Kini Pak Sugeng bukanlah orang yang kuat dan tangguh seperti dulu, bukan hanya umur yang semakin bertambah, tapi kini kondisi kejiwaan Pak Sugeng yang mulai terganggu, kondisi badannya pun kini kurus kering, tapi hanya ada satu yang tidak berubah dalam diri Pak Sugeng, keangkuhan dan kesombongannya yang tidak pernah berubah.
Kekacauan yang di timbulkan oleh Krisna dan ke tiga sahabatnya, membuat Krisna kini harus lebih berusaha dengan keras, dalam diri Krisna terdapat keyakinan, jika suatu hari nanti dirinya dan keluarga akan mendapatkan ketenangan secara batin.
Waktu berlalu begitu cepat , Krisna dan ketiga sahabatnya yang menjadi penyebab perginya Pak Sugeng, memutuskan untuk mencari Pak Sugeng ke dalam hutan , namun Bram yang sepertinya syok, memutuskan untuk berdiam di rumah dan beristirahat.
“ Bram, Kamu tunggu rumah , awasi juga rumah Ayu dan Siti di sana, ingat Pak Sugeng sedang berada di luar, Aku takut ketika kita pergi ke luar , Pak Sugeng masuk dan berbuat jahat kepada Ayu dan Siti.” Ujar yuda kepada Bram yang masih terduduk lemas.
“ Ia Pak, kalian Bisa mengandalkan Aku.” Ujar Bram kembali membaringkan badannya di atas Kursi.
Waktu menunjukkan jam 2 Siang, Krisna, Ijam, dan Juga Yuda mulai mencoba mencari Pak Sugeng, rasa khawatir terus di rasakan terutama oleh Krisna, cemas terhadap keadaan Ayu dan Siti, namun dirinya terus berpikir positif dan berharap semua ketakutannya tidak pernah terjadi.
“ Kris, kamu kenapa, dari tadi saat kita pergi, Kamu terus termenung dan menekuk mukamu seperti itu?” Tanya Ijam.
“ Aku Hanya Khawatir terhadap Ayu dan Siti, Aku takut Pak Sugeng tiba – tiba datang ke rumah mereka, dan mencelakai mereka.” Ujar Krisna.
“ Kris, Kita harus mencoba berpikir jernih dan berpikir positif, jangan jadikan Pikiran Kamu terpengaruhi oleh kekhawatiran dan membuatmu jadi tidak tenang.” Ujar Ijam.
“ Lalu Aku harus bagaimana Jam?’ Tanya Krisna.
“ Tenang, Ingat Kan Di Rumah Juga sudah ada Bram, adi Aku aras tidak akan terjadi apa – apa.” Ujar Ijam.
Krisna mencoba tenang dan tetap berpikir jernih, dan fokus pada tujuan mereka bertiga , satu tas penuh berisi perlengkapan, yang bisa saja sewaktu – waktu bisa di pakai dan membantu.
“ Jam, Itu Tas ransel Kamu isinya apa saja, kenapa besar sekali, kita kan bukan mau berkemah.” Ujar Yuda.
“ Untuk jaga – jaga saja Pak, di hutan itu kan banyak sekali hewan dan tumbuhan yang kita tidak tahu berbahaya atau tidak, selain makanan kecil dan minum , di sini juga ada perlengkapan keselamatan dan alat pertolongan pertama.” Ujar Ijam.
“ Oh, Bagus kalau begitu, kita harus saling menjaga satu sama lain di hutan, jangan berpisah dan terus fokus, serta cari jejak – jejak yang berhubungan dengan Pak Sugeng.” Ujar Yuda.
Mereka terus menyusuri jalan, hingga mereka melewati rumah Pak Sugeng yang memang kondisinya terlihat kosong dan hanya ada bekas kejadian semalam yang terlihat begitu jelas di siang hari, pintu rumah yang masih ternganga dan bekas lumpur yang ada di setiap sudut lantai.
“ Kamu Tahu daerah Ini Kris?’ Tanya Yuda.
“ Jujur saja Kau belum pernah ke daerah ini, tapi dengan jalan setapak ini, mungkin banyak orang yang sudah melewati jalan ini.” Ujar Krisna.
“ Aku Sedikit tahu jalan ini, tenang saja kita tidak akan tersesat.” Ujar Ijam.
“ Bagus lah, Kamu di depan saja Jam, sebagai penunjuk jalan, Aku di belakang sambil terus mencari jejak Pak Sugeng.” Ujar Yuda.
Ijam terus berjalan, hingga melihat jejak Pak Sugeng dan baju Pak Sugeng yang terakhir di pakai.
“ Ini seperti pakaian Pak Sugeng, sepertinya Dia juga melewati jalan ini, tapi kenapa dia harus membuka bajunya?” Tanya Ijam.
“ entah lah , mungkin dia melakukan ritual atau semacamnya, yang penting kita harus segera mencari orang itu.” Ujar Krisna semakin bersemangat.
Di sisi lain Pak Sugeng yang tidak sadarkan diri, kini tersadar dan terbangun perlahan , dengan hanya bertelanjang d**a, Pak Sugeng melihat ke arah langit. bibirnya mengering dan badannya yang penuh dengan tanah, Pak Sugeng mencari air agar dirinya bisa membersihkan diri dan menyegarkan tubuhnya.
“ Aku tidak mau kejadian dulu terulang kembali, Aku harus segera keluar dari hutan ini, Awas kalian.” Ujar Pak Sugeng penuh dendam.
Pak Sugeng dengan terpincang – pincang dan sambil memegang perutnya, dia mencari air untuk segera menyegarkan dahaga yang ia rasakan, Pak Sugeng pun terpaksa memeras air dalam tanaman lumut yang memang memiliki kadar air yang tinggi, rasa getir yang menempel di lidahnya pun tidak di rasakan demi mendapatkan setetes demi setetes air yang mengendap.
Pak Sugeng menarik nafas panjang, dan terus mencari jalan tercepat menuju perkampungan, Dia terus berjalan dan akhirnya bisa keluar ke perkampungan warga, Dia mencari rumah mantan anak buahnya dan meminta agar dia mau melakukan sesuatu untuknya.
Begitu terkejutnya salah satu warga yang dulu pernah bekerja dengan Pak Sugeng, Namun Dia tidak dapat berbuat banyak, sebab berkat Pak Sugeng Dirinya dan keluarga bisa mendapatkan penghasilan, dan kini Pak Sugeng meminta balasan dari semua itu.
“ Aku minta Kamu mendatangi rumah Siti, bilang saja pada dia jika ke empat sahabat nya telah tersesat di hutan.” Ujar Pak Sugeng kepada mantan anak buahnya.
Dia hanya bisa mengangguk dan menuruti kemauan Pak Sugeng, hutang budi yang dulu Ia dapatkan menjadikan Dia mau melakukan semua keinginan Pak Sugeng.
“ Aku sangat yakin, jika mereka berempat mencari ku ke dalam hutan, sebab tidak mungkin mereka membiarkan Aku berkeliaran.” Ujar Pak Sugeng.
Pak Sugeng saat itu terus meminta kepada mantan anak buahnya agar merahasiakan tentang hal itu, Pak Sugeng mempersiapkan dirinya , mulai dari meminta untuk perbekalan dan meminta baju ganti untuk Pak Sugeng serta bekal berupa uang yang di pinta secara paksa.
“ Setelah membuat mereka tersesat di hutan, rencanaku kali ini Aku akan pergi ke kota dan mencari Si Dadang.” Ujar Pak Sugeng.
Setelah mendapatkan apa yang Dia mau, Pak Sugeng langsung meninggalkan Kampung dengan mengendap endap agar tidak ada satu pun warga yang melihat, dalam hatinya Dia terus memupuk rasa dendam dan amarah terhadap Pak Dadang dan Ki Amin, yang di anggap menjadi penyebab kerusakan dan kehancuran dalam hidup Pak Sugeng.
“ Tunggu Aku di kota Dang, Aku akan membuat perhitungan dengan mu.” Ujar Pak Sugeng.
Dengan bermodalkan kebohongan, salah satu warga itu mendatangi rumah Siti, dan menjelaskan semua yang di perintahkan oleh Pak Sugeng.
Mendengar hal itu Siti tidak mencernanya dengan baik, dan akhirnya terbuai dengan kebohongan dari salah satu warga itu, Siti sontak langsung memanggil Ayu yang sedang berada di dapur.
“ Ayu, Ada kabar buruk.” Ujar Siti kepada Ayu.
“ Kabar buruk apa, jangan membuat aku Kaget seperti ini.” Ujar Ayu kebingungan.
Mendengar kepanikan di antara Ayu dan Siti, mantan anak buah Pak Sugeng langsung meninggalkan mereka tanpa pamit.
Ayu yang saat itu melihat jika Siti sangat panik , mulai menaruh kecurigaan terhadap hubungannya dengan Ijam, tapi hal itu tidak langsung di utarakan oleh Ayu dan mencari kebenaran tentang berita itu.
“ Jangan panik dulu, mungkin saja itu berita bohong.” Ujar Ayu.
“ Tapi memang tadi pagi mereka membicarakan hal itu kan, tentang mencari Pak Sugeng ke dalam hutan.” Ujar Siti.
“ Memang betul, Tapi kenapa harus Dia yang mengabarkan kepada Kita?” Tanya Ayu.
“ Tidak tahu Yu.” Ujar Siti.
“ Memangnya Dia tahu dari siapa tentang berita itu, dan memang jika benar biasanya warga akan turun langsung dan mencari mereka.” Ujar Ayu.
“ Tapi jika benar mereka tersesat di hutan bagaimana?” Tanya Siti.
“ Tenang saja, jika memang benar, kita bisa minta bantuan semua warga, tapi kita harus mencari tahu dulu kebenaran berita ini.” Ujar Ayu.
“ Kita mulai cari dari mana?” Tanya Siti.
“ Sabar, Aku akan mencoba menelepon Krisna dulu.” Ujar Ayu.
“ Kan di hutan itu jarang ada sinyal, gimana Kamu Ini.” Ujar Siti panik.
“ coba saja dulu.” Ujar Ayu.
Ayu langsung melakukan panggilan terhadap Krisna.
“ Nomornya aktif, ada sinyal juga.” Ujar Ayu.
“ Lalu di Mana mereka?” Tanya Siti penasaran.
“ Tenang dulu, sabar.” Ujar Ayu tenang.
Ayu yang melakukan panggilan telepon, mulai perlahan panik, sebab Krisna tidak menjawab panggilannya, bukan tanpa sebab, Krisna selalu menyimpan telepon genggamnya di rumah dan tidak pernah membawanya di dalam saku.
“ Krisna tidak menjawab Siti.” Ujar Ayu.
“ Betulkan berarti kata orang itu.” Ujar Siti.
“ Belum tentu, Ayo kita lihat dulu ke rumah ku.” Ujar Ayu.
Ayu dan Siti terus memastikan dan mencari tahu kebenaran tentang kabar itu, Ayu mencoba membuka pintu rumahnya namun terkunci, Ayu mencoba mengetuk pintu dengan keras namun tidak ada jawaban, dalam hati kecilnya Ayu mulai panik namun tidak mau memperlihatkan hal itu kepada Siti.
Sedangkan dari dalam Rumah Ayu, Bram mendengar suara ketukan pintu itu, namun sangat lelah dan membiarkan Ayu di luar Rumah.
“ Ada apa lagi, Aku sangat ngantuk , tidak bisa mengganggunya lain kali saja.” Ujar Bram menutup telinganya dengan bantal.
Ayu yang mulai cemas dengan kebenaran berita ikut, terus mencoba tenang agar tetap bisa berpikir dengan dingin dan jernih, berbeda dengan Siti yang sangat cemas.
“ Kamu Kenapa sangat cemas sekali Siti?” Tanya Ayu.
“ Aku Tidak cemas.” Ujar Siti mengusap keringat di telapak tangannya.
“ Jujur saja, Kamu itu salah satu wanita yang tidak bisa berbohong Siti.” Ujar Ayu mengajak Siti untuk duduk dan menenangkan diri.
“ Aku khawatir dengan Ijam." Ujar Siti tersipu malu.
Ayu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum kepada sahabatnya itu, Ayu pun menunggu di depan rumahnya, sambil terus mencoba mencari tahu kebenaran hingga dia mendapatkan berita yang benar – benar pasti tentang kejadian yang menimpa Krisna dan ketiga sahabatnya.