LANJUTAN 17

1654 Kata
Saran dan arahan dari sang sahabat membuat Krisna merasa malu akan dirinya sendiri, harus ada salah satu di antara mereka yang menurunkan ego, entah itu Pak Dadang atau pun Krisna sendiri, Krisna akhirnya memutuskan untuk mencoba mendekat dan ingin memulai kembali keutuhan ikatan keluarga yang sempat terputus.   Krisna kembali menelepon Ijam untuk berdiskusi.   “ Halo Jam.” Ucap Krisna.   “ Ia Kris kenapa?” Tanya IJam.   “ Jadi begini Jam, Aku sudah memutuskan untuk mencoba berdamai dengan Bapak.” Ujar Krisna.   “ Bagus itu Kris.” Ujar Ijam.   “ tapi caranya gimana ya Jam?” Tanya Krisna.   “ Intinya satu Kris, perbanyak komunikasi, biar Kamu nantinya tidak canggung, tanyakan kabarnya, belikan kesukaannya, tapi ingat jika Bapakmu berbicara tentang apa pun cukup dengarkan tanpa harus membantah atau apa pun berupa pembelaan .” Ujar Ijam.   “ Ia Jam , Aku juga tahu hal itu, hanya saja pemikiran Ku dan Pemikiran Bapak selalu berbeda, itu lah yang membuat Aku dan Bapak , sedikit kurang harmonis.” Ujar Krisna.   “ Berbeda seperti apa Kris?” Tanya Ijam.   “ Contohnya saja waktu Aku mau pergi ke kota, Bapak malah menyuruhku untuk membawa benda yang di berikan Pak Sugeng.” Ujar Krisna.   “ Benda apa?, lalu?” Tanya Ijam.   “ Entah lah apa namanya yang jelas sudah ku bakar habis, tapi ya banyak ke anehan yang terjadi Jam.” Ujar Krisna.   “ Berarti betul Kris dugaan Ku, Pak Dadang dan Ki Amin melakukan perbuatan yang di larang oleh agama.” Ujar Ijam.   “ Itu dia Jam , makannya Aku sama Bapak sering ribut masalah Itu.” Ujar Krisna.   “ Ya sudah, yang lalu biar berlalu saja, yang penting sekarang Kamu ada kemauan untuk berdamai dengan Bapak Mu Kris.” Ujar Ijam.   “ Ia Jam, mudah – mudahan Bapak Ku suda berubah, hatinya luluh dan kita bisa sama – sama berdamai.” Ujar Krisna.   “ Pasti bisa Kris, tapi Aku mau bertanya satu lagi Kris, ini yang paling penting.” Tanya Ijam.   “ Apa Itu Jam?” Tanya Krisna.   “ Apa Kamu pernah mengalami hal aneh ketika di rumah mu di Kampung?” Tanya Ijam.   “ Kalau dulu Aku sih Gak pernah Jam, memangnya kenapa Jam?” Tanya Krisna.   “ Engga Kris, Aku hanya bertanya.” Ujar Ijam.   “ Aku sering mendapat kejadian aneh ketika Aku di bawa ke rumah pak Sugeng Jam , dan kebanyakan kejadiannya malah ketika Aku di kota Jam.” Ujar Krisa.   “ Oh gitu Kris, YA sudah Aku hari ini kebetulan akan ke ladang, Aku di suruh ibumu untuk menggarap ladang.” Ujar Ijam.   “ Mau di bikin apa Jam, itu kan lahan tandus , susah air kan sekarang.” Ujar Krisna.   “ Nanti saja deh, Aku kabarin lagi.” Ujar Ijam.   “ Ia Jam, Sekali lagi titip keluargaku di kampung, jika ada apa – apa langsung hubungi Aku ya Jam.” Ujar Krisna.   “ Tenang saja Kris, mereka itu keluarga Ku juga, Kamu pun baik – baik di sana.” Ujar Ijam.   “ Terima kasih Jam.” Pungkas Krisna.   Perbincangan mereka pun di tutup dengan masih menyisakan tanda tanya, Krisna menghela nafas, sambil melihat tangannya yang berbulan – bulan berbungkus perban, Krisna merasa ini bukan luka yang normal, setiap ke dokter pun hanya di berikan salep, tapi tidak pernah kering, dan anehnya tidak ada rasa sakit sama sekali, meskipun luka basah di tangan Krisna sangatlah merah.   “ kenapa tanganku sampai saat ini belum kering juga, sudah berbulan – bulan d bungkus tetap saja tidak kering.” Ujar Krisna sambil membuka balutan perban tangannya.   Dengan perlahan Krisna membuka perban itu, lukanya masih tetap basah padahal sudah berbagai obat luar dan dalam pernah di coba dan tetap tidak ada peningkatan, akhirnya Krisna berusaha acuh dan tidak memperdulikan tangannya , yang penting Aktivitasnya tidak terlalu terganggu.   Saat Krisna keluar dari kamarnya Krisna berpapasan dengan Pak Yaya, Pak Yaya saat itu berpakaian sangat rapi ,dan terlihat Pak Yaya membawa sebuah benda dalam kotak dan di bungkus dengan kain berwarna kuning, Krisna pun bertanya kepada Pak Yaya, akan kemana dan Krisna sangat penasaran dengan isi dari benda itu.   “ Pak Yaya ?” sambil melihat dari ujung kaki ke ujung kepala. “ Mau kemana Pak, rapi sekali, mau mencari daun muda ya Pak?” Tanya Krisna bernada bercanda.   “ Mas Krisna ini bisa saja, masa Cuma rapi sedikit di sangkanya mau cari daun muda.” Ujar Pak Yaya.   “ Ya , tumben saja Pak Yaya, berdandan seperti ini, memangnya mau kemana pak ?” Tanya Krisna.   “ ini mau keluar saja Mas, mencari angin segar.” Ujar Pak Yaya.     “ Angin segar ? Atau daun segar Pak?” Tanya Krisna bercanda.   “ Jalan – jalan saja Mas, Mas Krisna mau Ikut?” tanya Pak Yaya.   “ Kemana dulu Pak? Kalau mencari daun muda dan segar Krisna Gak Mau Pak.” Ujar Krisna bercanda.   “ Eh tapi Pak Yaya bawa barang apa itu?” Tanya Krisna.   “ Ia makannya ayo ikut saja, gak jauh Ko, kita jalan kaki saja, itu pun kalau Mas Krisna Gak malu jalan sama Kakek – Kakek.” Ujar Pak Yaya.   “ Gak malu lah Pa, ya sudah saya ambil dulu jaket.” Ujar Krisna.   Krisna segera mengambil jaket dari dalam kamarnya, tepat waktu itu pukul dua siang, Krisna dan pak Yaya berjalan menyusuri panasnya jalanan di perkotaan, Krisna di perjalanan selalu di iringi perbincangan seru , tidak lama setelah itu terlihat bangunan tua peninggalan jaman Belanda , dari luar bangunan itu terlihat Kumuh tidak terawat , berbeda dengan toko – toko di sebelahnya yang ramai pengunjung, toko antik itu hanya terlihat benda – benda antik seperti jam dan Kursi – kursi yang sangat kuno.   Bangunan itu bertuliskan TOKO ANTIK, mereka masuk ke dalam toko dan di sana tidak terdapat satu orang pun kecuali mereka berdua, di sekeliling bangunan itu hanya terdapat barang – barang kuno, kondisinya terawat, tidak ada debu sedikit pun yang menempel,  pertanyaan muncul dari dalam hati Krisna.   “ Tempat apa ini Pak?’ tanya Krisna.   “ Ini toko barang antik Mas.” Ujar Pak Yaya.   “ Pak Yaya , ke sini untuk apa Pak?” Tanya Krisna.   Pak Yaya hanya tersenyum dengan pertanyaan Krisna.   " Bapak suka barang kuno Mas, kesannya lebih berkelas.” Ujar Pak Yaya.   “ Oh, Pantas di rumah Pak Yaya semuanya barang antik .” Ujar Krisna.   “ IA Mas, itu yang di rumah hanya sebagian barang yang belum terjual saja.” Ujar Pak Yaya.   “ Maksudnya Pak Yaya?” Tanya Krisna.   “Ia Mas, Itu yang ada di rumah semuanya barang kuno peninggalan leluhur Bapak, usianya sudah ratusan tahun.” Ujar Pak Yaya.   “ Terus Pak Yaya, ke tempat ini untuk apa?” tanya Krisna.   “ Bapak mau beli barang kuno lagi Pak?” tanya Krisna.   Pak Yaya hanya tersenyum. “ Ini toko milik Bapak.” Ujar Krisna.   “ Yang betul Pak, kan bapak setiap hari juga ada di rumah tidak pernah keluar yang Krisna tahu.” Ujar Krisna.   “ Sebetulnya toko ini milik keluarga Bapak, kebetulan yang jaga toko ini sedang sakit, maklum sudah tua juga seperti Bapak.” Ujar Pak Yaya.   “ Jadi Pak Yaya, mau jaga toko ini?” tanya Krisna.   “ Tidak Mas, Bapak Hanya mau menyimpan barang ini di sini siapa tahu ada yang suka, kan lumayan bisa jadi uang.” Ujar Pak Yaya.   “ Lalu yang jaga toko sekarang siapa Pak?” Tanya Krisna.   “ Toko ini sebenarnya lebih tepat di sebut gudang Mas, sebab sudah bertahun – tahun tidak pernah ada yang laku, jadi kadang Toko juga di biarkan sepi tanpa penjaga.” Ujar Pak Yaya.   “ Memangnya tidak ada yang mencuri Pak?” Tanya Krisna.   “ dulu ada cerita Mas,” mereka sambil berkeliling melihat lihat  ruangan barang antik.” Dulu ada yang pernah mengambil barang di sini, barangnya hanya hiasan pintu, tapi jika ada kolektor benda itu agak lumayan mahal, kejadiannya setahun lalu, pelakunya sekarang seperti orang yang kurang waras, berteriak – teriak tidak jelas, banyak yang bilang kalau pelakunya itu di ikuti oleh makhluk penunggu benda itu, tapi tidak ada yang tahu pastinya seperti apa, barangnya sudah di kembalikan oleh pihak keluarga pelaku, benda itu kini di simpan di depan gerbang Mas, Jadi atas kejadian itu tidak ada yang berani mengambil benda di sini, jadi setiap malam pun di sini tidak pernah di kunci dan imbasnya yang beli pun tidak ada yang mau datang.” Ujar pak Yaya.   “ lalu kenapa Bapak tidak menutup toko saja, Kan sudah tidak ada yang beli!” Ujar Krisna.   “ Toko ini dulu punya masa jaya Mas, Toko Ini juga yang sudah menyambung hidup Keluarga Bapak, Jadi kenangannya tidak ternilai oleh uang.” Ujar Pak Yaya.   Krisna melihat satu benda yang mirip dengan benda yang sempat di bakarnya dulu.   “ Oh, Ia Pak, itu benda apa ya?” Tanya Krisna sambil menunjuk.   “ Oh, benda itu , bapak juga kurang tahu namanya apa, tapi rata – rata orang membuatnya menjadi jimat dan di isi jampi – jampi.” Ujar Pak Yaya.   “ Jimat apa Pak?” Tanya Krisna.   “ Bapak ini kolektor barang antik Mas, bukan Orang pintar, tapi benda ini Bapak koleksi karena ini termasuk benda antik.” Ujar Pak Yaya.   “ Oh Ia Mas, jika mau boleh ambil satu benda yang Mas suka, buat hiasan atau oleh -oleh ke kampung nanti." Ujar Pak Yaya.   “ Duh Saya takut jadi seperti orang di cerita Pak Yaya tadi .” Ujar Krisna.   “ YA engga lah Mas, Dia kan punya niatan jahat, dan mengambil yang bukan haknya, makannya imbasnya ya seperti tadi.” Ujar Pak Yaya.   “ enggak Pak, terima Kasih saya sudah senang di ajak ke tempat ini, dan itu sudah cukup, nanti saja jika saya ada yang suka saya minta ke Pak Yaya.” Ujar Krisna.   Krisna merasa terkejut dengan benda mirip seperti pemberian Pak Sugeng di kampung, Hari itu menjadi hal yang sangat berharga untuk Krisna, bukan tanpa sedikit demi sedikit pertanyaan nya terjawab, dan besar harapan Krisna untuk terus bisa menggali informasi dan jalan keluar untuk setiap permasalahannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN