Krisan dan ke dua sahabatnya terus masuk ke dalam hutan, namun pencarian mereka nihil dan tanpa tanda yang jelas, Ijam saat itu langsung mengusulkan untuk segera kembali, sebab perlahan hari mulai gelap.
“ Pak Sugeng itu sangat licin ternyata, Aku tidak menyangka orang setua dia bisa berjalan dan bersembunyi sejauh ini.” Ujar Yuda.
“ Ia Pak, Kita pikirkan cara mencari Pak Sugeng besok hari saja, Aku sudah mulai lelah.” Ujar Krisna sambil memegang sebuah botol minum.
Saat perjalanan mereka akan berakhir, terlihat Ayu dan Siti yang tengah duduk dengan wajah gelisah, hal itu membuat Krisna mengerutkan dahi dan dalam benaknya timbul pertanyaan.
“ Kenapa Ayu dan Siti wajahnya seperti gelisah, dan ke mana Bram?” Tanya Krisna.
“ Entah Kris, mungkin mereka sedang menunggumu.” Ujar Yuda.
Krisna langsung berlari menghampiri Ayu dan Siti, Ayu saling menatap dengan Krisna, dan tiba – tiba saja Ayu memeluk Krisna.
“ Kris, Kamu baik – baik saja?” Tanya Ayu.
Krisna mengerutkan dahi , heran.
“ Aku selama Ini Baik, Ada apa Yu memangnya , Kamu tidak biasanya seperti ini.” Ujar Krisna.
Sambil memeluk Krisna , Ayu menjelaskan tentang kejadian tadi siang, mendengar hal itu Krisna menyadari jika Pak Sugeng telah kembali ke kampung ini dan mencurigai jika Dia masih bersembunyi.
“ Berita itu bohong, Tahu dari mana Orang Itu, Rencana Kami untuk mencari Pak Sugeng ke hutan tidak akan bocor ke orang lain.” Ujar Krisna.
“ Memangnya siapa orang yang memberikan kabar itu?” Tanya Ijam.
Ayu yang akan menjawab pertanyaan Ijam langsung di potong pembicaraannya oleh Siti.
“ Tetanggaku Jam, Dia juga dulu pernah bekerja dengan Pak Sugeng.” Ujar Siti tersenyum.
“ Sudah jelas berarti, jika Pak Sugeng sudah kembali ke kampung ini, kalian segera ke rumah, jangan biarkan orang masuk ke rumah kalian, Tapi tolong tunjukan rumah orang yang memberi kabar bohong itu?” Tanya Yuda.
Ayu dan Siti pun menunjukkan rumah dan nama orang yang memberi tahu kabar bohong itu, Yuda langsung meminta Ayu dan Siti agar kembali ke rumah, dan mengajak Krisna beserta Ijam untuk kembali menyusun rencana.
“ Bram Buka!” Ujar Yuda.
Bram mendengar jika Yuda sudah kembali, dan bergegas membuka pintu, Ayu dan Siti pun terkejut jika di dalam rumah ada Bram yang tengah tertidur.
“ Aku Tadi terus mengetuk pintu tapi tidak ada yang jawab.” Ujar Ayu.
“ Maaf Aku tidur terlalu lelap.” Ujar Bram tersenyum.
“ Kamu ini bagaimana, Ayu dan Siti gelisah dari tadi , Kamu malah enak – enak tidur, di berikan kepercayaan yang sederhana saja Kamu tidak bisa Bram, Jika Kamu ingin pulang, pulang lah, jangan jadi benalu, lagi pula Kamu di sini tidak ada urusan apa pun.” Ujar Yuda kesal sambil masuk ke dalam rumah.
Ayu dan Siti bergegas kembali ke rumah, sedangkan mereka berempat duduk dalam satu meja dan menyiapkan rencana, perselisihan dan perdebatan mulai di rasakan, terutama Bram yang tiba – tiba terlihat tidak nyaman dengan situasi di sana, tapi itu sudah menjadi risiko dan pilihannya, Bram pun meminta maaf dengan kesalahannya yang terlihat sepele namun cukup fatal jika terjadi sesuatu.
“ Sebaiknya Ijam saja yang menghampiri orang itu.” Ujar Yuda.
“ Kenapa bukan aku saja Pak?” Tanya Krisna.
“ Hubungan Ijam dengan warga di sini bisa di bilang cukup baik, orang itu juga kini membuat gerabah, mungkin saja sedikit informasi bisa di gali dari orang itu, karena Jika Kamu yang bertanya , Aku takut Kamu akan tersulut emosi dan rencana kita akan buyar." Ujar Yuda.
“ Sudah Kris, kita di sini harus bekerja sama satu sama lain, tujuan kita sama.” Ujar Ijam merangkul sahabatnya
“ Ia Jam, ada benarnya juga apa kata Pak Yuda.” Ujar Krisna.
Bram hanya terdiam tanpa memberikan saran sedikit pun, malam pun menjelang Ijam langsung melakukan tugasnya, layaknya seorang intel Ijam terus menggali informasi yang dibutuhkan, hingga akhirnya titik terang pun terbuka dan Ijam mengetahui tujuan Pak Sugeng.
“ Orang itu sudah mengaku dan memang jika Pak Sugeng sudah kembali, namun sekarang dia pergi menuju kota." Ujar Ijam.
“ Untuk apa Dia ke kota, apa di sana ada kerabat atau anak buahnya yang lain?” Tanya Krisna.
“ Memang di sana sepertinya Pak Sugeng memiliki anak buah yang lain, sebab yang menerorku di kota, diia juga berasal dari sana dan sepertinya tujuan Pak Sugeng selanjutnya itu adalah tempat anak buahnya yang dulu menyerangku.” Ujar Yuda.
“ Jadi besok Bram dan Aku akan kembal ke kota, Krisan dan Ijam tunggu di sini, jaga Ayu dan Siti.” Ujar Yuda.
“ Tapi Apa tidak berbahaya jika Bapak pergi hanya berdua saja?’ Tanya Krisna.
“ Lebih bahaya lagi jika Pak Sugeng masih ada di kampung ini, bisa saja orang tadi itu berbohong kepada kita, Kita harus lebih pintar dari pada Pak Sugeng.” Ujar Yuda.
“ Jadi kita bagi menjadi dua Tim, dan tetap terus saling memerikan kabar.” Ujar Ijam.
Semua sudah sepakat dengan rencana itu, dan mereka pun kembali beristirahat, namun semakin malam, suasana di kampung itu terasa lebih mencekam, ha itu pun di rasakan oleh Krisna.
“ Jam kenapa suasana saat ini begitu berbeda, dulu jam segini itu masih ramai orang lalu lalang, sekarang seperti kota mati.” Ujar Krisna.
“ Dulu Aku juga merasakan hal yang sama, dan dulu Pak Dadang juga sempat melihat berapa sosok yang mengganggu rumah warga, mudah – mudahan malam sekarang dan seterusnya gangguan itu hilang, kasihan warga jadi terhambat aktivitasnya.” Ujar Ijam.
“ Aku bahkan baru tahu Jam, setelah sekian lama Aku meninggalkan kampung ini, banyak sekali yang berubah.” Ujar Krisna.
“ Ya sudah kita tidur di tengah rumah saja, soalnya ada salah satu di antara kita yang penakut.” Ujar Yuda menyindir Bram.
Bram pun hanya terdiam dan tanpa sedikit pun membalas candaan Yuda.
“ Sudah Pak, mau bagaimana pun kita ini adalah sahabat, jangan saling menjatuhkan.” Ujar Ijam.
“ Ia Itu Pak.” Ujar Bram tersenyum.
“ Ia , ia, Aku tadi hanya kesal dengan kelakuanmu, tapi jika Kamu seperti tadi lagi, ku lempar kau ke rumah Pak Sugeng, biar tidur kau sama makhluk di sana.” Ujar Yuda.
“ Ia Pak, segitu saja marah.” Ujar Bram tersenyum.
Kehangatan pun mulai kembali terjalin, setiap permasalahan jika di selesaikan dengan kepala dingin dan saling menurunkan ego , maka akan membuahkan hasil yang sempurna.
Waktu berlalu begitu cepat, satu persatu dari mereka mulai terlelap tidur, hingga menyisakan Bram yang masih terjaga.
“ Kenapa Aku tidak bisa tidur, Ayolah cepat tidur, Aku tidak mau lagi mendengar gangguan – gangguan aneh lagi.” Ujar Bram.
Sesekali Bram mencoba mengubah posisi tidurnya, namun tidak berpengaruh, hingga waktu tepat menunjukkan jam 2 pagi, suasana semakin hening dan terdengar suara geraman dari balik pintu.
“ Suara apa itu?, Kris bangun Kris.” Ujar Bram mencoba membangunkan Krisna.
Namun sayangnya Krisna tidak terbangun. Hingga tiba – tiba jendela membuka perlahan, dan terlihat sosok yang sedang memandang Bram dengan tajam, Bram tidak dapat mengalihkan pandangannya, keringat dingin mulai bercucuran, hingga akhirnya Bram berteriak sangat keras, dan sosok itu langsung menghilang, mendengar teriakan Bram, mereka pun terbangun dan terkejut.
“ Kamu ini kenapa lagi?” Tanya Yuda.
“ Besok kita jadi ke kota kan Pak?” Tanya Bram.
“ Jadi!, memangnya kenapa?, Kamu mimpi atau apa, mengagetkan semua orang saja.” Ujar Yuda.
“ Ada itu Pak.” Ujar Bram.
“ Kamu hanya mimpi buruk saja, cepat tidur!.” Ujar yuda kesal.
“ Kalian berdua percaya kan kepadaku?” Tanya Bram kepada Krisna dan Ijam.
Ijam hanya mengangguk, namun Krisna merasakan keadaan saat itu sangat dingin, bulu kuduknya mulai berdiri, saat Krisna melihat ke arah jendela luar, Krisna melihat sosok yang terus mengikutinya.
“ Kenapa Dia ada di sini.” Ujar Krisna.
Krisna pun teringat tentang benda pemberian Pak Sugeng, dan mengambil benda itu di dalam tas miliknya.
“ Benda itu sebaiknya Aku kembalikan ke Rumah Pak Sugeng.” Ujar Krisna.
“ Bang, bisa temani Aku?” Tanya Krisna.
“ Ke mana?” Tanya Bram.
“ Ke Rumah Pak Sugeng.” Ujar Krisna.
“ Gila Kau, malam – malam begini Aku harus ke rumah hantu itu, Kau juga percaya kan jika di tadi ada sosok yang memperhatikan kita.” Ujar Bram menolak.
Mendengar penolakan terhadap dirinya, Krisna mengurungkan niatnya, dan menyimpan kembali benda itu, harapan agar lepas dari sosok itu terus ada , entah kapan dan bagaimana caranya, masih menjadi rahasia untuk dirinya sendiri, namun tetap diiringi dengan usaha dan harapan yang tidak pernah putus.