19

1002 Kata
I want you now, today, tomorrow, next week, and for the rest of my life -Jason James Heilton- **** Jason tak bisa menahan senyumnya saat membaca pesan dari sekertarisnya, Valeri. Gadis itu telalu kentara sekali, Jason bisa menebak jelas apa yang ia rasakan tanpa melihat ekspresi wajahnya. Dan sekarang, Valeri tak lagi membalas pesan yang terakhir kali ia kirimkan, bukankah itu karena gadis itu malu? "Imut," gumam Jason pada dirinya sendiri saat ia kembali teringat pada Valeri. Lelaki itu akhirnya bisa bernapas dengan tenang karena ia sudah mengetahui penyebab Valeri tak berbicara padanya hari ini. Entahlah, ada sesuatu yang mengganjal di hati Jason saat Perasaan apa ini? Apa ia mulai menyukai Valeri? Tok tok.. Suara ketukan pintu mengejutkan Jason, ia menghela nafas lalu membuka pintu kamarnya. Weelah-kepala Maid yang sudah bekerja di rumah Jason selama berpuluh-puluh tahun itu tengah berdiri di depan pintu kamar Jason. "Ada apa, Bi?"Tanya Jason pada Bibi Weelah. Ia lebih memilih memanggil Weelah dengan sebutan Bibi karena Jason telah mengenal Bibi Weelah seumur hidupnya. Bahkan Bibi Weelah menemani Mommynya saat ia akan melahirkan Jason. Bibi Weelah tersenyum lembut dan menatap Jason, "Tuan sudah di tunggu untuk makan malam di bawah." Jason mendelik, "Ah, apaan sih Bibi pake panggil aku dengan sebutan 'Tuan' gitu"Ucap Jason sambil menatap Bibi Weelah yang tersenyum. "Ah, maaf, tapi nak Jason sudah di tunggu dibawah untuk makan malam"Ulang Bibi Weelah lagi. Jason tersenyum lalu mengangguk. Jason mengikuti langkah kecil Bibi Weelah sambil berjalan santai. Bibi Weelah memang tak pernah berubah meski wajahnya sudah termakan usia. Ia masih sehat dan bugar karena sering melakukan banyak pekerjaan. Dan Jason bersyukur atas hal itu karena ia sudah menganggap Bibi Weelah sebagai bibi aslinya. Jadi ia berharap Bibi Weelah akan panjang umur. Jason sampai di ruang makan dan di sana ia menemukan Alena, Mommy, dan Daddy nya tengah menungguinya. Jason tersenyum lalu duduk di samping Alena yang terlihat muram. "Kau terlihat senang"Celetuk Cristabelle sambil menatapi anak laki-lakinya itu lekat. Jason tersentak, "ahh, suasana hati ku saat ini sedang baik"Elak Jason. Kevin terkekeh kecil, "Kau senang ya karena sebentar lagi mau bertunangan dengan wanita cantik seperti Sanna?"Canda Kevin. Jason langsung menggeleng cepat karena refleks. Lalu ia tersenyum kikkuk ketika menyadari bahwa Daddynya sedang bercanda. "Ahh, Iya aku..senang"Ucap Jason dengan senyum paksaan. Lalu setelah itu mereka pun makan malam bersama sambil membahas hal-hal yang sudah lama tidak mereka lakukan bersama. Kevin menyeruput teh hijaunya yang masih hangat dan menatap ke arah Jason. "Kau sudah tahu kalau perusahaam Frks Tbk meminta mu ke Bali untuk melakukan penelitian terhadap sebuah tanah luas yang akan dijadikan sebagai perumahan disana?"Tanya Kevin. Jason menggeleng, "Aku tak tahu Dad. Kapan mereka mengajukan proposalnya?"Tanya Jason binggung. Kevin meletakan cangkir tehnya, "Hmm, aku tak tahu soal itu. Tapi perusahaan itu adalah perusahaan milik temanku. Waktu itu dia pernah menyelamatkanku jadi aku berhutang budi padanya, Son. Dan saat ini ia membutuhkan bantuanku untuk perusahaannya. Ia ingin kau sendiri yang turun tangan untuk mengatasi pekerjaan ini"Ucap Kevin lagi. Jason mengangguk, "Baiklah. Akan ku lakukan. Tapi aku harus mengatur jadwal ku dulu. Aku tak bisa langsung ke Bali tiba-tiba tanpa menyelesaikan tugasku disini"Jelas Jason. "Iya, aku percayakan semua padamu"Ucap Kevin lagi. Cristabelle mendengus melihat suami dan putranya yang masih saja membicarakan pekerjaan padahal sudah di meja makan. "Apa kalian tak muak membahas mengenai perusahaan terus menerus?"Gerutu Cristabelle sebal. Jason terkekeh melihat tingkah laku Mommynya itu, "Tidak Mom, perusahaan adalah hidup kami"Ucap Jason dramatis yang membuat Cristabelle mengernyit. "Kalian para pria yang membosankan, iya kan Alena?"Ucap Cristabelle sambil menatap ke Alena yang tampak murung sedari tadi. Jason melirik ke arah Alena yang tampak gelagapan saat Mommynya tiba-tiba mengajaknya bicara. "Ah , iya Mom"Ucap Alena tergagap. Jason mengernyit binggung. Ada masalah apa dengan Alena sebenarnya? **** Jason mengetuk pintu kamar Alena yang berada tak jauh dari kamarnya. Tampak tak ada suara, jadi Jason kembali mengetuknya lagi dengan sedikit kencang. "Masuk"Teriak Alena dari dalam. Jason membuka knop pintu itu dan menemukan Alena tengah duduk diam sambil memeluk bantalnya. Jason mendekati Alena dan duduk di pinggiran ranjang, "Hei, ada masalah apa?"Tanya Jason. Alena menghela nafas sambil menatap kakaknya, "Tidak ada kak.. Hanya saja.. aku merasa bersalah"Ucap Alena sambil mempererat pelukannya pada bantalnya. "Kenapa? Kau merasa bersalah dengan siapa?"Tanya Jason lagi. Alena kembali menghela nafas lalu menatapi Jason dengan lekat. "Sebenarnya semalam Valeri bercerita denganku kalau dia.."Ucap Alena terpotong. Ia menghela nafasnya panjang, haruskah ia menceritakan hal ini pada kakaknya? "Lanjutkanlah, Alena"Ucap Jason sambil mengelus tangan Alena. Alena mengangguk, "Valeri bercerita bahwa ia rasa ia mulai menyukaimu kak. Ia mulai senang dengan segala kegiatannya bersamamu. Aku terkejut tentu saja. Aku bahkan tak tahu kau sedekat itu dengannya sampai kau membawanya tinggal ke mansionmu." Alena mengigit bibir bawahnya dan menatap Jason dengan tatapan sedih, "Aku bilang pada Valeri kalau aku senang kalau dia menyukaimu, dan aku berharap kakak akan menyukai Valeri juga. Namun tiba-tiba aku teringat kalau kakak akan segera bertunangan dengan Sanna. Jadi aku memberitahu Valeri tentang hal itu dan dia tampak sangat shock. Aku menyesal kemudian karena memberitahunya, aku merasa bersalah." Jason tersenyum lalu mengelus kepala Alena, "Tak apa, Valeri sudah tak apa-apa. Aku juga sudah mengetahui kalau dia menyukaiku"Ucap Jason pelan. Alena terkejut, "Bagaimana kau tahu? Apa Valeri mengungkapkan perasaannya?" Jason menggeleng, "Tentu saja tidak. Gadis itu terlalu polos sampai ia tak bisa menyembunyikan perasaannya sendiri" "Benar, Valeri itu gampang dibaca. Lalu kak, bagaimana pendapatmu soal Valeri?" Jason menghela nafas, "Aku juga menyukai Valeri meski aku belum terlalu yakin sih. Tapi yang pasti untuk sekarang aku belum mau menjalin hubungan lebih dengannya. aku tak mau Sanna berbuat macam-macam pada Valeri. dan lagi aku harus memikirkan bagaimana caranya untuk membatalkan pertunangan dengan Sanna tanpa aku yang memintanya untuk dibatalkan"Ucap Jason panjang lebar. Alena tersenyum, "Aku senang kau juga menyukai Valeri. Dan juga kak, aku akan meminta teman-teman ku yang berada di London untuk membantu. Mereka sangat menyukai pekerjaan semacam detektif seperti itu. Dan kerjaan mereka bagus" Jason mengangguk sambil berterimakasih pada adiknya yang mau membantunya. Setelah bercerita cukup lama, akhirnya Jason keluar dari kamar Alena. Ia senang karena adiknya mau mendukung perasaannya untuk Valeri. ***        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN