f i did anything right in my life,
it was when i gave my heart
to you❤
-Valeri Valentine Darron-
****
Valeri memijit pelipisnya karena kepalanya serasa akan meledak. Yang ia lakukan seharian ini hanyalah berbaring di kasur sembari menangis sesekali. Ia terus menatapi ponselnya yang berada di meja, berharap kalau ponsel itu berbunyi dan Jason meneleponnya.
Valeri sama sekali tidak keberatan kalaupun Jason mau memberikan tugasnya kepadanya, sebab hanya dengan cara itu ... dia punya alasan untuk menghubungi lelaki itu tanpa harus merasa gengsi.
Namun, kenyataan memang tak seindah ekspetasi. Lelaki itu tidak menghubungi Valeri sama sekali sedaritadi.
Valeri ulangi, Jason tidak menghubunginya sama sekali!
Gadis bermata hijau itu menghembuskan napas berat karena sedaritadi ada yang terasa mengganjal di pikirannya.
Ya, Valeri binggung kenapa Jason tidak menolak perjodohannya dengan Sanna, kalau lelaki itu tak mencintai wanita tak sopan itu?
Apa karena Sanna punya badan yang bagus dan wajah yang cantik?
Well, semua lelaki pasti seperti itu 'kan? Terlepas bagaimana pun sikap wanita, jika ia memiliki wajah yang cantik dan badan yang bagus maka semua lelaki akan bertekuk lutut 'kan?
Valeri menghela napas lagi. Ia merutuki dirinya sendiri karena membandingkan dirinya dengan Sanna yang memang benar-benar cantik.
Tentu saja ia kalah telak!
Suara ponselnya yang berbunyi menyadarkan Valeri dari lamunan bodohnya. Gadis itu dengan gerakan cepat langsung mengambil ponselnya. Namun gadis itu harus menelan kekecewaannya bulat-bulat saat penelepon itu bukanlah Jason, melainkan Billy.
"Halo?" ucap Valeri dengan suara parau karena suaranya masih agak serak, walaupun ia sudah minum banyak air.
"Halo, Kak. Bisa ketemuan sekarang?"
Valeri mendengus pelan sembari berpikir.
Bagaimana ini? matanya masih bengkak. Valeri tak mungkin keluar dari rumah dengan penampilan acak-acakkan seperti ini. Jelas Billy akan curiga dan mengintrograsinya.
"Mau ngapain?" tanya Valeri binggung.
Ya, tidak biasanya adiknya itu mengajak Valeri bertemu sejak ia pindah ke apartment. Valeri tau, Billy juga cukup sibuk dengan perusahaan Daddynya, jadinya Valeri cukup tahu diri dan tidak memaksa Billy untuk meluangkan waktunya, hanya untuk berjalan-jalan dengannya.
"Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Billy serius.
"Tidak bisa lewat telepon?" tawar Valeri lagi.
Ia sedang tidak dalam mood untuk keluar rumah sekarang. Selain karena penampilannya yang berantakan, tubuhnya juga sangat lemas sekarang.
"Tidak. Aku ingin berbicara langsung padamu, Kak."
"Err bagaimana kalau lain kali saja? Aku sedang tak enak badan," sahut Valeri lagi.
Billy tampak terdiam sejenak sebelum berujar, "Kau sakit?" tanya Billy khawatir.
"Hanya flu doang kok," balas Valeri berbohong. "Maaf ya Billy, tapi kita ketemuan lain hari saja ya. Kakak mau istirahat dulu," sambung Valeri lagi.
Billy menghela napas pelan, "Baiklah," jawab Billy sebelum telepon terputus.
Valeri mendengus. Dosanya pasti semakin banyak sekarang karena berbohong dengan adiknya sendiri sekarang.
Huh, ia merutuki rasa sukanya pada Jason sembari menggerutu tak jelas.
Mengapa ia harus jatuh cinta pada lelaki yang sama sekali tak perduli dengannya?
Lihat saja! Jason bahkan tak menghubunginya sama sekali sedaritadi!
"MENYEBALKAN!" pekik Valeri sambil memukul bantalnya.
"Jason bodoh! Jason bodoh!" pekik Valeri lagi.
Gadis itu melompat-lompat di ranjangnya sembari memukul-mukuli bantal yang sama sekali tak bersalah.
"Mengapa kau pergi ke rumah orang tuamu?! Mengapa kau harus bertunangan dengan si Ular?!" pekik Valeri lagi.
Tring.
Ponsel Valeri berbunyi lagi, namun kali ini bukanlah telepon melainkan hanya sebuah pesan. Gadis itu menghentikan kegiatan lompat-lompatnya dan langsung membuka pesan itu.
From: Boss
Masih marah?
-Jason-
Ada seulas senyum yang muncul begitu saja ketika membaca pesan teks dari Jason.
Apa ini? Valeri pasti sudah benar-benar gila. Bagaimana bisa ia senang sekali hanya karena pesan teks 2 kata yang Bossnya kirimkan?
Valeri mengetik cepat dan segera membalas pesan itu.
To:Boss
Aku tak marah padamu. Tadi pagi suaraku hilang.
-Valeri-
Tring.
"Wah cepat sekali," gumam Valeri ketika melihat balasan pesan Jaosn yang sangat cepat.
Apa lelaki itu tengah menunggui balasannya?
From:Boss
Ah benarkah? Aku lega sekali! Seharusnya kau bilang padaku. Aku memikirkan alasan mengapa kau marah pada ku seharian ini!
-Jason-
Benarkah? Jason memikirkan kenapa Valeri marah padanya? Tapi, mengapa seorang Jason mau repot-repot melakukan itu hanya karena Valeri?
Mungkinkah ... Jason juga menyukainya?
"Ah, jangan berharap lagi. Ia sudah bertunangan dasar bodoh," gumam Valeri sambil memukul kepalanya sendiri.
To:Boss
Kenapa kau memikirkannya?
-Valeri-
Valeri mengirim pesan itu dan menunggu balasannya dengan gelisah.
Kenapa Jason harus memikirkannya?
Tring.
From:Boss
Entahlah, aku terus-terusan memikirkanmu seharian ini.
-Jason-
Valeri membelakkan matanya ketika membaca pesan teks yang Jason kirim.
Astaga! astaga! Jason memikirkannya!
Valeri tersenyum lebar sekali lalu menghempaskan dirinya ke kasur. Hatinya berbunga-bunga hanya karena membaca pesan yang Jason kirimkan.
To:Boss
Benarkah begitu boss? Kau tidak bohong?
-Valeri-
Dengan amat sangat ragu, Valeri mengirim pesan itu. Hal-hal buruk segera merayapi pikiran gadis itu saat ia tengah menunggu balasan dari Jason.
Oh astaga, bagaimana ini? Bagaimana kalau Jason hanya mempermainkannya? Bagaimana kalau Jason hanya menggodanya?
Valeri sudah terlanjur senang. Dan kalau Jason mempermainkannya kali ini, maka Valeri yakin matanya besok tak akan bisa dibuka karena bengkak lagi.
Tring.
From:Boss
Aku tidak berbohong, Valeri. Aku menyadarinya ketika kau tidak di sampingku. Rasanya sangat kosong ketika kau tak ada disini. Padahal belum satu hari kita berpisah.
-Jason-
Valeri rasanya ingin melompat dari mansion ini sekarang juga! Senyumnya sudah sangat lebar sampai rasanya mulutnya mau robek!
Jason memikirkannya! Berarti ada kemungkinan Jason menyukainya, 'kan?
Valeri bahagia. Sangat. Namun ia lupa sejenak bahwa Jason akan bertunangan sebentar lagi. Valeri menghela napas lalu membalas pesan Jason lagi.
To:Boss
Aku senang kau berpikir begitu, Boss. Tapi kau adalah pria yang akan bertunangan dan aku ... tidak mau dianggap sebagai perusak hubungan orang lain.
-Valeri-
Tring.
From:Boss
Darimana kau tahu aku akan bertunangan? Rasanya aku belum menceritakan hal itu. Dan lagi apa maksudmu kalau kau tak mau merusak hubungan orang lain? Apa itu kode untuk 'ku agar aku memutuskan hubunganku dengan Sanna supaya bisa bersamamu, Valeri?
-Jason-
Valeri kembali merutuki dirinya. Bodohnya dia! Jason 'kan memang belum memberitahu Valeri soal pertunangannya.
Dan lagi, mengapa ia mengatakan hal bodoh seperti tak mau merusak hubungan orang lain?
Sial, sial, sial!
To:Boss
Ah, aku mengetahuinya dari Alena semalam. Dan aku tak bermaksud seperti itu, Boss.
-Valeri-
Tring.
From:Boss
Oh jadi karena itu kau tidak mau berbicara padaku? Karena kau cemburu?
-Jason-
Pipi Valeri terasa panas saat membaca chat Jason. Yang benar saja Bossnya ini, kepercayaan dirinya tinggi sekali!
To:Boss
Sembarangan. Aku tak cemburu.
-Valeri-
Tring.
From:Boss
Aku senang mengetahui kalau kau cemburu.
-Jason-
"Ughh!" erang Valeri malu.
Sialan! Ia tak bisa membalas pesan Jason lagi karena terlalu malu. Gadis itu mematikan ponselnya dan memeluk bantal gulingnya erat.
Benar 'kan apa yang dia ucapkan semalam.
Cinta itu bisa menyakitkan dan membahagiakan di saat yang hampir bersamaan.
**