Bertemu Kembali

1647 Kata
    Di bawah sinar mentari yang cukup hangat di sore itu, seorang pria tengah khusyuk melafalkan doa-doa dari bibirnya di hadapan sebuah makam. Usai mengirim hadiahnya, pria itu terdiam sejenak, memandang batu nisan bertuliskan Rafka Rafanda.     “Om, sekarang, tugasku sudah benar-benar selesai,” ucapnya pelan. “Aku akan datang lagi kapan-kapan.” Kemudian ia bangkit. Saat berbalik, langkahnya terhenti mendapati Alfi—sahabatnya, berdiri di hadapannya. Mereka saling tersenyum.     “Makasih udah doain bokap gue,” ujar Alfi sambil melangkah mendekat.     “Ya. Bukan sesuatu yang sulit dilakukan, kok,” balas Ilham. “Mau ngopi bareng?”     “Boleh. Lo tunggu di mobil aja. Atau kalau mau duluan juga nggak papa. Nanti gue nyusul.”     “Oke, kafe biasa ya.”     Setelah mendapat anggukan dari sahabatnya, Ilham pun melangkah pergi meninggalkan tempat peristirahatan terakhir bagi umat Islam tersebut.     ***     “Gimana kabar Nayya?” tanya Ilham pada Alfi. Kini mereka berada di sebuah kafe tempat mereka biasa bertemu hanya untuk mengobrol ringan. Walau akhir-akhir ini mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.     Alfi tersenyum mengingat betapa rewelnya anak gadisnya itu. “Sangat sehat, dan cerewet. Oh, iya! Dia kemaren mulai belajar jalan loh, tapi masih jatoh-jatoh.” Alfi tertawa kecil. “Lucu banget.”     “Waktu cepet banget berlalu ya, rasanya baru kemaren gue lihat Uri ngelahirin,” imbuh Alfi lagi sambil menerawang.     Ilham ikut senang mendengarnya. Ia tersenyum tipis, membenarkan. Saat kita melalui waktu dengan hal-hal indah dan menyenangkan, waktu akan terasa begitu cepat berlalu.     “Kapan lo nikah?” tanya Alfi yang membuat Ilham hampir menyemburkan minumannya.     “Sssh .... Pertanyaan macam apa itu?” Ilham meringis kemudian kembali meminum espressonya.     “Gue serius, Ham. Lo tuh udah kepala tiga. Selama ini lo sibuk ngurusin hidup gue, ngejalanin semua yang bokap gue suruh. Lo udah berhasil buat gue bahagia,” jeda sebentar. “Bahkan kemaren lo resign cuma buat nemenin gue ke Amerika. Gue ngerasa bersalah selama ini sama lo.”     “Sejak kapan seorang Alfi jadi mellow gini? Lo gak perlu khawatirin gue, oke? Gue punya cara sendiri buat ngejalanin hidup gue.”     “Cih. Songong.” Alfi melipat tangan di depan d**a.     Ilham mengedikkan bahu tak ambil peduli.     “Gimana kerjaan lo sekarang?” tanya Alfi lagi.     “Gue dapet promosi, jadi senior arsitek. Gue juga dapet tawaran kerja di DP Arcithect.”     Alfi terbelalak. “Serius lo? Padahal lo belum lama kerja,”     Lagi-lagi Ilham hanya mengedikkan bahu. Menurutnya itu hal yang biasa saja.     “Terus? Lo ambil yang mana?” Alfi merasa penasaran dengan pilihan apa yang akan sahabatnya ambil.     “Entahlah, gue nggak tahu,” jawab Ilham tak terlalu banyak berpikir.     “Tawaran DP Arcithect itu menggiurkan banget loh Ham, kapan lagi? Ini kesempatan emas buat lo.” Alfi memberi saran untuk sahabatnya. Secara, DP Arcithect adalah perusahan besar di Singapura yang sudah global, bahkan mereka yang merancang Dubai Mall dan juga mal miliknya.     Ilham tampak berpikir. “Kayaknya gue mau di Indonesia aja.”     Alfi menghela napas. “Lo serius? Tawaran ini langka loh.”     “Hmm.” Ilham hanya bergumam tanpa minat.     “Kenapa?” tanya Alfi lagi, entah kenapa hari ini dia cerewet sekali.     “Kepo deh lu,” ucap Ilham malas menjawab.     Alfi berdecih. “Kepo is care, man!” Lalu mereka tertawa.     “Kenapa gak nyoba bangun perusahaan sendiri, sih? Gue yakin lo pasti bisa,” ucap Alfi sungguh-sungguh. Dia yakin kalau Ilham bisa melakukannya, ia tahu kualitas sahabatnya sampai di mana.     “Emang buat perusahaan cukup pake modal 1 M apa,” Ilham mendengus tak habis pikir, kadang sahabatnya ini gak banyak mikir kalau ngomong.     “Apa gunanya gue? Gue bisa bantu masalah finansial, oke? Gimana? Daripada lo kerja kayak gini, kan enak di perusahaan sendiri, bisa diwarisin sama anak entar.”     Ilham menghela napas. “Ya lo bener sih, tapi­—”     “Tapi lo gak mau ngerepotin gue? Gak mau punya hutang sama gue, gitu?” cerca Alfi. “Lo menghina gue kalau gitu.”     “Nggak gitu, Al.”     “Loh, iya, kan? Itu artinya lo gak anggap gue sahabat.”     “Kenapa jadi lo yang sewot?” Ilham tak habis pikir.     Alfi melipat tangan di d**a, kesal. “Lo tahu nggak, sih, perasaan gue kayak gimana? Gue selalu nyusahin lo tapi gue gak bisa bantu apa-apa buat lo.” Alfi membuang muka.     Ilham tertawa kecil. Sebenarnya ia tahu, hanya saja mendengarnya langsung dari mulut sahabatnya, terdengar lucu.     “Oke, oke, bakal gue pertimbangkan.” Ilham masih menahan tawa.     Alfi berdecih. “Tapi serius, gue penasaran kenapa lo nggak ambil tawaran dari Singapura? Apa karena seseorang? Cewek?” Alfi mencoba menerka. Kali saja Ilham sudah menemukan calon pendamping hidupnya.     Ilham tersenyum kecil lalu menoleh ke luar jendela. “Hanya ... seseorang.”     Alfi memikirkan siapa seseorang yang Ilham maksud. “Inayah?” tebaknya.     Bayangan gadis itu seketika terlintas di benaknya. “Bukan,” Ilham menggeleng.     Alfi nampak berpikir keras. Kalau bukan Inayah, lalu siapa? Sepengetahuannya, Ilham sedang dekat dengan wanita itu akhir-akhir ini. Kemudian ia ingat perempuan yang ia lihat saat di apartemen Ilham dulu. Perempuan yang menabraknya dan nampak sedang menangis. Apa dia, pikirnya.     “Cewek yang gue lihat di apartemen lo waktu itu?” tebak Alfi lagi.     Ilham menaikkan alis, bertanya kapan ‘waktu itu’ yang sahabatnya maksud.     “Itu lho, yang waktu gue ke apartemen lo terus ada cewek dari tempat lo yang pulang sambil nangis.”     Ilham terdiam sambil menerawang. Teringat kembali saat itu, dialah yang membuatnya menangis.     Ponsel Alfi berdering. Senyumnya terbit tatkala melihat nama penelepon di ponselnya. Ia pun segera mengangkatnya.     “Assalamu'alaikum, Bidadariku.”     Ilham merinding seketika. Sejak tobat, Alfi jadi sedikit lebay menurutnya. Apa jatuh cinta memang bisa membuat orang berubah sedrastis itu? Pikirnya. Ia memandang keluar jendela sambil menyesap espressonya, mengabaikan Alfi yang sedang berbicara dengan 'bidadarinya'.     “Kayaknya gue harus pulang sekarang,” ucap Alfi mengembalikan fokus Ilham.     “Oh oke, pulang aja. Salam buat Dik Fanin sama si kecil Nayya. Biar gue yang bayar, gue mau di sini dulu bentar lagi.”     Alfi mengangguk lalu pergi setelah beruluk salam. Ilham masih betah duduk sendirian di sana, menikmati hari libur dengan secangkir espresso, ia baru akan pergi setelah minumannya habis.     Ilham berjalan menuju kasir untuk membayar tagihan, namun harus mengantre karena ada seorang perempuan di hadapannya yang terlihat kebingungan.     “Aku ingat sudah memasukkannya, kenapa tidak ada? Bagaimana ini?” Perempuan itu berbicara pelan sambil merogoh isi tasnya, tapi masih bisa terdengar.     “Mbak? Maaf, di belakang sudah mengantre.”     Ilham menoleh ke belakang, memang sudah cukup banyak yang mengantre.     Perempuan itu terlihat kelabakan. Ia mengambil ponselnya namun ternyata lowbat. Benar-benar kombinasi yang pas. “Umm, begini ....”     Ilham yang melihat situasi di depannya, paham tanpa harus bertanya. “Biar saya yang bayar,” ia menyerahkan kartu kredit yang segera diterima oleh kasir.     “Terima kasih,” ucap pelayan itu sopan. Ilham hanya mengangguk dengan sedikit senyum kemudian pergi.     Perempuan itu memandangi Ilham lekat, lalu berujar pelan sebelum pria itu meraih pintu kafe. “Ilham ...?” panggilnya ragu.     Ilham berhenti, kemudian berbalik dan barulah ia menatap wajah perempuan tadi. Dan hal itu membuatnya cukup terkejut.     “Ay ...?” ucapnya lirih, agak sangsi menatap gadis itu dari atas kepala sampai kaki. Karena yang ia tahu, gadis di depannya ini dulu tak berjilbab seperti saat ini.     “Ternyata benar,” ucap perempuan itu. “Kamu masih mengenalku rupanya.” Gadis itu menunduk, memainkan jarinya.     “Ayesha?” Ilham masih menatapnya tanpa berkedip.     Perempuan yang dipanggil Ayesha itu mendongak kemudian tersenyum. “Lama tak bertemu.”     Ilham menutup matanya sejenak, mengendalikan dirinya. “Oh, iya. Bagaimana kabarmu?”     Ayesha mengangkat bahunya. “Seperti yang kamu lihat,” ucapnya kemudian diam sebentar. “Oh, terima kasih untuk tadi. Aku pasti mengembalikan uangmu nanti. Kalau begitu, aku duluan. Assalamu'alaikum.”     Ayesha segera berlalu melewati Ilham yang masih mematung. Setelah keluar dari kafe, ia menenangkan detak jantungnya yang mulai berdetak abnormal.     “Tidak, tidak lagi,” gumamnya pada diri sendiri. Menarik napas lalu mengembuskannya. Ia berniat pergi ke halte namun ingat kalau ia tidak bawa uang.     “Sebenarnya di mana dompetku? Kenapa tidak ada ...?” gerutunya kesal. Lalu ia kembali teringat pertemuannya tadi dengan Ilham. Selama dua tahun lebih tak melihatnya, sekarang ia dipertemukan lagi dengannya. Takdirkah? Atau hanya kebetulan yang tak berarti?     “Eeyy, tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini!” Ia menyanggah pemikirannya sendiri. “Tau ah!”     Namun beberapa detik kemudian, ia menghela napas. “Dia semakin tampan,” gumamnya pelan. Sangat pelan. Kemudian ia beristigfar. “Duh, Sa, kamu ini. Mungkin aja dia udah nikah, ya kan? Jangan mikir aneh-aneh.” Ayesha menggeleng-gelengkan kepala, terus bicara sendiri.     Ia pun berniat pulang naik taksi dan membayarnya nanti di rumah. Saat ingin menyetop taksi, sebuah mobil berhenti di hadapannya. Ayesha tercenung, ketika kaca pintu diturunkan barulah ia tahu siapa pemilik mobil itu.     “Naiklah, aku antar,” ucap Ilham datar tanpa menatapnya.     “Tawaran macam apa itu,” gerutunya pelan melihat sikap Ilham yang masih seperti dulu. Kaku.     “Tidak perlu,” ucap Ayesha. “Aku naik taksi saja.”     “Keras kepala,” gumam Ilham pelan namun masih terdengar.     Ayesha menatapnya sebal. Kemudian ia berpikir, kalau tawaran Ilham ada baiknya juga, ia bisa membayar hutangnya saat tiba di rumah. Jadi ia tak perlu bertemu dengannya lagi. Cukup hari ini saja yang menjadi hari kebetulan. Yah, kebetulan.     “Kalau begitu ....”     “Tidak jadi,” tukas Ilham membuat Ayesha terperangah.     Ilham menyodorkan sebuah kartu padanya. “Kartu namaku,” ucapnya.     Ayesha mengerutkan dahi, semakin bingung dengan tingkah Ilham. Dia tak berubah, batinnya.     “Untuk apa?”     “Kamu bilang mau mengembalikan uangku, kan?” Ilham balik bertanya.     “Ah, benar,” ucap Ayesha tersadar. Bagaimana ia akan mengembalikannya kalau ia tidak tahu harus ke mana mencarinya nanti? Tapi kan, tadinya Ilham mau mengantarnya. Ia berniat mengembalikannya saat di rumah, jadi ia tak perlu bertemu lagi dengannya. Kenapa malah begini?     Perlahan Ayesha mengambilnya dari tangan Ilham.     “Hubungi aku dulu kalau mau bertemu,” ucap Ilham masih tanpa menatapnya.     Ayesha hanya mengangguk kecil.     “Hati-hati di jalan, assalamu'alaikum,” ucap Ilham kemudian melajukan mobilnya.     “Wa'alaikumussalam ...,” jawab Ayesha pelan sambil menatap mobil Ilham yang mulai menjauh. “Dasar aneh.” Lalu ia menatap kartu nama di tangannya. Perlahan, sudut bibirnya tertarik ke atas.     Ilham melihat ke kaca spion, Ayesha masih terlihat dari sana, kemudian ia tersenyum kecil. Perasaan bahagia setelah lama tak melihatnya. Rindu? Mungkin bisa disebut begitu.     Namun kemudian wajahnya berubah datar, menatap kosong. Lalu ia menepikan mobilnya untuk berhenti. Ilham memejamkan mata. Menjatuhkan kepala ke punggung kursi.     Sekelebat bayangan muncul. Wajah-wajah orang di sekelilingnya yang ia lihat. Senyuman, kesedihan, dan pengharapan, berlarian silih berganti.     Ilham membuka mata, napasnya sedikit memburu.     Apa lagi ini, Tuhan?     Lalu ia meraih satu botol air mineral dan meneguknya. Ia mengusap wajah gusar.     Bisakah aku menghentikan semua ini? Aku hanya ingin menjalani hidupku seperti mereka tanpa melihat hal-hal seperti ini.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN