Krisna berpikir solusi dari semua permasalahan di keluarganya satu per satu menemui titik terang, bukan tanpa sebab dengan adanya Ijam, Yuda dan tak lupa siti, menjadi opsi bagi Krisna untuk bertukar pikiran satu sama lain, meskipun tidak bisa menjadi jaminan mereka bisa membantu Krisna menemukan jalan keluar.
Krisna pun merasa sangat tenang Saat berbincang dengan Ijam yang kini berada di rumahnya di kampung, Krisna bisa memantau keadaan keluarganya di sana, hubungan dengan Pak Dadang yang belum membaik, membuat Krisna masih kesulitan untuk berkomunikasi dengan mereka, meskipun untuk kehidupan sehari – hari Krisna masih mengirimkan uang untuk keluarganya di kampung, tidak menjadi jaminan hubungan antara Krisna dan Pak Dadang membaik, Krisna pun sangat penasaran dengan pertanyaan Ijam sewaktu di telepon, menurut Ijam, Dia mulai mencurigai Pak Dadang dan Ki Amin memiliki kesepakatan dengan makhluk lain.
“ Aku masih berpikir, apa yang membuat Ijam curiga terhadap Bapak dan kakek?” Tanya Krisna kepada dirinya sendiri.
“ Sepertinya ini harus Aku dalami lagi, dan Aku harus bertanya lagi pada Ijam, siapa tau ada petunjuk yang aku perlukan mengenai sakitnya Kakek dan kejadian aneh yang sempat Aku alami.” Ujar Krisna.
Segera setelah bangun dari tidurnya, tepat waktu menunjukan pukul 7 pagi, hari ini menjadi jatah cuti untuk Krisna, Krisna selama di kota jarang sekali keluar rumah, itu menjadi kebiasaan Krisna dari dulu, semenjak Dia tinggal Di kampung, Jadi ketika dia mendapat cuti pun, waktunya Dia habiskan di kosannya.
Pagi hari di kosan Krisna kini menjadi semakin ramai, bukan banyaknya penghuni kos, tapi banyak sekali anak – anak yang berdatangan untuk bertemu dengan Yuda, Yuda memang menyukai anak – anak, ketika cuti pun ia habiskan untuk mengajarkan anak – anak Bahasa inggris, ibaratkan tempat les Bahasa, kosan Pak Yaya saat itu begitu riuh dan ramai oleh suara anak – anak yang antusias.
Melihat kegiatan Yuda, Krisna pun cukup salut dengan dedikasi Yuda, Krisna Pun memutuskan untuk ikut bergabung dan membantu Yuda.
“ Rame juga.” Ujar Krisna melihat dari lantai dua.
Krisna turun ke lantai bawah.
“ Pak, Krisna Bantu ya!” Ujar Krisna.
“ Panggil saja nama, kan saya sudah bilang, panggil Pak itu ketika di kantor saja.” Ujar Yuda.
“ Gak enak Pak.” Ujar Krisna.
“ Ya sudah gimana kamu saja Kris, boleh Kris, bantu saja anak – anak yang belum bisa menulis.” Ujar Yuda.
Krisna merasa sangat senang dengan kegiatan mereka saat itu, keceriaan anak – anak membawa suasana pagi yang ceria pula, tapi seketika suasana itu hancur, bukan tanpa sebab, ada salah satu anak yang tiba – tiba berteriak dan menjerit, Anak itu menjerit ketakutan ketika melihat ke lantai Dua, sontak Yuda langsung menghentikan kegiatan belajar saat itu, Krisna pun penasaran dengan apa yang terjadi pada anak itu.
“ untuk hari ini selesai dulu ya, Bapak ada urusan dulu.” Ujar Yuda kepada anak – anak dan menyuruh mereka pulang.
“ Kamu kenapa?” Tanya Krisna kepada anak yang menangis.
“ Sudah Kris, jangan di tanya, Biarkan saja Dia pulang, agak sedikit riskan jika kita melanjutkan kegiatan hari ini.” Ujar Yuda.
“ Memangnya kenapa Pak?” Tanya Krisna.
“ Kamu Mau bisa melihat makhluk lain Gak?” Tanya Yuda.
“ Engga pak, terimakasih.” Ujar Krisna sambil menyeringai tersenyum.
“ kalau Kamu mau tau apa yang tadi di lihat anak itu, Tadi dia liat sesuatu di atas sana, dan perlu kamu tau jika anak – anak lebih peka dan bisa melihat hal itu, meskipun tidak semua anak bisa, tapi kebanyakan anak itu memiliki penglihatan yang bagus, di tambah lagi karena mereka belum banyak memiliki dosa – dosa.” Ujar Yuda.
“ Tapi gak berbahaya pak, untuk Anak- anak?” Tanya Krisna.
“ Engga Kris, Asal kita sebagai orang tua dekat dengan pencipta, mereka juga akan menjauh sendiri.” Ujar Yuda.
Krisna pun memberanikan diri untuk bertukar pikiran dengan Yuda, kebetulan juga mereka sedang membahas sesuatu yang berhubungan dengan masalah Krisna.
“ Oh Ia Pak, saya mau bertanya sesuatu, tapi ini ada hubungannya dengan sesuatu yang barusan di alami oleh anak itu Pak.” Ujar Krisna.
“ Boleh Kris, biar enak kita duduk di depan saja.” Ujar Yuda.
“ Oh Ia pak, lebih enak lagi saya bikin kan kopi ya Pak.” Ujar Krisna.
Krisna pergi ke dapur untuk membuatkan kopi , sedangkan Yuda langsung ke depan, Krisna pun sedikit mempercepat pekerjaannya agar segera bisa berbincang dengan Yuda.
“ Ini Pak, Kopi nya, silahkan di minum.” Ujar Krisna.
“ Ko, seperti di kantor ya.” Ujar Yuda.
“ Ia Pak, gak papa yang penting bisa ngopi.” Ujar Krisna tersnyum.
“ Oh Ia Kris, Kamu tadi mau ngobrol soal apa.” Ujar Yuda.
“ Jadi begini Pak, Kakek saya di kampung sedang sakit , hanya saja sakitnya sedikit aneh, Dia selalu bilang ‘PANAS’, dan selalu bilang ‘LEPASKAN’.” Ujar Krisna.
“ lalu?” Tanya uda.
“ Ya, Kalau menurut Pak Yuda, kira – kira kakek saya sakit apa?” Tanya Krisna.
“ ya , mendengar cerita kamu, sepertinya Kakek mu mempunyai sesuatu entah itu benda atau apa pun yang memiliki pengikut.” Ujar Yuda.
“ Maksudnya?” Tanya Krisna.
“ Kita tidak bisa mengartikan segala sesuatu secara langsung , Aku sarankan Kamu bertanya langsung kepada Kakek Mu saja, biar jelas, sebab jika kita hanya mengira – ngira nanti yang ada bakal ada fitnah di dalamnya.” Ujar Yuda.
Krisna hanya terdiam dengan saran dari yuda, karena sarannya cukup masuk akal, Dia pun segera ke kamarnya dan mengambil telepon untuk menghubungi Ijam.
“ Oh gitu ya pak, Terima kasih pak sudah di beri saran .” Ujar Krisna.
“ Jangan berterima kasih, sudah sepantasnya saling membantu, itupun jika saran saya membantu, karena saya juga bukan paranormal Kris.” Ujar Yuda.
“ Ia Pak, sangat membantu saran dari Pak Yuda, Saya pamit ke atas dulu ya Pak.” Ujar Krisna.
Krisna mengambil Hp dan menelepon Ijam di kampung.
“ Halo Jam.” Ujar Krisna.
“ Ia Kris, Ada apa ? Tanya Ijam.
“ Bisa minta tolong gak?” Tanya Krisna.
“ Boleh Kris, emang kenapa , sepertinya serius sekali.” Ujar Ijam.
“ Ia Jam, tadi aku kepikiran soal obrolan kita soal Kakek dan Bapak, dan tadi kebetulan juga aku udah tanya – tanya sama temanku di sini.” Ujar Krisna.
“ Memang gimana Kris soal pertanyaan ku kemarin?” Tanya Ijam.
“ Ya temanku memberikan saran , coba tanya ke Kakek apa di punya peninggalan seperti benda atau yang lainnya , sebab obrolan Kamu kemarin selalu menjadi beban pikiran Ku Jam.” Ujar Krisna.
“ ak bisa Kris, aku di sini kan hanya numpang, anggap lah aku ini orang lain, Aku gak ada Hak buat bertanya seperti itu, lebih baik kamu saja yag bertanya langsung.” Ujar Ijam.
“ Aku gak bisa Jam, Hubunganku dengan Bapak kurang bagus, takutnya malah nambah masalah.” Ujar Krisna.
“ Kris, Aku sebenarnya hanya curiga saja, bukan menuduh yang engga – engga terhadap keluarga ini, makannya aku kemarin bertanya kepadamu Kris, tentang apa yang menurutku salah, Aku tidak berani bertanya langsung, makannya aku bertanya ke kamu Kris.” Ujar Ijam.
“ Ia Jam, Aku paham, Tapi Hubungan Ku dengan Bapak memang kurang Bagus.” Ujar Krisna.
“ Kris, selesaikan masalah mu dengan Pak Dadang, jika kamu tidak segera menyelesaikan masalah mu dengan Pak Dadang, titik temu masalah yang lain tidak bisa kita temui Kris." Ujar Ijam.
" Ia Jam, hanya saja kan kamu tau watak Bapak Ku seperti apa.” Ujar Krisna.
“ Ia Kris Aku tau, tapi coba lah selesaikan masalah ini satu persatu, jika hubungan dengan Bapak Mu membaik, Aku yakin bakal ada titik temu Kris, kuncinya ada di Kamu sendiri Kris, di sini Aku hanya membantu, dan Aku pun membantu hanya semampuku saja.” Ujar Ijam.
“ IA Jam, Aku akan Coba tapi harus mulai dari mana Jam?” Tanya Krisna.
“ Coba mulai sekarang kamu kontak Bapakmu, kabari dia, tanya kabarnya seperti apa, Aku tau Kris, Pak Dadang juga punya sisi baik, hanya saja sisi baik itu terhalangi oleh egonya saja yang sangat besar, Aku kenal pak Dadang sama sepertimu, dan Aku sudah menganggapmu seperti kakak ku sendiri, dan keluarga ini lebih dari keluarga yang Ku punya, karena itu Aku peduli Kris, jadi tolong Kris, Aku ingin keluarga ini baik – baik saja, mohon perbaiki hubungan Mu dengan pak Dadang.“ Ujar Ijam.
Krisna hanya terdiam termenung, sekali lagi ia harus melalui perang batin dan harus menurunkan ego yang dimiliki demi jalan keluar dari semua masalah yang tengah Ia hadapi.