Di sisi lain kini Pak Sugeng sudah berada di kota, Dia mempersiapkan segala sesuatunya dengan rinci, tujuannya tidak lain, hanya untuk membuat perhitungan dengan keluarga Pak Dadang, siapa pun itu yang memiliki hubungan erat dengan Pak Dadang akan di anggap musuh olehnya.
“ Tunggu Aku Dang, Aku ada sedikit kejutan untukmu.” Ujar Pak Sugeng di dalam hatinya sambil tersenyum.
Pak Sugeng kini tidak sendiri, orang – orang dulu yang pernah merasa di bantu oleh Pak Sugeng , bertambah satu persatu dan mulai bergabung dan membantu dari mulai dukungan secara penuh dan dukungan berupa kebutuhan logistik yang dibutuhkan Pak Sugeng dalam melancarkan rencananya.
Rencana Pak Sugeng yang pertama adalah mencari posisi tepat Pak Dadang dan keluarga, rencana Pak Sugeng sangat sederhana, hanya ingin membuat Pak Dadang tertekan dan merasakan penderitaan secara perlahan.
Tepat saat itu waktu sudah masuk tengah hari, Pak Sugeng yang menumpang di salah satu anak buahnya, mulai memerintahkan anak buahnya untuk mulai menyisir setiap jalan dan g**g, petunjuk yang di dapatkan oleh Pak Sugeng saat itu hanya toko antik milik Pak Yaya dan kantor tempat bekerja Yuda.
Konflik antara Yuda dan Pak Sugeng dulu, menjadi kunci Pak Sugeng agar bisa menemukan perlahan keberadaan Pak Dadang.
“ Nanti malam coba kalian lihat toko antik di seberang jalan sana, lihat di sana apa ada orang yang berjaga, jika ada kalian harus pintar mencari info darinya.” Ujar Pak Sugeng kepada anak Buahnya.
Mereka mengangguk dan langsung melakukan perintah dari Pak Sugeng, Pak Sugeng sangat terbantu dengan bantuan mereka, jasa – jasa Pak Sugeng yang di anggap berarti membuat anak buahnya mau melakukan hal yang di inginkan Pak Sugeng meskipun tanpa Di bayar sama sekali.
Sedangkan di sisi lain saat itu Pak Dadang dan Pak Yaya tengah berjaga di toko milik Pak Yaya, Pak Dadang pun hanya sekedar membantu Pak Yaya , karena tokonya tidak terlalu ramai, tapi dengan barang – barang yang berumur, membuat perawatan yang di berikan terhadap barang – barang di toko itu berbeda layaknya benda baru.
“ Pak, sudah beberapa waktu, toko Bapak ini tidak ada yang datang, tapi kenapa Bapak tidak khawatir sama sekali?” tanya Pak Dadang.
“ Kenapa harus khawatir Pak?” Ujar Pak Yaya.
“ Ia Kan , Bapak penghasilannya hanya mengandalkan dari toko ini, keberadaan keluarga saya di rumah Bapak malah menambah beban , dalam hati terdalam saya merasa tidak enak.” Ujar Pak Dadang.
“ Bapak Sudah beribu kali meminta maaf dan menyebutkan hal yang sama terhadap saya, saya ini sudah tua Pak, saya juga bisa di bilang kesepian, semenjak anak dan Istri saya berada di luar, kehadiran Bapak dan keluarga menjadi teman untuk saya di saat saya teringat dengan keluarga saya sendiri.” Ujar Pak Yaya.
“ Tapi saya juga tidak terbiasa dengan terus menerus menjadi beban untuk orang lain.” Ujar Pak Dadang.
“ Saya merasa keluarga Bapak bukan beban, namun saya menganggap keluarga Bapak itu ladang pahala dan cara agar mempermudah rezeki saya.” Ujar Pak Yaya.
“ Maksud Bapak?” Tanya Pak Dadang.
“ Saya mau jujur dengan Bapak tentang keadaan keluarga saya.” Ujar Pak Yaya.
Pak Yaya dan Pak Dadang pun duduk di kursi agar pembicaraan mereka menjadi nyaman.
“ Jujur seperti apa Pak, karena sejujurnya pun saya ingin menanyakan hal itu, hanya saja saya sedikit sungkan jika menanyakan masalah Pribadi, apalagi hubungannya dengan keluarga bagi saya itu terlalu rahasia untuk di beberkan dan di jelaskan?” tanya Pak Dadang.
“ Jadi dulu, saya , anak , istri beserta orang tua saya, tinggal di rumah yang saat ini kita tinggali, dulu keadaan kami bisa di bilang jauh dari kata susah sedih , setiap hari kami bahagia di sana, kami mempunyai usaha turun temurun dari kakek buyut saya , yaitu toko antik ini.” Ujar Pak Yaya.
“ Lalu bagaimana lagi Pak?” Tanya Pak Dadang.
“ namun yang namanya kebahagian itu tidak berlangsung lama ketika anak saya beranjak dewasa, Anak saya tidak menyukai yang namanya berniaga , apalagi dengan toko tua ini, dari sana mulai banyak perdebatan terjadi dengan istri saya yang mendukung anak nya saat itu, saya berada dalam keadaan sulit saat itu, toko sangat sepi dan membuat orang tua saya memutuskan untuk berhenti dan mewariskannya kepada saya, hal itu membuat anak dan istri saya semakin tidak suka.” Ujar Pak Yaya.
“ Kenapa mereka tidak suka.” Ujar Pak Dadang.
“ Sebab mereka menganggap jika hidup hanya mengandalkan dari toko tua ini, kebutuhan mereka tidak akan terpenuhi, di tambah kondisi sulit saat itu, saya memang merasa belum bisa menafkahi mereka seperti dulu dengan mengandalkan toko ini, namun toko ini amanat untuk saya, apalagi toko ini merupakan warisan yang harus di turunkan kepada anak saya.” Ujar Pak Yaya.
“ Lalu sekarang anak dan istri Bapak di mana?” Tanya Pak Dadang.
“ Anak saya sekarang sekolah di luar dan tinggal bersama Ibunya, mungkin sekarang usianya sama seperti Ijam atau Krisna, Istri Saya bekerja di sana , saya pun merasa malu sejak kepergian mereka, saya belum bisa memberikan uang sampai saat ini, karena kondisi toko yang tidak bisa di harapkan.” Ujar Pak Yaya.
“ Lalu hubungan Bapak dengan istri seperti apa sekarang.” Tanya Pak Dadang.
“ Entah lah Pak, saya juga bingung dengan status saya dan istri , namun yang jelas amanat yang di berikan kepada saya untuk menjalankan toko tua ini , sudah saya lakukan hingga sekarang, entah hal itu benar atau tidak dengan mengabaikan keluarga saya sendiri, tapi semua itu sudah terlanjur dan saya sekarang hanya bisa pasrah.” Ujar Pak Yaya.
“ Lalu sekarang Bapak mau bagaimana dengan toko ini, jika anak Bapak tidak mau melanjutkannya?” tanya pak Dadang.
“ Ada kemungkinan saya akan menjual toko ini, dan budaya mewariskan usaha turun temurun harus di tutup di generasi saya.” Ujar Pak Yaya.
“ Mendengar cerita Bapak , saya menjadi semakin malu tinggal dengan Pak Yaya.” Ujar Pak Dadang.
“ Justru saya yang harusnya berterima kasih, berkat Bapak, rumah saya kembali hangat, saya menjadi tidak sendiri, jika Bapak Mau dan agar Bapak tidak merasa malu lagi, saya ada saran tentang toko ini.” Ujar Pak Yaya.
“ Maksudnya Pak?” Tanya Pak Dadang.
“ Maksud saya, Kita jalankan toko ini, jika Bapak ada saran mau di jadikan apa toko ini silakan tuangkan, untuk dana kita bisa menjaminkan rumah di sana, yang penting toko ini bisa berjalan.” Ujar Pak Yaya.
“ Saya belum terpikir Pak, saya ini hanya seorang petani di kampung, mungkin ada baiknya rencana Bapak itu di sampaikan kepada anak – anak saja.” Ujar Pak Dadang.
“ Betul juga ya Pak, Kita ini sudah berumur, otak kita sudah penuh dengan masalah kehidupan, memangnya kapan anak – anak pulang?” Tanya Pak Yaya bersemangat.
“ Entah Pak, belum ada kabar dari Krisna.” Ujar Pak Dadang.
“ Kenapa saya tidak terpikir sebelumnya.” Ujar Pak Yaya.
“ Kadang memang seperti itu Pak, segala sesuatu yang sederhana tapi jarang kita sadari, dan mungkin memang sudah jalannya saja seperti itu Pak.” Ujar Pak Dadang.
Perbincangan mereka menjadi semakin hangat dan akrab, hingga salah satu anak buah Pak Sugeng datang dan berpura – pura layaknya pembeli.
“ Tidak percuma kita sampai malam di sini Pak ada pembeli yang datang juga.” Ujar Pak Yaya.
“ Kalau begitu saya di belakang saja ya Pak, saya kurang paham soalnya.” Ujar Pak Dadang pergi ke area belakang sambil memperhatikan.
Anak Buah Pak Sugeng masuk dan melihat – lihat sekeliling seperti pembeli, Dia bertanya – tanya tentang barang yang di jual di sana, sambil sesekali menyelipkan pertanyaan yang pribadi terhadap Pak Yaya.
“ Silakan Pak, Mau cari benda apa, di sini banyak sekali peralatan kuno nan uik yang bisa membuat ruangan di rumah Bapak semakin estetik dan klasik.” Ujar Pak Yaya.
Salah satu anak Buah Pak Sugeng langsung bertanya tentang kediaman Pak Yaya, dan lebih sering bertanya tentang hal yang tidak menjurus kepada benda di toko itu, Pak Yaya pun mencurigai hal itu dan Dia pun langsung berpura -pura dan banyak pertanyaan yang di jawabnya secara asal namun tetap meyakinkan bagi mereka, setelah mereka mendapatkan Informasi yang ingin mereka dapat, mereka pun pergi meninggalkan toko, hingga akhirnya tidak ada satu barang pun yang di belinya.
“ Pak, kenapa mereka semua pergi?” Tanya Pak Dadang menghampiri.
“ Sepertinya mereka bukan orang yang ingin membeli.” Ujar Pak Yaya.
“ Maksud Bapak?” Tanya Pak Dadang keheranan.
“ Mereka malah menanyakan hal seperti alamat saya, Bapak tinggal dengan siapa saja, terus pernah kenal dengan seseorang bernama Yuda atau tidak, hingga Saya sadar jika mereka sepertinya sedang mencari informasi tentang Pak Dadang.” Ujar Pak Yaya.
“ Tahu Dari mana Pak?” Tanya Pak Dadang.
“ Sebab salah satu dari mereka menanyakan tentang jumlah orang yang tinggal di rumah Saya, Itu tidak logis Pak, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan benda di toko ini, Sepertinya Bapak Harus segera menghubungi Krisna di sana.” Ujar Pak Yaya.
“ Tapi Bapak menjawab apa?” Tanya Pak Dadang.
“ ketika mereka bertanya, Saya pun menjawab asal saja , dan saya bilang jika saya hanya tinggal dengan keluarga layaknya orang lain pada umumnya.” Ujar Pak Yaya.
“ Mungkin Saja mereka mencari saya, tapi apa hubungannya mereka dengan saya, saya tidak kenal dengan mereka.” Ujar Pak Dadang.
“ Entah Lah Pak, tapi sebaiknya Bapak berhati – hati saja.” Ujar Pak Yaya.
“ Apa mungkin Pak Sugeng?” Ujar Pak Dadang dalam hati.
“ Ya Sudah pak, Kita pulang saja, lagi pula ini sudah malam.” Ujar Pak Yaya.
Pak Dadang pun terdiam dan hanya mengangguk, kejadian itu masih asing dan membuatnya penasaran.
“ Aku harus mencari tahu, dan menanyakan langsung pada Krisna.” Ujar Pak Dadang dalam hati.
Pak Dadang langsung meminta ijin kepada Pak Yaya untuk meminjam telepon genggam milik Pak Yaya.
“ Pak, Apa saya boleh pinjam telepon sebentar.” Ujar Pak Dadang.
“ Telepon Toko ini sudah lama di cabut Pak, paling telepon genggam saja, jika mau menelepon rasanya masih cukup pulsanya.” Ujar Pak Yaya.
“ Jika memang boleh, saya pinjam sebentar mau menanyakan kabar Krisna dan yang lainnya.” Ujar Pak Dadang.
“ Tentu Pak, pakai saja.” Ujar Pak Yaya.
Pak Dadang pun melakukan panggilan telepon kepada Krisna.
“ Halo Pak, Ini Ijam.” Ujar Ijam.
“ Jam, Di mana Krisna?, kalian baik – baik saja Kan?” Tanya Pak Dadang.
Ijam perlahan menjelaskan keadaan Krisna dan yang lainnya secara rinci, hingga semua permasalahan yang sempat terjadi di kampung, mendengar hal itu Pak Dadang pun menjawab dan menjelaskan semua kejadian yang terjadi pada dirinya.
“ Jadi betul Pak Sugeng sudah ada di kota ini.” Ujar Pak Dadang.
“ Betul Pak, makannya Pak Yuda dan bang Bram kembali ke sana, sedangkan saya harus menjaga Krisna dan Yang lainnya di sini, Bapak harus berhati – hati.” Ujar Ijam.
Percakapan mereka pun harus di sudahi , sebab pulsa yang Pak Yaya miliki tidak cukup, mendengar kabar dari Ijam Pak Dadang langsung berpikir cepat dan langsung mengambil keputusan.
“ Bagaimana Pak?, bagaimana kabar anak – anak di sana?” Tanya Pak Yaya.
“ Kita pulang dulu saja ya Pak, nanti saya jelaskan secara rinci di rumah.” Ujar Pak Dadang.
Pak Yaya pun sudah membaca jika memang ada yang tidak beres dengan hal itu, wajah Pak Dadang yang dingin membuat Pak Yaya semakin yakin.
Di sisi Pak Sugeng kini telah mendapatkan sebagian informasi yang ia perlukan, meskipun informasi yang di berikan oleh Pak Yaya tidak benar, namun Pak Sugeng tetap terus mencari dan memanfaatkan anak buahnya untuk menemukan Pak Dadang.
Semakin rumit keadaan dengan di tambahnya Krisna yang kembali sakit, Ayu dan Siti tidak banyak membantu dan malah membuat Krisna semakin tidak stabil, dan terkadang menangis secara tiba – tiba tanpa sebab.
“ Kris, Ayo lah jangan seperti ini, Aku tahu jika Kamu tidak bisa berhenti memikirkan masalah ini, tapi tolong jangan membuat keadaan semakin rumit.” Ujar Ijam kepada Krisna yang saat itu sedang terduduk.
“ Kenapa Aku seperti ini Jam, apa dosa ku terlalu banyak?” Tanya Krisna.
“ Sudah – sudah, Aku tidak mau membahasnya, sekarang lebih baik kamu ikut dengan ku.” Ujar Ijam.
“ Kemana?, bagaimana jika Ayu dan Siti celaka?” Tanya Krisna cemas.
“ Ajak mereka juga, Aku ingin memperlihatkan sesuatu untukmu.” Ujar Ijam.
“ Tapi bagaimana jika di jalan kita bertemu dengan Pak Sugeng.” Ujar Krisna.
“ Aku akan melawannya.” Ujar Ijam.
“ Tapi...” Ujar Krisna.
“ Sudah Kris, Ikut saja, tenangkan pikiran mu dan perasaan buruk sangka itu.” Ujar Ijam.
Ijam mengajak Krisna ke tempat mereka sering bermain saat kecil dulu, jaraknya tidak terlalu jauh, dan udaranya yang cukup sejuk sebab dii tutupi pepohonan yang rindang.
“ Lihat Kris, Hamparan ladang ini.” Ujar Ijam.
“ Memang ada apa di sini?” Tanya Krisna.
“ Kamu ingat tidak, di sini dulu kita sering bermain dan menghabiskan waktu?” Tanya Ijam.
“ Entah jam, Aku tidak bisa memikirkan hal itu, sekarang yang Aku pikirkan selalu tentang Bapak dan Ayu.” Ujar Krisna.
“ Duduk Sini.” Ajak Ijam.
Krisna pun Duduk sambil memandang ke arah depan.
“ Coba tenangkan pikiran Kamu, dan ingat kembali masa kecil kita yang tanpa beban.” Ujar Ijam.
Krisna menarik nafas panjang.
“ Jika Kamu ingat, di pohon ini kita sering menghabiskan waktu, baik kita saat makan siang, belajar, bermain, sampai kita bersembunyi dari kejaran Pak Dadang pun, kita naik ke pohon ini.” Ujar Ijam.
Krisna hanya terdiam.
“ Aku ingat saat kamu memukul Ayu dengan karet, Ayu menangis dan mengadu kepada Bapaknya, ujung – ujungnya Pak Dadang dan Bapaknya Ayu yang saling beradu argumen.” Ujar Ijam.
Krisna mulai sedikit tersenyum sambil memandang ke depan.
“ Lalu Pak Dadang dan Bapaknya Ayu, tidak saling bertegur sapa cukup lama, hingga kita dewasa, namun semenjak Kamu dan Ayu memiliki hubungan spesial , Pak Dadang dan Bapaknya Ayu hubungannya kembali baik, bahkan kini mereka sering berbincang.” Ujar Ijam.
Krisna kembali tersenyum.
“ Kamu Tahu Kris, Jika Aku saat itu berada di posisi Bapaknya Ayu, Aku tidak akan menerimamu sebagai calon mantu, mungkin karena Bapaknya Ayu baik, jadi dia mau menerima laki – laki sepertimu.” Ujar IJam tersenyum.
“ maksudmu?” Tanya Krisna.
“ Nah Gitu jawab, Ia Maksudku , mana ada yang mau menerima pria jelek, item , untuk jadi calon mantunya, mana kelakuannya kaya anak kecil lagi, kamu benar – benar lengkap Kris.” Ujar Ijam.
“ Maksudmu Aku jelek?” tanya Krisna.
“ Lebih menjurus kurang tampan, terlalu jelek sih engga, hanya kurang saja.” Ujar Ijam tersenyum.
“ Tidak apa – apa Aku - akui memang jelek, Tapi kan Ayu tetap suka.” Ujar Krisna.
Ijam melihat Krisna tersenyum.
“ Bagus Kris, lepaskan beban pikiranmu.” Ujar Ijam dalam hati.
“ Masih suka saja kayanya Kris, kurang tahu besok atau lusa, jika dia di dekati Pria mapan dan tampan, ya Kamu siap – siap saja mengalah.” Ujar Ijam berlari menjauhi Krisna.
“ Sini Kamu, Kebiasaan kalau sudah mengejekku , pasti keterlaluan.” Ujar Krisna tersenyum.
Mereka layaknya anak – anak yang sedang bermain untuk menghabiskan waktu, Ijam merasa senang , caranya membawa Krisna ke tempat yang mempunyai kenangan menyenangkan membuat Krisna bisa sesaat menenangkan pikirannya, terapi seperti itu akan terus Ijam lakukan sambil terus berkomunikasi dengan Yuda, kondisi Krisna yang belum stabil membuat Ijam harus bekerja lebih ekstra, namun ijam yakin Krisna akan sembuh total dan kembali seperti dulu.