Still waiting for the man
that would do anything
to be my everything❤
-Valeri Valentine Darron-
****
Hari ini adalah hari kedua Jason berada di rumah orang tuanya. Dan Jason merasa bosan sekali! Ia ingin cepat-cepat pulang ke mansion dan bertemu Valeri.
"Jason, sedang apa?"Tanya Cristabelle yang baru saja masuk ke dalam kamar Jason. Jason mengalihkan pandangannya dan mendapati Mommynya yang terlihat cantik dengan dress simpel yang membungkus tubuhnya sempurna.
"Aku hanya sedang bosan Mom, tak ada yang bisa ku lakukan selain bekerja."Ucap Jason sambil memandangi Cristabelle lekat. Mommynya tampak tidak pernah berubah meski umurnya sudah menginjak angka 50an.
Cristabelle tersenyum sumringah mendengar hal itu, "Bagus kalau begitu! Kamu temani mama ke mall ya? Mama mau shopping nih. Seharusnya sama Alena sih tapi Alena sedang ada janji dengan teman-temannya jadinya batal deh."Ucap Cristabelle muram.
Jason mengerjap, "Aku, Mom?"Ucapnya binggung.
Cristabelle mengangguk, "Kenapa? Tak ada salahnya kan?"Ucap Cristabelle polos.
Jason meneguk salivanya, otaknya berpikir keras untuk beberapa saat, "Uhmm.. kenapa tak ajak Bi Weelah aja, Mom"Tawar Jason.
Ia bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika ia ikut Mommynya shopping. Bisa-bisa ia menjadi b***k yang membawakan seluruh belajaan berat itu.
"Bi Weelah? Yang benar saja. Bi Weelah sering sakit kakinya, ia tak mungkin di ajak jalan ke mall"
Mendengar perkataan Mommynya, Jason semakin yakin kalau Mommynya tidak hanya mengajak shopping untuk 1 atau 2 jam. Mungkin Mommynya akan mengajak Jason berkeliling Mall berkali-kali.
"Ahh, tapi Jason sedikit sibuk Mom"Elak Jason lagi.
Cristabelle mendengus, "Kau berani bohong ya sama Mommy, tadi kau sendiri yang bilang kalau kau tak ada kerjaan"Ucap Cristabelle sambil menjewer telinga Jason.
Jason meringis pelan lalu ia terpikir mengenai Valeri. Mengapa ia tak mengajak Valeri saja untuk menemani Mommynya belanja? Bukankah itu adalah ide yang bagus? Selain ia bisa bertemu gadis itu, Valeri juga bisa mengajak Mommynya ngobrol tentang hal-hal yang Jason tak mengerti.
"Ahh, ampuni aku Mom"Ucap Jason kembali berteriak ketika Mommynya mempekeras jeweran di telinganya.
Dan setelah berkali-kali Jason mengaku salah, Cristabelle baru melepaskan jeweran itu. Jason mendengus lalu mengusap telinganya yang sangat merah itu.
"Uh baiklah aku akan menemani mu Mom, tapi boleh tidak aku ajak sekertarisku?"Tanya Jason.
Cristabelle mengernyit, "Ngapain ajak sekertarismu? Apa ia sedang tak sibuk?"Tanya Cristabelle binggung.
Jason menggeleng, "Aku yakin ia sudah menyelesaikan pekerjaanya, ia adalah pekerja teladan Mom"Puji Jason.
"Benarkah? Sepertinya orangnya asik. Boleh juga di ajak shopping bareng."Ucap Cristabelle sambil tersenyum. Ia suka berbelanja dengan orang lain, namun tampaknya calon menantunya, Sanna memiliki selera yang berbeda dari Cristabelle sendiri. Jadi Cristabelle tak pernah lagi mengajak Sanna shopping bersama.
"Okay, akan ku telepon dia"Ucap Jason sambil tersenyum lebar.
***
Valeri saat ini tengah melakukan Yoga di kamarnya.
Ia berjanji pada diri sendiri untuk sering berolaraga. Setidaknya ia akan berusaha untuk memperbaiki dirinya, meski ia tahu kalau tubuh Sanna jauh lebih bagus.
Valeri menghela nafas pelan. Matanya sudah tak lagi bengkak berkat tips yang dapatkan dari internet. Dan lagi hatinya entah kenapa tak lagi sakit ketika mengingkat Jason akan bertunangan sebentar lagi. Apa itu karena Bossnya itu memberi harapan pada Valeri sehingga Valeri tidak merasa begitu sedih lagi?
"Ah entahlah"Gerutu Valeri kesal.
Tapi tetap saja ia tidak bisa berhenti memikirkannya. Alasan mengapa Jason tidak membatalkan pertunangannya.
Mengapa ia membicarakan hal seperti memikirkan Valeri dan membuat Valeri baper seharian kalau ia sendiri tak mau membatalkan pertunangannya?
Handphone Valeri yang berada tepat di samping karpet berbunyi. Valeri terkejut, ia menghentikan kegiatan yoganya dan mengambil handphone itu.
Ia tersenyum senang ketika melihat nama Jason yang meneleponnya.
"Halo?"Ucap Valeri pelan. Ia berbicara pelan bukan karena suaranya masih serak, melainkan ia berusaha bersuara seanggun mungkin. Karena bagaimanapun buruknya sikap Sanna, wanita itu selalu bersikap elegant dan angun, membuat Valeri iri setengah mati.
"Ada apa dengan suaramu?"Tanya Jason binggung.
Valeri terkejut, apa perubahan suaranya terlalu jelas?
"Ah, kenapa dengan suaraku?"Ucap Valeri lagi dengan nada yang sama seperti sebelumnya.
"Suaramu mirip seperti suara anjing yang kepalanya terjepit di pagar"Canda Jason yang membuat Valeri emosi seketika.
"APA? MIRIP SUARA ANJING?"Ucap Valeri kesal. Masa iya dia disamakan dengan anjing?Sialan bossnya ini.
Jason terkekeh kecil mendengar suara Valeri yang sudah kembali seperti awal, tampaknya gadis itu sangat kesal, "Tidak kok, aku hanya bercanda. Suaramu itu mirip alunan piano yang sangat merdu di telingaku"
"apa sih Boss"Balas Valeri malu. Apa-apaan ini? Valeri merasa di permainkan. Bagaimana bisa Jason mempermainkan moodnya. Lelaki itu membuatnya kesal sesaat lalu membuatnya senang di detik kemudian.
"Kau pasti malu kaann"Goda Jason di sebrang sana. Valeri merasa pipinya panas mendengar perkataan Jason. Apa lagi sebelumnya Jason tak pernah menggodanya seperti itu.
"Tidak Boss, apaan sih."Jawab Valeri cepat. Gadis itu mengipasi pipinya yang sangat panas, "Kenapa menghubungiku?"Tanya Valeri mengalihkan pembicaraan.
Jason terkekeh menyadari Valeri yang mengalihkan topik. Lalu Jason menjelaskan niatnya untuk mengajak Valeri shopping bersama Mommynya.
"A-aku?"Tanya Valeri tak percaya. Mengapa Mommynya Jason mengajaknya untuk shopping dibandingkan mengajak Sanna yang notabene adalah calon menantunya.
"Iya, kamu. Kenapa? Aku yang menyarankannya dan Mom sudah setuju. Jadi kau ikut ya, berdandanlah yang cantik!"Perintah Jason.
Valeri mengernyit, "Mengapa aku harus berdandan?"
"Tentu saja kau harus berdandan agar tampil cantik didepan Ibuku. Siapa tahu dia akan berubah pikiran dan mengambilmu sebagai menantunya."Canda Jason lagi yang membuat Valeri berteriak malu
"Ahaha, baiklah-baiklah, nanti temui aku di Sun Mall ya. Kalau sampai hubungi saja, oke?"
"O-oke"Ucap Valeri sebelum sambungan telepon itu terputus.
**