___ Perihal hati,siapapun tidak ada yang tahu harus seperti apa dan bagaimana.Kalau masih suka dan mencoba untuk bertahan,ia tahu akan terluka namun hanya secuil perhatian saja bisa membuat kamu lupa.Perpisahan ini adalah cara Tuhan mengatakan bahwa kita bukan ' jodoh ' untuk saling membersamai ____ Nesya
LYMS
Afila menatap malas pada Nanda,walau sebenarnya ia ingin tertawa.
Nanda terlihat kesulitan turun dari pohon Mangga yang berada di depan rumah," Afila bilangin dong sama anak kita,jangan gini - gini banget kalau mau sesuatu."
" Berarti abang bukan papanya,"
" Eits,abang tetap papanya dong,mana bisa orang lain jelas-jelas suami kamu kan abang."
" Ya abis baru gitu aja udah ngeluh,gimana coba kalau lebih dari ini?"
" Ini bukan keluhan sayang tapi permintaan abang ke anak kita,mana tahu anak abang bisa luluh hatinya kalau mamanya yang nasehatin.Ya kan?"
Tanpa mengucapkan terimakasih setelah menerima Satu plastik buah keinginannya,Afila masuk ke rumah di susul oleh Nanda yang menahan rasa kesal.Sikap istrinya jauh berbeda sebelum hamil seperti saat ini.Untuk sekarang ia harus lebih Extra menahan hati dan melatih kesabaran.Jangan jangan ia salah bicara atau bersikap,bisa - bisa pintu rumah akan di kunci hingga seminggu,membiarkan ia tidur di luar.
" Abang sudah ngundurin diri jadi calon lurah lho,"
Anggukan yang Afila berikan,ia lebih menikmati Mangga muda daripada menciptakan perbincangan bersama Nanda.
" Gitu aja?"
Afila melirik sinis," ya bagus dong."
" Cuma gitu jawabnya?" tanya Nanda lagi terheran - heran.
" Kan selalu aja salah,lebih baik diam aja dong tadi."
" Bukan gitu maksud Abang,masa gitu aja udah ngambek,sayang kok sensitive banget ya sekarang?"Nanda memeluk Afila di sebelah,namun tangannya di tepis pelan.
" Keringat abang bau,"
" Eh masa sih? abang baru mau berangkat ke kantor dan udah pakai parfum kok,masa ia bau?" Nanda menciumi bajunya yang di kenakan,ia akui tubuhnya memang harum dan hanya Afila yang mengatakan tidak.
" Iya bau harum,tapi Afila nggak suka,jangan deket - deket ya kalau udah make parfum.Afila tuh mual,sebagian parfum abang yang di kamar juga udah Afila sumbangin ke tetangga."
Nanda yang tengah menikmati siaran TV di ruang tamu terlihat kaget.
" Lho? tapi itu parfum abang yang paling mahal sayang." Suara Nanda terdengar putus-asa.
" Ya udah Afila yang akan keluar rumah kalau abang lebih sayang sama parfumnya."
Nanda mengusap wajahnya yang terlihat kecewa," abang nggak akan pakai parfum lagi,tapi kamu di sini sama abang ya."
Afila mengangguk dan membaringkan tubuhnya di pangkuan Nanda,tak butuh waktu lama ia sudah terlelap kembali.Padahal jam baru saja menunjukkan angka 07.30 pagi hari.
Tersenyum bahagia Nanda menyelimuti Afila yang sudah terlelap,bagaimanapun jika wanitanya ini sudah terlelap,ia sedikit terbebas dengan keinginan dari buah hatinya yang masih bersemayam di rahim istrinya itu.
Nanda bangun dari duduknya dan langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi,setidaknya jika ia sudah berangkat ke kantor maka istrinya tidak bersusah payah memesan makanan luar.
" Kalau bukan karena abang cinta,sekarang udah nyerah sayang." Nanda mengambil kotak parfum yang dua hari lalu di belinya di Singapore,namun sudah jatuh ke tangan orang lain.
LYMS
" Abang berangkat ngantor ya," pamit Nanda pada Afila yang terbaring lemas seperti biasa, matanya sedang menikmati siaran TV." Jangan tidur di ruang tamu,ke kamar aja sana."
" Ih abang,awas deh orang mau nonton juga,ribet banget lho." Afila mendorong kaki Nanda agar pindah posisi dan tidak menganggu penglihatannya.
" Ada apa-apa nanti telvon abang ya,"
" Iya." Jawab Afila singkat.
" Mau di temeni mama nggak?" tanya Nanda kembali.
" Enggak usah."
" Oh ya udah,abang berangkat nih,jangan tiduran terus ya sayang.Di bawa jalan-jalan depan kompleks sini juga enggak apa - apa."
Afila menatap sebal pada Nanda yang selalu mengatakan hal yang sama setiap pagi.Bahkan mengalahkan mamanya jika berkaitan tentang kesehatan,lelaki itu pagi-pagi sudah membangunkan untuk mengajaknya olahraga.
" Abang seperti ini karena sayang sama kamu," Nanda mengecup kening Afila,tersenyum manis seperti biasanya.
Tanpa menjawab Afila langsung bergelung dengan selimut kembali.
Nanda hanya menghela nafas dalam dan langsung menuju ke mobil.
Setelah Lelaki itu tidak terlihat lagi dan pintu rumah tertutup rapat,Afila bangun dan mengintip ke luar dimana mobil Nanda mulai meninggalkan halaman rumah.
" Abang masih sama,"Tawanya terdengar setelah mengingat hal-hal manis selama ia mengenal Nanda.
Sejak hamil muda Afila memang sulit untuk beraktivitas,tubuhnya selalu mendambakan tempat tidur dan rasa malas menjadi sahabat setianya.
Maka dari itu,setiap hari ia selalu mendengar ocehan Nanda jika sudah kembali dari kantor.Bahkan mungkin lelaki itu lelah jika tiap hari yang di hadapi hanya dirinya saja.
Suka tidur,malas mandi dan juga gampang ngambek! Plus menginginkan sesuatu yang di luar fikiran.
Pagi tadi ia sengaja membangunkan Nanda yang baru saja melelapkan tubuhnya kembali untuk mengambilkan mangga muda di depan rumah.
Begitu juga malam,Nanda harus rela tidur di dinginnya lantai karena ia hanya ingin tidur sendiri dan tidak di temani oleh siapapun.
Namun lelaki itu tetap selalu membuat dirinya merasa di sayang,Aih sayang,ini bukan salah istrimu tapi anak kamu juga.
Nanda langsung menjatuhkan tubuhnya di Sofabed ruangan setelah sampai di kantor,matanya benar-benar mengantuk dan rindu menikmati kasur empuk.Hampir sebulan ia sama sekali tidak mendapatkan semuanya.
" Tumben jam segini tidur?" suara perempuan yang berdiri di depan pintu ruangannya hanya di tatap sekilas oleh Nanda.
" Iya,Afila lagi mabuk-mabuknya hamil muda.Jadi aku sedikit kewalahan."
" Oh hamil juga,selamat ya bentar lagi dia jadi mama dong."
" Kan kamu juga,ada apa Nes?"
" Aku mau ajak kamu makan siang jam istirahat nanti,bisa?"
Nanda menggeleng takut sendiri," maaf Nes,aku nggak bisa,harus menjaga perasaan Afila.Dia sekarang sensitive banget,apalagi tau aku keluar makan sama kamu.Yang ada nanti bakal ada piring terbang buka pintu rumah."
Nesya tertawa mendengar ucapan Nanda,mengangguk." Ya udah kamu istirahat dulu aja,aku mau keluar sebentar." Ia menutup pintu ruangan Nanda kembali dan berlalu menuju pintu keluar.
" Mengapa ya Nan hingga saat ini aku masih mencintai kamu," lirih Nesya menatap perutnya yang sudah terlihat membesar,usia kandungannya sudah memasuki bulan ke Lima.
Sejak awal menikah dengan Adit,memang tidak niat untuk program menunda,hanya ini caranya untuk bisa melupakan segala perasaan hati.Namun ternyata itu sulit karena semua nya masih ingin bertahan di hatinya,sulit untuk menganggap semua baik - baik saja.