Karma

858 Kata
" Bagaimana kondisi Afila?" " Untuk sekarang hanya butuh istirahat yang maksimal agar kesehatannya cepat membaik.Kamu bantu dia sebagai suami untuk sedikit bercerita apa masalah yang sedang di rasakan," Nanda tersenyum salah tingkah.Ia tidak membantah bahwa dirinya salah karena perbuatannya tidak memperhatikan kesehatan sang istri. Beberapa hari belakangan ia sedang ada perjalanan bisnis keluar kota,pagi tadi ia langsung kembali ketika di kabari istrinya masuk rumahsakit. Selama Sepuluh menit mereka berbincang,Nanda sudah di perbolehkan menemui Afila di ruangan. Ia menghela nafas melihat wajah Afila terlelap,menyambut dirinya.Nanda mendekat dan duduk di kursi sebelah Afila,tangannya bergerak mengusap kening Afila yang terluka karena terbentur meja kamar. " Semua ini karena salah abang,maaf." Ujar Nanda nyaris berbisik. Lelaki itu tersenyum hambar menyadari dirinya tidak pantas di panggil suami dari perempuan yang terlelap ini.Bahkan Afila terlihat lebih kurus sebelum ia meninggalkannya sendiri. Tangan Nanda menyusuri jemari Afila dan menautkannya." Abang berjanji akan membahagiakan kamu Afila." Hening,tidak ada suara yang terdengar.Hanya deru nafas Afila dan sesekali Nanda menghela nafas berat ketika menatap wajah Afila yang pucat. " Mama.." Panggil Afila pelan,ia meraba tangan orang yang di sebelahnya. " Afila," wajah itu tersenyum," ini abang,Kamu menginginkan apa?" Beberapa saat Afila terdiam,menatap wajah Nanda terlihat kecewa.Ia mengalihkan wajahnya pada jendela kaca ruangan dimana dirinya di rawat." Mama mana? " " Mama kan tidak berada di sini,Afila rindu mama?" Afila diam tanpa menjawab,ia lebih memilih menikmati dinginnya ruangan yang ia tempati sekarang. " Kamu menyembunyikan sesuatu dari abang," Nanda membenarkan selimut Afila. " Hanya ingin," namun kalimat itu belum Afila selesaikan ketika Dokter masuk keruangan. " Maaf menganggu,syukurlah kamu sudah pulih Afila,jangan terlalu banyak fikiran seperti ini.Kamu tertekan dan tidak baik untuk kesehatan,apalagi kamu baru menikah dan sudah pasti menginginkan kehadiran buah hati,kalau keadaan kamu sering seperti ini susah untuk memiliki anak." Afila tersenyum canggung tanpa memperdulikan wajah Nanda yang berubah salah tingkah. " Saya denger Afila adik kelasnya kamu ya Nan?mengingatkan kisah cinta dengan mantan pacar saya.Cantikan istri kamu sih,bahkan kamu kurang tampan untuk jadi suaminya dia," canda Akbar setelah selesai memeriksa Afila,istri sahabatnya. " Dari pada kamu,tampan tapi enggak juga laku - laku,jelek begini aku sudah beristri tau." Nanda memukul perut Akbar, dokter yang menangani Afila. " Tetapi istri kamu tipe wanita yang menerima apa adanya lho,buktinya dia enggak menolak menikah dengan kamu lagi,apalagi tipe lelaki yang biasa-biasa saja," ejek Akbar." Aku harap kalian bahagia." Afila berdehem,suasana yang sangat tidak ia inginkan. " Dok,saya kapan bisa pulang?" " Sudah bisa pulang sekarang Fil,tetapi kalau rasanya belum pulih di rawat dululah ya di sini." " Saya sudah pulih kok." Jawab Afila tersenyum manis. " Oh baiklah,nanti Nanda saja yang urus administrasinya ya,jangan lupa minum obat dengan teratur Fil.Kalau begitu silahkan istirahat kembali,saya juga ada pasien yang harus di kunjungi." " Terimakasih Dok," " Saya berharap kamu cepat sembuh,Nan jaga istri kamu baik-baik tuh," Akbar tersenyum,meninggalkan ruangan di mana Afila dan Nanda berada. " Afila yakin sudah baikan?" " Hanya butuh istirahat." " Ya sudah,abang kabari mama dulu ya supaya ada yang bisa nemenin di rumah." Afila menatap wajah Nanda yang sedang sibuk dengan handphone di tangan. " Abang." Panggil Afila. " Iya sayang," balas Nanda." Ada apa?" " Maaf,Afila terus menyusahkan abang." Ia menatap Nanda dengan bersalah. Nanda mengumpulkan oksigen agar masuk sempurna pada paru-parunya,hatinya terasa sesak tiba-tiba karena sikap Afila yang tidak biasa. " Abang enggak suka mendengar ucapan seperti itu,ini tanggung jawab Abang.Afila ada masalah apa sebenarnya?" " Kenapa memangnya?" Nanda tersenyum canggung," sekarang jujur,mengapa Afila sembunyikan semua ini dari abang?" " Menyembunyikan apa?" Afila mengerutkan keningnya. " Masalah yang sekarang Afila rasakan,abang hanya ingin kamu baik-baik saja." "Tidak perlu perduli dengan Afila segininya juga," Nanda menatap Afila semakin tidak mengerti dengan apa yang baru di dengar. " Kenapa tidak? abang kan suami Afila dan berhak atas kebahagiaan kamu." Afila memejamkan mata,mengatur nafasnya guna mengendalikan rasa sesak agar tidak berujung tangis kembali.Tubuhnya tiba-tiba mendadak dingin. " Abang melukai perasaan kamu ya?" tanya Nanda khawatir. " Sudahlah,Afila hanya enggak ingin menyesali pernikahan ini.Abang tidak perlu berperan lebih untuk terlihat menjadi suami yang hebat di mata papa dan mama,keluarga besar dan juga Afila." " Kita tidak melakukan sesuatu hal yang salah,abang melakukan ini tidak berperan dan sebagainya,abang tulus menjalani semuanya kembali." " Tapi Afila lelah dengan semuanya,berada di hidup abang saja Afila sudah malas." Ucapan Afila berhasil membuat nanda berhasil tak percaya " Ada apa?" " Oh ia Nan,istri kamu positif hamil,saya ucapkan selamat untuk kalian,kamu bakal jadi Daddy." Suara Akbar terdengar kembali di ruangan setelah beberapa waktu lelaki itu pamit."Maaf,mau beri Afila vitamin.Tadi kelupaan," " Terimakasih Dok," kata Afila tersenyum. Akbar mengangguk dan meninggalkan ruangan kembali. " Sayang kok nggak ngabarin ke abang tentang kehamilan ini?" Nanda menatap heran dan juga bahagia pada istrinya,bahkan sikap istrinya sekarang sudah berubah. Yang biasanya perhatian bahkan sangat menyayanginya, kini tidak lagi seperti itu di rasakan. " Cukup Afila yang tau,udah deh mau istirahat." Jawab Afila menarik selimut dari tangan Nanda. hanya tatapan tidak mengerti dari lelaki itu setelah istrinya melelapkan diri. " Nak,apa harus sampai mama kamu mengabaikan papa seperti ini,apa ini karma yang harus papa rasakan? sekarang kamu ingin papa merasakan juga ya kesakitan mama kamu?" Nanda mengecup kening Afila yang sudah terlelap tanpa butuh waktu yang lama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN