. Gadis itu melirik uluran tangan Valeri, namun sama sekali tak berniat untuk membalasnya. "Kemana perginya Yuli? Aku tak suka dengan asisten barumu." Sanna mengucapkannya dengan ketus tanpa melirik Valeri. Valeri menarik uluran tangannya dengan malu sekaligus kesal. Ia menarik semua kata-kata pujian yang ia lontarkan untuk wanita ini tadi. Well, ia hanyalah wanita yang tak punya sopan santun dengan wajah bak malaikat. "Kau tak pernah diajarkan sopan santun ya dirumah?" sindir Jason pada gadis itu. Namun bukannya tersinggung, gadis itu malah berbalik menatapi Valeri kesal. Seakan karena Valeri lah Jason jadi menyindirnya. "Aku ada pertemuan sebentar lagi Sanna. Lebih baik kita makan siang lain kali saja," ucap Jason lagi sebelum menarik tangan Valeri, meninggalkan Sanna yang masih berteriak, memanggil nama Jason di belakang. *** Valeri mengikuti langkah cepat Jason dengan sedikit terseret-seret. Pergelangan tangannya cukup sakit karena Jason mencengkramnya erat, seakan tak mau Valeri tertinggal di belakangnya. Untung saja saat ini semua orang sedang bekerja, jadi tak terlalu banyak orang di Lobby. Valeri pasti akan kena serbu lagi jika orang-orang melihatnya sedang gandengan seperti ini dengan Jason. Well, sebenarnya bukan digandeng, tapi lebih tepatnya di seret. Mereka sampai di parkiran dan sampai saat mereka sudah masuk ke dalam mobil, Jason masih saja diam. Valeri tentu saja tak berani bertanya. Jason hanya memandang kedepan kosong tanpa ekspresi apapun. "Tadi itu tunangan ku," jelas Jason akhirnya. Well, sebenarnya Valeri tak terkejut setelah melihat sikap wanita itu yang terlihat sangat manja pada Jason. Ew. "Oh begitu," ucap Valeri singkat karena ia binggung harus merespon bagaimana. "Aku tidak mencintainya. Sama sekali tidak. Ia hanyalah putri arogan dari perusahaan T Company. Aku dijodohkan dengannya atas nama bisnis," sambung Jason dengan pelan. Valeri terdiam di tempatnya. IA bisa mendengar nada sedih dalam suara Jason meski hanya sebentar. Tapi tunggu dulu, tadi Jason bilang perempuan itu dari T Company kan? Berarti dia adalah kakak Sarah, tunangan Billy? Oh astaga, dunia begitu sempit. Bagaimana bisa kakak dan adik sama-sama tak punya sopan santun dan sama-sama tak menyukai Valeri? Takdir ini sungguh aneh. Valeri tetap diam di tempatnya dan tak berkomentar apapun dengan cerita Jason. Mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing, sampai akhirnya lelaki itu menghela napas pelan. "Sudah, lupakan saja yang tadi," ucap Jason yang kemudian tersenyum seakan tak terjadi apapun. Senyuman Jason yang jarang kelihatan itu membuat Valeri terpana lagi. Oh Tuhan, rasanya napas Valeri tertahan saat melihat senyuman itu. Tidak, ini sungguh berbahaya. Valeri harus segera membangun benteng pertahanan, untuk perasaannya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN