Matahari mulai menghangatkan bumi kembali,jalanan juga sudah mulai terlihat hilir - mudik dengan berbagai kendaraan yang berlalu lalang memulai aktivitasnya seperti biasa.
Anak sekolah menuju ke -sekolah,karyawan menuju ke kantor serta masih banyak lagi kegiatan Senin pagi mereka setelah menikmati hari libur Minggu.
Nanda yang masih asik bergelung di kasur,mimpi indahnya terganggu ketika panggilan dari Afila berulangkali masuk ke gendang telinga.
“ Abang bangun,kamu enggak kerja?” kata Afila dari sebelah tempat tidur.
“ Lima menit lagi,abang masih ngantuk nih.” Nanda menarik selimutnya kembali.
“ Udah jam 7.30 abang,salah siapa coba tadi malam ikut ngumpul di pos ronda,udah tau ini hari Senin.”
Mendengar jawaban istrinya yang sudah menjauh dari kamar,Nanda bangun dan melihat jam.
Ia langsung menuju ke kamar mandi,membersihkan tubuh seadanya dan segera memakai setelan baju kerja yang sudah di siapkan Afila,buru-buru memasukkan handphonenya ke dalam tas.
Ia keluar kamar dan mengecup singkat kening istrinya,ia hanya menatap lama pada Nanda yang tengah sarapan dengan terburu-buru,bukan berarti Nanda bekerja di perusahaannya sendiri membuat ia terbebas dari masalah kedisiplinan.
Afila sendiri bahkan mengakui Nanda sangat memperhatikan waktu ketika di kantor.
Di usianya yang baru 22 tahun,Nanda sudah harus membiasakan dirinya di dunia bisnis,namun bagi Nanda bukan hal yang buruk juga ikut berkecimpung di perusahaan miliknya sekarang.
Di tengah-tengah menikmati sarapan,handphone Nanda berdering panggilan masuk.
“ Enggak tahu buru-buru apa,” Nanda kesal sambil membuka tas untuk mengambil handphone milik.
Nama Dio,sekretaris pribadinya muncul di layar handphone Nanda.Begitu gesit Nanda menggeserkan panggilan ke kanan dan terdengar suara sekretarisnya.
“ Hallo Di kenapa? saya lagi siap-siap berangkat,Lima belas menit lagi nyampe.”
“ Saya aja yang gantiin nemenin Nesya,”
“ Ia tidak masalah,”
Nanda meletakkan kembali handphonenya,ia mengalihkan tatapannya pada Afila yang tengah kesal.
Senyum Nanda muncul menghias bibir dan berulangkali mengusap kepala Afila yang di sebelah.
Perempuan itu menghentakkan kakinya kesal setelah Nanda menyelesaikan panggilan dari sekretarisnya.
“ Ada yang harus abang urus bareng Nesya,Afila izinin abang kan?”
" Abang pun yang nawarin diri,”
“ Sudah ada janji akan bertemu dengan Client sayang,enggak mungkin abang batalin kan.”
“ Iya.” Jawab Afila singkat.
Afila melipatkan tangan ke d**a tanpa memperdulikan Nanda yang tengah bersiap-siap ke kantor,mengomel sendiri namun tidak terdengar oleh Nanda yang sedang memasang sepatu di sebelahnya.
Pagi ini entah mengapa hatinya sensitive dan tidak berada dalam mood yang baik.
“ Abang berangkat dulu ya,kamu hati-hati di rumah.jangan kelelahan juga,ada apa-apa hubungi abang ya.” Pesan Nanda setelah menyelesaikan semua persiapannya.
Afila mengangguk dan ikut menemani Nanda menuju ke halaman rumah.
“ Love you,”
Afila hanya menatap malas,langsung menutup pintu rumah.Senyum Nanda mengembang melihat itu,ia langsung masuk kedalam mobil.
LYMS
Nanda sibuk menceritakan kejadian tadi pagi dirumah kepada Nesya sembari menunggu Client mereka datang.
“ Kesel sebenernya kalau digituin,tapi mau gimana dia gampang cemburu banget sih jadi bingung saya,” segelas capucino panas sudah di hadapan Nanda dan Nesya, perlahan - lahan Nanda menikmati minuman yang di pesannya.
“ Wajar aja Afila kaya gitu,gimanapun aku juga kadang sebel sama Adit kalau bahas Afila,wanita gampang cemburu karena masalalu.” Nesya menuangkan capucino panas untuk Nanda.
“ Iya bener sih,”
“ Aku tau gimana perasaannya Afila,apalagi kita berduaan gini dan pastinya juga kita pernah saling dekat dulunya.” Nesya tertawa pelan,meneguk minuman yang sama dengan Nanda.
“ Ke kamu dia bisa ngerti,tapi pagi ini mungkin moodnya lagi enggak baik.Apalagi sejak aku jadi calon lurah,dia kesel banget sama aku sampe sekarang enggak sembuh - sembuh.” Timpal Nanda mulai fokus ke layar laptop.
“ Kamu lurah? dimana? kok enggak ada cerita-cerita sih,”
“ Masih calon belum jadi lurah,di kompleks perumahan aku sih.”
Perbincangan mereka terhenti ketika Client yang mereka nanti - nanti telah tiba.
Afila : Huhu,asik bener ya meetingnya di temenin.
Pesan yang di kirim oleh istrinya hanya di balas senyuman oleh Nanda,ia simpan kembali handphonenya di saku Jas.
“ Maaf sudah membuat kalian menunggu lama,tadi sudah berusaha agar tidak telat sih cuma jalanan memang macet panjang. “Permohonan maaf Clientnya kepada Nanda dan Nesya.
“ Tidak masalah pak,kita juga belum lama kok di sini,silahkan duduk.” Nanda mempersilahkan Clientnya yang masih berdiri.
“ Terimakasih banyak pak Nanda,”
“ Mau pesen apa pak?” ujar Nesya menyerahkan daftar menu.
“ Enggak usah bu Nesya,saya sudah minum juga di kantor tadi.” Lelaki itu menolak.
“ Kalau begitu langsung saja kita mulai Meetingnya ya pak,"
“ Baik pak Nanda,saya yakin kita bisa melakukan kerjasama dengan baik,untuk ibu Neysa saya tidak memaksa ikut bersama kita di perjalanan bisnis kali ini,saya akan mengajak pak Nanda untuk keluarkota beberapa hari dan ikut langsung terjun pada proyek yang akan di mulai awal bulan ini.“ Jelas Rayhan sebagai Client.
“ Untuk perjalanan bisnis saya tidak bisa ikut,saya sedang hamil muda.Suami sudah pasti tidak mengizinkan,“ sahut Nesya.
“ Kita mengerti dengan keadaan ibu Nesya,maka dari itu saya sampaikan lebihawal.Jikapun tidak bisa,saya dengan pak Nanda bisa menyelesaikannya proyek ini,besok kita sudah bisa langsung menuju ke lokasi ya pak Nanda?" Ujar Rayhan pada Nanda.
Lelaki itu nasih terdiam,bingung dengan kabar yang baru ia ketahui,ternyata wanita yang sedang bersamanya tengah hamil muda.
" Gimana pak Nanda?" Rayhan menyadarkan kembali.
“ Bisa pak,kabari besok berangkat jam berapa ya." Nanda tersadar dari lamunannya.
“Baik pak,kalau begitu cukup di sini Meetingnya,saya harus kembali ke kantor,ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.”Pamit Rayhan pada Dua rekannya,Nanda dan Nesya mengangguk,mempersilahkan.
-Love You My Senior-
Nanda duduk di ruang keluarga bersama kedua orangtua dan juga adik perempuannya,senyuman manis dari Derby membuat Nanda merindu pada sosok yang di rumah,sosok yang memiliki senyuman sama persis,dia Afila.
“ Apa kabar Afila Nan?” tanya Adly yang sedang menikmati siaran bola kaki di layar TV.
“ Baik pa,kenapa memangnya?” Nanda ikut menikmati siaran bola bersama Adly.
“ Ya enggak ada apa-apa,cuma rindu aja.Kamu enggak ada bawa dia kesini sih,”
“ Besok Nanda bawa Afila kesini,tapi setelah Nanda pulang dari keluarkota ya,” jawab Nanda patuh.
“ Ada kerjaan ya Nan keluarkota?” sambung Isna setelah mendengar ucapan anaknya.
“ Iya ma,”
“ Terus Afila sendirian di rumah dong kalau kamu keluarkota?”
Hanya anggukan yang Nanda berikan pada Isna.
” Ada apa-apa bilang ke Afila supaya kabari mama di sini ya,kamu juga jangan sibuk dengan kerjaan Nan,kasihan Afila di tinggal terus kayak gitu.”
“ Maunya gitu ma,tapi harus gimana lagi,kerjaan kantor banyak banget sih.Bahkan Nanda juga di calonin lurah di kompleks.”
“ Iya Nan?” tanya Adly antusias,bahkan tawanya terdengar.
“ Enggak perlulah Nan menyibukkan diri dengan banyak pekerjaan,urusi perusahaan baik-baik aja,Afila itu butuh kasih sayang dari kamu,belum lagi kalau kamu sering keluarkota.Jangan terlalu egois lah," kata Isna menatap lama Nanda,ia terlihat keberatan mendengar kabar yang di sampaikan Nanda barusan.
“ Bukan Nanda yang mau ma,tapi di calonin.Afila juga enggak keberatan,”
“ Ya seharusnya kamu menolak,gimanapun dia bisa menyembunyikan dari kamu dia tidak bisa menyembunyikan dari mama.Waktu kamu akan habis hanya dengan kegiatan di luar,lalu kapan mau beri Afila buah hati?”
Kali ini Nanda yang terdiam,tidak membalas ucapan Isna.
Afila : Abang kok jam segini belum pulang,masih sibuk ya?
Pesan masuk dari Afila membuat Nanda langsung melihat jarum jam di dinding ruang tamu,angka yang sudah menunjukkan cukup larut malam.
Buru-buru ia pamit untuk pulang,adik perempuannya sudah terlelap di sofa ruang tamu.
“ Hati-hati kamu bawa mobilnya ya,salam sama Afila.” Pesan Isna.
Nanda mengangguk,” ia ma,Nanda balik ya. ”
“ Kabari papa kalau sudah sampai rumah Nan,” sambung Adly pada anak dan juga menantunya.
“ Ia.” Jawab Nanda singkat dan langsung meninggalkan rumah milik orangtuanya.
Setiba di rumah,suasana sepi yang ia dapatkan.Lampu rumah sudah di matikan.
“ Afila sakit?” Tanya Nanda meletakkankan tangan di kening istrinya,ia kaget karena suhu tubuh Afila panas.
Nanda langsung turun dan menyambar kunci mobil buru-buru sekalipun ia baru saja sampai di rumah.
Setelah menemukan Apotik terbuka 24 jam,Nanda segera membeli obat penurun panas untuk Afila.
Tidak butuh waktu lama,Nanda sudah kembali ke rumah.
“ Afila minum obat dulu ya,kok nggak ngabarin abang kalau kamu sakit,” omel Nanda sambil membantu Afila bangun.
“ Cuma kelelahan nungguin abang Toyib pulang,” sahut Afila mengambil obat yang berada di tangan Nanda.
“ Abang serius,kenapa kamu malah bercanda.” Nanda sedikit kesal akan ucapan istrinya.
tawa pelan dari Afila terdengar,ia memilih berbaring kembali setelah meminum obat.
Afila sudah terlelap lagi,bahkan tubuhnya pun mulai berkeringat tanda reaksi obat yang di minum nya merespon dengan baik.
Begitu juga Nanda,ia turut terlelap sambil menemani Afila.
Dengkuran halus Nanda terasa di lengan Afila yang terbuka,Nanda tidur menghadapnya,hingga ia bisa melihat sosok suaminya dengan jelas.
“ Abang memang ganteng,enggak perlu Afila omongin juga udah tau kok” Ujar Nanda masih dengan mata terpejam.
Afila tersenyum mengejek.
“ Gimana keadaan Afila,udah enakan?” Nanda menyentuh kening Afila,memastikan suhu tubuh istrinya.
“ Udah,kelelahan biasa aja sih.Enggak tau kenapa akhir-akhir gampang ngerasa gitu.”
“ Abang hari ini enggak kerja dulu deh,ngerawat kamu aja di rumah.”
“Afila udah enakan kok,abang nggak perlu khawatir ya.”
“ Kalau begitu abang izin untuk pergi beberapa hari keluarkota,kamu abang tinggal di rumah sendiri enggak apa-apa?”
“ Kenapa enggak sekalian pindah dari sini aja sih,” jawaban Afila menyiratkan kekecewaan lagi.
“ Tapi ini rumah abang dengan istri tersayang,juga nanti untuk anak-anak abang.Gimana dong?”
“ Abang selalu aja ninggalin aafila sendiri di rumah,enggak siang enggak malem sama aja.Abang nggak betah ya dirumah ini?” Afila memukul lengan Nanda begitu kesal.
“ Bukan itu maksud abang,Afila kan tahu abang ada tanggungjawab untuk perusahaan.Kalau perusahaannya nggak abang urusin,gimana abang mau nafkahi kamu dan anak-anak abang nanti.”
Afila terdiam akan ucapan Nanda barusan,benar apa yang di ucap kan suaminya itu.
” Abang hanya melakukan yang terbaik untuk kehidupan kita,sayang.” Sambung Nanda bersungguh-sungguh.
“ Berapa hari?”
“ Tiga hari,Afila bisa nginep di rumah mama kalau memang enggak mau sendirian di rumah.”
“ Oh.”
“ Cuma itu?” Tanya Nanda heran.
“ Iya - iya di izinin,” Jawabnya,ia mengambil remote TV dan menyalakan acara kesukaannya.Nanda terkekeh,mengeratkan pelukan pada pinggang ramping Afila.