16

882 Kata
I feel in love with you not for how you look just for who you are (Although you look pretty good too) -Valeri Valentine Darron- **** Sinar matahari yang menerangi kamar itu menandakan bahwa hari baru sudah dimulai lagi. Jason menge-pack barangnya dan memasukannya ke dalam koper. Meskipun sebenarnya bajunya pasti sudah disiapkan oleh para maids di sana, tapi Jason lebih nyaman menggunakan baju yang sering ia pakai, dibanding baju baru. Well, hari ini ia akan menginap di rumah orang tuanya. Entah kenapa, semalam Daddynya menelepon dan meminta Jason untuk menginap di rumah mereka. Katanya mereka punya pembicaraan yang sangat penting, dan Jason harus ikut serta dalam pembicaraan itu. Jason turun dari tangga dan menyerahkan kopernya kepada salah satu supirnya. Setelah itu, ia mengedarkan pandangannya dari dapur sembari mengernyit, 'Tumben sekali Valeri belum turun untuk makan?' batin Jason bertanya-tanya, sebab biasanya gadis itu sudah berada di meja makan. Jason menggendikan bahunya, 'mungkin Valeri kelelahan' pikirnya. Yah, ia tak mau menggangu gadis itu. Apa lagi Jason sadar kalau ia terus-terusan memberi tugas pada Valeri.  Tapi, mau bagaimana lagi? peran Valeri sangat dibutuhkan bagi pekerjaan Jason. **** Jason P.O.V Aku sudah selesai sarapan setelah menghabiskan kira-kira 3 piring besar nasi. Well, napsu makanku memang besar. Aku suka sekali tidur dan makan. Tapi, meskipun begitu aku juga bertanggung jawab dengan pekerjaanku. Aku tak akan tidur bila pekerjaanku belum selesai. Dan berbicara masalah pekerjaan, apa sekertarisnya itu benar-benar kelelahan? Ini sudah 30 menit sejak Jason menunggu. Namun Valeri tak kunjung turun dari tempat tidurnya. Apa jangan-jangan gadis itu sakit? "Ah! Kenapa aku tidak berpikir seperti itu dartadi! Dasar bodoh!" gumamku sembari merutuki diri sendiri. Aku berdiri dari tempatku, berniat untuk mengunjungi kamar Valeri. Namun niat ku langsung ku-urungkan ketika melihat Valeri berjalan linglung sambil menggenakan kacamata hitam. "Hei, kenapa kau menggunakan itu?" tanyaku pada Valeri saat gadis itu sudah duduk di sebrang ku. Tapi Valeri diam saja, ia sama sekali tak menjawab pertanyaanku. Yang ada, dia hanya melahap makanannya dengan rakus sembari membuka mulutnya lebar-lebar. Wow, sungguh sisi Valeri yang tak terduga. Selama ini Valeri selalu makan dengan pelan. Namun hari ini aku sukses melihat sisi lain dari Valeri yang mau tak mau membuatku tertawa. "Kau lucu sekali," ucapku sambil tersenyum. Valeri membeku, ia menghentikan kegiatan makannya dan menatap ke arahku meski aku tak yakin karena kaca matanya itu menghalangi pandangan. Gadis ini aneh sekali. Tak biasanya ia diam begini dan lagi ia mengenakan kacamata aneh itu pagi-pagi. Apa semalam kepala Valeri terbentur? Atau otaknya sedang sakit? Aku berdiri dari tempatku dan menempelkan tanganku pada dahinya, "Uhmm sedikit panas," gumamku sambil berangangguk-angguk. "Hari ini aku akan pergi ke rumah orang tuaku. Ada sesuatu yang harus mereka bicarakan padaku jadi aku akan menginap disana untuk 2 hari. Kau disini dulu ya, aku akan memberitahumu mengenai tugasmu nanti," sambung ku setelah melepaskan pegangan dari dahinya. Aku tersenyum bingung ketika Valeri masih diam di tempatnya dan tak merespon apapun. Apa aku sudah melakukan sesuatu yang salah sehingga ia tak mau berbicara padaku? "Kau marah?" tanyaku. Tapi gadis itu tetap tak merespon. Ia hanya melahap makanannya dengan suapan besar membuatku sedikit sedih dan kecewa. Yah, hari ini aku akan menginap dan tak bertemu dengannya, tapi tampaknya Valeri sama sekali tak sedih karena aku pergi. Aku menghela napas. Sebenarnya, apa yang aku harapkan? Mengapa aku kecewa dengan respon Valeri? Mengapa aku berharap bahwa ia akan menahanku agar tidak pergi? Mengapa aku berharap ia akan membujukku seperti yang ia lakukan di taman bermain? Apa yang sebenarnya aku harapkan? Aku tersentak ketika gadis itu berdiri dan langsung berjalan meninggalkanku. Mungkin Valeri memang sedang marah padaku atau mungkin aku sudah melakukan kesalahan yang tak aku sadari.. *End of Jason P.O.V* **** Author POV Jason akan pergi, Jason akan pergi! pasti orang tuanya akan membicarakan soal pertunangan itu. Bagaimana ini? Valeri tak bisa menahan Jason agar ia tak pergi bukan? Valeri tak punya hak untuk itu. Valeri hanyalah sekertaris bodoh yang jatuh cinta dengan Bossnya sendiri. Bahkan matanya membengkak parah hingga sulit dibuka, jadinya Valeri terpaksa menggunakan kacamata hitam. Dan lagi suaranya sangat serak sehingga ia tak berani berbicara pada Jason, ia tak mau ketahuan menangisi Jason semalaman karena mendengar kabar pertunangan lelaki itu. s**t, itu memalukan. "Kau marah?" tanya Jason pada Valeri. Valeri mendengus kecil, memangnya ia pantas untuk marah? Ia bukanlah siapa-siapa Jason, ia hanyalah sekertaris yang kebetulan di tolong Jason ketika ia dalam bahaya.. Valeri tak merespon ucapan Jason. Ia berniat melampiaskan semua kekesalannya dengan makan. Ia mengambil suapan besar untuk beberapa kali dan takjub bahwa kecepatan makannya bertambah berkali-kali lipat dari sebelumnya. Valeri bangkit dari tempat duduknya setelah menyelesaikan urusan makannya. Ia tak sanggup jika berlama-lama berhadapan dengan Jason. Karena jujur saja, seberapa sakitpun hatinya semalam, ia tak kehilangan rasa cintanya pada lelaki itu. Rasa cintanya masih sama, persis, meskipun hatinya sudah terkoyak sekalipun. Valeri berjalan lurus memutuskan untuk tidak menoleh lagi. Ia butuh waktu untuk menenangkan dirinya, dan ia rasa dengan perginya Jason selama 2 hari akan membantunya. Setidaknya ia harus belajar bersikap senatural mungkin saat ia berada di hadapan lelaki itu, dan tentunya ia harus menghilangkan bengkak di matanya itu. Valeri menghela napas. Ia sama sekali tak berpikir untuk melupakan Jason, karena ia tahu itu akan sulit, ia bekerja dengan Jason dan interaksi mereka cukup banyak sehari-hari. Dan Valeri tahu kalau melupakan.. bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN