12

1126 Kata
Dear Heart, why him? -Valeri Valentine Darron- **** Valeri dan Jason saat ini tengah berada di salah satu rumah makan padang di pinggir jalan. Dan jujur saja, rasanya sangat aneh makan di sini dengan Jason yang bergaya bagai makan seperti di restaurant bintang lima. Gaya makan lelaki itu sangat elegant. Dibanding dengan Valeri yang sudah menggunakan tangannya sedaritadi,  Jason lebih memilih garpu-sendok sebagai alat makannya. Valeri tahu betul kalau sedaritadi pelayan wanita disini terus-menerus curi-curi pandang ke arah mereka. Yah, tidak mengherankan sih. Valeri akui lelaki di sebelahnya ini memang tampan. Mau di lihat dari sisi manapun, Jason tetap tampan. "Ini pesanannya." Seorang pelayan lelaki menaruh dua porsi nasi lagi di depan kami membuat Valeri menatapi Jason terkejut. Well, ia sudah selesai makan sejak tadi sebab Valeri sudah kenyang hanya dengan makan satu porsi. Sedangkan lelaki di sebelahnya ini seakan tak ada kenyang-kenyangnya, ini sudah porsi ketiga yang ia makan, itu belum terhitung dengan nasi yang baru saja pelayan itu antarkan. Valeri memandangi Jason yang sedang makan dengan lahap dari samping sambil tersenyum. Tampaknya, hubungan mereka mulai terbuka ke tahap pertemanan. Sebab, Valeri mulai merasa nyaman pada Jason. Tak ada lagi rasa canggung ataupun kesal dengan setiap tingkahnya. Dan Jason .... memang lelaki baik dengan porsi makan segudang. Uhm, berbicara soal porsi makan, Valeri tak pernah melihat Jason berolaraga. Tapi lelaki itu makannya banyak sekali. 'Kira-kira perut Jason buncit gak ya?' pertanyaan itu menyusup begitu saja di benak Valeri, membuat gadis itu melirik ke arah perut Jason. Kemeja yang Jason kenakan sekarang sangat nge-press di tubuhnya, malah kemeja itu hampir mencetak kotak-kotak di perutnya, jadi keyakinan Valeri soal Jason yang buncit langsung runtuh begitu saja.   Lama asyik dengan lamunannya sendiri, Valeri tak sadar kalau Jason sudah selesai makan dan saat ini tengah menatapinya dengan tatapan menyelidik. "Lihat apa kau?" Jason menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum jahil. Valeri tersentak dari lamunannya, "Sepatu anda bagus sekali Boss, aku suka," ucap Valeri gelagapan. "Sepatu ku berada dibawah, sedangkan kau tak menatap kearah sana tadi," Jason memicing, menatapi manik mata Valeri lekat sekaligus menggodanya. "Apa kau mau melihat itu-ku?" tanya Jason ambigu. Valeri merasa pipinya panas dan yang pasti sudah memerah. Ia bisa menangkap jelas nada menggoda di perkataan Jason, "A-apa maksudmu, Boss?" tanya Valeri gugup. Jason terkekeh sambil menaik-turunkan kedua alisnya, "Yang itu lho," ucapnya yang lagi-lagi ambigu. "Tidak!" pekik Valeri kencang saat pikirannya mulai menjalar kemana-mana. "Apa kau gila, Boss? Kau mau menunjukkannya padaku?" tanya Valeri sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan. Jason terbahak dengan kencang, membuat beberapa pelanggan serta staff restaurant menatap mereka dengan tatapan tertarik, "Berhentilah berpikir m***m, Valeri. Maksudku, apa kau mau lihat ponselku?" Jason mengeluarkan ponselnya dari kantung hape sebelum kembali tertawa. "Apa yang kau harapkan? Apa kau mau melihat ... sesuatu di balik celanaku?" tanya Jason terbahak lagi. Valeri mendengus sembari menatap Jason kesal. Kesal sekaligus malu sebenarnya. Ia tak menggubris perkataan Jason yang mungkin bisa menjerumuskan pikirannya lagi, oh astaga. Jason menghentikan tawa menyebalkannya itu saat wajahnya sudah semerah tomat, "Kita harus segera pergi," ucap Jason sambil menghapus air matanya. Valeri mengangguk meski ia masih malu. Ia menggamit tasnya dan menatap Jason binggung. "Kita ke restaurant China, berarti kita harus makan lagi nanti, Boss?" tanya Valeri mengingat tempat pertemuan mereka adalah restaurant juga. Yah, tak mungkin mereka tak makan sedangkan klien mereka makan. Itu sangat aneh sekaligus tak sopan. Jason mengangguk, "Tentu saja. Karena itu aku memesan sedikit tadi, jadi aku bisa makan lagi disana," ucap Jason cuek sembari berlalu, mendahului Valeri. Valeri mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mencerna ucapan lelaki itu yang terasa tak masuk akal. Well, lima piring dan itu sedikit? Ia jelas-jelas tak bisa mengerti seberapa besar lambung Jason. Tapi Valeri hanya diam, tidak mau berkomentar apa-apa. Mereka berdua pun meninggalkan restaurant itu dan pergi menuju tempat pertemuan. **** Billy menatap layar ponselnya dalam diam. Matanya menatap lekat pada foto sosok wanita di wallpaper ponselnya. Disana, wanita itu tengah menggunakan kostum macan tutul serta bergaya bak macan imut yang tengah tersenyum.   'Imutnya,' batin Billy sambil tersenyum senang. Yah, wanita ini adalah wanita yang selalu ia cintai sejak dulu. Wanita yang selalu ia jaga sejak mereka masih kecil, dan wanita yang ingin Billy jaga untuk seumur hidup. Sayang, takdir mereka tidak begitu bagus. Uh, takdir Billy tepatnya. Perusahaan mereka sedang ada masalah dan untuk menyelesaikannya keluarga Billy membutuhkan suntikan dana dari T company. Ponsel Billy berbunyi, membuat lelaki itu sedikit terkejut karenanya. Senyum yang terlukis di bibirnya seketika luntur saat melihat peneleponnya. Sial, baru saja Billy memikirkan wanita aneh itu, sekarang dia sudah menelepon. "Halo?" ucapnya dengan nada sedikit kesal. "Hai sayang," ucap wanita yang tengah menelepon itu dengan nada manja. Billy mengernyit, wanita ini sungguh menyebalkan. Tidak, bukan hanya menyebalkan. Tapi wanita ini juga tak bisa di kasih hati. Jika Billy baik sedikit padanya, maka ia akan terus-terusan menghubungi Billy, mengajak Billy pergi kencan, serta mengikutinya sampai ke kantor sekalipun. "Aku sedang sibuk, Sarah," ucap Billy sambil menghela napas. Sebenarnya ia sama sekali tak sibuk saat ini, pekerjaannya sudah selesai sejak siang tadi. Tapi ia ingin mengakhiri sambungan ini secepat mungkin, sebelum Sarah mengajaknya kencan, lagi. "Ah, apa aku menganggumu?" tanya Sarah dengan nada tak bersalah sekaligus polos, membuat Billy mendengus kesal karenanya. Kau sangat mengganguku. "Aku hanya ingin mengajakmu pergi Billy. Kita sudah lama tak kencan. Kau selalu saja sibuk dengan pekerjaanmu," sambung Sarah dengan nada yang dibuat-buat imut. Benar 'kan?  Wanita aneh itu kembali mengajak Billy kencan. "Aku sudah bilang kan kalau aku sibuk," ulang Billy lagi. "Ayolah sayang, kau sudah menolak ajakanku kemarin. Masa iya sekarang kau tolak lagi? Bagaimana aku bisa menjelaskan hubungan kita kepada orangtua ku jika kau terus begini? " ucap Sarah lagi. Billy mengacak rambutnya frustrasi, ia menggertak giginya pelan, menahan kesabaran. "Baiklah, kapan kau mau bertemu?" tanya Billy yang pada akhirnya mengalah. Setengah memekik Sarah langsung memberitahu Billy alamat tempat pertemuan mereka, "Jam 10 di hari minggu ya. See you darling," ucap Sarah dengan nada sedikit tinggi sebelum Billy memutus sambungan itu tanpa berbicara apa-apa lagi. Sarah adalah tunangannya dan Billy benci mengakui fakta itu. Karena perusahaannya yang sedang mengalami masalah finansial, Billy terpaksa bertunangan dengan Sarah karena perusahaan Sarah dapat membantu perusahaannya. Jika saja ia mencintai Sarah, maka ia pasti akan dengan senang hati menerima semua ajakan wanita itu. Wanita yang benar-benar mencintainya meski belum lama bertemu. Sarah itu sebenarnya tidak jahat, hanya saja Billy tak bisa lagi berbuat baik padanya, karena Sarah sangat-sangat mudah salah paham. Dan Billy juga tahu betul kalau Sarah membenci Valeri sejak ia tahu kalau Valeri bukanlah kakak kandung Billy. Billy bisa melihatnya jelas, tatapan benci itu begitu jelas ketika Sarah menatap Valeri. Billy tetap diam karena Sarah tidak menyakiti Valeri. Tapi, kalau Sarah berani menyakiti Valeri, maka Billy tidak akan tinggal diam. Ia tak akan membiarkan siapapun menyakiti wanita yang paling ia cintai. ***                    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN