LANJUTAN 64

1223 Kata
Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan untuk Krisna, selain ingin terbebas dari belenggu makhluk yang sering mengikutinya, Krisna juga ingin membuat Pak Sugeng berubah, sebab menurut pandangan Krisna dari sisi gelap pak Sugeng masih ada setitik harapan untuk dia bisa berubah. “ Bangun – bangun, sudah sore ini.” Ujar Krisna kepada ketiga sahabatnya. “ lima menit lagi Kris, nikmat sekali tidur di sini.” Ujar Bram memejamkan matanya kembali. Krisna, Yuda dan Ijam hanya tersenyum melihat Bram yang memang sangat susah untuk di bangunkan, mereka pun bergegas membersihkan diri mereka agar terlihat lebih segar, Lalu Siti membawakan beberapa makanan untuk mereka berempat. “ Kris, makan dulu, pasti kalian kecapean.” Ujar Siti. Ijam keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melingkar di leher. “ Siti, jangan repot – repot nanti kita bisa beli di warung depan.” Ujar Ijam. “ gak papa Jam, di habiskan Ya.” Ujar Siti langsung pergi meninggalkan Ijam dan tersipu malu. Krisna yang melihat gelagat Siti , langsung saja berpendapat jika Siti pun memiliki perasaan terhadap Ijam. “ Kejar Jam, Kamu Gak lihat wajah Siti merah seperti itu.” Ujar Krisna. “ Kejar!, memangnya Siti itu ayam harus aku kejar, ada – ada saja Kamu Kris.” Ujar Ijam sambil duduk. Krisna hanya tersenyum dengan kelakuan Ijam yang selalu menyangkal, mereka berempat bersiap untuk mengintai rumah Pak Sugeng dari kejauhan. “ Kris, apa sebaiknya kita bertemu langsung dengan Pak Sugeng, dan berbicara dengan serius dengannya agar dia jera dan tidak melakukan hal itu lagi.” Ujar Bram. “ Bang, jika memang rencana itu bisa di lakukan , mungkin Aku juga bisa melakukannya sendirian, tapi Pak Sugeng bukan orang yang bisa di tebak, apa lagi Aku mendengar jika Dia sekarang seperti orang yang terkena mental.” Ujar Krisna. “ Lalu?, apa yang akan kita lakukan, atau hanya melihat – lihat saja keadaan di rumahnya?” Tanya Bram. “ Aku ada saran, Kita pertama lihat keadaan rumah Pak Sugeng, jika memang keadaan rumahnya sepi kita masuk dan berbicara dengannya secara langsung.” Ujar Yuda. “ Pak Yuda ini bagaimana, itu rencanaku tadi.” Ujar Bram kesal. “ Aku pernah masuk ke rumahnya saat dulu membantu membebaskan Pak Dadang yang di sekap, Di rumahnya Kini tidak ada siapa pun selain Pak Sugeng sendiri, jadi kita datangi saja rumahnya dan berbicara secara baik – baik, mungkin dia juga sudah sadar.’ Ujar Ijam. “ baiklah jika begitu.” Ujar Krisna. Makanan yang di berikan Siti pun telah habis tanpa sisa, Mereka berempat langsung menyusuri jalan menuju rumah Pak Sugeng, letaknya yang berada di kaki gunung, membuat setiap perjalanan selalu diiringi dan di temani pepohonan yang rimbun dan sejuk, tapi hari pun mulai gelap dan membuat suasana menjadi terbalik dan mencekam. “ Kenapa semakin lama, semakin menyeramkan saja, masih jauh kah Rumah orang itu?” Tanya Bram. “ sebentar lagi Bang.” Ujar Krisna. “ Tidak ada kata lain apa Kris, sebentar lagi, dekat, di depan, terus saja Kau berkata seperti itu.” Ujar Bram. “ Makannya Kamu diam jangan banyak bertanya, nikmati saja.” Ujar Yuda. Begitu kagumnya Bram ketika sampai dan melihat bangunan berupa vila itu yang merupakan rumah Pak Sugeng. “ Luar Biasa ini orang, rumahnya saja macam kantor kita di kota, tapi luarnya seram juga.” Ujar Bram bergidik. Krisna mendekat ke gerbang tinggi, namun gerbang itu terkunci, pencahayaan yang terbatas membuat Krisna dan yang lainnya tidak leluasa untuk melangkahkan kaki mereka. “ Bagaimana Ini , gerbangnya di kunci.” Ujar Krisna. “ Kita buka saja pakai batu.” Ujar Bram sambil mengambil batu dan langsung memukulkannya kepada gembok besar yang mengunci gerbang tinggi milik Pak Sugeng. “ Bang jangan!” Ujar Ijam . Namun semuanya sudah terlambat, gembok itu sudah terbuka dan perlahan gerbang muai terbuka sendiri, Yuda dan Bram begitu terpukau dengan keadaan saat itu, namun Yuda dan Krisna melihat banyak sekali sosok makhluk yang sedang memperhatikan mereka berempat. “ Kris, Kamu melihatnya.” Ujar Yuda. Krisna hanya mengangguk. “ Liat apa Pak, jangan membuatku takut.” Ujar Bram. Yuda pun hanya tersenyum. Mereka perlahan mendekat dan mengetuk pintu rumah Pak Sugeng, tapi pintunya tidak tertutup dengan rapat, sehingga membuat mereka berempat langsung masuk ke dalam rumah Pak Sugeng. “ Pak Sugeng, di mana Kamu." Ujar Bram. Mereka terus masuk ke dalam, hingga sesuatu yang aneh pun tiba, pintu langsung tertutup dan salah satu pintu kamar terbuka, Ijam mendekat ke arah pintu itu, di ikuti dengan Krisna, Yuda dan terakhir Bram yang terus melihat ke arah sekitar karena ketakutan. Ijam melihat di kamar Itu Pak Sugeng yang sedang tergeletak, namun berbeda dengan pandangan Yuda dan Krisna, di pandangan mereka Pak Sugeng tidak sendiri, ada sosok seram yang sedang memperhatikan Mereka dan juga sedang melihat Pak Sugeng yang tergeletak. “ Jam, jangan Masuk.” Ujar Yuda melarang. Ijam menghentikan langkah kakinya, Yuda mengambil buku yang berada di atas meja dan melemparkannya ke arah Pak Sugeng, ternyata Pak Sugeng tidak memberikan tanda – tanda dan terus terdiam. “ Mungkin dia sudah meninggal.” Ujar Bram. “ Kita harus melihatnya langsung.” Ujar Ijam. “ Jangan masuk Jam, DI sana banyak sekali sosok yang sedang memperhatikan Kita, Aku takut mereka bisa mencelakai kita.” Ujar Yuda. “ betulkan kataku, pasti kalian menyembunyikan sesuatu, aku tunggu di luar saja kalau begitu.” Ujar Bram mencoba meninggalkan mereka. Bram berlari ke arah pintu, namun pintu itu tidak bisa terbuka, dan hal itu membuat Bram kembali lagi bersama mereka. “ Kenapa kembali lagi?” Tanya Yuda. “ Sudah Pak Jangan di bahas.” Ujar Bram kesal. Namun Ijam seperti terpancing masuk ke dalam kamar Itu, Ijam melihat lebih dekat Pak Sugeng dan mencoba membangunkannya, melihat hal itu mereka bertiga pun terpaksa menyusul, dan mengangkat Pak Sugeng keluar kamar itu. “ Bangun, bangun.” Ujar Krisna sambil mendekatkan jarinya ke hidung Pak Sugeng. “ Dia masih hidup?” Tanya Yuda. “ Masih.” Ujar Krisna sambil mengangguk. Namun mereka semua terkejut, melihat Pak Sugeng yang tiba – tiba bangun dan tertawa. “ Selamat datang kalian semua, Aku sudah menduga hal ini akan terjadi." Ujar Pak Sugeng. “ Pintar sekali anda berpura pura seperti itu.” Ujar Ijam. “ Aku ini pintar, tidak seperti kalian yang bodoh.” Ujar Pak Sugeng. “ Sudah Aku pukul saja orang seperti ini.” Ujar Bram. Krisna mencoba melerai Bram yang sudah mengacungkan tangannya, melihat kelakuan dan gelagat Pak Sugeng , Krisna merasa banyak sekali kejanggalan, terlihat tatapan kosong dari Pak Sugeng, dan banyak sekali sosok aneh yang melihat mereka berlima. “ Jangan sekali – kali lagi Kamu mengganggu warga , terutama yang berhubungan dengan Ku.” Ujar Krisna. “ Apa urusanmu, Aku bisa melakukan semua yang aku inginkan.” Ujar Pak Sugeng. “ Berani bicara seperti itu lagi, Aku tidak akan segan melukaimu.” Ujar Bram. “ Bagus, Kamu datang ke sini bersama pengawal.” Ujar Pak Sugeng. “ Aku bukan pengawal mereka, Aku ke sini ingin menyelesaikan urusanku dengan mu, Aku adalah orang yang sering Kau teror di kota, sebab Aku membantu temanku yang Kau coba sembuhkan.” Ujar Yuda. “ Luar Biasa sekali, seperti kebetulan saja.” Ujar Pak Sugeng. Mereka saling menatap, tapi Pak Sugeng begitu licin dan  hingga akhirnya bisa keluar dan melarikan diri ke arah hutan , mereka mencoba mengejar namun sungguh aneh ketika kunci pintu gerbang susah sekali untuk di buka dan hingga akhirnya, mereka terjebak di area Rumah Pak Sugeng.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN