Kondisi ki Amin semakin membaik, dirinya kini bisa berjalan tanpa bantuan oleh siapa pun , meski harus menyusur lantai, tetapi perkembangan itu membuat Pak Dadang dan Bu Eni bahagia dan menyambut baik kesembuhan Ki Amin.
“ Bu , Bapak Mana?” tanya Pak Dadang kepada Bu Eni yang sedang membersihkan kamar.
“ Bapak lagi berjemur.” Ujar Bu Eni.
Pak Dadang menghampiri Ki Amin.
“ Pak, Sedang apa Bapak di sini sendirian?” Tanya Pak Dadang sambil melihat matahari.
“ Terlihatnya Bapak sedang apa?” Tanya Ki Amin kembali.
“ Ia Tahu, cuman kalau berjemur itu bagusnya jangan jam segini.” Ujar Pak Dadang tersenyum.
“ Tahu Bapak juga , kamu jangan mencoba mengajari Bapak, Bapak hidup itu lebih lama loh dari Kamu.” Ujar Ki Amin.
Pak Dadang tersenyum.
“ Ia Pak, ini sudah jam 11, terlalu panas untuk berjemur, yang ada nanti Bapak malah jadi sakit, dan pening.” Ujar Pak Dadang.
“ Tidak apa Dang, Bapak merasa Badan bapak semakin hari semakin nyaman.” Ujar Ki Amin.
“ Syukur lah Pak, Kita di dalam saja Pak, sekalian ada yang harus Dadang bicarakan.” Ujar Pak Dadang.
“ Tumben sekali, ya sudah, keringat Bapak juga sudah cukup banyak.” Ujar Ki Amin menuruti permintaan Pak Dadang.
Ki Amin dan Pak Dadang duduk di lantai teras rumah Pak Yaya.
“ Kenapa Dang?” Tanya Ki Amin menghapus keringat di dahinya.
" Sepertinya kita harus segera menjual rumah dan tanah kita di kampung, dan menari tempat baru.” Ujar Pak Dadang.
“ Memangnya kenapa?” Tanya Ki Amin mengerutkan dahi.
“ Sepertinya Pak Sugeng sudah ada di kota ini Pak." Ujar Pak Dadang.
“ Lalu?, Biarkan saja! , sekarang bukan urusan kita lagi kan?” Tanya Ki Amin.
“ Justru Pak Sugeng ke kota ini sepertinya sedang mencari kita.” Ujar Pak Dadang.
“ Lalu kenapa?, Kamu takut?” Tanya Ki Amin.
“ Tidak, hanya saja Dadang khawatir dengan Bapak.” Ujar Pak Dadang.
“ Untuk apa Kamu mengkhawatirkan Bapak, Aku ini sudah Tua, jika terjadi apa – apa terhadapku hingga Aku harus pergi dari dunia ini, Aku sudah siap Dang.” Ujar Ki Amin.
“ Kita ini di berikan kesempatan hidup lebih lama dengan satu tujuan Pak, berbuat kebaikan dan membayar kesalahan di masa lalu.” Ujar Pak Dadang.
“ Dang, Bapak kini sudah paham tentang semua itu, Kamu tidak perlu mengingatkan Bapak lagi, intinya Bapak tidak mau kita terus berlari dan bersembunyi, Bapak ingin kita hadapi bersama , apalagi hanya dengan satu orang.” Ujar Ki Amin.
“ Memang Dia hanya satu orang Pak, Tapi kan Bapak tahu jika Dia memiliki anak buah yang banyak, mungkin sekarang di kampung Dia tidak memiliki anak Buah, Tapi di kota ini kita tidak tahu Dia memiliki beraba Banyak, sehingga kita harus waspada.” Ujar Pak Dadang.
Ki Amin tersenyum melihatt Pak Dadang.
“ kenapa Bapak tersenyum?” Tanya Pak Dadang heran.
“ Kamu betul – betul sudah berubah Dang, satu sisi Bapak bahagia Kamu sudah berubah lebih baik, di sisi lain Bapak kecewa perubahan Kamu membuat kamu menjadi orang yang penakut.” Ujar Ki Amin.
“ Dadang bukan penakut Pak, Dadang hanya Ingin kita selamat dari orang – orang jahat.” Ujar Pak Dadang.
“ Bagi Bapak Itu semua sama saja.” Ujar Ki Amin.
Pak Dadang tidak menjawab sanggahan dari Ki Amin.
Ki Amin tersenyum.
“ Dang, Sekali lagi Bapak harus tegaskan, kita harus lawan!, apa pun yang terjadi nantinya , jika kita terus berlari masalah ini tidak akan selesai, Pak Sugeng pun pasti akan terus mencari kita, pikirkan itu!” Ujar ki Amin.
“ Tapi Pak...” Ujar Pak Dadang.
“ Sudah, bapak tidak perlu menjelaskan lagi , Bapak Mau mandi.” Ujar Ki Amin meninggalkan Pak Dadang sendirian.
Pak Dadang hanya terdiam dan memikirkan pendapat dari Ki Amin.
“ Kata – kata Bapak ada benarnya juga.” Ujar Pak Dadang berdiri dan berniat menyusul Pak Yaya ke toko.
“ Bu..., Bapak pergi dulu.” Sahut Pak Dadang.
“ Ia Pak, Hati – hati.” Jawab Bu Eni dari dalam rumah.
KI Amin melihat Pak Dadang telah pergi, Lalu Ki Amin meminta Bu Eni untuk melakukan sesuatu.
“ Eni, bisa Kamu ke sini sebentar.” Sahut Ki Amin dari ruang tamu rumah.
“ Ia Pak, ada apa?” Tanya Bu Eni menghampiri.
“ Bapak boleh minta tolong?” Tanya Ki Amin.
“ Tolong apa Pak?” Tanya Bu Eni.
“ Jika boleh , Bapak ingin melihat toko milik Pak Yaya.” Ujar Ki Amin.
“ Kenapa Pak, tumben sekali?” Tanya Bu Eni penasaran.
“ Bapak jenuh di rumah, bisa antarkan Bapak?” Tanya Ki Amin.
“ Jarak ke sana cukup jauh Pak, Eni juga lupa – lupa ingat jalannya, Kenapa tadi tidak sekalian berangkat sama Dadang?” Tanya Bu Eni.
“ Jika Aku bilang pada suamimu, dia pasti tidak akan mengizinkan, Jika jaraknya jauh tidak apa – apa, Bapak pasti sanggup.” Ujar Ki Amin.
“ Ya Sudah, tapi jika nanti suamiku marah, Bapak yang menjelaskan kepadanya.” Ujar Bu Eni.
Bu Eni pun bersedia mengantar Ki Amin menuju toko antik milik Pak Yaya, Kaki Ki Amin yang masih belum bisa berjalan dengan sempurna terus Dia seret, hingga menjadi pusat perhatian orang di sekitarnya, Bu Eni pun dengan sabar dan perlahan menggandeng Ki Amin dan menuntunnya berjalan menuju toko antik itu, cuaca yang cukup terik membuat Ki Amin sangat berkeringat, terlihat wajah Bu Eni juga memerah kepanasan.
“ Masih jauh ?” Tanya Ki Amin.
“ Baru setengah jalan sepertinya Pak, Bapak kecapean, kita mau pulang lagi?” Tanya Bu Eni.
“ Tidak , Bapak hanya bertanya saja.” Ujar Ki Amin sambil melihat ke arah matahari yang tepat berada di atas kepala mereka.
Mereka terus berjalan, hingga akhirnya sampai di toko itu, Ki Amin pun sangat takjub melihat toko Pak Yaya, dan mempercepat langkah kakinya.
“ Itu di depan Pak.” Ujar Bu Eni.
“ luar Biasa sekali tempat itu.” Ujar Ki Amin tersenyum.
Terlihat dari kejauhan Pak Dadang dan Pak Yaya, sedang melayani beberapa pembeli, Ki Amin langsung masuk ke dalam toko beserta Bu Eni, Pak Dadang yang melihat Kedatangan Ki Amin merasa terkejut.
“ Pak Sebentar Ya.” Ujar Pak Dadang kepada pelanggan yang sedang bersamanya.
Pak Dadang menghampiri Bu Eni.
“ Ibu, ada apa ke toko?’ Tanya Pak Dadang.
“ Ini Bapak minta di antar, jenuh di rumah katanya.” Ujar Bu Eni.
“ Bapak ini kebiasaan, kan Bapak juga belum sembuh seutuhnya, tolong di jaga Pak.” Ujar Pak Dadang.
“ Sudah , Aku sudah sampai di sini, masa Kamu tega menyuruhku kembali pulang, Sudah ke sana lagi, kasihan itu pelanggan, layani Dia dengan baik, jangan urusi bapak di sini.” Ujar Ki Amin.
Pak Dadang tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya, langsung kembali melayani beberapa pelanggan, keadaan toko saat itu bisa di bilang cukup ramai, pelanggan silih berganti masuk , meskipun hanya sekedar bertanya – tanya, namun toko milik Pak Yaya kembali hangat dan mulai kembali mendulang keuntungan setlah sekian lama toko itu tertidur.
Ki Amin terus melihat ke arah sekeliling, barang – barang di toko Pak Yaya yang klasik , membuat Ki Amin tersenyum dan tidak bosan memandang sekitar.
“ Pak, bagaimana keadaannya sekarang?” Tanya Pak Yaya menghampiri Ki Amin yang tengah duduk.
“ Semakin bagus Pak, sebelumnya maaf saya datang ke sini hanya membuat repot.” Ujar Ki Amin.
“ Tidak apa pak, jika bapak bosan di rumah, kalau mau Bapak bisa ke sini saja, ya sekedar menghilangkan penat atau sekedar berdiam saja di sini.” Ujar Pak Yaya.
“ Terima kasih pak, maaf selama ini saya selalu merepotkan.” Ujar Ki Amin.
“ Tidak Pak, jangan bilang terus seperti itu, hampir semua orang berbicara itu terhadap saya.” Ujar Pak Yaya.
Pelanggan baru datang.
“ Pak, sebentar ya, ada pelanggan baru datang, hari ini cukup ramai.” Ujar Pak Yaya meninggalkan Ki Amin.
Pak Dadang menghampiri.
“ Bu, Ibu pulanglah, jaga rumah saja, biar Bapak nanti pulangnya barengan saja.” Ujar Pak Dadang.
“ Ya Sudah , Ibu juga sedang membersihkan lantai dua tadi.” Ujar Bu eni.
“ Sebaiknya , lantai dua jangan dulu di bersihkan, nanti saja jika banyak orang.” Ujar Ki Amin melarang.
“ Memangnya kenapa Pak< Jangan Buat Eni takut?” Tanya Bu Eni.
“ Justru jika Bapak jelaskan Kamu akan Tambah takut.” Ujar Ki Amin.
“ Ya Sudah, Ibu juga tidak akan pulang , nanti saja.” Ujar Bu Eni.
“ Ya Sudah bagaimana Ibu Saja.” Ujar Pak Dadang.
“ Dang, Bapak boleh menginap di toko ini?” Tanya Ki Amin.
“ Bapak ini ada – ada saja, masa mau menginap di sini.” Ujar Pak Dadang.
“ Tolong bilang ke pak Yaya.” Ujar Ki Amin.
“ Sudah lah Pak, jangan macam – macam, nanti Pak Sugeng bisa tahu jika bapak ada di ini bagaimana.” Ujar Pak Dadang.
“ Memangnya kenapa?, sudah tolong panggilkan Pak Yaya.” Ujar Ki Amin.
“ Ya Sudah, nanti Dadang juga mengina di sini.” Ujar Pak Dadang.
“ Lalu Ibu bagaimana?, meskipun Pak Yaya baik, tapi tidak baik rasanya jika hanya Ibu dan Pak Yaya di rumah, Ibu juga ikut di sini saja.” Ujar Bu Eni.
“ memangnya kenapa Bapak, tiba - tiba mau menginap di sini?” Tanya Pak Dadang kembali.
Ki Amin tidak menjawab, Pak Dadang pun mencoba berdiskusi dengan Pak Yaya tentang keinginan Ki Amin, Pak Yaya pun mengizinkan hal itu, Pak Dadang pun menaruh kecurigaan terhadap ki Amin yang bersikap tidak seperti biasanya, di tambah gelagat aneh dari ki Amin.
Malam kini menjelang, Pak Yaya berpamitan untuk pulang ke rumah, keadaan toko pun saat itu sudah mulai sepi pembeli, namun omset harian saat itu bisa di bilang menjadi yang tertinggi selama toko itu berjalan, hingga barang – barang di toko itu hanya menyisakan beberapa model barang saja.
“ Bapak Mau tidur di mana?” Tanya Pak Dadang.
“ di lantai saja , Oh Ia Dang, barang – barang di sini cukup bagus juga.” Ujar Ki Amin.
“ Ia Pak, Pak Yaya sungguh telaten merawat benda – benda di sini.” Ujar Pak Dadang.
Malam kini semakin terasa, sunyi dan dingin mulai menghampiri Bu Eni dan Pak Dadang, berbeda halnya dengan Ki Amin yang masih merasa takjub dengan keadaan sekitar.
Akhirnya Pak Dadang yang lelah, tiba - tiba tertidur lelap, begitu juga dengan Bu Eni yang tidak kuasa menahan Kantuk meskipun dengan alas tidur seadanya.
Berbeda halnya dengan Ki Amin yang masih terjaga, Di toko Itu Ki Amin mencoba berkeliling, ki Amin mulai merasakan hal – hal aneh, Ki Amin pun hanya tersenyum dengan situasi saat itu.
“ Kamu harus pergi dari sini, kasihan yang punya toko ini, selama Kamu ada di sini, toko ini tidak bisa hidup dan berjalan layaknya toko – toko lain.” Ujar Ki Amin kepada salah satu sosok yang di lihat.
Ki Amin terus berkeliling, dan di setiap sudut Ki Amin melihat banyak sekali sosok yang mendiami benda – benda kuno di sana, namun Ki Amin hanya tersenyum.
“ Pantas saja tempat ini sepi, Sepertinya sebagian benda ini harus di musnahkan , agar tempat ini kembali ramai, dan tidak terlihat lembap dan pengap.” Ujar Ki Amin sambil kembali ke tempat tidurnya.
Namun tiba – tiba Kaki Ki Amin seperti tidak bisa di gerakan, Ki Amin pun menyadari dirinya sedang di jahili oleh sesosok makhluk yang ada di sana, dan mengetahui keberadaannya, namun ki Amin tetap tenang dan membaca doa – doa untuk mengusir sosok yang ada di sana.
Dan perlahan Kaki Ki Amin kembali ringan untuk d gerakan, hingga terdengar suara teriakan Bu Eni.
“ Tolong...” Teriak Bu Eni.
Ki Amin tersenyum dan perlahan mendekat.
“ Bu Kenapa?” Tanya Pak Dadang.
“ Ayo pulang Pak, Ibu Tadi merasa ada yang mengelus rambut Ibu.” Ujar Bu Eni cemas.
“ Itu Bapak.” Ujar Pak Dadang menenangkan Bu Eni.
“ Bukan, Sudah Ayo kita pulang, Ibu Tidak mau uji nyali di sini.” Ujar BU Eni.
“ Pulang lah, biarkan Aku Di sini.” Ujar Ki Amin mendekat.
“ Jangan Pak, Jika terjadi sesuatu bagaimana.” Ujar Pak Dadang.
Bu Eni langsung pergi ke luar toko dan berlari untuk kembali pulang ke rumah Pak Yaya.
“ Sudah, kejar saja Istrimu , kasihan Dia, besok pagi saja ke sini untuk menjemput Bapak.” Ujar Ki Amin.
Pak Dadang pun terpaksa meninggalkan Ki Amin sendirian, dan mengejar Bu Eni yang ketakutan, Ki Amin sebenarnya menyembunyikan sesuatu, sehingga Dia ingin berada di toko itu sendirian, ada maksud dan tujuan yang tidak bisa Pak Dadang dan Bu Eni ketahui.