RIDWAN Pagi di awal bulan April terasa cukup dingin. Aku bahkan tak bisa menahan diri untuk tidak mendekapnya erat - erat, sampai dia memukul pelan d**a bidangku karena merasa sulit bernafas. Ekpresi kesalnya dengan bibir dimajukan beberapa centi membuatku malah ingin lebih lama mendekapnya, mencium puncak kepalanya menyalurkan perasaanku padanya yang dulu sempat tertahan, karena pemikiran bodohku. "Masss!! Lepasin ah, aku mau masak buat sarapan. Mas gak laper apa?". Rengeknya padaku dengan ekspresi sebalnya. "Nggak tuh. Sebab dengan meluk kamu dan mencium aroma tubuhmu itu sudah bikin mas kenyang. Aaaaa gadis kecilku udah gede sekarang". Aku semakin mempererat dekapanku padanya. "Huuh, mulai deh gombal recehnya keluar. Ok kalau mas nggak mau lepasin, maka aku bakalan pake cara jitu bi

