I wish i could just ask
you,
what you think of me?
-Valeri Valentine Darron-
****
George menggeram kesal saat mengetahui kalau Valeri masih saja tinggal di mansion b******n yang sudah memukul kepalanya, hingga ia mengalami gegar otak ringan. George sama sekali tak bisa menembus keamanan dari mansion itu. Bahkan pagarnya sangat tinggi untuk diraih, belum lagi untuk mencapai rumah utama, mereka menggunakan mobil karena halamannya yang super luas. Dan George tahu betul kalau disana banyak CCTV.
Bertemu dengan Valeri di luar mansion juga sulit, sebab gadis itu selalu bersama si b******n, dan George tak bisa berurusan dengan b******n itu lagi, sebab George tahu, kalau Jason adalah orang yang memiliki pengaruh. Dengan uangnya, ia bisa menjebloskan George ke penjara untuk seumur hidup.
'Sialan. Jangan-jangan, Valeri menyukai b******n itu? Karena itu ia bilang ia tak lagi menyukaiku?' batin George tiba-tiba.
Sial, sial, sial, George menggertakan giginya. Ia tak bisa mengganggu Valeri untuk sementara waktu, dan mungkin ia akan menghilang dulu. Ya, ia akan menghilang sampai setidaknya Valeri lupa akan keberadaannya. George berjalan pergi dari mansion itu, dia akan menyusun rencana untuk waktu yang lama sebelum kemudian kembali dan menghancurkan b******n itu.
Ia akan menghancurkan siapapun yang merebut miliknya.
***
Semua maids dan pelayan, serta supir membungkuk saat anak pertama dari majikannya baru saja menapakkan kakinya di mansion milik keluarga JYS, setelah satu tahun lamanya. Disana, Jason tersenyum sembari memandangi mansion milik orang tuanya yang sama sekali tak berubah. Mata lelaki itu menyipit saat mendapati seorang wanita paruh baya yang sangat familier tengah berjalan ke arahnya sekarang.
Jason merentangkan tangannya sembari merengkuh wanita paruh baya yang ia kenali sebagai Mommynya, tapi yang ia dapat bukan balasan pelukan, tapi malah pukulan di punggungnya.
"Dasar anak durhaka, tidak pernah mengunjungi orang tua kalau tidak di suruh, menelepon untuk menanyakan kabar saja tidak," ucap Cristabelle sambil memukuli anak laki-lakinya dengan keras.
Jason meringis, "Ya maaf, aku 'kan sibuk," bela Jason seraya memeluk Mommynya paksa.
Christabelle sama sekali tak luluh dengan pelukan Jason, tangannya masih memukuli anaknya itu dengan keras,
"Alasan, bilang saja tidak perduli sama Mommy," rajuknya. "
Jason terkekeh dengan tingkah laku Mommnya yang mirip anak-anak. Tingkah lakunya mengingatkan Jason pada Valeri.
Ah, Valeri lagi ...
Jason menggelengkan kepalanya, berusaha menghapus pikiran tentang wanita itu sebab sedaritadi Jason masih bertanya-tanya tentang kesalahannya pada Valeri, meskipun dia tak menemukan jawabannya.
"Oh kau sudah datang, Son," ucap Kevin Heilton pada putranya itu. Ia mengernyit ketika mendapati istrinya itu tengah memukul putranya dengan raut wajah kesal.
"Apa yang sedang kau lakukan, Cristabelle?" tanya Kevin heran.
Cristabelle menghentikan kegiatannya dan menatap Kevin sebal, "Anakmu ini tak mengunjungi kita selama setahun, bahkan menelepon saja ia tak pernah. Bagaimana bisa kau tak kesal?"
Kevin menghela napas pelan, ya, ia sama sekali tak kesal karena ia tahu Jason sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dan ia juga tak ingin menganggu Jason sebenarnya. Hanya saja Harry-- sahabatnya memintanya untuk mengatur pertemuan keluarga. Jadinya Kevin terpaksa meminta Jason menginap disini untuk dua hari.
"Sudahlah," ucap Kevin sambil tersenyum hangat. Cristabelle memang sering kali bersikap kekanakan, meskipun umurnya sudah menyentuh angka 5, tapi sifat itu sama sekali tak pernah berubah sejak dulu.
"Ish ... dasar anak dan bapak sama saja," gerutu Cristabelle seraya berjalan meninggalkan Kevin dan Jason yang terkekeh di belakangnya.
"Mommymu tak pernah berubah," ucap Kevin sambil tersenyum. Jason mengangguk setuju dengan hal itu.
"Bagaimana kabarmu, Son?" sambung Kevin sambil memeluk Jason.
"Seperti biasa, aku ini lelaki yang sibuk, Dad," balas Jason sambil memeluk Daddynya. Mereka melepaskan pelukannya dan melanjutkan bincang-bincang mengenai perusahaan dan segala sesuatu tentang bisnis.
"Dimana Alena, Dad? Mengapa ia tak menyambutku?" tanya Jason sembari mengedarkan pandangan. Matanya mencari keberadaan adiknya, tapi ia sama sekali tidak melihat Alena disini.
Kevin menggeleng, "Aku tak tahu dimana Alena, tapi sikapnya sedikit aneh hari ini."
"Aneh?" ulang Jason.
Mengapa Alena juga bersikap aneh? Apa sikapnya ini ada hubungannya dengan Valeri?
"Iya dia aneh, saat sarapan tadi pagi ia hanya mengaduk supnya. Tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu," jelas Kevin.
Ada apa sebenarnya?
Apa Alena dan Valeri bertengkar? Tapi itu kan tak berhubungan dengan Jason. Lantas kenapa Valeri tak mau berbicara padanya? Ia masih tak mengerti ...
Suara mesin mobil menyadarkan Jason dari lamunannya, ia menoleh dan mendapati banyak sekali mobil yang baru saja sampai di mansionnya.
"Itu siapa?" tanya Jason sambil menoleh ke arah Daddynya.
Kevin tersenyum, "Tentu saja ia adalah tunanganmu," balas Kevin senang.
Jason terdiam. Ia sama sekali tak mau menunjukan ketidaksukaannya pada Sanna di depan Daddynya. Well, Kevin sama sekali tak tahu kalau Jason sebenarnya menolak perjodohan ini. Tapi, Jason tak mau menghancurkan hubungan Daddynya dengan sahabatnya--Harry, sebab perjodohan ini juga di landasi oleh persahabatan mereka.
"Tunangan?" gumam Jason.
Kevin mengangguk, "Iya, kau akan bertunangan dengan Sanna, Jason. Karena itulah kami memanggilmu kesini," ucap Kevin sambil tersenyum.
Kevin berjalan ke depan dan menyambut Harry serta seluruh anggota keluarganya saat mereka sudah selesai memarkirkan mobil-mobil mewah itu, "Selamat datang," ucap Kevin sambil menyalami Harry.
Jason meringis sembari merutuki kebodohannya. Seharusnya ia tahu dari awal, kalau ada sesuatu yang terjadi ketika Daddynya meminta ia untuk menginap kemari. Ia sama sekali tak tahu kalau pertunangannya dengan Sanna akan di percepat.
'Tapi mengapa tiba-tiba rencananya di percepat?' batin Jason bertanya.
Mata Jason tak sengaja menangkap kehadiran Sanna yang tengah menatapnya penuh cinta. Jason bergidik ngeri sembari mengalihkan pandangan.
Jangan-jangan karena masalah taman bermain kemarin?
"Jason kemarilah," panggil Kevin.
Jason terpaksa berjalan mendekat kearah Sanna meskipun sebenarnya ia enggan. Tangannya menyalami Mr. Harry, Papa Sanna sekaligus sahabat Daddynya dengan sopan. Kemudian pandangannya teralih pada Helena--Mama Sanna, sekaligus Sarah--adik Sanna.
"Ah, Jason lama tak bertemu! Kau makin jadi tampan ya," goda Harry.
Jason tersenyum simpul, "Kau juga bertambah tampan, Paman."
Harry menggeleng, "Jangan panggil aku paman, kau 'kan sebentar lagi akan bertunangan lalu menikah dengan anakku. Jadi mulai sekarang, kau boleh panggil aku Papa," ucap Harry sambil menepuk punggung Jason.
Jason tersenyum meski tak sampai matanya, "Tentu saja ... Papa," ucap Jason ragu.
Sanna tersenyum puas menyaksikan kejadian didepannya. Jason memang seharusnya sadar sejak awal ia itu milik siapa, jadinya Sanna tidak perlu repot-repot mempercepat pertunangan mereka.
"Mari masuk," ucap Kevin sambil mempersilakan semua keluarga Tomlasse masuk.
Jason menghela napas, apa lagi ini? Tadi Mr. Harry membahas mengenai pernikahan?
Yang benar saja! Bertunangan dengan Sanna saja sudah membuat kepala Jason mau meledak, apa lagi menikah dengannya, tidak! itu mimpi buruk.
Jason mendengus pelan lalu mengikuti langkah keluarga Tomlasse itu meski dengan setengah hati.
Mereka sampai diruang tengah, tempat dimana keluarganya sering berkumpul ataupun mengobrol bersama. Jason melirik ginseng yang di bawakan para maids. Ginseng itu asli dari Korea Selatan sebab Daddynya waktu itu membelinya langsung. Ia meminum ginseng itu sedikit dan mengernyit saat rasa aneh itu menjalar di lidahnya.
"Nah jadi, apa kau sudah tahu kedatanganku kesini untuk apa, Jason?"
Jason mengangguk pasrah, "Tentu, aku tahu."
Mr. Harry tersenyum, "Bagus, karena Sanna tampaknya sangat menyukaimu, karena itu aku memutuskan untuk mempercepat pertunangan ini. Lagi pula untuk apa berlama-lama bukan?" ucap Mr. Harry yang membuat semua orang mengangguk setuju, kecuali Jason tentunya.
Jason melirik ke arah Mommy dan Daddynya yang tampak sangat senang. Well, tentu saja mereka senang. Anaknya akan menikah dengan putri dari salah satu perusahaan besar. Hal itu akan berdampak positif pada perusahaan mereka, dan lagi Sanna merupakan anak dari sahabat Daddynya. Itu merupakan point paling positif, sebab berkat itu mereka bisa berbesanan.
"Tentu saja Daddy, lihat kan Jason sangat senang sekali dengan kabar ini," celetuk Sanna yang membuat semua perhatian tertuju pada Jason.
Jason mau tidak mau kembali tersenyum pasrah. Sialan Sanna.
"Lalu kapan pertunangannya akan di laksanakan?" tanya Jason enggan.
Pekerjaannya bahkan sudah banyak, dan sekarang ia harus mengurusi orang seperti Sanna juga? Hell! merepotkan.
"Tentu saja Sabtu ini," ucap Harry tenang.
Jason terdiam. Otaknya berusaha mencerna ucapan Harry.
Tunggu dulu, kalau hari ini adalah hari senin maka pertunangannya akan dilaksanakan 5 hari lagi?
"Apa?!" ucap Jason membelak tak percaya. "Mengapa begitu terburu-buru?"
"Kau tampak terkejut," celetuk Helena tenang.
Jason mendengus melihat senyuman sinis di bibir Helena. "Uhm ya, aku terkejut karena ini terlalu cepat," ucap Jason sambil menyesap ginsengnya lagi. Kali ini ginseng itu bahkan sama sekali tak terasa karena otaknya sudah hampir error berkat Sanna.
"Kenapa tidak? Aku malah ingin menikah denganmu secepatnya," ucap Sanna yang hampir saja membuat Jason menyemprotkan gingsengnya.
Sialan Sanna, mengapa membahas pernikahan disaat seperti ini?
Harry mengangguk, "Tentu, nanti setelah kalian bertunangan aku akan memikirkan mengenai pernikahan," ucap Harry lagi yang membuat Sanna tersenyum penuh kemenangan sambil menatap Jason yang terlihat pucat di tempatnya.
***