Pagi kini menjelang, Yuda dan Bram yang akan kembali ke kota untuk mencari Pak Sugeng, telah bersiap dengan tekad yang kuat, layaknya buruan Pak Sugeng kini selalu menjadi incaran mereka berempat, namun rasa khawatir Krisna kini semakin bertambah, keselamatan Pak Dadang dan keluarga di kota , kini terancam.
Dilema yang di rasakan Krisna begitu tersirat jelas di raut wajahnya, bagaikan buah simalakama yang menjadikan Krisna serba salah.
“ Sekarang Aku harus bagaimana Jam?” Tanya Krisna.
“ Sabar Kris, semua pasti ada jalan keluarnya.” Ujar Ijam.
“ Memang Aku yakin tentang hal itu, namun ini berbeda Jam, bagaimana jika Pak Sugeng menemukan Bapak dan yang lainnya di kota.” Ujar Krisna.
“ Aku yakin Bapak juga tidak akan diam saja, Jika memang itu benar pasti Bapak bisa melakukan sesuatu untuk melindungi keluarganya.” Ujar Ijam menenangkan Krisna.
“ Aku takut, Pak Sugeng membawa orang lain, membawa anak buahnya atau siapa pun itu, Dia pasti akan melakukan segala cara untuk membalaskan dendamnya.” Ujar Krisna.
“ Tenang Kris, kita harus tenang, jangan sampai pikiran kita merusak rencana yang telah kita buat.” Ujar Ijam.
“ Bagaimana Aku bisa tenang Jam, kamu tidak ada di posisiku saat ini.” Ujar Krisna.
“ Krisna.” Ujar Ijam Membentak.
Krisna hanya melihat wajah Ijam yang marah.
“ Aku pun sama merasakan apa yang kau rasakan, Aku juga bagian dari keluarga ini, tapi Apa sikap Kamu membantu?, dengan kecemasan kamu Pak Dadang dan yang lainnya di kota bisa selamat?, Apa dengan kegelisahan Kamu masalah ini bisa selesai begitu saja?” Ujar Ijam terpancing emosi.
“ Tapi Aku Harus bagaimana?” Tanya Krisna.
“ Hentikan kegelisahan Kamu, jika Kamu terus seperti itu bukan hanya Pak Dadang yang akan celaka, semua orang yang akan kena imbas, tolong pikirkan, Jujur Aku sebenarnya tidak mau melibatkan Kamu dengan semua ini, kondisi mental Kamu yang tidak siap.” Ujar Ijam.
Krisna hanya terdiam sambil menutup mukanya dengan tangan.
“ Kesehatan mental Kamu sedang tidak baik, Kamu gampang gelisah, cemas, segala sesuatu pasti berpikir hal negatif, Itu yang menjadi hambatan kita saat ini, kegelisahanmu dan ocehanmu tidak akan sama sekali membantu.” Ujar Ijam.
Yuda dan Bram yang saat itu mendengar perdebatan antara Krisna dan Ijam mencoba menenangkan mereka berdua.
“ Kalian ini kenapa?, bagaimana kita bisa fokus jika kalian malah seperti ini.” Ujar Yuda.
“ kita semalam sudah sepakat untuk membagi menjadi dua tim, Krisna tenangkan dirimu, jika kamu seperti itu, Kamu saja yang pergi ke kota.” Ujar Yuda.
“ Tapi bagaimana dengan Ayu dan Siti.” Tanya Krisna.
“ Lalu Kamu sekarang mau apa dan bagaimana?, ini bagaimana itu bagaimana, buat pusing saja?” Tanya Bram.
“ Bram tenang.” Ujar Yuda.
“ Aku hanya khawatir dengan mereka semua itu saja.” Ujar Krisna.
“ Memang khawatir bisa menyelesaikan semua?” Ujar Bram.
“ Bram tunggu di luar!, perdebatan ini tidak akan selesai jika bercampur dengan emosi.” Ujar Yuda.
“ Krisna, tenangkan pikiranmu, jangan sampai pikiranmu dan kecemasanmu , membelah komunikasi antara Kita, tenang, percayakan semuanya kepada Ku, Aku akan menjaga Pak Dadang dan yang lainnya.” Ujar Yuda.
Krisna mulai tenang dan hanya terdiam.
“ Ia Pak, jangan sampai komunikasi kita terputus, Saya akan menjaga Krisna dan yang lainnya di sini.” Ujar Ijam.
“ Ya Sudah Saya Pamit, Ingat Kris, tenangkan dirimu, kita harus saling percaya satu sama lain.” Ujar Yuda.
Krisna hanya menganggukkan kepalanya.
“ Hati – hati Pak.” Ujar Ijam.
Yuda dan Bram langsung berangkat , dengan informasi yang ia miliki dari warga yang sempat membuat berita bohong.
Kini tim terbagi menjadi dua, antara Bram dan yuda, serta Ijam dan Krisna, Krisna kondisi mentalnya belum sehat seratus persen. Krisna selalu cemas berlebih dan dapat merugikan dirinya sendiri.
“ Ayu, kenapa pagi sekali, ada apa?’ Tanya Ijam.
“ Aku mendengar perdebatan di antara kalian, dimana Krisna?” Tanya Ayu.
“ Dia di dalam , masuk saja, Aku kebetulan mau keluar dulu mencari makanan.” Ujar Ijam.
“ tunggu dulu Jam, tunggu sampai Aku selesai berbicara dengan Krisna, Tidak baik membiarkan Kami berdua, takut terjadi fitnah.” Ujar Ayu.
“ Baiklah, maaf Aku lupa jika kalian hanya berdua, Aku tunggu di luar saja ya.” Ujar Ijam.
“ Aku hanya ingin berbicara sebentar dengan Krisna.” Ujar Ayu sambil masuk ke dalam rumah.
Ayu melihat Krisna yang sedang tertunduk, dan memegangi kepalanya.
“ Kris, Kamu baik – baik saja kan?” Tanya Ayu.
Krisna tidak menjawab.
“ Krisna, kamu kenapa?, coba ceritakan semua padaku.” Ujar Ayu.
“ Kamu juga pasti mendengar nya, jadi aku rasa tidak usah di jelaskan kembali.” Ujar Krisna.
“ Lihat mukaku!, Krisna!” Ujar Ayu.
“ Kamu semenjak tinggal di kota, menjadi amat sangat berubah, kamu lebih banyak diam dan jarang sekali memberiku kabar, kamu ini ada apa, kadang Aku kesal terhadapmu.” Ujar Ayu.
“ Entah Ayu, Aku hanya kebingungan dan merasa aneh dengan diriku sendiri, Aku tidak bisa mengontrol emosi dan rasa khawatir dalam diriku, cemas berkepanjangan terus aku rasakan, apalagi di tambah dengan kejadian ini pikiranku sulit sekali untuk fokus, dalam bayanganku selalu akan terjadi hal buruk.” Ujar Krisna.
“ Kamu harus membagi beban pikiranmu, entah itu dengan Ijam atau dengan Aku, jangan semuanya di pikirkan sendiri, agar akibatnya tidak seperti ini.” Ujar Ayu.
Ayu mengeluarkan semua isi hatinya keadaan Krisna, Ijam pun hanya bisa terdiam di luar dan melihat Krisna yang seperti semakin tertekan.
“ Yu, Sudah, kasihan Krisna, Dia sekarang sedang tidak stabil perasaannya.” Ujar Ijam.
“ Aku hanya ingin Krisna tidak bersikap seperti dulu lagi saja Jam.” Ujar Au.
“ Ia Aku tahu, tapi sekarang waktunya tidak tepat, lihat kondisi Krisna kini, jangan menambah beban pikirannya dulu.” Ujar Ijam.
Ayu merasa jika Ijam tidak memahami perasaan seorang perempuan dan tidak mengerti apa yang Dia rasakan, Ayu pun pergi meninggalkan Ijam dan Krisna tanpa sepatah kata pun.
“ Susah memang jika menyelesaikan masalah dengan emosi.” Ujar Ijam menggelengkan kepalanya.
Suasana saat itu sangat tidak kondusif, perpecahan mulai terasa, sebagai bumbu dalam persahabatan bahkan sebagai bumbu layaknya seorang kekasih, ada drama dan kisah yang seperti sudah menjadi kewajiban dan tidak asing lagi jika terjadi.
Ijam dalam kondisi sulit saat itu, keadaan Krisna yang mendadak berubah dan kembali sakit, serta di tambah perdebatan antara Ayu dan Krisna, membuatnya menggelengkan kepala dan tetap fokus pada tujuannya serta menunggu kabar dari Yuda dan Bram tentang situasi dan hal yang harus di kerjakan selanjutnya.