LANJUTAN 72

1058 Kata
Keadaan saat itu kembali mulai mencekam, Pak Dadang terpaksa meninggalkan Ki Amin dan mengejar Bu Eni yang merasa di ganggu oleh makhluk – makhluk itu. Bu Eni berlari secara terus menerus, larinya terasa lebih kencang dari pada biasanya seorang Ibu, Pak Dadang sempat kewalahan mengejar Bu Eni. “ Bu..., Tunggu...” sahut Pak Dadang. Bu Eni terus berlari dan menghiraukan Pak Dadang yang mengejar di belakang BU Eni, hingga akhirnya Bu Eni sampai di rumah Pak Yaya, Bu Eni menggedor pintu sekencang mungkin dengan wajah panik. “ Pak Yaya...” Ujar Bu Eni mengetuk pintu. Pak Yaya yang saat itu tertidur di sofa, terkejut mendengar suara ketukan pintu yang sangat keras. “ Ada apa, Seperti suara Bu Eni.” Ujar Pak Yaya sambil mencari kaca mata. Pak Yaya berdiri dan membuka pintu. “ Kenapa Bu, ada apa , Mana Pak Dadang dan Ki Amin?” Tanya Pak Yaya. Bu Eni langsung masuk dan tidak menjawab pertanyaan Pak Yaya, sambil terengah – engah dia duduk kelelahan, sementara itu Pak Yaya melihat Pak Dadang yang berlari dari kejauhan. “ Bu , Ada apa sebenarnya?, kenapa kalian sampai berlari seperti itu?” Tanya Pak Yaya. “ Tanyakan saja ke Pak Dadang ya Pak, saya mau minum dulu.” Ujar Bu Eni pergi mengambil air minum. Pak Dadang tertunduk sambil memegang lututnya, nafasnya terengah – engah, kaki tua yang di miliki Pak Dadang tidak bisa di paksakan berlari seperti muda dulu, kini Dia berlari sedikit pun seperti berlari sangat jauh. “ Ada apa ini Pak, jangan buat saya Khawatir kembali.” Ujar Pak Yaya. “ Ini Pak, Bu Eni saat tidur di toko merasa ada yang mengganggu.” Ujar Pak Dadang terengah – engah. “ Lalu Ki Amin” Tanya Pak Yaya. “ KI Amin menyuruh saya mengejar Ibu Dulu.” Ujar Pak Dadang. Pak Yaya masuk ke dalam rumah, dan mengambil minum untuk Pak Dadang, Pak Yaya lalu menceritakan kejadian saat dirinya terpaksa tinggal di toko bersama Ijam, perlahan Pak Dadang pun menyadari jika di toko Itu memang terdapat sosok yang konon katanya berasal dari benda kuno yang ada di toko itu. “ Sebaiknya kita susul Ki Amin saja Pak.” Ujar Pak Yaya. “ Mari Pak, saya juga khawatir kepada Bapak.” Ujar Pak Dadang. Pak Dadang dan Pak Yaya kembali menyusul Ki Amin di toko, mereka berlari – lari kecil untuk sampai ke sana, sesampainya di sana Ki Amin tidak terlihat dari kaca besar toko, Pak Dadang dengan panik langsung masuk ke dalam toko. Terlihat Ki Amin memandang meja Rias yang dulu memiliki sosok pengganggu Ijam dan Pak Yaya, Ki Amin seperti sedang berdiskusi, namun entah dengan siapa, Pak Dadang yang kini terbuka mata batinnya pun tidak melihat sesuatu, dan hanya merasakan suasana saat itu terasa lebih hangat menjurus ke panas dari pada sebelumnya. “ Ki Amin sedang bicara dengan siapa Pak?” Tanya Pak Yaya. “ Entah Pak, saya juga tidak dapat melihat sosok nya.” Ujar Pak Dadang. “ Tapi meja itu, memang memiliki penunggu, mungkin Ki Amin juga tahu soal hal itu.” Ujar Pak Yaya. Ki Amin mendengar percakapan Pak Yaya dan Pak Dadang, tepat saat itu waktu sudah masuk jam 3 pagi, Ki Amin pun menyalakan kembali lampu toko, dan meminta Pak Yaya dan Pak Dadang menunggunya di kursi. “ Kebetulan sekali kalian kembali, Bapak mau bicara sesuatu pada kalian.” Ujar Ki Amin. Ki Amin dengan perlahan dan menyeret Kakinya berjalan mendekati Pak Dadang dan Pak Yaya. “ Bapak sedang apa?, Dan berbicara dengan siapa?” Tanya Pak Dadang. Ki Amin Duduk perlahan dan hanya tersenyum. “ Aki Tidak apa – apa Kan?, Saya juga terpaksa mengikuti Pak Dadang , sebab saya Khawatir.” Ujar Pak Yaya. “ Sudah tidak apa – apa, Bapak sebenarnya hanya ingin membantu kalian.” Ujar KI Amin. “ Membantu apa Pak?” Tanya Pak Dadang. “ Bapak sudah lama mendengar jika toko ini selalu sepi.” Ujar Ki Amin. “ Memang nya , Ki Amin melakukan apa?” Tanya Pak Yaya. “ Saya tidak melakukan apa – apa, tapi sebetulnya toko ini ada yang tidak suka, dan imbasnya toko ini menjadi sepi.” Ujar Ki Amin. “ Tidak Suka?, Maksud Ki Amin?” Tanya Pak Yaya. “ Saya tidak tahu siapa dan apa masalah antara Pak Yaya dan orang yang tidak suka ini, namun sepertinya kejadian ini sudah sangat lama terjadi.” Ujar Ki Amin. “ Setahu saya, saya dan keluarga tidak mempunyai musuh atau apa pun.” Ujar Pak Yaya. “ Memang Pak, kita ini bisa di biang orang baik, namun sebaik – baiknya kita tetap saja bakal ada orang yang tidak sepaham dan tidak menyukai kita, dan hal itu wajar.” Ujar Ki Amin. “ Memang dulu toko ini sangat ramai Pak, sejak di pegang oleh Ayah saya , namun tidak lama sebelum toko ini di wariskan kepada saya, toko ini mendadak sangat sepi dan orang – orang di sekitar serta langganan – langganan seperti tidak melihat keberadaan toko ini.” Ujar Pak Yaya. “ Jelas, sepertinya ada orang yang memang tidak suka dengan toko ini.” Ujar Ki Amin. “ Lalu, sebenarnya saya sendiri tidak terlalu mempersoalkan tentang hal itu dan sudah sejak lama juga toko ini sepi dan saya rasa wajar sebab barang yang di jual di sini pun hanya benda kuno.” Ujar Pak Yaya. “ Jika boleh bertanya, meja rias kuno itu pemberian siapa Pak?” Tanya Ki Amin. “ Benda pemberian atau bisa di bilang titipan dari salah satu sahabat saya, Dia menyimpan benda itu berharap ada yang membelinya Pak.” Ujar Pak Yaya. “ Sahabat ya Pak?” Tanya ki Amin. “ Betul Pak, memang kenapa pak?” Tanya Pak Yaya. “ Saya tidak akan bilang saat ini, tapi jika boleh nanti saya ingin bertemu dengan sahabat Bapak itu.” Ujar Ki Amin. “ Boleh saja Pak, hanya saja dia sangat sibuk dan jarang mau berbicara dengan orang yang tidak dia kenal.” Ujar Pak Yaya. “ Tidak apa Pak, jika boleh nanti kabari saya, ada beberapa hal yang harus saya lihat, dan tentang toko ini Bapak sekarang bisa membukanya dengan nyaman, orang – orang pasti akan berdatangan.” Ujar Ki Amin. Pak Yaya masih kebingungan dengan pernyataan Ki Amin, anggapan Ki Amin hanya sedang mengarang pun sempat tersirat di benak Pak Yaya, hingga akhirnya Pak Yaya pun mengikuti permintaan Ki Amin yang ingin bertemu dengan sahabat Pak Yaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN