LANJUTAN 70

1058 Kata
Dalam setiap intrik dan konflik yang terjadi baik antara sahabat atau pun dengan pasangan pasti ada jalan keluar terbaik, konflik yang terjadi di sebut sebagai pemanis dalam setiap hubungan, saling mengerti satu sama lain dan memupuk rasa tenggang rasa, membuat setiap konflik pasti bisa di lalui. Begitu halnya dengan Persahabatan Krisna dan Ijam yang penuhi dengan perdebatan dan berbeda pendapat dalam menentukan keputusan, Krisna yang saat ini di anggap belum pulih seutuhnya dan bisa sewaktu – waktu kecemasan berlebihnya kambuh, sehingga membuat semua keputusan terpaksa harus Ijam ambil sendiri. Saat itu Ijam dan Krisna masih mengenang waktu saat mereka masih kecil, Krisna perlahan mulai tenang dan bisa kembali sedikit tersenyum. “ Bagaimana perasaan mu sekarang ?” Tanya Ijam. “ Entah jam, rasanya sedikit aneh.” Ujar Krisna. “ Intinya Kamu jangan terlalu memikirkan sesuatu secara berlebih, ujungnya nanti kamu akan merasa cemas akan ketakutan yang kamu alami.” Ujar Ijam. “ Jam, memang secara teori hal itu terdengar mudah untuk di lakukan, tapi asal kamu tahu, Aku yang mengalami dan merasakan hal ini, jadi tolong jangan terus menceramahi ku dengan hal seperti itu.” Ujar Krisna. “ Ia Kris, Maaf.” Ujar Ijam. “ Aku sebenarnya hanya ingin membantu , Jujur Aku takut jika Kamu sakit berkepanjangan.” Ujar Ijam. “ Semoga saja sesudah urusan kita selesai dengan Pak Sugeng, Aku pun bisa ikut sembuh.” Ujar Krisna. Krisna dan Ijam terus berbincang hingga lupa waktu hingga sore menjelang. “ Kris, Ayo kita pulang sudah mau malam.” Ajak Ijam. “ Jam besok antar Aku ke rumah kita dulu.” Ujar Krisna. “ Ada apa?” Tanya Ijam. “ Entah Jam, Aku hanya ingin melihat kondisi di sana sekali lagi.” Ujar Krisna. “ Ya Sudah besok pagi saja.” Ujar Ijam. “ Jam Kenapa perutku lapar.” Ujar Krisna. “ Aku tadi mendengar jika calon istrimu memasak sesuatu untuk kita.” Ujar Ijam. “ Yang betul, bukannya Dia tadi marah terhadapku?” Tanya Krisna. “ Marah itu tandanya dia peduli terhadapmu Kris.” Ujar Ijam. “ Ya Sudah mudah – mudahan benar apa katamu, Aku benar - benar lapar.” Ujar Krisna. Mereka terus berbincang sepanjang jalan, hingga akhirnya melewati rumah Pak Dadang. “ Jam kita masuk sekarang!” Ujar Krisna. “ Jangan sekarang, ini sudah malam, besok juga kan bisa, kasihan Ayu pasti sudah menunggu.” Ujar Ijam. Krisna seperti acuh dan menghiraukan ajakan Ijam, Dirinya terus masuk seperti di undang oleh sesuatu. “ Kris..., Tunggu.” Ujar Ijam menyusul Krisna. “ Kamu ini ada – ada saja.” Ujar Ijam. Krisna langsung menuju kamarnya terdahulu. “ Jam, tunggu sebentar di sini , Aku akan ke kamar dulu.” Ujar Krisna masuk ke dalam rumah . “ Tunggu , Aku ikut.” Ujar Ijam. Ijam mendekati Krisna. “ Mau apa sebenarnya Kris, ini sudah mau malam, sebentar lagi gelap, di rumah ini sudah tidak ada aliran listrik." ”Ujar Ijam. “ Aku mau mencari sesuatu Jam, Kan Kamu tadi bilang, jika Aku harus berpikir jernih dan menurunkan kecemasanku.” Ujar Krisna. “ memang Aku berbicara seperti itu, tapi Apa yang Kamu lakukan ke sini.” Ujar ijam. Krisna dengan tatapan Kosong masuk ke dalam kamarnya, kamarnya masih terkunci hingga Krisna terpaksa membukanya dengan paksa. “ Kris, Kamu jangan gegabah.” Ujar Ijam melarang. “ Aku tidak gegabah, Aku hanya ingin mengambil benda simpanan ku dulu.” Ujar Krisna tersenyum. “ simpanan apa, kan besok masih bisa.” Ujar Ijam. Krisna masuk dengan mudah, padahal kondisi pintu sudah sangat sulit untuk di buka, , Krisna melihat kondisi kamarnya yang seperti masih utuh, barang – barang miliknya dulu pun, masih ada dan berjejer rapi, hanya debu yang menutupi semua barang milik Krisna. “Mau Apa Sih.” Ujar Ijam. “ Ini jam, Aku mau mengambil benda pemberian ayu yang belum sempat Aku buka isinya apa." ujar Krisna. “ sudah ketemu?” Tanya Ijam. “ Belum Jam.” Ujar Krisna. Krisna hanya terdiam tidak mencari apa tang dia inginkan, Ijam mendekati Krisna dan terlihat Krisna menatap secara tajam ke sebuah benda yang Asing untuk Ijam, Ija menarik tangan Krisna dan menariknya hingga Krisna sempat terpelanting. “ Cepat kita harus pulang.” Ujar Ijam. Krisna diam tanpa kata, matanya tetap kosong melihat sesuatu, Ijam dengan sekuat tenaga menggendong Krisna untuk menuju rumah Ayu, selangka demi selangkah Ijam lakukan, bukan tanpa sebab, ukuran Krisna yang tinggi besar membuat Ijam kesulitan untuk mengangkatnya, namun dengan melihat kejanggalan yang terjadi terhadap Krisna, Ijam terpaksa menggendong Krisna. Tatapan Krisna tidak wajar, matanya seakan melihat ke segala arah, namun tidak jelas arah dan tujuannya, sesampainya di rumah Ayu pun Krisna masih menunjukkan gelagat yang sama. “ Kris... sadar.” Ujar Ijam menampar Krisna. Ayu sudah mendengar kepulangan Ijam dan Krisna, namun mendengar Ija seakan - akan kembali bertengkar dengar Ijam, dan bergegas mendekati Ijam dan Krisna. " Jam ada apa?” tanya Ayu. “ Yu Coba lihat Krisna.” Ujar ijam. Ayu mendekat. “ Kris, sadar.” Ujar Ayu. Namun Krisna tetap tidak merespon, hingga akhirnya Ayu membawa satu gelas air dan mencipratkan ke muka Krisna. “ Kamu kenapa lagi Kris, Membuat Aku khawatir saja.” Ujar Ayu. “ Krisna tadi ke rumahnya.” Ujar Ijam. “ lalu?” Tanya Ayu. “ entah apa yang Dia lihat, tiba – tiba seperti ini.” Ujar Ijam. Di tengah diskusi antara Ayu dan Ijam, Krisna terdengar mengucapkan sesuatu. " Kakek, Bapak.” Ujar Krisna masih dengan tatapan kosong. “ Kris, sadar.” Ujar Ijam. “ Di sana ada Bapak sama Kakek.” Ujar Krisna. “ Ki Amin dan Pak Dadang ada di kota Kris, kamu juga sepertinya mendengar jika tadi malam Aku menerima telepon Pak Dadang.” Ujar Ijam. “ Bapak.” Ujar Ijam hingga akhirnya kehilangan kesadaran. “ Kris.” Ujar Ayu cemas. “ Sudah yu, biarkan dia, Dia sedang kacau pikirannya, lebih baik Kamu kembal ke rumah Siti, sudah malam, percayakan Krisna kepadaku.” Ujar Ijam. Ayu pun meninggalkan Ijam dan Krisna dengan wajah cemas, terus memandang Krisna dan mencari jalan agar Krisna bisa kembali sembuh.  “ Dia sepertinya harus di ingatkan terus tentang masa , masa bahagia dulu, dirinya pasti tidak dapat menahan tekanan semua ini.” Ujar Ijam. Ijam pun sebenarnya sudah tidak tahan , di tambah dengan kondisi Krisna, namun ijam hanya bisa menunggu dan menunggu , sampai ada kabar dari yuda tentang apa yang harus di lakukan Dirinya dan Krisna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN