15

1055 Kata
This is how i feel: I'm scared of losing you.. but then again you not even mine -Valeri Valentine Darron- **** Sanna mengepalkan tangannya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tubuhnya menegang seketika setelah mendengar cerita Sarah mengenai Jason yang berkencan dengan wanita lain, yang tak lain adalah kakak angkat Billy. 'Berani-beraninya jalang itu berkencan dengan Jason disaat Jason menolakku mentah-mentah?!' batin Sanna memberontak. "Apa yang akan kau lakukan kak?" tanya Sarah yang masih berada di kamar Sanna. Sarah sebenarnya sempat ragu untuk menceritakan semua ini pada Sanna, sebab kakaknya itu akan berubah menjadi mengerikan ketika sesuatu yang sudah ia cap sebagai miliknya di sentuh oleh orang lain. Sarah masih ingat betul, saat mereka berdua masih remaja, salah satu maids di rumah mereka membuat baju yang Sanna beli dari Paris bolong karena keteledorannya saat menyetrika. Dan malangnya, maids itu akhirnya harus di rawat di rumah sakit karena Sanna mendorongnya dari tangga. "Aku akan membuat jalang itu sadar akan posisinya," gumam Sanna yang masih terdengar oleh Sarah. Sarah tersenyum sinis. Ia sebenarnya tidak keberatan sama sekali jika kakaknya mau membuat perhitungan dengan Valeri karena Sarah juga kesal dengan Valeri. Setiap kali mereka kencan, Billy selalu membicarakan Valeri. Valeri suka ini, Valeri suka itu, Valeri benci ini dan itu. Hal itu membuat Sarah muak. Dan bahkan kemarin Sarah ditinggal ketika Billy tak sengaja melihat Valeri di taman bermain. Sialan wanita itu. "Apa kau butuh bantuanku?" ucap Sarah menawarkan bantuan. Sanna menggeleng cepat, "Tak perlu. Aku akan membuat Jason segera menjadi milikku. Dan jalang itu akan ku bereskan, secepatnya," ucap Sanna dengan penekanan di setiap kata. **** Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam dan Valeri masih belum tertidur. Entah kenapa hatinya berdebar-debar mengingat kemarin Jason menggengam tangannya di rollercoster. Yah, walaupun hal itu Jason lakukan karena ia takut sih, tapi tetap saja hal itu membuat Valeri senang. "Oh aku malu sekali," ucap Valeri sambil memegang kedua pipinya yang merona setiap kali memikirkan Jason. Gadis itu baru menyadari bahwa ia menyukai Jason sejak di taman bermain kemarin. Ia merasa berdebar dan senang setiap kali bersama Jason, meski ia tak tahu pasti kapan perasaan itu mulai tumbuh. Pesona Jason pasti terlalu kuat sehingga hanya dalam seminggu saja Valeri sudah jatuh cinta pada lelaki itu. Lelaki rese dengan hati yang sangat perhatian. Valeri melirik ponselnya yang berada di samping meja dan mengambilnya. Entah kenapa, ia ingin membagikan perasaannya pada seseorang. Ia ingin menceritakan kebahagiaannya ini setidaknya pada seseorang. Sudah lama sekali sejak Valeri terakhir kali membagikan perasaannya pada Alena. Dulu, Alena sering sekali mendengarkan cerita Valeri, meskipun gadis itu sangat mengantuk sekalipun. "Halo?" ucap Valeri saat teleponnya sudah tersambung pada Alena. "Valeri? Tumben nelepon, ada apa? masalah kerjaan?" tanya Alena beruntun. "Enggak, gue cuma pengen ... curhat, Na." ucap Valeri ragu-ragu. Entah kenapa pikiran buruk tiba-tiba menyusup ke dalam otak Valeri, dan ia jadi ... takut. Bagaimana kalau Alena tak menyukai Valeri dan tidak mau Valeri menyimpan perasaan pada kakaknya? atau ... Bagaimana kalau Alena menganggap Valeri murahan karena suka dengan seseorang yang baru ia kenal? "Uhmm itu.." gumam Valeri ragu. Bagaimana ini? Ia sudah menelepon Alena dan baru terpikir mengenai reaksi Alena sekarang. Huh, sungguh bodoh. "Cerita aja, gapapa," ucap Alena lembut saat gadis itu menangkap kebingunggan dan keraguan dalam suara Valeri. Valeri menghela napas dan kemudian mulai bercerita. Hari dimana ia mencium Jason saat pertama kali bekerja. Hari dimana Jason menyuruhnya berdiri jauh-jauh dari lelaki itu. Hari dimana Jason menolongnya dari George dan membawanya ke mansion mewah ini. Hari dimana Jason dan Valeri bergadang bersama untuk mengerjakan proyek perusahaan. Hari dimana Valeri dan Jason bermain di taman bermain bersama menggunakan bando couple dan berselfie bersama. Valeri juga menceritakan soal Sanna yang datang ke kantor Jason. Dan soal Sarah yang tanpa sengaja bertemu mereka saat di taman bermain. Alena tampak terdiam selama beberapa saat sebelum merespon, "Gue.. speechless," gumam Alena pelan. Valeri mengerjapkan matanya beberapa kali. Bagaimana ini? Apa Alena jadi tidak suka dengan Valeri sekarang? Apa Alena akan membencinya? "Jadi gimana pendapat lo, Na?" tanya Valeri ragu-ragu. "Gue? Ya gue seneng lah kalo lo bisa naksir kakak gue." Valeri terbenggong saat mendengar ucapan Alena, "Lo gak benci gue? gak ilfeel sama gue?" "Gak lah. Sama sekali enggak. Gue gak tau apa yang ada di pikiran bokap nyokap gue saat jodohin kakak gue dengan si jalang yang gak tau malu itu. Gue tau Sanna itu busuk. Dia bersikap baik kalau ada orang tua gue, giliran enggak, muka aslinya kelihatan jelas," cibir Alena. "Jadi lo beneran.. gak benci gue?" tanya Valeri lagi memastikan. Alena menghela napas gemas, "Iya Valeri. Gue gak benci lo, gue seneng lo suka sama kakak gue. Dan gue juga berharap kak Jason juga suka lo. Tapi ...," ucap Alena tergantung. Valeri mengernyit menyadari ada perubahan nada pada suara Alena. Ada perasaan buruk yang menyelimuti hatinya. Apa ini? Mengapa perasaan Valeri tiba-tiba tak enak? "Tapi ... apa, Na?" tanya Valeri ragu. Alena menghela napas lalu terdiam selama beberapa detik, "Tapi.. kakak gue bakal tunangan sama Sanna akhir minggu depan," ucap Alena pelan seakan ragu untuk memberitahu. Valeri merasa napasnya seketika tercekat, "Ber tu .. na ..ngan?" gumam Valeri. Jason akan bertunangan ... dengan Sanna? Pada akhir minggu depan? Jadi Jason akan segera menjadi milik Sanna secara resmi? Semua pernyataan itu seakan menghantam Valeri bertubi-tubi. Dadanya sesak, hatinya mencelos jatuh begitu saja. Ia sudah tak mendengar lagi apa yang Alena katakan. Rasanya hatinya di remas, terasa sakit sekali hingga ia tak bisa mendeskripsikan bagaimana rasanya. Valeri mematikan sambungan telepon itu sepihak, dan menghapus air matanya yang jatuh begitu saja tanpa izinnya. Mengapa dadanya terasa sangat sesak? Rasanya ia tak bisa bernapas dengan baik. Valeri sudah tahu sejak awal kalau Jason sudah di jodohkan dengan Sanna. Lalu mengapa rasanya sangat sakit ketika mendengar Jason akan segera bertunangan? Mengapa cinta bisa begitu menyenangkan sesaat lalu sangat menyakitkan di kemudian hari? Baru saja Valeri bahagia dengan cintanya yang mulai tumbuh. Ya, Ia senang menghabiskan waktu bersama Jason, tinggal bersama Jason, makan bersama Jason dan bekerja bersama Jason. Baru saja ia mulai bahagia ... tapi kebahagiaan itu sudah di renggut darinya. Valeri menenggelamkan dirinya dalam selimut dan memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. "Tidak apa-apa Valeri, tidak apa-apa," gumam Valeri seraya mengulang-ngulangi kalimat itu, berusaha untuk meredakan rasa nyeri pada dadanya, hanya saja rasa sakit itu sama sekali tak pergi, yang ada air matanya malah semakin deras. "Kau bisa melupakannya ... kau bisa...," ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN