Hari Minggu yang Membosankan
Matahari pagi merambat masuk melalui celah-celah jendela kamarku yang sudah mulai usang. Catnya mengelupas di beberapa sudut, meninggalkan bekas seperti luka lama yang tak pernah sembuh. Aku membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar yang retak di sana-sini. Hari Minggu. Hari yang seharusnya menjadi waktu istirahat bagi kebanyakan orang, tapi bagiku? Hanya menjadi pengingat betapa membosankannya hidup ini.
Namaku Rika Pandini, 25 tahun. Dua tahun sudah aku menikah dengan laki-laki yang kini terlelap di sampingku dengan dengkuran yang kadang membuatku ingin membanting bantal ke wajahnya. Kami tinggal di Desa Wadas, Karawang, Jawa Barat. Sebuah desa terpencil yang sunyinya hanya dipecah oleh suara ayam berkokok dan sesekali gemuruh truk pengangkut batu yang lewat. Jauh dari hingar-bingar kota yang dulu akrab denganku.
Aku mematung sejenak, mendengar suara ayam tetangga yang berkokok bersahutan. Dulu, sebelum menikah, aku tak pernah membayangkan akan berakhir di tempat seperti ini. Aku Rika! Dulu aku lincah, ceria, selalu bergaul dengan banyak orang. Sekarang? Hidupku hanya berputar di antara rumah, perjalanan ke Cikampek, dan stand promo.
Suamiku, Gambut—entah siapa yang memberi nama itu dan mengapa orang tuanya setuju—adalah kuli pabrik di kawasan industri Cikampek. Setiap hari, dia berangkat pagi buta ketika matahari belum merekah, dan pulang ketika malam sudah benar-benar menyelimuti desa. Gajinya? Cukup untuk makan, tapi tak pernah lebih. Tak cukup untuk membeli mimpi-mimpi kecil yang masih kusimpan dalam hati.
Aku sendiri bekerja sebagai SPG untuk produk Sayap Mas, sebuah merek mie instan yang cukup terkenal. Setiap hari aku berdiri berjam-jam di sebuah supermarket di Cikampek, tersenyum pada setiap orang yang lewat, menawarkan sampel mie rebus dengan senyum merekah meski hati kadang layu. Gajiku lumayan, bahkan bisa dibilang lebih besar dari Gambut. Tapi itu tetap tak cukup untuk mengubah hidup kami.
Kutarik selimut tipis yang sudah mulai pudar warnanya, lalu bangkit perlahan. Kaki telanjangku menyentuh lantai semen yang dingin. Kulihat Gambut masih terlelap dengan posisi menyamping, punggungnya membelakangi aku. Tanpa aku sadari, ada perasaan getir yang menggenang di d**a.
Kenapa aku menikah dengannya?
Ah, pertanyaan itu sering muncul tanpa diundang. Dulu, sebelum menikah, aku pikir cinta cukup untuk melewati segalanya. Masa-masa pacaran yang indah membuatku buta pada kenyataan bahwa cinta tak bisa membayar listrik, tak bisa membeli beras, tak bisa memberikan kehidupan yang layak. Sekarang, setelah dua tahun, aku mulai lelah.
Aku melangkah keluar kamar menuju kamar mandi. Rumah petak kami memang sempit. Hanya ada kamar tidur, ruang tamu sekaligus ruang makan yang menyatu dengan dapur mungil, dan kamar mandi di belakang. Dinding-dindingnya hanya bata ekspos tanpa semen plester, lantainya semen kasar yang kadang berdebu. Di pojok ruang tamu, TV tabung 14 inci yang kami beli dari hasil menabung tiga bulan masih menyala standby, padahal tak ada acara yang ingin kutonton.
Di kamar mandi, air mengalir dari gayung membasahi tubuhku. Aku memejamkan mata, menikmati dinginnya air yang menyentuh kulit. Sejenak, aku bisa melupakan semua beban. Tapi hanya sejenak.
Pikiran tentang hidupku yang begini-begini saja terus berputar. Tentang tetangga-tetangga yang kadang melihatku dengan iba. Tentang ibu-ibu di desa yang bisik-bisik di belakangku karena aku bekerja di kota sementara suamiku hanya kuli pabrik. Tentang masa depan yang tak kunjung jelas.
Kenapa aku tidak bisa hidup seperti orang lain? Hidup yang layak, suami yang mapan, rumah yang bagus, kehidupan yang tenang.
Selesai mandi, aku meraih handuk dan mengeringkan tubuh. Handuk putih yang mulai kusam ini kupakai sejak sebelum menikah. Gambut tak pernah membelikanku handuk baru. Dia bahkan tak pernah membelikanku apa pun selain nasi bungkus sepulang kerja.
Aku melilitkan handuk di tubuhku, masih basah dengan sisa-sisa air yang menetes ke lantai kamar mandi. Lalu aku melangkah ke kamar. Pintu kamar sedikit terbuka, dan tanpa pikir panjang aku mendorongnya masuk.
Sesuatu yang tak terduga menyambutku.
Di atas ranjang, dengan punggung membelakangi pintu, Gambut sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur. Ponsel murahnya berada di tangan. Layarnya menyala terang, dan di layar itu... jelas sekali... tergambar seorang perempuan bugil dengan pose seronok.
Dia sedang c**i.
Darahku langsung mendidih. Bukan cemburu, tapi lebih karena jijik dan marah. Inilah yang dia lakukan di hari liburnya? Bukannya membantu istri, bukannya memperbaiki genteng bocor, bukannya melakukan sesuatu yang berguna, dia malah sibuk dengan hasrat bejatnya sendiri.
"GAMBUT!"
Suaraku meledak memecah kesunyian pagi. Dia tersentak kaget, ponselnya hampir jatuh. Wajahnya pucat pasi saat menoleh dan melihatku berdiri di ambang pintu, hanya berbalut handuk, dengan mata yang memancarkan amarah.
"Ri-Rika... ini, ini bukan apa-apa, gua cuma..." dia tergagap, berusaha menyembunyikan ponselnya.
"Cuma apa? Cuma ngeliatin perempuan bugil? Cuma c**i pagi-pagi? ITU YANG KAMU LAKUKAN DI HARI MINGGU, GAMBUT?"
Aku tidak bisa menahan amarah. Langkahku membawaku mendekati ranjang. Tanpa aku sadari, air mataku sudah mulai menggenang. Bukan karena cemburu, tapi karena sakit hati yang amat sangat.
"Gua kerja dari pagi sampai malem, capek, banting tulang buat kita berdua. Waktu luang dikit, ya gua isi begini. Emang salah?" dia mulai berargumentasi, berusaha membela diri.
"SALAH BANGET! Lo pikir gua nggak tau? Lo bukan cuma sekali ini! Gua sering liat history hp lo! Dan sekarang lo lakuin itu di depan gua, di kamar gua, di ranjang gua!"
"Biarin dong! Itu hak gua sebagai laki-laki!"
"Hak? HAK? Terus hak gua apa? Hak gua jadi istri yang setiap hari nahan malu karena suami gua cuma kuli pabrik dengan gaji pas-pasan? Hak gua jadi perempuan yang nggak pernah dibelikan apa-apa, nggak pernah diajak jalan, nggak pernah dipuji? Hak gua jadi istri yang tidur di ranjang tipis dan makan sayur bening tiap hari?"
Mulutku sudah tidak terkendali. Semua uneg-uneg yang selama ini kupendam meledak keluar seperti gunung berapi.
Gambut berdiri. Matanya memerah. "Oh jadi gitu? Lo malu sama gua? Lo pikir gua nggak tau lo sering compare-compare hidup lo sama tetangga? Lo pikir gua nggak dengar lo ngomong sendiri di teras kadang-kadang?"
"Ya gua malu, GAMBUT! Malu! Orang-orang seumuran lo sudah punya rumah bagus, mobil, bisa ngasih hidup layak ke istri. Lo? Masih ngontrak di kampung, naik motor butut tiap hari, dan sekarang pagi-pagi lo c**i!"
"Kita beda nasib, Rik! Lo pikir gua milih jadi kuli pabrik? Lo pikir gua nggak mau punya hidup enak? Tapi ini yang gua bisa!"
"Makanya cari kerja lain dong! Tingkatin skill! Jangan cuma jadi kuli mulu!"
"Lo pikir semudah itu, Rik? Lo pikir semua orang bisa jadi pegawai kantor kayak suaminya Melan? Pake acara training sana sini? Lo pikir mereka terima orang kayak gua yang cuma lulusan SMK?"
Debat kami berlangsung sengit. Mulut kami sama-sama tajam, saling melukai dengan kata-kata yang mungkin akan kami sesali nanti. Tapi tak ada yang mau mengalah. Seperti biasa, perdebatan kami selalu merembet ke masalah ekonomi. Ujung-ujungnya soal uang, soal pekerjaan, soal masa depan yang suram.
Setengah jam kemudian, aku sudah kehabisan energi. Aku duduk di tepi ranjang dengan handuk masih membalut tubuh. Air mataku jatuh tanpa bisa kubendung. Gambut juga duduk di pojok ruangan dengan kepala tertunduk. Tidak ada pemenang dalam pertengkaran ini. Tidak pernah ada.
"Gua capek, Gambut," bisikku lirih. "Gua capek terus-terusan begini."
Dia tidak menjawab. Hanya diam.
Aku berdiri, melangkah ke lemari, mengambil daster panjang warna hijau army. Tanpa menghiraukan kehadirannya, aku melepas handuk dan memakai daster itu di depan dia. Tak ada lagi rasa malu, tak ada lagi gairah, hanya rasa asing yang makin dalam di antara kami.
Lalu aku keluar kamar. Meninggalkannya sendirian di dalam.
Di teras, aku duduk di kursi bambu tua yang sudah mulai reyot. Kutatap jalanan desa yang sepi. Sesekali ada anak-anak kecil bermain kejar-kejaran, tertawa riang tanpa beban. Aku iri pada mereka. Dulu aku juga seperti itu. Sebelum hidup mengajarkanku tentang pahitnya kenyataan.
Angin berhembus, menggerakkan daun-daun singkong di pekarangan rumah. Aku memeluk lututku, membiarkan pikiran liar mengembara.
Mengapa nasibku begini?
Kenapa aku harus menikah dengan laki-laki yang tak bisa memberikan kehidupan layak?
Apakah ini balasan karena aku dulu terlalu sombong? Terlalu memilih-milih?
Apa yang salah dengan diriku?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala. Aku tak tahu jawabannya. Mungkin tak akan pernah tahu. Mungkin memang beginilah jalan hidup yang harus kutempuh. Tapi berat, Tuhan... ini terlalu berat.
Kutatap cincin kawin di jari manisku. Cincin kuningan sederhana yang dibelikan Gambut di toko emas pinggir jalan. Tak seberapa nilainya, tapi dulu aku begitu bangga memakainya. Sekarang, cincin itu terasa seperti belenggu.
Dari dalam rumah, tak terdengar suara apa pun. Gambut mungkin masih diam di kamar, mungkin juga sudah tertidur lagi. Biarlah. Untuk saat ini, aku butuh waktu sendiri. Butuh udara segar. Butuh mengingat-ingat lagi siapa diriku sebenarnya.
Bukan hanya istri dari seorang kuli pabrik.
Tapi Rika. Perempuan 25 tahun yang dulu punya mimpi.