Kepanikan mulai menghampiri mereka berempat, bukan tanpa sebab Pak Sugeng yang memang sengaja di kurung di rumahnya sendiri oleh warga setempat, kini berhasil melarikan diri ke dalam hutan dan awal niatan baik mereka kini berubah menjadi petaka, bukan untuk mereka berempat tapi juga terhadap warga lain yang memang tinggal di kampung itu.
“ Kris, Bagaimana Ini.” Ujar Ijam.
“ kita harus mengejar Pak Sugeng, sebelum Dia lari semakin jauh.” Ujar Krisna.
" Sepertinya kita terkunci.” Ujar Yuda.
Yuda dan Krisna melihat ke arah atas dan mereka hanya di perhatikan oleh sosok – sosok yang memang menghuni rumah Pak Sugeng, hanya tertawaan, dan gangguan yang mereka dapatkan, gerbang yang menjuang tinggi kini tiba – tiba terkunci dan membuat mereka tidak bisa mengejar Pak Sugeng.
“ Lalu bagaimana sekarang?” Tanya Bram.
Di tengah kebingungan Mereka berempat langsung berpencar dan mencari jalan keluar, hingga akhirnya di tengah kepanikan yang mendera, Bram sontak mencoba melompat melewati gerbang yang ukurannya sangat tinggi.
“ Bang, Jangan naik, itu terlalu berbahaya.” Sahut Ijam.
“ Aku tidak tahan, Aku takut, Aku ingin pulang.” Ujar Bram sambil perlahan mencoba menaiki gerbang itu.
Melihat hal itu Yuda hanya menggelengkan kepalanya, waktu semakin larut, di tambah dengan banyaknya sosok – sosok yang mengganggu, Yuda langsung mengambil batu dan mencoba membuat kebisingan dengan memukul – mukul batu ke besi penyangga gerbang.
Bram yang sudah berada di atas langsung berteriak meminta tolong, sambil berpegangan yang sangat erat.
“ Tolong, tolong.” Ujar Bam.
“ Tidak ada yang akan mendengarkan kita Bang, Kita ini jau dari pemukiman.” Ujar Krisna.
“ Aku bukan meminta tolong kepada warga lain, Aku takut ketinggian, dan Aku tidak bisa turun.” Ujar Bram dengan lutut gemetar.
Mendengar pernyataan yang di utarakan Bram , mereka bertiga tidak dapat menahan tawa, di tengah rasa panik yang mendera, kelakuan Bram seakan menjadi hiburan untuk mereka bertiga.
“ Aku serius ini, kalian malah menertawakanku.” Ujar Bram.
“ Pejamkan matamu, lalu turunkan kakimu , berpijak satu per satu secara perlahan.” Ujar Yuda tersenyum dari bawah.
“ Ia , ia, tapi bagaimana ini, celanaku seperti basah.” Ujar Bram.
Perlahan tapi pasti Bram turun dan hingga akhirnya Bram langsung duduk di tanah dengan melurukan kakinya.
“ Ayo kita pulang.” Ujar Bram.
“ Bang, kamu ini bukannya penguasa kota, masa baru segini saja sudah ngompol.” Ujar Krisna.
“ Mana ada Aku kencing di celana, Aku menduduki tanah yang basah saja.” Ujar Bram membela diri.
“ kita sepertinya harus menunggu hingga pagi, Kita tidak bisa berbuat banyak.” Ujar Yuda.
“ Aku ingin pulang, masa harus di sini sampai pagi.” Ujar Bram merengek.
“ Bram, Kamu ini kenapa, Kamu yang ingin ikut, dan sejak tadi di jalan menuju ke sini kamu yang paling banyak bicara, sekarang Kamu juga yang bawel ingin pulang." Ujar Yuda kesal.
Bram pun hanya berdiam dan tidak menjawab sepatah kata pun, dan mereka memutuskan untuk menunggu hingga fajar tiba, perlahan tapi pasti waktu terus menerus berjalan, dan hingga akhirnya langit mulai berwarna jingga pertanda datangnya fajar.
Mereka tidak tertidur sedikit pun dan terus berjaga sepanjang malam.
“ Ngantuk sekali Aku ini, lelah pula, jika sampai di rumah calon istrimu Kris, Aku ingin langsung tidur.” Ujar Bram mengeluh.
“ Silakan Bang, mau sampai besok pun Kamu tidur aku tidak akan membangunkan Abang.” Ujar Krisna.
“ Ini sudah mulai terang, Ayo kita pulang.” Ujar Bram berjalan menuju gerbang.
“ coba Bang apa sekarang sudah bisa di buka itu gerbang.” Ujar Ijam.
“ Nanti Aku coba.” Ujar Bram.
Bram mencoba membuat gerbang itu, tapi sayang sekali hasilnya masih sama.
“ Masih tetap sama, tidak bisa di buka.” Ujar Bram.
Bram terus melihat ke setiap sudut gerbang, hingga akhirnya terlihat sebongkah kayu yang memang sengaja di pakai untuk menghalangi pintu, Bram pun menggelengkan kepalanya sambil menyeringai tersenyum.
Perlahan Kayu Itu di buka dan seketika gerbang besar itu terbuka.
“ Ternyata kita semua kurang pintar, tidak ada yang sadar satu pun jika kayu itu mengganjal di gerbang dan membuat kita terjebak di sini.” Ujar Bram.
Krisna dan yuda memang sengaja mengganjal gerbang dengan sebongkah kayu, agar Ijam dan Bram tidak ketakutan dengan fakta yang sebenarnya terjadi, gerbang itu sebenarnya sengaja di halangi oleh sosok – sosok yang jahil dan membuat mereka harus berdiam semalaman di rumah milik Pak Sugeng.
“ Sudah kita bahas nanti di rumah saja, kita beristirahat dulu, dan kembali mengumpulkan tenaga, nanti siang kita masuk ke hutan untuk menari Pak Sugeng.” Ujar Krisna.
“ Masa masuk ke hutan , Aku tunggu di rumah saja ya.” Ujar Bram.
“ Ia , Ia, tunggu saja rumah.” Ujar Ijam.
“ kita haus memberitahu warga yang lain Jam, Agar mereka waspada sebab Pak Sugeng pasti akan semakin nekat dan takutnya malah membahayakan untuk warga yang lain.” Ujar Krisna.
“ Betul itu, sebaiknya kita beritahu warga , agar ikut mencari.” Ujar Yuda.
Selagi mereka menyiapkan rencana, Pak Sugeng sedang mengawasi mereka berempat dan berniat untuk mencelakai Ayu dan Siti yang mempunyai hubungan dekat dengan Krisna.
“ Kali ini Aku akan benar – benar membuat celaka orang yang dekat dengan keluarga si Dadang, Aku akan membuat Kekasih mereka tersesat di hutan, biar mereka tahu sedang berurusan dengan siapa.” Ujar Pak Sugeng.
Pak Sugeng sangat berbahaya saat itu, dirinya tidak memikirkan akibat apa yang di perbuatnya, yang terpikir dalam benaknya adalah membalas dendam terhadap warga kampung itu terutama kepada keluarga Pak Dadang.
Pak Sugeng perlahan menyelinap di semak – semak di dalam hutan , sambil mencari cara agar dirinya bisa membawa Ayu dan Siti ke dalam hutan.
“ Bagaimana caranya agar Aku bisa membawa Ayu dan Siti ke dalam hutan , Aku tidak bisa serta merta masuk ke kampung secara terang – terangan.” Ujar Pak Sugeng.
Waktu semakin terang, matahari pun terus berada di atas kepala, hal itu membuat Pak Sugeng kelelahan dan mengalami dehidrasi, kesadarannya mulai menghilang dan akhirnya pingsan di dalam rimbunnya semak belukar.
Di sisi lain Krisna dan ke 3 sahabatnya memberitahukan kepada warga jika, Pak Sugeng telah kabur, banyak warga yang menjadi marah dengan berita itu, dan menganggap jika Krisna sebagai biang kerok kaburnya Pak Sugeng, Keadaan semakin semerawut dengan di tambahnya warga yang marah , namun sebagai Pria sejati Krisna dan ke 3 sahabatnya harus mengambil keputusan dan mencari jalan , untuk bisa menangkap Pak Sugeng yang kini sedang berada di dalam hutan.
Banyak anggapan yang menyatakan jika Pak Sugeng tidak akan bisa lama dan selamat di dalam hutan , bukan hanya jalurnya yang curam tapi masih adanya hewan buas yang menjadikan hutan itu hanya sebagian yang tahu dan bisa melewatinya.